Oh My Xavier 9 : Insiden "Sukai Aku"

1959 Words
Ada banyak keuntungan ketika Emilie memutuskan untuk membiasakan diri menonton drakor atau drama Korea. Pertama, Emilie dewasa lebih dulu daripada teman-temannya. Disaat mereka melihat orang yang akan dijadikan pasangannya itu lewat fisiknya, Emilie lebih memilih pria dengan pengetahuannya dan wawasan pria itu. Dan klisenya, menginginkan pria dengan cinta yang luar biasa pada Emilie. Kedua, Emilie terbiasa melihat cowok-cowok tampan. Jika orang lain selalu terpaku pada cowok tampan, Emilie lain hal. Dia selalu berkata, “Setiap hari melihat cowok yang lebih tampan, membuat pria itu terlihat biasa saja di mataku.” Ketiga, Emilie benci modus-modus yang tidak berkelas. Banyak pria yang seperti itu di dunia ini dan Emilie sungguh tidak suka dengan cara orang-orang Indonesia yang sering meminta foto pada orang yang baru dikenalnya. Memangnya, untuk jatuh cinta harus melihat fisik orang lain dulu ya? Kenapa wajah yang rupawan menjadi patokan untuk jatuh cinta? Namun dengan Xavier, semuanya berubah. Karena pertama, Emilie tiba-tiba mengagumi fisik seorang pria. Xavier sangat sempurna ketika berada di atasnya. Dengan wajah penuh peluh dan tatapan tajam yang membuatnya lumpuh seketika. Kedua, Emilie tidak pernah terbiasa dengan apapun yang ada di diri Xavier. Seperti ketika Xavier sedang mode bekerja atau mode tidur, Emilie sukses mengucapkan kalimat klise di dalam hatinya, “Mengapa ada pria se-sempurna dirinya?” Ketiga… Sukai aku, Emilie. Emilie hampir berteriak senang mengingatnya. Dia memiringkan tubuhnya tanpa merasa nyeri ketika melakukannya. Emilie memeluk Kitty si kucing dengan senang di kasur ruang rawatnya. “Kitty… bagaimana aku harus bersikap di depannya nanti?!” pekiknya girang. Meong, jawab Kitty. Emilie menggigit bibir bawahnya agar bisa menahan senyum yang lebih lebar. *** Sukai aku, Emilie. Xavier menggeram dan menjambak rambutnya dengan kesal. Zander hanya menatap tuannya yang sedang duduk di atas kasur itu dengan heran. “Kenapa aku harus mengatakan itu?!” ujar Xavier, kesal pada dirinya sendiri. “Ada apa, Tuan?” tanya Zander. “Itu…” Xavier menghentikan ucapannya. Dia terdiam dan terpikir sesuatu. Sungguh, Xavier berumur 35 tahun sekarang dan bukan waktunya lagi untuk dia melakukan hal-hal bodoh seperti curhat tentang kisah cintanya. Dan lagi, Xavier ini dikenal garang dan menakutkan karena cara membunuhnya. Dan mana ada pembunuh yang galau hanya karena hal-hal yang seperti itu?! Memangnya Xavier ini anak kecil, apa? Harga dirinya akan turun dengan sangat drastis dan apa yang akan mereka pikirkan tentang Xavier nanti? Pembunuh berhati hello kitty? Atau pembunuh yang b***k cinta? Argh, ini membuat Xavier gila! Sungguh, ucapan Xavier sangat kekanakan sekali pada Emilie. Menghela napas panjang, Xavier menundukkan kepalanya. “Auh, sial! Bagaimana aku harus bersikap di depannya nanti?” *** Pagi-pagi sekali, Emilie sudah mencoba untuk berdandan agar terlihat cantik di depan Xavier nanti. Emilie duduk bersila di atas kasur sambil memainkan Kitty, kucingnya yang sudah ia adopsi mulai dari kemarin. Seperti yang Emilie duga, pintu ruangannya terbuka dari luar. Emilie sudah tersenyum selembut mungkin dan bermain kucing dengan wajahnya yang sok imut. Dia menunggu-nunggu hingga Xavier nanti memanggilnya. “Nona.” Mendengar suara yang sudah biasa didengarnya akhir-akhir ini membuat Emilie menghilangkan seraut wajah cantiknya dan menatap Zander dengan kecewa. Emilie menghela napas panjang dan memainkan Kitty dengan malas. “Ada apa?” “Bagaimana keadaan Anda?” Emilie cemberut pada Zander. “Zander, mari kita ubah cara panggil kita. Tidak usah menggunakan kata nona ketika memanggilku. Santai saja, oke? Panggil aku Em.” “Tidak bisa. Saya--” “Aku akan merekomendasikan web streaming drama-drama terbaru jika kau memanggilku Em.” “Ada banyak situs resmi dan itu lebih baik daripada situs bajakan, Nona.” Emilie cemberut. “Situs-situs ini lebih cepat dari situs lainnya!” katanya dan dijawab diamnya Zander. Emlie menghela napas panjang. “Bagaimana jika aku merekomendasikan drama-drama seru saja padamu? Atau, aku akan jadi temanmu untuk bercerita drama! Bagaimana? Masih ingin memanggilku nona?” tanyanya kemudian sambil tersenyum lebar. Namun Zander membalasnya dengan gelengan kepala lalu diam. Emilie kembali cemberut dengan kesal. Namun, raut wajah kesalnya hilang seketika dan Emilie tersenyum lebar pada Zander. “Zander, aku boleh bertanya tentang Xavier?” “Tentang?” “Nama panjang, umur, hobi, dan lain-lain.” “Xavier Marx Wilkinson, 35 tahun, banyak yang dilakukannya, tampan, kaya raya--” “Stop!” pekik Emilie sambil melotot. “Tigapuluh lima tahun?! D-dia sudah setua itu?! Dengan wajah semuda itu?!” Zander mengangguk. “Ya…” Emilie melemas di tempatnya. Mulutnya menganga setengah, syok setengah mati karena mendengar umur Xavier yang berbeda 11 tahun dengannya. Emilie menutup wajahnya dengan kedua tangan lalu menjambak rambutnya dengan frustrasi. “Jadi, aku tidur dengan om-om? Dan lagi, di pengalaman pertamaku?! KYA!!” gumamnya, lalu mengacak rambutnya dengan kesal. “Zander, bagaimana--” Emilie segera mengangkat wajahnya dan menatap Xavier yang baru saja datang bertanya kepada Zander. Emilie melotot tajam pada Xavier dengan penampilannya yang sudah acak-acakan. Hilang sudah keinginannya untuk terlihat cantik dan anggun di depan Xavier. Xavier menutup mulutnya dan mengulum bibirnya agar tidak tertawa melihat penampilan Emilie. “Hey, kau belum mandi?” Emilie tidak menjawab dan makin menatap Xavier dengan dendam. Mulutnya mendesis kesal. “Dasar penipu.” Xavier mengangkat alisnya dan menatap Zander, menanyakan apa yang terjadi melalui tatapannya. Zander sendiri hanya menggeleng tidak tahu. Xavier kembali menatap Emilie. “Ada apa?” “Ada apa?! Kau bertanya ada apa?! Dasar om-om penipu!! Bisa-bisanya kau meniduri anak di bawah umur sepertiku?” Xavier mengerjap terkejut. “A-apa?! O-om?! Penipu?! Dan apa maksudmu di bawah umur?!” Emilie menatap Xavier masih dengan tatapan tajam dan mulut mendesis seperti ular. “Kau bilang rumah aslimu di Islandia, kan?! Katakan padaku, kau sudah menikah, bukan?! Sudah punya anak juga di rumah. Dan apa?! Sukai aku?! Berani-beraninya kau menipuku!” Xavier tidak bisa berkata-kata lagi mendengar ucapan Emilie. “Apa maksudmu? Aku tidak tahu kau ini kenapa. Aku masih lajang dan--” “Aku tidak percaya! Aku sudah tertipu olehmu! Aku ingin pulang!!” “Kau masih sakit. Kau ingin pulang ke--” “Aku tidak percaya padamu! Pria zaman sekarang tidak ada yang bisa dipercaya! Kau seharusnya belajar setia dengan istri dan anakmu!” “Aku belum menikah sekalipun!!” kesal Xavier tidak habis pikir dengan ucapan dan cara pikir Emilie. Emilie memalingkan wajahnya dengan kesal dan bersidekap d**a. “Aku tidak percaya.” Xavier mengembuskan napasnya, mencoba bersabar. “Ingin melihat kartu kependudukanku? Atau ingin sekalian ke pemerintahan untuk melihat dataku sudah menikah atau belum?” Kali ini Emilie melirik sedikit ke arah Xavier namun tetap memalingkan wajahnya. “Tapi umurmu 35 tahun.” Xavier menghela napas panjang dan menatap Zander datar, seolah menyatakan lewat tatapan matanya bahwa riwayat Zander sudah berakhir karena menyebutkan umurnya. Mata Xavier kemudian beralih menatap Emilie. “Bukan berarti aku sudah menikah. Aku ini pria karier.” Emilie menunduk dan memainkan jarinya dengan gugup. “Benarkah?” Xavier mendengus geli. “Kenapa kau semarah ini? Kau sudah mulai menyukaiku?” Kepala Emilie menoleh dengan cepat. Matanya kembali melotot. “Siapa bilang?! Aku belum menyukaimu!” Ungkapnya namun tidak dapat menghentikan pipinya yang memerah. “Lalu kenapa kau marah?” “Aku hanya merasa ditipu oleh om-om sepertimu!” “Berhentilah memanggilku om-om.” “Terserah padaku mau memanggilmu apa! Biar kau sadar diri kalau kau sudah tua.” Xavier membuang napasnya dan menyentuh keningnya dengan frustrasi. Dia tidak bisa berkata-kata lagi pada Emilie. Namun seulas senyum terbit di wajah Xavier. Ternyata, jika dengan Emilie, semuanya tidak secanggung yang dipikirkannya. *** “Mau apel, Om.” Xavier mendelik dan mengambil apel yang diinginkan Emilie. Dengan tangannya yang lihai menggunakan pisau, Xavier mengupas apelnya dengan sempurna. Saat ini, mereka masih berada di ruang rawat Emilie. Hanya berduaan lagi. Dengan Emilie yang sedang bermain tablet milik Xavier dengan Kitty yang berada di pangkuannya. Sedangkan Xavier duduk di samping Emilie sambil mengatur apa yang diinginkan Emilie. Seperti sekarang, ketika Emilie sedang memainkan tablet, Xavier mengupas apel dan memotong kecil apel itu. Dia menyuapi Emilie dengan potongan apel itu. “Enak?” Emilie mengangguk selayaknya anak kecil. Dia masih memainkan tabletnya tanpa menoleh pada Xavier. “Tapi…” jeda, Emilie menelan makanannya sebelum melanjutkan. “… kenapa kau belum menikah? Di umur setua itu.” Xavier mengangkat bahunya dengan acuh. “Aku hanya mencari yang pas. Yang tidak hanya melihat fisik dan kekayaanku.” “Tapi kenapa Om menyukaiku?” Xavier mendelik mendengar panggilan itu terus menerus keluar dari mulut Emilie. Tangan Xavier menyuapkan apel kembali ke mulut Emilie. “Aku tidak bilang kalau aku menyukaimu.” Kata Xavier. Ucapan Xavier sukses membuat Emilie menghentikan kegiatannya bermain tablet. Ia menoleh pada Xavier. “Apa? Lalu apa maksud kalimat sukai aku Emilie kemarin?!” Xavier menahan senyum lebarnya dan mengangkat kedua alisnya. “Kau sudah menyukaiku?” “Belum, tuh!” “Lalu kenapa kau marah?” Emilie membuka mulutnya lebar mendengar jawaban dari Xavier. Dia sepenuhnya mengabaikan tablet di tangannya dan memelototi Xavier. “Om yang satu ini benar-benar…, woah, aku bahkan tidak bisa mendeskripsikannya dengan kata-kata!” Xavier terkekeh kecil mendengar ucapan Emilie. “Kalau belum suka ya tidak usah marah. Kenapa kau terlihat sangat kesal sekali?” Emilie membuka mulutnya ingin membalas, namun menutup mulutnya kembali dan memainkan tabletnya lagi dengan kesal. Xavier tidak dapat menahan senyum lebarnya melihat betapa menggemaskannya Emilie. Tangannya kembali terulur dan menyuapi potongan apel lagi. Emilie kembali membuka mulutnya dan memakan apel itu dengan kesal. “Enak?” tanya Xavier lagi. “Ah berapa kali kau a--humph!” ucapan Emilie terpotong kala Xavier mencium bibirnya yang masih terbuka karena berbicara. Mata Emilie melotot merasakan bibir Xavier bergerak di atas bibirnya. Lidah Xavier menyelusup masuk ke dalam mulut Emilie, meraih kunyahan apel Emilie dan memindahkannya ke mulutnya sendiri. Emilie tersentak merasakan denyutan di kewanitaannya ketika Xavier melakukan hal tersebut. Dia hanya dapat diam tanpa membalas ciuman panas Xavier. Sampai akhirnya Xavier melepaskan bibirnya tanpa menjauhkan wajahnya dari Emilie. Matanya menatap Emilie dengan dalam, begitupun dengan Emilie yang tidak dapat mengalihkan wajahnya dari Xavier yang masih menatap Emilie dengan tatapan yang menggelap. “Kau benar. Ini enak.” Ucap Xavier serak, sedangkan Emilie hanya terpaku diam dan menelan sisa kunyahan apelnya dengan susah payah. Matanya benar-benar tidak bisa berkedip merasakan kedekatan mereka. Emilie bahkan bisa merasakan udara hangat dari Xavier yang bernapas di depan wajahnya. Xavier mendekatkan wajahnya kembali, meraih bibir Emilie kembali dan menekan tengkuk Emilie dengan erat. Seolah mengerti, Kitty melompat dari kasur Emilie dan membiarkan dua insan itu berciuman. Emilie menutup matanya, membalas lumatan demi lumatan dari bibir Xavier, menyelipkan lidahnya lebih dulu ke dalam mulut Xavier dan bergulat lidah di mulut Xavier. Merasakan lidah lembut yang menyatu dengan lidahnya, Xavier menggeram b*******h. Dia meraih tubuh Emilie dan mendudukkannya di pangkuannya, memeluk tubuh mungil itu dengan erat dan membiarkan kemaluan mereka menyatu di balik kain yang menghalangi. Tangan Emilie berada di leher Xavier, menyelipkan tangannya ke rambut Xavier dan menjambaknya lembut. Xavier melepaskan bibirnya, meraih cuping telinga Emilie dengan tangannya yang meremas kedua b****g Emilie, membuat Emilie berjengit dan mendesah nikmat. Tangan Xavier masuk ke dalam gaun rumah sakit yang digunakan Emilie. Mengusap punggung mulus Emilie langsung dengan tangannya. “Tuan--” “KYA!” teriak Emilie dan menyembunyikan wajahnya di d**a Xavier ketika mendengar suara pintu yang dibuka dan disusul dengan Zander yang muncul dari balik pintu. “Sial, Zander! Kenapa kau tidak mengetuk pintu dulu?!” kesal Xavier dengan tangannya yang berada di kepala Emilie. Napasnya memburu tajam menatap Zander. “Saya memang tidak pernah mengetuk pintu, dan tuan…” Zander menghentikan ucapannya, dan untuk pertama kalinya dia menatap bosnya dengan tajam. “… Nona Emilie masih harus istirahat. Dia masih belum sembuh total dan tidak boleh bercinta dulu.” Xavier melotot saat Emilie makin menyembunyikan wajahnya di d**a Xavier. “Siapa yang akan bercinta?! J-jaga mulutmu, bodoh!” kesalnya, entah kenapa merasa gugup. Sungguh, Xavier sudah berumur 35 tahun dan memiliki banyak pengalaman tentang wanita! Dan kenapa hanya Emilie yang bisa membuatnya segila ini?!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD