“Walaupun dia kakakmu, bukan berarti kau bisa memeluknya se-lama itu.” Kata Xavier setelah seharian mendiamkan Emilie dan saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang. Emilie dan Xavier berada di kursi belakang dengan Zander dan Dansel yang menjadi pendengar setia mereka.
Emilie menghela napas kesal. “Yang aneh itu, kau marah seharian hanya karena aku memeluk kakakku,” balas Emilie dan mengangkat tangannya untuk menghentikan Xavier yang akan buka mulut. “Jujur padaku. Kau cemburu, bukan?”
Seketika, keadaan mobil jadi mencekam. Hal ini mengingatkan Emilie pada saat di mana dia berdebat dengan Xavier tentang psikopat dan drama Psychopath Diary. Xavier menatap Emilie, begitupun sebaliknya. Mereka saling menatap dengan serius sebelum Xavier menumpahkan tawanya dengan keras. “Hahaha! Lucu sekali!” kata Xavier.
Mata Emilie memincing dan tangannya bersidekap di depan d**a. “Hanya perasaanku saja, atau kau memang memaksakan diri untuk tertawa?”
Xavier menghentikan tawanya seketika. Dia menunduk dan berdeham.
Kini bagian Emilie yang mendengus geli. “Kau menyukaiku, kan?”
Xavier menghela napas panjang. Kali ini dia menatap Emilie. “Sejujurnya, aku malu.”
Emilie tersenyum malu. Pipinya sudah memerah merona karena merasa tebakannya benar. “Malu karena ketahuan menyukaiku?”
“Malu karena menolongmu.”
“Menolongku?” heran Emilie. Rona merahnya hilang seketika. “Kapan kau pernah menolongku?”
“Tadi.”
“Tadi?” tanya Emilie yang diangguki Xavier. “Kapan?”
Xavier menghela napas panjang dan menyenderkan tubuhnya dengan santai ke sandaran kursi mobil. Matanya menatap lurus tanpa menatap Emilie. “Kenapa aku mendiamkanmu? Itu jujur karena sebelumnya aku malu padamu. Aku tidak tahu bahwa pria itu kakak tirimu. Kupikir, dia adalah pria m***m yang mencoba untuk melecehkanmu.”
“Aku memeluknya dengan erat! Tidak mungkin kau salah paham!”
Xavier kali ini tersenyum tipis dan menyentuh dadanya sendiri. “Perlu diketahui, Emilie, aku ini adalah pria naif nan polos yang suka membantu orang. Jadi, ketika sesuatu yang aneh berada tepat di depan mataku, pasti aku akan membantu orang itu. Tidak terkecuali dirimu.”
Emilie membalas senyum Xavier dengan senyum mencemooh. “Tidak, yah! Aku sangat tahu kau ini pria gila kontrol yang perfeksionis dan suka marah-marah. Menolong orang? Cih, itu adalah fitnah yang kejam!”
“Apa? F-fitnah yang kejam?”
Emilie kali ini berkacak pinggang. “Baiklah kalau begitu. Bagaimana jika pria yang kupeluk adalah Zander?”
Xavier tertawa dipaksakan. “Ya silakan! Memangnya, Zander mau dipeluk olehmu, hah?”
“Saya mau, Tuan.” Kata Zander, dan dibalas dengan tatapan membunuh Xavier lewat kaca spion depan.
Emilie mendengus geli dan memiringkan kepalanya seolah menantang Xavier.
Xavier menatap Emilie dengan tawanya yang kaku. “Memangnya kau jasa layanan peluk, apa?!”
“Yakin, tidak suka padaku?”
“Yakin! Sangat yakin!”
Emilie cemberut. Dia mengubah raut wajahnya menjadi imut dan memiringkan wajahnya dengan lugu. “Benarkah? Padahal, Emilie sangatttt menyukai Xavier.” Ucapnya dengan suara anak kecil.
Raut wajah Xavier berubah datar. “Bohong ya?”
Emilie tertawa mendengar suara datar Xavier yang terdengar lucu di telinganya. Dan tanpa semua orang duga, Xavier terkekeh kecil mendengar suara tawa Emilie.
***
Emilie memilih berjalan-jalan di halaman rumah ketika Xavier sedang sibuk dengan dokumen yang dibawa oleh Zander. Entah apa yang dibawa oleh Zander hingga Xavier mengusirnya dari ruangan. Dan karena hal itu, Emilie sekarang tidak tahu akan melakukan apa. Karena mengganggu Xavier adalah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan di sini. Dan ketika Xavier mengusirnya, otomatis Emilie kembali bosan dan ia akhirnya memutuskan untuk berjalan-jalan di luar rumah Xavier. Tentunya, dengan body guard yang berada beberapa meter di belakangnya.
Rumah Xavier bisa dibilang sangat mewah namun tetap lebih mewah milik keluarga Emilie. Membandingkannya, membuat Emilie teringat ketika ia mengungkapkan hal itu kepada Xavier. Pria itu ngotot berkata bahwa rumah aslinya ada di Iceland (Islandia) dan LA hanya rumah sementaranya. Emilie hanya mengangguk mengiyakan dengan pandangan mengejek dan Xavier langsung kesal karenanya. Emilie hanya dapat tertawa melihat ekspresi pria itu.
Sungguh, Xavier mungkin tidak menyadari bahwa pria itu memiliki ekspresi lucu di wajahnya yang jarang digunakan. Hal itu membuat Emilie ingin memancing ekspresi itu keluar dengan candaannya. Walau kadang, Xavier jadi mendiamkannya karena marah. Dan bahkan, marahnya Xavier pun sangat Emilie sukai. Pria mana yang akan diam ketika marah di zaman sekarang? Kebanyakan, pria pasti selalu menggunakan uratnya dan mendebat lawannya, menolak untuk kalah.
Tapi Xavier berbeda. Pria itu sungguh tidak ada duanya.
Tanpa sadar, Emilie sudah berjalan terlalu jauh dari rumah utama. Dia kini sudah sampai di gerbang rumah Xavier dan melihat banyak mobil lalu lalang. Rumah Xavier tidak terletak di sebuah perumahan berpenjagaan ketat tapi rumah Xavier terletak di samping jalanan dengan penjaga yang gila-gilaan di dalamnya. Seolah Xavier adalah pemimpin suatu genk yang harus dijaga dengan sangat ketat.
Emilie menghirup udara di sekitarnya, lalu terbatuk akibat debu halus di hari itu. “Woah, debu halusnya makin meningkat dari hari ke hari.” Gumamnya pelan.
Belum Emilie beranjak, mata Emilie menangkap anak kucing yang terjebak di tengah jalan dan seperti ragu untuk melintas kala kendaraan melewat. “Ah, sepertinya shelter kucing sedang memiliki waktu yang sangat senggang. Mengapa mereka membiarkan kucing liar itu di jalanan?” gerutunya kesal sambil melintas dengan pelan untuk menuju anak kucing itu.
Emilie merentangkan tangannya ke samping ketika melintasi jalanan. Dia kemudian berjongkok dan mencoba meraih anak kucing itu. Setelah kucing itu berada di pelukannya, Emilie mengelusnya dengan lembut. “Tenang ya, Kitty. Kau aman sekarang.”
“Nona!” panggil para penjaga yang sudah berkerumun untuk melintasi jalanan dan akan menghampiri Emilie.
Emilie mendengus. “Tenang saja! Aku ke sana sekarang!” katanya sambil berdiri dari jongkoknya. Namun, sebuah mobil melintas dengan sangat cepat ke arah Emilie tanpa Emilie prediksi.
BRAK!
“NONA!!”
***
Xavier membuang napasnya dengan kesal, sedangkan anak buahnya yang lain sedang melakukan tugasnya yaitu mencambuk para pengawal yang tadi tidak becus dalam menjaga Emilie. Xavier hanya diam dengan bosan di tempat duduknya dengan Zander yang berdiri tegap di sampingnya. “Stop.” Perintahnya, dan langsung dituruti semua anak buahnya yang sedang menyiksa lima pengawalnya.
Xavier berdiri dari duduknya tanpa menghampiri para pengawal itu. Namun, hal itu tetap membuat para pengawal itu sukses ketakutan karena berpikir akan mati. “Ambilkan pis—”
“Saya mengingat plat nomornya!” seru salah satu pengawal yang disiksa itu.
Xavier menatapnya. Matanya memincing tajam. “Semuanya?”
Dengan napas terengah takut, pengawal itu mengangguk. “Semuanya.”
Xavier tersenyum mengerikan. “Kematian kalian semua, akan tergantikan dengan kematian pegemudi sialan itu.”
***
Xavier berjalan memutari tubuh yang berada di atas meja panjang yang Xavier gunakan untuk eksekusi matinya. Xavier menghela napasnya dengan kesal mendengar suara tangisan dari buruannya itu.
“Kumohon, aku memiliki keluarga yang harus aku urus! Kumohon maafkan aku!” tangis pria itu dengan suara seraknya karena menangis terlalu lama. Tubuhnya terikat total di atas meja itu. Pria itu bahkan tidak dapat menggerakkan kepalanya sedikitpun karena perekat yang kuat ditempelkan di dahinya dan melingkar menempeli meja tersebut.
Xavier hanya mengedipkan matanya sekali. Dengan tenang, dia mengambil pisau tumpul di atas meja dan dengan hati-hati mengukir dulu sebuah pola di leher pria itu. Jeritan menggema ketika Xavier mengukir pola dengan pisau itu dan membuat kulit itu tersayat, berdarah.
“Aku mohon! Aku mohon!! Aku sungguh tidak sengaja!!” jerit pria itu meminta ampun.
Xavier diam tidak menjawab dan tetap mengukir pola melingkar. Xavier kemudian mengusap darah itu dengan tangannya, membuat pria yang ia siksa meringis perih merasakan tangan itu menyentuh lukanya dengan kasar.
Xavier membuang napasnya dengan tenang, lalu menghampiri alat-alatnya yang lain. Ia mengambil pisau yang sangat tajam kali ini dan kembali pada pria itu. Xavier kali ini membungkukkan sedikit tubuhnya ke arah leher pria itu.
“Mau kau sengaja atau tidak, kau tetap melukai milikku.” Kata Xavier lalu disahuti oleh jeritan melengking ketika Xavier menyayat leher pria itu dalam-dalam dan memutar pisau tajam itu dari dalam, mengikuti pola yang ia buat di leher pria itu. Pola yang dibuat tepat di sekitar kerongkongan pria itu, membuat jeritan yang tadinya terdengar nyaring itu kini tidak terdengar.
Xavier terus memutar pisaunya hingga kerongkongan pria itu sudah terpotong sempurna. Xavier mengambil kerongkongan pria itu sekuat tenaga, membuat tulang pria yang dibunuhnya itu terlihat ketika Xavier mengambil kerongkongannya. Tubuh pria itu menggelepar dengan mata melotot dan mulut yang terbuka lebar tanpa mengeluarkan suara.
Darah terus mengalir keluar dari leher pria itu hingga mengalir jatuh mengotori lantai. Xavier membuang napasnya dengan tenang dan melempar pisaunya ke sembarang arah. “Kau akan kubiarkan seperti ini hingga mati. Berteriaklah minta tolong jika kau bisa.” Katanya, kemudian berlalu dengan santai.
***
Emilie meniupi sikutnya yang memiliki luka paling lebar dari luka yang lain. Memang sih semua tubuhnya sakit akibat terseret mobil ngebut tersebut. Apalagi dengan punggungnya yang luar biasa nyeri karena terkena badan mobil yang keras itu langsung. Untungnya, Emilie sempat menghindar walaupun akhirnya sedikit terseret oleh mobil itu. Sialnya, pemilik mobil itu malah hanya membuka jendelanya dan memarahi Emilie agar berhati-hati.
Bukannya tanggung jawab, malah kabur. Untung saja pengawal yang diberikan Xavier dengan sigap membantunya walaupun sangat berlebihan karena membawa Emilie ke rumah sakit untuk luka se-kecil ini.
Pintu kamar rawatnya dibuka, dan muncul Xavier yang masuk ke dalam kamar dengan raut wajah yang keras, terlihat marah. Pintu kemudian ditutup dari luar ketika Zander keluar dari kamar rawat itu.
Emilie menelan ludahnya dengan susah payah melihat wajah marah Xavier. “Apa kau marah?” tanyanya gugup.
Xavier mengedikkan kedua bahunya dengan wajah yang terlihat masih sama. “Kenapa aku harus marah?”
“Kau terlihat marah.”
“Aku tidak.” Ucap Xavier dengan wajah yang makin datar.
“Tapi kau tidak senyum.”
“Aku memang jarang tersenyum.”
“Berarti kau marah.”
“Tidak.”
“Kalau begitu tersenyumlah,” kata Emilie, membuat Xavier menarik kedua sudut bibirnya tanpa binar senang di wajahnya. “Kau malah terlihat menyeramkan.”
Raut wajah Xavier berubah datar seketika. “Kenapa kau harus peduli aku marah atau tidak?”
Emilie mengerjap pelan, menyadari bahwa ia bertanya sesuatu yang terdengar aneh. Emilie berdeham dan menggeleng. “Aku…, tidak tahu.” Jawabnya jujur.
Xavier menghela napas panjang. Dia yang tadinya hanya berdiri di depan pintu, kini berjalan ke arah Emilie yang tetap menatapnya. Xavier kemudian memutuskan untuk duduk di tepi ranjang, dengan posisi yang sangat dekat dengan Emilie. “Kenapa bisa seperti ini?” tanya Xavier dengan datar.
Emilie mengatupkan mulutnya. Dia menatap ke sampingnya, di mana ada anak kucing yang terlihat diam seolah sedang memperhatikan interaksi antara Emilie dan Xavier. Gerakan Emilie sukses membuat Xavier ikut menatap kucing itu, lalu menatap Emilie kembali. “Karena menolong kucing itu?”
Emilie terlihat berpikir sejenak, kemudian menggeleng. “Sepertinya, tidak. Ketika aku melintasi jalan dan mendapatkan kucing itu, ada mobil yang melaju kencang sekali tanpa bisa aku hindari. Logikanya, jika aku yang salah, itu tidak mungkin. Karena pertama, aku berada di depan dan pasti aku kelihatan kalau pengemudinya tidak buta. Kedua, kenapa dia harus melajukan mobilnya dengan kencang di jalanan yang bukan jalanan besar? Jadi, ini murni salah pengemudi itu. Kau tahu--”
“Apa kau benar-benar tidak menyukaiku?”
“Hah?” heran Emilie ketika Xavier memotong ucapannya dengan pertanyaan yang tidak nyambung dengan penjelasan Emilie.
Xavier terlihat menelan ludahnya dengan susah payah. Matanya menatap dalam-dalam ke manik mata Emilie yang juga menatapnya. Perempuan itu terpaku menatap Xavier dan tidak menyadari bahwa tangan Xavier kemudian terulur, menyentuh rahang Emilie dengan lembut. Dan tanpa Emilie prediksi, Xavier membawa wajahnya mendekat dan mengecup bibir yang terbuka setengah itu. Tidak ada lumatan ataupun jilatan. Hanya meraup bibir itu dengan sangat lembut hingga Emilie terbuai dan menutup matanya, meresapi kelembutan Xavier di bibirnya.
Xavier menjauhkan wajahnya, membuat Emilie membuka matanya dan mendapati mata indah itu sangat dekat dan membuat Emilie tenggelam seketika. “Sukai aku, Emilie.”
Dan ketika kata itu terlontar, jantung Emilie berhenti sejenak sebelum jantungnya menggedor dengan sangat keras hingga d**a kirinya terasa sakit.