Oh My Xavier 7 : Aku Mengawasimu

1707 Words
Emilie menghela napas kasar dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Xavier yang langsung mengganti meja kerjanya dengan meja kerja yang baru hanya karena goresan kecil yang ditimbulkan oleh pakaian Emilie yang memiliki mutiara imitasi di bagian pergelangan tangannya. Mata Emilie kemudian menatap Xavier yang juga sedang menatapnya. Xavier membuat gerakan dengan tangannya. Menunjuk kedua matanya dengan jari telunjuk dan jari tengah, lalu mengalihkan jarinya menunjuk Emilie, seolah mengatakan aku-mengawasimu! pada Emilie dan Emilie balas dengan sebuah pelototan. Meja yang dibeli Xavier juga benar-benar sama persis dengan meja yang sebelumnya. Meja itu kini sudah tersimpan rapi di ruangan Xavier dengan barang-barang di atas permukaan mejanya yang persis sama dengan isi sebelumnya. Bahkan Emilie pun yakin bahwa posisi-posisi sebelumnya juga sama dengan posisi sekarang. “Dasar perfeksionis.” Komentar Emilie sambil memeletkan lidahnya pada Xavier dan Xavier balas dengan pelototan kesal. “Semuanya sudah beres, Tuan.” Kata Zander yang kini berdiri di hadapan Xavier. Xavier mengangguk. “Bagus. Suruh semua orang keluar, aku akan mulai berkerja.” Zander mengangguk sopan dan mengikuti perintah Xavier. “Nona Em--” “Kecuali dia!” sentak Xavier, dan diangguki oleh Zander hingga kemudian Zander pun ikut menghilang dari ruangan Xavier. Kini hanya tinggal Emilie dan Xavier saja yang berada di ruangan kerja Xavier. Xavier sendiri berjalan ke kursi kebesarannya dan duduk di sana sambil memperhatikan Emilie yang masih diam duduk di sofa. “Jangan merusak apapun lagi!” tekan Xavier. Emilie mendelik kesal mendengarnya. “Tidak ada yang merusak apapun. Kau hanya berlebihan untuk sebuah goresan kecil.” “Kau tak tahu bahwa goresan kecil itu bisa saja jadi penghambat kerjaku!” “Bagaimana bisa goresan kecil itu menghambat kerjaanmu?!” “Karena fokusku akan teralih. Aku tidak nyaman melihatnya.” Mulut Emilie menganga lebar mendengar ucapan Xavier. Entah untuk ke berapa kalinya, Emilie menggelengkan kepalanya seolah tidak percaya ada makhluk seperti Xavier di dunia ini. “Woah, aku tidak bisa berkata-kata.” “Kau sedang berkata-kata, sekarang.” “Ya Tuhan, semoga aku takkan pernah memiliki bos menyebalkan seperti makhluk yang satu ini.” Xavier hanya menatap tajam pada Emilie. “Kau adalah tuan putri pemalas. Mana tahu tentang kerjaan.” Emilie melotot. “Aku bekerja! Hey! Kau pikir selama ini aku mendapat uang dari mana, huh? Dan aku ini bukan tuan putri! Mana ada tuan putri yang memiliki kehidupan mandiri sepertiku!” Kali ini Xavier tertawa seolah guyonan Emilie sangat lucu. “Bekerja? Selama setahun ini, kau bekerja di mana hah? Bahkan setelah kulihat masa lalumu, kau tidak bekerja dari semenjak setelah lulus kuliah.” “Kau ini mencari dengan benar, tidak, sih?! Aku…” Emilie menghentikan ucapannya. Memang jika dilihat di mata publik, Emilie ini kelihatan tidak bekerja dan hanya bermalas-malasan di perusahaan ayahnya yang saat ini dikelola oleh salah satu kakak tirinya. Dan lagi, kerjaan Emilie juga hanya mengantarkan berkas yang tidak tahu apakah isinya penting atau tidak, dimarahi, lalu menunggu untuk disuruh lagi oleh kakaknya. Dan Emilie bahkan harus rela untuk pergi dari tanah air tercintanya untuk dimutasi ke negeri orang oleh kakaknya. “Tidak bisa menjawab, kan?” tanya Xavier sambil tersenyum culas. “Dilihat dari IPK-mu yang tinggi, kau bisa mendapatkan pekerjaan apapun yang kau mau. Kenapa kau tidak melamar pekerjaan?” Emilie menghela napas panjang. “Tentu saja, karena IPK-ku tinggi, sangat disayangkan jika aku hanya lulus kuliah untuk menjadi seseorang yang bekerja di bawah orang-orang sepertimu.” Xavier mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. “Wow, kau memiliki pemikiran yang cerdas. Memang, sangat disayangkan untuk membayar mahal pendidikan hanya untuk bekerja di bawah orang yang mungkin lebih bodoh darimu…” kata Xavier, tidak tahu bahwa dia menghina dirinya sendiri. Hal itu membuat Emilie tertawa kecil. “Jadi, kau ingin membuka usaha? Usaha apa?” Emilie mengerjapkan matanya. “Entahlah. Aku hanya ingin menjadi seseorang yang memiliki tujuan hidup.” “Dan apa tujuan hidupmu?” “Aku belum mencaritahunya,” kata Emilie sambil mengedikkan bahunya sekilas. “Omong-omong, kau tidak bekerja? Kenapa malah mengobrol denganku?” Xavier tersenyum miring. Dia menyenderkan tubuhnya ke sandaran kursi dan menatap Emilie dengan binar penuh kesombongan. “Aku? Aku ini orang cerdas yang menumpahkan segala pekerjaanku pada bawahanku, menunggu mereka membereskannya. Dan selesai. Lalu, jika ada yang salah, sebuah hal menyenangkan ketika aku mempermalukan orang-orang ber-IPK tinggi itu.” Emilie berdecak kesal. “Dasar manusia gila kontrol.” “Wow, aku terkejut dengan penilaianmu yang tepat itu.” Kata Xavier yang membuat Emilie menatapnya tajam dan Xavier balas dengan tawa menyebalkannya. *** Setelah mendapatkan izin dari Xavier untuk keluar dari ruangan Xavier yang menyesakkan, Emilie dikawal oleh beberapa body guard Xavier yang berada beberapa meter di belakang Emilie. Tanpa tahu apa yang akan ia lakukan, Emilie hanya berjalan-jalan di sekitar kantor Xavier. “Elie!!” Panggilan yang biasa di dengarnya di keluarga itu membuat Emilie menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang, melihat salah satu kakak tirinya, Alvin, yang berjalan menghampririnya dengan senyum yang merekah di wajahnya. “Abang!!” pekik Emilie girang dan berlari untuk memeluk kakak tirinya dengan erat. Senyum Emilie merekah ketika ia melepaskan pelukannya dan mendapatkan elusan lembut dari kakak tirinya itu. “Abang kok ada di sini?” ucapnya dalam bahasa Indonesia. Alvin menyeringai. “Ada urusan dong, jelas. Kamu ngapain di sini? Nganterin dokumen?” tanyanya sebelum kemudian melihat gaun cantik yang digunakan Emilie. “Kamu baru beli baju? Keliatannya mahal nih. Uang jajan sekarang nggak ditabungin?” Emilie menggigit bibir bawahnya dan tersenyum kikuk. “Ehehehe.” “Eh malah ketawa lagi,” kata Alvin sambil mencubit pipi adik kesayangannya itu. “Nanti Vano marah ke kamu. Ntar tugas kamu makin susah.” Emilie mengedikkan bahunya sekilas. “Kayaknya nggak akan ada tugas lagi deh, Bang.” “Maksudnya?” tanya Alvin heran, kemudian meneliti tubuh Emilie lagi sebelum tersenyum lebar. “Kamu akhirnya mutusin buat keluar dari keluarga? Kabur??” Emilie kali ini menatap tajam pada kakaknya dengan raut wajah garang. Tangannya melayang, memukul kepala Alvin dengan kesal. “Seneng, kan, jadi putra mahkota sekarang?” Alvin mengaduh sambil masih tertawa. “Putra makhota itu Vano, putri mahkotanya kamu. Karna kamu gagal jadi ratu, abang rela kok jadi pengawal buat kamu.” Emilie cemberut. Dia memeluk Alvin dengan manja. “A-ahhh, gimana sama perusahaan punya mama, Bang? Masa aku harus relain aja jatuh ke tangan Bang Vano yang jahat kayak Thanos itu?” Alvin menghela napas panjang dan mengelus punggung Emilie dengan lembut. “Vano nggak sejahat itu, kok. Kamu aja yang nethink. Justru, karna Vano orangnya workaholic, jadi, perusahaan bakal aman di tangan dia. Udah, kamu jangan sedih, ya.” Emilie tidak membalas ucapan Alvin dan hanya memeluk kakaknya dengan erat dan manja. Alvin Dharma Zeffron, saudara tiri dari Emilie Spencer Zeffron. Alvin adalah kembaran dari Alvano Dharma Zeffron. Keluarga dengan pemikiran kuno yang tidak boleh menjadikan wanita seorang pemimpin di perusahaan. Padahal dulu, ibu dari Emilie alias Elena Spencer adalah suatu pemimpin di sebuah perusahaan yang dikelolanya lalu kemudian bertemu dengan ayahnya, Erick Zeffron yang membuat Elena kehilangan posisinya karena tradisi keluarga yang Erick percayai. Alvin dan Vano adalah 2 orang yang sangat berbanding terbalik. Awal bertemu dengan keluarga besarnya, Alvin menunjukkan sikap bersahabat yang menjadikan Emilie sangat lengket pada Alvin karena Alvin memiliki sikap yang menyenangkan. Sedangkan bersama Vano, bisa dibilang pria itu sama seperti Xavier yang gila kontrol dan selalu menyuruh Emilie belajar dan tidak boleh bermain banyak. Walaupun malas dan banyak mengeluh, namun hal itu tentu saja sukses membuat Emilie mendapatkan IPK besar di ijasahnya. Sebenarnya, keluarga mereka bukan keluarga yang menjadikan Emilie kacung seperti di Cinderella. Yang mengherankan adalah sikap ayahnya yang tiba-tiba dingin dan keras setelah menikah dengan ibu tirinya, Anne. Entah apa yang dikatakan Anne pada ayahnya dan juga Vano, tapi hal itu membuat Vano serta ayahnya menjadi orang yang tidak Emilie kenali lagi dan sering membuat Emilie sedih karena hal itu. Dan Alvin adalah pelariannya menumpahkan emosi. Alvin selalu membuat cerita atau lelucon lucu yang membuat Emilie tertawa lagi. Puncak dari kesedihan Emilie adalah ketika ayahnya menyuruh Vano menjadi pemimpin dari perusahaan keluarga Spencer yang mana dahulu Emilie pernah berjanji kepada ibunya bahwa Emilie akan menjadikan perusahaan ibunya berkembang dan memasang foto ibunya sebagai pendiri terdahulu dari perusahaan tersebut. Ibunya memiliki tujuan untuk membantu orang-orang yang kekurangan dan Emilie sangat tahu jika Vano selalu terfokus pada uang dan kekuasaan. Karena dari itu, Emilie menantang keluarganya untuk memberikan perusahaan Spencer agar dikelolanya dan Emilie akan membuktikan bahwa dirinya mampu menjadi pemimpin di perusahaan yang tidak hanya mencari penghasilan, tapi juga membuahkan kebaikan. Dan ayahnya akhirnya setuju dengan syarat agar Emilie berada di bawah pimpinan Vano lebih dulu. Namun sialnya, malah Emilie yang dipermainkan oleh Vano dan berkali-kali Emilie menangis karena Vano dan ayahnya. Mungkin, di dunia ini, jika Emilie meninggal, hanya Vano dan Sagara yang akan bersedih akan kematiannya. “Emilie!” Tarikan di tangan Emilie membuat pelukannya dengan kakaknya terlepas. Emilie menatap si penarik yang ternyata Xavier. “Xavier? Kenapa kau di sini?” tanyanya kaget melihat wajah Xavier yang terlihat marah seperti ketika Xavier marah pada Sandra. “Oh? Kau… Owner?” tanya Alvin sambil menunjuk Xavier dengan mata melotot. Alvin menatap Emilie dan Xavier bergantian, lalu menatap tangan Xavier yang sudah berada di pinggang Emilie. Alvin memiringkan kepalanya dan tersenyum miring menatap pasangan itu. “Woah, aku mendapatkan jacpot!” “Hah?” heran Emilie. Alvin membalas dengan senyum merekah pada Emilie. “Emilie! Kau mendapatkan jacpot!” “Apa yang kau maksud?” tanya Emilie kembali menggunakan bahasa Inggris. Alvin mendengus dan mengusap kepala Emilie namun Xavier segera mencekal tangan Alvin dan menghempaskannya dengan keras. Hal itu membuat Alvin tertawa. “Kau jagalah adikku. Jangan kau sakiti atau kau bunuh. Mengerti?” ucapnya, kemudian menatap adiknya. “Aku pergi dulu. Kau jaga diri baik-baik.” Emilie melotot menatap kakaknya yang pergi begitu saja di hadapannya. “Hey!! Alvin!! Aku sedang disandera olehnya! Kau tidak mau menolongku?!” Alvin tidak berbalik sedikitpun dan hanya melambaikan tangannya ke atas. Emilie mendengus tidak percaya. “Woah, tidak bisa dipercaya! Bagaimana jika aku benar-benar dibunuh Xavier?” tanyanya, kemudian menoleh pada Xavier yang menatap Emilie dengan tatapan membunuh. Melihat dari jarak yang sedekat ini, sukses membuat Emilie menelan ludah kemudian mengembuskan napasnya dengan lelah. “Apa? Kenapa? Apalagi salahku?” Xavier tidak menjawab dan terus memelototi Emilie. Dan Emilie hanya dapat menghela napas kasar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD