Perjalanan dari rumah ke kantor Xavier sebenarnya tidak memakan waktu hingga 20 menit. Namun dengan kuasanya, Xavier menyuruh supirnya, Dansel, untuk memilih jalan memutar yang memakan waktu lebih dari setengah jam. Zander mengerti dengan keinginan tuannya itu namun Dansel tetap harus diberikan pelototan terlebih dahulu oleh Xavier agar menuruti perintahnya.
Supirnya yang satu itu sangat kudet dan tidak peka sekali.
“Jadi, ayahmu menikah lagi?” tanya Xavier sambil berdeham pelan. Inilah alasannya ingin memutar jalan. Jika sampai di kantor lebih dulu, Xavier malah akan fokus kerja dan tidak sempat menanyakan beberapa hal yang ingin dia tahu.
Emilie mendelik mendengarnya. Dia mengeratkan pegangannya pada sabuk pengaman dan menatap ke arah luar jendela. “Begitulah, kau pasti sudah melihatnya dari penelitianmu padaku.”
Xavier mendengus geli. “Kau pikir dirimu itu adalah kelinci percobaan? Aku hanya menyelidikimu saja tapi bukan berarti aku tahu semua tentangmu.”
Emilie berpikir sejenak sebelum membenarkan duduknya dan menatap Xavier. “Kali ini, tidak usah membahasku. Bagaimana jika kita membahas tentangmu saja?”
“Aku? Kenapa kau ingin tahu tentangku?”
“Tentu saja. Kita sudah bertemu sebanyak lebih dari tiga kali. Itu berarti, kita pasti akan terus bertemu dalam waktu yang tidak ditentukan.”
Xavier terkekeh. “Teori dari mana itu?”
“Drama Korea, Tuan,” jawab Zander yang duduk di depan, tepat di samping kursi pengemudi. "Pertemuan ketiga adalah takdir."
Raut wajah Xavier berubah datar seketika. “Aku tidak bertanya padamu.”
Emilie bersidekap di depan d**a. Dia menatap Xavier dengan tatapan menyelidik. “Kau ini gampang sekali merubah raut wajah. Apa kau ini sebenarnya psikopat?”
Pertanyaan santai dari Emilie sukses membuat orang-orang yang berada di dalam mobil itu terdiam. Semua orang di dalam---kecuali Emilie, tentunya---sangat tahu jika kata psikopat sangat tepat untuk menggambarkan Xavier. Owner. Pemilik para psikopat. Orang yang sangat ditakuti oleh para penguasa sekalipun. Owner yang bahkan pasti ditakuti walaupun jatuh miskin sekalipun.
“Kenapa suasananya jadi hening seperti ini? Kau benar-benar psikopat?” tanya Emilie dengan heran ketika melihat suasana menjadi mencekam.
Xavier menelan ludahnya sebelum ikut menatap Emilie. “Jika benar, memangnya kenapa? Kau takut?”
Emilie mengangkat sebelah alisnya seolah berpikir. Ia memiringkan wajahnya, kemudian menggeleng. “Tidak, jika kau psikopat yang ada di drama Psychopath Diary.”
“Psychopath Diary?” heran Xavier sambil mendesah lega karena Emilie ternyata tidak takut padanya.
“Psychopath Diary adalah drama korea yang diproduksi pada tahun 2019-2020,” jelas Zander. “Bercerita tentang pria bodoh dan pengecut yang memiliki buku harian seorang psikopat dan malah kehilangan ingatannya. Sehingga, dia salah mengira bahwa dirinya dulunya adalah seorang psikopat. Di akhir, psikopat yang asli dan orang bodoh itu berkelahi dan klimaksnya, film menjelaskan bahwa psikopat asli itu tidak lebih dari seorang pengecut juga.”
Xavier menatap Zander dengan tatapan membunuh kali ini. “Apa kau tidak bisa berhenti berbicara?”
Zander menatap spion depan dan menganggukkan kepalanya sejenak ketika mendapatkan tatapan peringatan dari tuannya. “Ah, maafkan saya, Tuan.”
“Ah, kau menyadari kesalahanmu juga, ternyata,” omel Xavier, lalu menoleh pada Emilie yang tersenyum menatap Zander. Xavier berdeham, membawa fokus Emilie padanya kembali. “Jadi maksudmu, kau menyukai pengecut yang merasa dirinya adalah psikopat?”
Emilie menggeleng. “Tidak! Aku menyukai pemeran utamanya.”
“Tapi, pemeran utamanya bukan psikopat, Nona.” Kata Zander, dan mendapatkan pelototan dari Xavier. Zander segera menutup mulutnya dan menunduk.
“Um, menurutku, Dong Sik adalah seorang psikopat. Walaupun dia tidak membunuh seorang pun, menurutku dia adalah psikopat yang baik.” Kata Emilie.
“Mana ada psikopat yang baik.” Komentar Xavier sambil mendelik.
“Tentu saja ada!” sentak Emilie. “Menurutku, psikopat sejati itu pasti bisa menahan nafsu membunuhnya dengan baik. Dong Sik tidak bisa membunuh orang-orang yang jahat padanya bukan karena ia tidak bisa melakukannya, tapi dia tahu bahwa orang-orang yang jahat padanya itu tidak pernah membunuh orang. Lain halnya ketika dia dihadapkan dengan psikopat asli. Tanpa ragu, dia bahkan melawan dengan nafsu membunuhnya. Dan lagi, menurutku, yang paling menakutkan bukanlah psikopat yang dingin dan tidak memiliki emosi. Tapi yang masih tersenyum disaat yang dia keluarkan adalah kata-kata ancaman. Seperti Dong Sik. Beberapa kali dia memiliki kesempatan membunuh, tapi selalu tertahan. Tapi, aku yakin jika tidak ada yang menahannya waktu itu, dia pasti akan benar-benar membunuh orang.”
Xavier mendengus geli dengan bibir yang naik sebelah. “Kau tertarik dengan orang seperti itu? Apakah kau menyukai psikopat jika ada di dunia nyata?” ucapnya sambil tersenyum senang.
“Tentu saja tidak! Memangnya aku wanita sinting? Orang waras tidak akan mau dengan psikopat,” kata Emilie, sukses membuat senyum di bibir Xavier menghilang. Emilie membenarkan duduknya jadi menghadap Xavier sepenuhnya. “Kau tahu Ted Bundy? Dia adalah pembunuh berantai yang paling terkenal. Dan kau tahu bagaimana ciri-ciri korbannya? Sangat mirip dengan ciri-ciri kekasihnya! Bayangkan bagaimana jika ada suatu waktu kau dicintai oleh seorang psikopat, dan dia menahan untuk tidak membunuhmu tapi akhirnya, bagaimana jika dia membunuhmu? Membayangkannya saja sudah membuatku merinding.”
Ucapan panjang lebar itu membuat suasana makin mencekam dan tidak ada yang berani menghentikan ataupun membalas ucapan Emilie. Hal itu membuat Emilie heran sendiri dengan kelakuan orang-orang di sana. Merasa bersalah karena banyak bicara, Emilie tersenyum canggung. “Ah, maaf. Aku memang aslinya banyak bicara.”
Xavier terdiam sejenak, menatap Emilie dengan lurus-lurus. “Seumur hidup, aku tidak pernah berpikir seperti itu pada orang-orang yang kucintai. Aku tidak pernah mengkhianati orang-orang yang kucintai. Malah sebaliknya, mereka berlari pergi setelah sebelumnya berjanji akan selalu ada di sisiku.”
Mata Emilie membulat heran melihat ekspresi dingin Xavier dan juga ucapannya. “Kau berkata-kata seolah kau psikopat. Memangnya kau psikopat, hah?”
"Tentu..." Xavier menghentikan ucapannya. Matanya yang masih menatap lurus-lurus pada Emilie hanya dapat mengedip tanpa bisa menjawab. Dia lalu tertawa canggung. "Tentu saja bukan, bodoh! Mana mungkin!"
Emilie mengangkat kepalan tangannya dengan kesal. “Lalu kenapa kau memelototiku?!” geramnya.
Kali ini Xavier benar-benar melotot seperti ucapan Emilie. “Hey! Ada apa dengan tanganmu? Kau akan memukulku?!”
Dan Emilie benar-benar memukul lengan Xavier dengan kepalan tangannya. “Kau memang pantas dipukul.”
Xavier mengaduh. “Hey! Kau tidak tahu aku ini siapa?! Orang-orang bahkan takut untuk menyentuhku sedikit saja!”
Bugh!
Emilie kembali memukul Xavier. “Lalu? Apa urusannya denganku, ha?? Yang kutahu hanya kau sering mencari masalah denganku!”
“Kau!!”
Bugh!
“Argh! Hentikan! Kau ingin aku membalas pukulanmu, hah??”
***
Emilie menatap kagum pada interior ruangan kerja milik Xavier. Dekorasi yang mewah namun hanya dipenuhi oleh warna putih dan hitam di beberapa sisi. “Woah, di sini mewah sekali. Ini hotel atau kantor?”
“SANDRA!!”
Teriakan yang menggelegar di dalam ruangan itu membuat Emilie berjengit dan menatap Xavier yang terlihat sangat marah. Seorang wanita segera masuk dengan tergopoh-gopoh. Wajahnya terlihat ketakutan dan hanya bisa menunduk saat menghadap Xavier.
Emilie melihatnya dengan heran. Dia mendekat, menghampiri Xavier yang malah mendekati wanita bernama Sandra itu.
Wajah Xavier yang memerah marah dan rahangnya yang mengeras sukses membuat Emilie agak ketakutan. Namun Emilie tetap mendekati Xavier dan wanita itu. “Xavi, ada ap--”
“SUDAH KUBILANG CEK RUANGANKU BERKALI-KALI! KENAPA MASIH ADA DEBU DI MEJAKU?”
Wanita yang Emilie tebak bernama Sandra itu hanya menundukkan kepalanya dengan takut. Emilie bahkan bisa melihat wanita itu menahan tangis. “Ma-maaf, Tuan.”
Emilie memiringkan wajahnya dengan heran akan teriakan Xavier. “Debu?” tanyanya heran. “Kau memarahinya hanya karena debu?”
“Kau tidak usah ikut campur.” Kata Xavier sambil menarik napasnya untuk menahan amarah. Setidaknya, di depan Emilie dia tidak boleh seperti biasanya.
Emilie menggeleng takjub mendengarnya. “Woah, pasti sangat sulit menjadi bawahanmu. Aku termasuk ke dalam orang beruntung karena tidak memiliki atasan sepertimu.”
“Sudah kubilang jangan ikut campur!” sentak Xavier.
Emilie berdecak. “Ck, mana sini yang ada debunya? Biar aku bereskan.”
Xavier memincingkan matanya dan tidak menjawab ucapan Emilie.
“Mana!” sentak Emilie kemudian, membuat Xavier menghela napas panjang dan mengedikkan dagunya ke arah meja kerjanya.
“Ada di mejaku.”
Emilie menghampiri meja yang ditunjuk oleh Xavier. Dia memperhatikan meja yang permukaannya adalah sebuah kaca berwarna hitam. Emilie memperhatikannya dengan serius dan mencoba untuk melihat debu mana yang Xavier maksud. Namun nihil, Emilie tidak menemukannya. “Mana? Tidak ada.”
Xavier menghampiri mejanya dan berdiri di samping Emilie. Ia menunjuk ujung meja. “Ini nih! Ini!”
Emilie mengernyit dan mendekatkan wajahnya ke meja. Dan ya, dia menemukan debu itu. Debu setitik yang bahkan tidak bisa disebut debu. Mulut Emilie menganga lebar dan menatap Xavier dengan tidak percaya. “Itu? Debu itu?” tanyanya sambil menunjuk debu yang Xavier maksud.
Xavier mengangguk. “Ya.”
Mulut Emilie terbuka makin lebar. Ia menatap debu dan wajah Xavier bergantian. “Kau serius?”
“Ya! Jika dibersihkan dengan benar pasti—Hey! Apa yang kau lakukan?!” ucapan Xavier terpotong dengan kelakuan Emilie yang membersihkan debunya dengan tangan. “Kau membuat mejaku makin kotor!!” amuknya melihat mejanya kini terkotori oleh minyak di tangan Emilie.
“Ini sedang kubersihkan! Debu setitik itu saja jadi masalah.”
“Apanya yang dibersihkan?! Kau membuatnya makin kotor! Hey! Hey! Apa lagi yang kau lakukan?!”
“Aku membersihkan mejanya! Kau ini cerewet sekali!”
“Kau akan membuat mejaku lecet jika membersihkannya dengan bajumu!”
“Yang penting tidak ada debu, kan?!”
“Kau! Aish!! Aku seharusnya tidak membawamu ke sini!”
***
“Apakah kalian tahu wanita yang dibawa Owner?”
“Ya, wanita mungil yang dibawanya itu? Yang berani melawan Owner?”
“Betul! Woah, aku tidak menyangka dia berani melawan orang seperti Owner.”
“Aku pun merasa tidak percaya ketika Sandra bercerita bahwa Owner bahkan tidak memukulnya sedikitpun gara-gara Owner sibuk berdebat dengan wanita itu.”
“Apakah dia pacarnya?”
“Dia terlihat muda. Apakah mungkin, dia keponakannya?”
“Kau benar juga. Dia terlihat seperti masih 20-an.”
“Siapapun dia, dia pasti spesial karena Owner membiarkannya berada di sisinya dan bisa membuat Owner menjadi jinak.”