Total 2 hari, Emilie dikurung di rumah Xavier namun sungguh, Xavier tidak konsisten dengan ucapannya yang tidak membolehkan pelayan untuk memberikan makan pada Emilie.
Malah, tiap hari akan ada beberapa pelayan yang keluar-masuk ke kamar hanya untuk melayani Emilie. Dan tentunya, itu diperintahkan oleh Xavier karena pelayan itu tetap tidak membolehkan Emilie melepaskan ikatannya. Dan Emilie bahkan diantar untuk ke toilet saja sebelum akhirnya diikat lagi di kasur. Sungguh, Xavier adalah penjahat yang tidak niat. Maksudnya, mana ada penjahat yang mengancam tapi akhirnya tidak jadi melakukan niat buruknya itu?
Emilie mengernyit heran melihat Xavier yang diam di ujung ranjang dan hanya menatap asisten-asisten rumah tangganya yang sibuk membereskan kasur dan melepaskan ikatan tangan Emilie.
"Ah, obati pergelangan tangannya juga." Kata Xavier dan hanya mendapatkan tatapan heran dari Emilie. Sedangkan para pelayan bergegas menuruti perintah Xavier.
"Ada apa ini sebenarnya? Apa kau sudah menemukan petunjuk tentang anakmu?" Tanya Emilie, mengungkapkan rasa penasarannya.
Xavier berdeham, terlihat seolah menyembunyikan kegugupannya. "Kurasa tidak adil untukmu kalau kau terikat terus padahal kau bisa jadi tidak bersalah. Dan lagi, selama ini kau bersikap baik dan tidak menentang lagi. Jadi, aku akan melepaskanmu dari ikatan kasur tapi bukan berarti melepaskanmu dariku."
Emilie mengerjap terkejut mendengarnya. "Maksudmu?"
Xavier bersidekap di depan d**a. "Aku akan tidur di sini dan kau harus ikut ke mana pun aku pergi. Kau tidak diijinkan keluar rumah sendiri tanpa penjagaan dari anak buahku."
Mulut Emilie menganga lebar dengan tidak percaya. "Maksudmu, kebebasanku menghilang?"
"Tenanglah. Ini hanya sementara hingga bukti jika kau tidak memiliki anakku ditemukan. Dan lagi, semua yang kau butuhkan ada di rumahku. Bioskop, internet, camilan, dan lain sebagainya. Kau tinggal meminta dan semua akan ada."
Emilie melotot. "Tetap saja kau mengurungku! Ruang gerakku jadi tidak bebas!"
"Kau bisa melakukan apapun. Hanya saja, kali ini kau memiliki penjaga di mana-mana," kata Xavier membuat Emilie cemberut mendengarnya. Xavier mendengus. "Kalau tidak mau, kau bisa memilih untuk terikat di kasur lagi dalam waktu yang tidak ditentukan?!"
Emilie makin cemberut mendengarnya. "Lalu bagaimana dengan opsi tidur denganmu?! Apakah itu artinya kau tidur di sofa atau aku tidur di sofa?"
"Kenapa harus ada yang tidur di sofa ketika kasurku sangat luas?"
Emilie melotot kembali. "Maksudmu, kita tidur bersama?!" Pekiknya.
"Tentu saja." Jawabnya kelewat santai.
Emilie lemas seketika mendengarnya.
"Ck, jangan berpikir macam-macam! Itu hanya untuk penjagaan agar kau tidak kabur." Xavier berucap sambil mengernyitkan alisnya seolah tidak suka.
"Kau bisa menyuruhku tidur dengan pelayan wanita!"
"Aku tidak percaya dengan orang lain kecuali diriku sendiri."
Emilie mendelik mendengar ucapan yang penuh dengan rasa percaya diri yang tinggi itu.
***
"Lalu? Bagaimana kita akan tidur sekarang?" Emilie bertanya pada Xavier yang dengan santai mengatur bantalnya dengan rapi di samping bantal milik Emilie. "Xavi!"
Xavier mengabaikan dan menidurkan dirinya dengan santai.
"KYA!!" teriak Emilie ketika Xavier menarik tangan Emilie dengan kencang dan membuat kepala Emilie jatuh di atas d**a Xavier. Emilie terpaku ketika merasakan pelukan erat di tubuhnya. Setelah mendapatkan kesadarannya, Emilie segera mencoba bangkit namun Xavier menahannya. "Xavi!!"
"Diamlah. Aku adalah talimu sekarang."
Emilie menelan ludahnya dengan susah payah akibat gugup yang melandanya. Entah kenapa, ucapan Xavier sungguh romantis di telinganya. "Ta-tapi—"
"Kenapa kau begitu gugup? Kita bahkan pernah bercinta."
Emilie cemberut mendengarnya. "Itu lain hal! Saat itu entah kenapa aku—"
"b*******h? Semua wanita akan b*******h ketika melihatku."
Emilie mendongak untuk menatap wajah tampan milik Xavier yang sialnya malah rahang pria yang seksi minta dicium itu yang terlihat. "Kau harus cek ke psikolog. Bisa jadi kau memiliki penyakit narsistik disorder." Katanya kemudian setelah beberapa saat terpaku.
Xavier malah memiringkan tubuhnya dengan mata yang tetap terpejam. Hal itu membuat Emilie dipeluk sepenuhnya oleh Xavier dan mata Emilie bertatapan langsung dengan tulang selangka hingga leher Xavier yang benar-benar minta dicium.
Emilie berdeham dan menelan ludahnya dengan susah payah. "Apakah kau seperti ini terhadap semua sanderamu?"
"Kau berkata seolah aku sering menyandera orang."
Emilie menggigit bibir bawahnya mendengar suara serak Xavier. "Suara mengancammu sangat profesional. Kupikir kau sudah melakukannya berkali-kali."
Xavier hanya mendengus tanpa menjawab selama beberapa lama. Hingga kemudian Xavier mengeratkan pelukannya sampai membuat hidung Emilie menyentuh langsung kulit leher Xavier. "Aku sebenarnya tidak bermaksud untuk mengancam membunuhmu. Aku hanya ingin kau cepat-cepat mengakui informasi tentang anakku."
Emilie mengulum bibirnya dan mencoba menenangkan dirinya sendiri agar tidak menyerang leher Xavier dengan kecupan panas darinya. Dia berdeham. "Kubilang—"
"Ya, aku tahu. Tidurlah."
Emilie cemberut ketika Xavier memotong ucapannya. Dia menggigit bibir bawahnya dan menundukkan kepalanya, menjadikan hanya keningnya saja yang menyentuh leher Xavier. "Bagaimana aku bisa tidur jika posisinya seperti ini?" Bisik Emilie dengan refleks dan mendongakkan kepala untuk melihat bagaimana reaksi Xavier. Melihat pria tampan itu tetap menutup mata, Emilie menghela napas lega.
Malam itu, Emilie baru bisa tertidur setelah berjam-jam menutup matanya, memaksa dirinya untuk cepat-cepat tidur.
***
Emilie mengerjapkan matanya dan membuka matanya ketika menyadari jika ia berada di tempat lain dan lebih lagi, di pelukan orang lain. Xavier masih tertidur pulas sambil memeluknya, membuat Emilie malu sendiri karena dia benar-benar tertidur pulas di pelukan Xavier seolah Xavier adalah orang yang sudah dekat dengannya dan bisa dijadikan bantalan tidur oleh Emilie.
Emilie berusaha keras menutup mulutnya yang mungkin saja saat ini sangat bau. Ia memundurkan tubuhnya pelan, dan kini matanya dapat melihat dengan jelas wajah Xavier yang masih tidur.
Sangat tampan.
Hanya itu yang dapat Emilie gambarkan tentang Xavier. Pria berkulit putih dengan kulit kasar dan sangat terlihat otot-otot di tubuhnya. Jangan tanyakan bentuk wajah seperti bibir, alis, ataupun hidung. Semuanya sempurna di wajah Xavier. Dan Emilie adalah salah satu orang yang menghindari kesempurnaan.
Emilie menghela napas panjang. Dia makin menjauhkan tubuhnya dari Xavier dan mencoba turun dari kasur. Emilie segera berlari pelan menuju ke arah pintu kamar mandi. Untungnya, saat ini kaki Emilie tidak menggunakan sandal rumah. Maka dari itu, langkah Emilie tidak mengeluarkan suara. Emilie segera bersiap diri. Ketika masih terikat di kasur kemarin, segalanya dikerjakan oleh pembantu. Sampai sikat gigi pun sudah ada yang membantunya. Emilie benar-benar seperti putri yang berada di kerajaan. Dari ujung rambut hingga ujung kaki ada yang mengurusi.
Tapi kali ini tidak. Emilie dengan menyeringai lebar menyikat giginya dengan semangat. Senang rasanya bisa kembali mendapatkan tangannya setelah kemarin terikat erat di ranjang.
Emilie mengerjap dan melamun sejenak menatap pantulan wajahnya di cermin. "Tapi, Xavier itu sedikit aneh. Kemarin-kemarin dia seperti orang jahat, tapi sekarang dia menjadi pria yang manis." Gumamnya sendiri.
Dari yang berkata kasar hingga memiliki ide semanis itu, Xavier benar-benar membuat Emilie kebingungan. "Yang mana sifat aslinya sebenarnya?" Tanyanya kembali kepada dirinya sendiri.
Emilie segera menyelesaikan kegiatan menyikat giginya dan keluar dari kamar mandi setelah mencuci wajah. Dia masih melihat Xavier yang tertidur pulas dengan posisi yang sama. Emilie hanya menggelengkan kepalanya dan keluar dari kamar.
"Ah!! Kau mengagetkanku!" Seru Emilie ketika melihat seorang pria berdiri tepat di depan pintu.
"Tuan belum bangun?" Tanya pria itu, membuat Emilie mengernyit tanpa menjawab. "Ah, maafkan ketidaksopananku. Namaku Zander, aku sekretaris dari tuan Xavier."
Emilie mengangguk perlahan. "Um, aku Emilie. Kau pasti tahu karena kemarin ada di sana. Dan...," Emilie menjeda ucapannya sambil menoleh ke belakang di mana Xavier masih tertidur. "... tuanmu masih tidur." Katanya sambil kembali menatap Zander.
Zander mengangguk. "Lalu? Kau akan kabur?"
Emilie mengangguk. "Ya, kabur dari kamar untuk mencari makan."
"Tuan tidak pernah sarapan."
"Apa itu berarti tidak ada makanan?" Tanya Emilie dengan mata melotot, dan diangguki oleh Zander. Emilie mendengus. "Aku tidak bisa menahan lapar lagi hari ini! Aku ingin sarapan!"
Zander tidak menjawab dan hanya berdiri diam dengan wajah datarnya. Emilie mendengus melihatnya dan berjalan melewati Zander namun Zander malah mengikutinya dari belakang.
"Di mana dapurnya?" Tanya Emilie pada Zander.
"Belok kanan dari sini, lalu belok kanan di ujung ruangan."
Emilie mengikuti instruksi Zander dan menemukan sebuah dapur yang sangat luas seperti tempat di mana koki-koki hebat melakukan tugasnya. Dapur restoran yang sering muncul di film-film. Dapur rumahku saja tidak seluas ini. Sebenarnya, apa pekerjaan Xavier? Tanya Emilie heran di dalam hatinya.
Rasa dingin yang menyelimuti tubuh Emilie membuat bulu kuduk Emilie berdiri. Dan ruangan yang sepi membuat Emilie merasa parno sendiri. Emilie menoleh ke belakang dan mendapati Zander masih ada di belakangnya. Emilie berdeham. "Apa tidak ada dapur lain? Kurasa, di sini terlalu luas."
"Bahan makanannya ada di kulkas." Kata Zander dan berbalik pergi meninggalkan Emilie tanpa menjawab pertanyaan Emilie sebelumnya.
Emilie menelan ludahnya susah payah. Ia bahkan takut untuk berbalik melihat dapur ini kembali. Emilie menarik napas panjang dan memberanikan diri untuk berbalik dan menuju ke kulkas. Dia membuka kulkas di sana dan melihat banyak sekali makanan yang ditata rapi di dalamnya. Ide memasak di kepala Emilie segera tumbuh namun Emilie memutuskan mengolah roti saja karena dapur yang digunakannya saat ini sangat menyeramkan. Tidak sampai setengah jam, Emilie segera keluar dari dapur dengan roti panggang yang masih hangat di tangannya.
Emilie menghampiri meja makan dengan segera dan duduk dengan salah satu kakinya yang terangkat menyentuh kursi. Emilie memakan sarapannya dengan lahap. Ada sekitar 2 roti lapis (sandwich) dihabiskannya. Belum lagi dengan isian telur dan madu di dalamnya.
"Kau harus ikut denganku hari ini."
Mendengar ucapan dari suara yang sangat dikenalnya itu, Emilie segera menoleh ke belakang dan mendapati Xavier sedang menuruni tangga dengan pakaian rapi dan Zander berada di belakangnya.
Emilie yang mulutnya masih penuh hanya mengerjapkan matanya dan kembali memakan sarapannya.
"Oi, kenapa kau tidak menjawab?" Tanya Xavier yang kini berada tepat di samping Emilie.
Emilie kembali mendongak ke samping untuk menatap Xavier yang berdiri di sampingnya. "Kau berbicara denganku?"
Xavier mendengus dan duduk di kursi di samping Emilie. Matanya meneliti penampilan berantakan Emilie yang sedang makan dan juga kaki Emilie yang naik ke atas kursi, lalu 3 roti lapis yang tersisa di piring. Xavier membuka mulutnya dan menggeleng heran. "Apakah wanita sekecil dirimu bisa menghabiskan semua ini?"
Emilie menelan roti yang masih ada di dalam mulutnya dan mengangguk. "Ya, aku memiliki perut yang besar."
Xavier menatap perut Emilie dengan alis yang terangkat. "Perutmu kecil."
Emilie ikut menatap perutnya sendiri, kemudian cemberut dengan kaki yang ia turunkan. "Maksudnya, porsi makanku besar."
Xavier mengangkat alisnya dan mengangguk pelan.
"Ah, ya, apa tadi kau berbicara denganku? Yang menyuruhku ikut denganmu." Tanya Emilie kemudian.
"Ya."
"Tapi, aku tidak memiliki pakaian."
"Zander sudah mengurusnya."
"Kita akan ke mana?"
"Ke kantorku. Dan segera habiskan makananmu lalu mandi dan ganti pakaian."
Emilie mengangguk dan kembali memakan rotinya. Melihat Xavier yang masih menatapnya, Emilie menggeser roti lapisnya ke hadapan Xavier. "Kau mau?" Tanyanya dan dibalas Xavier dengan tatapan bertanya. "Coba saja. Aku pintar membuat makanan. Teman-temanku pasti akan luluh ketika marah dan aku membuatkan mereka makan."
Xavier menatap Emilie dan roti lapis itu bergantian, lalu mengedikan bahunya sekilas. Tidak ada salahnya memakan roti di pagi hari. Hitung-hitung memakan camilan. Tangan Xavier akhirnya mengambil roti lapis itu dan memakannya segigit. Baru saja roti itu menyentuh lidahnya, Xavier menghentikan kunyahannya dengan refleks.
Emilie yang melihatnya segera menyeringai. "Enak, bukan?" Tanyanya.
Xavier mengerjapkan matanya dan tidak menjawab ucapan Emilie. Dia memakan rotinya dengan cepat dan habis tidak sampai 1 menit. Baru saja Emilie akan mengambil roti lapis yang lain di piringnya, Xavier segera merebutnya dan memakan roti lapisnya yang tersisa.
"Kau buat saja lagi." Kata Xavier dengan mulutnya yang masih penuh.
Emilie dan Zander sama-sama menatap Xavier dengan heran.
***
Emilie keluar dari kamarnya dengan pakaian baru yang sudah melekat indah di tubuhnya. Emilie memutar tubuhnya dengan senang karena pakaian tersebut begitu lucu dipakainya. Sedangkan 2 pria yang berdiri di depan pintu hanya menatap Emilie dengan tidak tertarik.
“Bagaimana penampilanku? Apakah lucu?”
Zander mengangguk sedangkan Xavier hanya menghela napas panjang. Emilie merespon dengan tersenyum malu. Dia menyelipkan rambutnya di belakang telinga dengan gerakan anggun. “Ya, tidak heran aku cocok dengan semua pakaian. Bahkan, karung beras pun akan terlihat bagus untukku. Bagaimana? Apakah aku mirip aktris Korea?”
“Karung beras lebih cocok untukmu.”
“Ya.”
Respon berbeda dari Zander membuat Xavier mengangkat alisnya dan Emilie tersenyum malu.
“Zander, matamu benar-benar jeli!” kata Emilie dengan semangat. “Mulai hari ini, kau bisa memanggilku Em! Kita teman sekarang.”
Xavier mendengus. “Hey, jangan kegeeran. Zander itu setuju dengan ucapanku, bukan ucapanmu.”
Emilie mendecih dan menatap Xavier dengan tajam. Mata Emilie kemudian beralih menatap Zander, seolah meminta jawaban tentang ke arah mana persetujuan Zander.
“Menurutku, Em terlihat seperti Jun Ji Hyun.” Kata Zander.
Emilie tersenyum lebar mendengarnya. “Woah, kau bahkan tahu Jun Ji Hyun?” tanyanya semangat sambil menatap Xavier dengan tatapan penuh kemenangan, dan Xavier balas dengan delikan.
“Tentu saja dia tahu. Dia kan sering menonton drama korea. Sangat tidak pria sekali.” Kata Xavier, menghina. Namun, di luar dugaannya, Emilie malah tersenyum sangat lebar.
“Banarkah?! Kau suka menonton drama? Woah, selera kita sangat serupa. Tidak heran kau sangat tahu apa keinginan wanita termasuk memilihkan pakaian yang cocok seperti ini.”
Zander tersenyum malu, sedangkan Xavier mendatarkan wajahnya seketika. Dia menatap kesal pada Zander yang masih tersenyum. “Kenapa kau masih di sini? Tidak akan menyuruh supir untuk menyiapkan mobilnya? Kau ingin kita terlambat?!”
Zander mengangkat kedua alisnya dengan heran. “Tapi kita sudah terlam--”
“Lalu?! Kau ingin menentang perintahku?! Kau ingin dipecat bersama Dansel?!” teriak Xavier, membuat Emilie berjengit.
“Galak sekali.” Gumam Emilie pelan.
“Cepat!!” sentak Xavier kemudian, membuat Zander berlari terbirit untuk keluar.
Emilie menatap Xavier dengan tajam, dan dibalas Xavier dengan menaikkan dagunya. Kesal, Emilie segera menyusul Zander dengan berjalan. Diikuti oleh Xavier yang berjalan di belakangnya. Setelah jarak mereka dirasa jauh, Xavier tersenyum miring melihat punggung Emilie. “Cantik,” pujinya.
Dan seolah mendengar, Emilie menghentikan langkahnya, membuat Xavier tegang seketika. Xavier sudah menelan ludah dengan susah payah saat Emilie berbalik menatapnya. Namun yang didapatkan Xavier bukanlah wajah memerah Emilie, melainkan raut kesal Emilie.
Mengetahui bahwa Emilie tidak mendengar ucapanya, Xavier menaikkan dagunya kembali dengan angkuh. “Apa?”
Emilie tidak menjawab, hanya memeletkan lidahnya kemudian berlari menjauhi Xavier. Melihat kelucuan wanita itu, tanpa sadar Xavier terkekeh pelan.