Oh My Xavier 4 : Di Mana Anakku?

2726 Words
Xavier mengerjapkan matanya dengan perlahan. Sebuah tangan yang mengelus dadanya dengan lembut membuat Xavier menundukkan kepalanya dan mendapati tangan putih mulus di atas dadanya. Tangan itu kemudian naik dan mengelus pipi Xavier dengan lembut. "Kau sudah bangun, Sayang?" Xavier menutup matanya perlahan, mencoba setenang mungkin seperti kebiasaannya ketika ia mencoba menjadi seseorang yang bisa berbaur dengan orang lain. Dengan gerakan cepat, Xavier menerjang wanita yang berada di atas ranjangnya hingga kini Xavier berada di atas tubuh wanita itu. Bibir pria itu melengkungkan senyuman dan membuat wanita yang berada di bawahnya itu ikut tersenyum senang. Xavier mengelus pipi wanita di bawahnya dengan tenang. "Apa kau tidak tahu siapa aku?" Tanyanya lembut. Wanita di bawahnya tersenyum lembut. "Pria berkharisma yang mungkin saja bisa membawaku dalam kematian karena ketampanannya?" Gombal wanita jalang di bawahnya. Xavier menyeringai. "Betul sekali." Katanya sambil menurunkan wajah dan meraih leher wanita itu dengan bibirnya, membuat wanita di bawahnya mendesah mendapat perlakuan seperti itu. Xavier menjilati leher wanita di bawahnya dengan perlahan, mencari denyutan kencang yang akan terasa di lidahnya. Menemukan denyutan itu, Xavier segera menghisapnya sekuat mungkin, membuat wanita di bawahnya mendesis kesakitan. Tangan wanita itu mulai mendorong bahu Xavier saat rasa sakit itu makin terasa menyengat di tubuhnya. "Sayang, kurasa—" Xavier meraih kedua tangan wanita itu, menyatukannya di satu tangannya dan menahan kepala wanita itu agar tidak bergerak. Xavier menarik napasnya kuat-kuat dan menyedot kulit leher wanita itu dengan makin kuat. Wanita di bawahnya mengejang merasakan perih tidak tertahan di lehernya. "S-sakit! Lepas!!" Keluh wanita itu mencoba melepaskan diri dari Xavier. Namun Xavier tidak mendengarkannya dan makin menghisap kuat leher wanita itu, kemudian menggigitnya kencang hingga kulit manusia yang sangat tebal itu terlepas bersama dengan uratnya. Napas wanita itu tersendat ketika kulitnya yang seharusnya tebal dan tidak dapat ditebas dengan mudah itu menciptakan darah ke mana-mana, mengotori bantal hingga kasur milik Xavier. Matanya sudah tidak fokus ketika dirinya tersedak dan Xavier menjauhkan wajahnya dari leher wanita itu. Tangan bergetar milik wanita itu menyentuh lehernya sendiri, mencoba menghentikan pendarahan walaupun percuma. "Ke-kenapa?!" Sendatnya. Xavier tersenyum miring dan wajahnya berubah dingin seketika. "Berani-beraninya seorang jalang sepertimu mengucapkan kata-kata menjijikkan itu padaku dan berkata informal padaku? Aku hanya mengabulkan apa yang kau katakan. Kematian." Katanya dingin, sarat akan kegelapan. *** "Tuan! Tapi Anda adalah anak yang tercantum dalam kartu keluarga!" Julian, seorang pengacara keluarganya yang datang dengan sebuah tumpukan dokumen di tangannya. Xavier yang sedang menikmati kopi di pagi hari itu berdecak kesal dan mendelik. "Sudah kubilang, Paman! Aku tidak bisa berbisnis begitu! Aku ini bodoh soal pekerjaan! Berikan saja pada Felix. Dia juga keluargaku, bukan?" "Tapi Tuan—" "Aku akan membuat perusahaan itu hancur jika kau bersikeras memberikan itu padaku." Julian, pengacara keluarganya yang sudah turun temurun itu tampak frustasi. "Almarhum kakek Anda akan marah di alam baka kalau Felix yang menjadi penerusnya!" "Tidak peduli. Dia sudah mati ini. Memangnya dia bisa apa di dalam tanah?" "Tuan!!" "Paman!" Rengek Xavier sambil menggerakkan bahunya dengan kesal, seolah merengek pada pengacara pribadi keluarganya. Julian mendudukkan dirinya yang sedari tadi berdiri. Dia duduk di kursi dengan lemas sambil memijat pelipisnya. Dia menghela napas pelan dan kembali menatap Xavier. "Masalahnya tidak semudah itu, Tuan. Felix adalah anak yang ditinggalkan oleh keluarga ini. Apakah dia akan mau meneruskan bisnis keluarga ini tanpa berniat menghancurkannya?" "Jangan berburuk sangka begitu, Paman. Felix itu sebenarnya mata duitan." "Tuan yang berburuk sangka jika begitu!" "Aku mengungkapkan fakta," kata Xavier sambil menyeruput kembali kopinya. Dia meraih ponselnya yang disimpan di atas meja dengan sebuah bantalan mewah yang menjadi wadah ponselnya. "Biar aku saja yang berbicara dengannya." Julian mengernyit. "Anda masih berhubungan dengan Tuan Felix?" "Tentu saja. Dia sepupuku," jawab Xavier sambil mengotak atik ponsel di tangannya untuk menghubungi Felix. Dua kali dia menghubungi pria sok sibuk itu, dan di panggilan ketiga, barulah Felix menjawabnya. "Jika tidak penting, aku akan memblokirmu." Xavier melotot mendengarnya. "Kupikir kau tidak menyimpan nomorku! Berani-beraninya kau mengacuhkan panggilanku!" "Aku menyimpan nomormu dengan nama 'Jangan Diangkat' semenjak kau menolak mencari Felly." Xavier tertawa mendengarnya. "Sangat lucu ketika ada orang yang tahu siapa aku tapi malah mengabaikanku." "Kau tahu kalimat 'BOUDO AMAT!' yang terkenal di Indonesia?" "Hey, kita adalah keturunan yang sama. Aku juga bisa bahasa Indonesia!" "Aku sudah tahu jika berbicara denganmu pasti tidak akan penting. Aku blok—" "Aku akan memberikan bisnis keluarga padamu. Temuilah aku hari ini." Kata Xavier to the point, membuat pengacaranya menaikkan kedua alisnya dengan mata melotot. "Islandia jauh. Pantatku pegal." Xavier menghela napasnya dengan kasar. "Aku di LA, Bangsat." "Serius? Akhirnya aku bisa gantian mengusirmu." "Ayolah, jangan dendam begitu." "Berhentilah menjadi tukang rengek begitu! Kau ini aslinya sedingin Darren dan sebangsat Kiel dan Alarick!" "Aku lebih buruk!" "Ya, mana ada anak 6 tahunan yang menyuruh anak 4 tahun mendorong kembarannya dengan alibi teori gravitasi?! Kau ini sudah buruk dari lahir!!" Xavier mendengus. Wajahnya tetap menampilkan senyum walaupun sorot matanya mulai memancarkan sorot dingin. "Karena itu, datanglah ke kediamanku sebelum aku mencarimu dan menghancurkan topeng yang kau buat selama ini." "Berani melakukannya, aku akan melakukan lebih dari itu setelahnya." "Felix—" "Maksudku, berikan alamatmu, Sialan!" Potong Felix dan menutup sambungannya sepihak. Xavier mendengus dan menjauhkan ponselnya. Dia melempar ponselnya pada bantalan itu dan seorang pelayan dengan sigap datang dan membersihkan ponselnya. "Bagaimana?" Tanya Julian. Xavier mengangguk. "Dia masih sama. Tidak heran IQ-nya sedikit di bawahku." "Maksudnya?" "Sudah kubilang, Paman. Felix itu mata duitan." *** "Illuminati." Emilie mendengus hampir tertawa mendengar kalimat sahabat prianya, Sagara. Pria itu terlihat serius ketika membicarakan tentang salah satu artis yang tiba-tiba meninggal di apartemennya yang terbakar habis. Mereka saat ini sedang beristirahat di kafetaria kantor dan duduk di satu meja yang sama. "Aku serius! Apakah kau tidak berpikir bahwa pasti ada sebuah kelompok yang menguasai dunia ini?" Kata Sagara dengan serius. "Ada sekte-sekte pengabdi setan yang meminta kekayaan pada iblis. Mereka yang terkenal dan kaya pasti sudah menjual jiwanya pada iblis dan mati jika mereka mengabaikan perintah." "Ya, ya, aku percaya," kata Emilie dengan senyum yang bermain di bibirnya dan meminum jusnya dengan santai. Ketidaktertarikan dari Emilie mendapatkan tatapan kesal milik Sagara. Pria itu benar-benar terlihat kesal hingga mengabaikan makanan di depannya. "Aku benar-benar serius, tahu! Apa kau tahu jika Amerika adalah negara yang paling banyak memiliki hutang? Kau pikir, ke mana mereka berhutang jika bukan ke illuminati? Dan lagi, semua negara berhutang pada Amerika!" Emilie mengedikan bahunya dengan acuh. "Mungkin, dari Saudi Arabia? Atau, Turki?" Katanya, membuat Sagara mendelik dan Emilie tertawa melihatnya. "Kenapa tidak kau tanyakan pada Amerika langsung? Jangan bergosip tanpa mewawancarai narasumbernya langsung." Sagara mendengus kesal. Dia mengambil jus milik Emilie dan meminumnya. "Apa kau pikir aku ini Duta Besar yang bisa bertanya pada Presiden tentang hutang negara?!" Emilie tertawa. "Jangan salahkan aku! Aku hanya mencoba masuk akal saja. Masih banyak negara yang kaya raya. Mungkin, Amerika meminjam pada mereka." Sagara cemberut mendengarnya dan Emilie hanya tertawa. "Tapi aku yakin," kata Sagara. Dia menatap Emilie dengan serius. "Pasti, ada seseorang yang paling berkuasa yang dapat menjadikan para pemimpin negara sebagai bonekanya. Seseorang yang bahkan bisa menjadikan Raja dan Paus berada di tangannya." Emilie mengangkat kedua alisnya. "Jika Raja dan Paus mendengar ucapanmu sekarang, pasti kau sudah dipenggal mati." "Ish! Ini hanya imajinasiku! Apa aku tidak berhak berimajinasi?!" Kesal Sagara sambil melotot. Emilie hanya dapat kembali tertawa. Mereka kemudian mengobrolkan hal-hal yang lain dan saling bercanda sebelum Emilie mendapatkan panggilan telfon dari atasannya langsung. Desahan lelah keluar dari mulutnya dan dia segera mengangkatnya. "Ada apa?" Tanya Emilie dengan setengah hati. Ya, kalian tidak salah dengar. Emilie memperlakukan atasannya dengan begitu. "Nona, mohon maaf, kakak Anda menyuruh Anda untuk mengantarkan dokumen ke—" "Baiklah, berikan saja alamat perusahaannya padaku." "Cabang kali ini sangat jauh dan—" "Berikan saja." Potong Emilie sambil mendesah lelah. Sagara menatapnya dengan alis yang terangkat sebelah seolah bertanya apakah yang Emilie sering alami berulang lagi. Dan Emilie hanya mengangguk sambil mendesah pelan. "Tidak, Nona! Biar saya saja yang mengantar—" "Tidak usah. Lagipula, ini caraku mendapatkan uang jajan dan agar kau tidak mendapatkan hukuman juga." "Tapi—" "Terima kasih atas perhatianmu tapi sungguh, aku harus melakukan ini untuk menyenangkan ayahku." Jeda sejenak di seberang sana sebelum atasannya menghela napas panjang. "Baik, Nona." Emilie mengangguk dan mematikan sambungan telponnya. Sagara mendengus melihatnya. "Aku bertanya-tanya sejauh apa lagi tempatnya dan kau akan disalahkan tentang apa lagi," kata Sagara. "Dan lagi, apakah mereka tidak mengerti tentang email dan fax?! Kenapa masih membutuhkan kurir?!" Emilie mengedikan bahunya dan menyelipkan rambutnya di belakang telinga. "Aku pun penasaran. Alasan apalagi yang akan kakak tiriku berikan pada ayahku selain agar mentalku jadi kuat." Sagara hanya tersenyum prihatin dan menepuk bahu Emilie dengan lembut seolah menyemangati. *** Malam sudah tiba ketika Emilie menjalankan mobil bututnya dengan air mata yang membanjiri pipinya. Sesekali, dia menghapus air matanya dengan kasar dan mencoba untuk menenangkan diri. Namun, ingatannya kembali memutar ketika dia lagi-lagi dimarahi oleh Ketua Tim di depan banyak orang. Padahal Emilie sudah menjelaskan jika ia hanya disuruh mengantarkannya dan tidak ada hubungannya dengan isi di dokumen itu. Namun Ketua Tim itu malah makin menyalahkan Emilie karena tidak bertanggung jawab dengan menyalahkan orang lain. Helaan napas panjang kembali keluar ketika Emilie mencoba menenangkan dirinya. Emilie sebenarnya sudah sering mengalami hal ini dan ini bukanlah sesuatu yang baru. Namun tetap saja, hati Emilie adalah hati Hello Kitty. Dibentak di depan banyak orang bukannya menguatkan mentalnya tapi menghilangkan kepercayaan dirinya. Citt! "Ya Tuhan!" Emilie segera mengerem mobilnya ketika ada penyebrang yang tiba-tiba muncul di depan mobilnya dan tak sengaja tertabrak mobil Emilie. Mata Emilie melotot lebar melihat hal tersebut. Dia segera membuka sabuk pengamannya dan keluar dari mobil. Pekikan kencang meluncur dari mulutnya ketika melihat seseorang yang terbaring di depan mobilnya. "Ya Tuhan! Tuan? Apa Anda baik-baik saja?! Tuan!" Emilie berjongkok di depan tubuh itu namun tidak berani membalik orang yang ia tabrak. Takut-takut wajahnya hancur dan hal itu menjadi mimpi buruk bagi Emilie. "Aduh, bagaimana ini?!" Tangis yang tadinya sudah terhenti kini kembali meluncur akibat kepanikan Emilie. Emilie terlihat bingung ingin melakukan apa. Jalanan juga sepi dan seolah hari ini adalah hukuman terberatnya, tidak ada satupun kendaraan yang lewat. Emilie kembali berdiri dan merogoh sakunya untuk mengambil ponsel. Bugh! Pukulan di belakang lehernya membuat Emilie menjatuhkan ponselnya ketika merasakan tubuhnya perlahan lemas dan ia jatuh di atas aspal. Kenapa Emilie begitu bodoh? Seharusnya dia menelfon polisi saat masih berada di dalam mobil. Dan seharusnya, Emilie tidak mengabaikan pesan broadcast yang menyatakan tentang tata cara begal beraksi. Yang mana hal ini adalah salah satunya. *** Xavier membuka lembar demi lembar dokumen yang ada di tangannya sambil sesekali matanya menatap Emilie yang terbaring di atas ranjangnya. "Jadi, selama dia dipindahtugaskan dari Indonesia ke LA, dia tidak memiliki kegiatan apapun selain sesekali terlihat berbelanja di super market dengan pakaian longgar?" Ucap Xavier yang diangguki olah Zander. "Kau yakin?" "Sangat yakin, Tuan. Dia juga sesekali berada di perusahaan cabang dan perusahaan pusat dengan pakaian yang selalu longgar. Dengan dia yang tinggal sendirian, memungkinan orang-orang tidak akan tahu bahwa dia memiliki anak. Dan lagi, belanja bulanannya di super market pasti memiliki porsi banyak untuk ukuran seorang wanita sekecil dirinya." Xavier mengangguk dan membuang napasnya pelan. Matanya menatap tanpa henti pada Emilie yang tidak sadar dan terikat di atas ranjang. "Jadi, dia memiliki anakku? Dengan tubuh seperti anak JHS itu?" Zander mengangguk. "Tubuh seukuran nona Emilie banyak yang memilikinya di Indonesia. Jadi, bukan hal yang aneh ketika ada seorang ibu yang memiliki tubuh sekecil dirinya." Xavier mendengus dan melempar dokumennya ke sembarang arah. Dia melipat tangannya di depan d**a dengan kaki yang disilang angkuh. "Baiklah, aku hanya membutuhkan anakku kemudian membunuhnya. Kira-kira kapan dia akan bangun?" "Tiga detik lagi." Xavier mengerjap menatap Zander dengan terkejut. "Hm?" "Dua..., Satu." Xavier hanya dapat melongo ketika Emilie benar-benar menggeliat bersamaan dengan hitungan Zander. Xavier terkekeh kagum melihatnya. "Woah, kau benar-benar sekretaris ajaib. Lebih ajaib daripada Karl sekretaris Felix." Zander hanya membungkuk sekilas sebagai respon berterima kasih atas pujian atasannya. "Jika kalian menculikku karena aku adalah anak dari pengusaha kaya raya, kalian harus menyerah meminta uang tebusan," oceh Emilie ketika sadar dari pingsannya. "Mereka akan lebih memilih aku mati daripada membuang-buang uang untuk menyelamatkanku." Xavier mendengus mendengarnya. "Kau pikir aku menculikmu karena hal itu? Aku sudah banyak uang." "Jika kau punya banyak uang, kau tidak mungkin menculikku." Xavier mendengus lelah. Dia mengedikan dagunya ke arah Emilie, menyuruh Zander melakukan tugasnya yang lain. Zander segera mengambil kertas dengan tulisan mengancam itu dan berjalan ke arah Emilie dan menunjukkannya pada wanita yang masih terbaring terikat di kasur itu. "KYA!!! APAKAH ITU DARAH?!!" Pekik Emilie sambil menyembunyikan wajahnya di antara tali yang mengikatnya. "Itu hanya krayon." "Benarkah? Oh..., Benar ternyata. Aku kira darah karena ruangannya remang. Dan lagi, kenapa harus menggunakan warna merah? Kenapa tidak pink saja?" Xavier memijat pangkal hidungnya seolah pening. "Orang normal tidak akan cerewet ketika mereka sedang diculik." "Ah, maaf. Ini kebiasaanku ketika panik. Jadi, karena aku saat ini sedang berada di antara hidup dan mati, karenanya aku sangat panik dan tidak bisa mengendalikan mulutku. Dan lagi, kau sangat mirip dengan orang yang kukenal. Hanya saja, aku tidak bisa melihat wajahmu dengan jelas jadi aku tidak tahu apakah kau benar Xavier atau bukan." Xavier menghela napas panjang. Dia berdiri dan menghampiri Emilie yang saat ini masih terbaring di atas ranjang. Dengan itu, Emilie dapat melihat Xavier dengan jelas. "Ya, aku Xavier." "Oh benar ternyata Xavier," gumam Emilie tidak sadar kemudian melotot. "Xavier?! Kau—kenapa kau menculikku? Kau adalah pemilik hotel kan? Apakah hotelmu bangkrut? Makanya kau menculikku?" Xavier melotot. "Yang benar saja! Apa aku terlihat seperti orang yang bangkrut?!" Emilie nyengir mendengarnya. "Tidak juga sih. Hanya saja, sifatmu yang kemarin dan saat pertama kali kita bertemu, lalu sekarang, ketiganya sangat berbeda. Orang yang bangkrut biasanya tiba-tiba—" "Emilie!" Kesal Xavier, mulai merasa terhina karena korbannya tidak terintimidasi. "Di mana anakku?" Emilie mengernyit heran. "Anakmu? Kau sudah punya anak?" Xavier menatap lurus pada Emilie dengan tatapan tajam menghunusnya. "Jangan berpura-pura denganku. Kau yang mengirimkan catatan dan foto ini, kan?" Emilie mengernyit. "Apa maksudmu? Aku tidak tahu apapun tentangmu dan baru kemarin kita bertemu lagi." Xavier mendengus mendengarnya. "Kau pikir aku percaya? Kau tidak bekerja selama ini. Hanya terlihat di beberapa tempat tertentu dan berbelanja dengan porsi lebih dari satu orang. Kau pikir, kau bisa mengancamku dan menyembunyikan anakku selamanya?" "Kau ini bicara apa? Aku tidak menyembunyikan anakmu dan aku memiliki pekerjaan!" Elak Emilie, mulai bingung ke mana arah pembicaraan Xavier. Xavier hanya mendengus dan menatap Emilie dengan raut wajah dingin. "Benarkah? Lalu kenapa tidak ada absensimu yang bekerja?" "Itu—" Emilie menghentikan ucapannya. Dia tidak mungkin memberikan informasi pribadinya kepada orang lain. Emilie menelan ludahnya dengan pahit. "Itu rahasia." Xavier mendengus skeptis. "Sudah kuduga," katanya sambil menegapkan berdirinya dan memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Kau mungkin berpikir bahwa aku akan menikahimu atau memberikanmu kompensasi setelah melahirkan anakku, bukan? Ingin mengubah hidupmu yang seperti Cinderella itu dengan memelihara anakku?" Mendengarnya, Emilie menatap Xavier dengan tidak suka. "Kau menyelidikiku?! Kau pikir kau siapa hah?! Kau sudah bertindak keterlaluan, Xavier!" Mendengar namanya disebut dengan seenaknya oleh Emilie, raut wajah Xavier kini berubah marah. Rahangnya mengeras menahan diri agar tidak mengambil pistol dan melesatkan pelurunya pada Emilie. Bagaimana pun, dia harus tahu di mana anaknya berada. "Sekali lagi kutanya. Di mana anakku?" Emilie berdecak kesal. "Jika kau bisa mencari informasi pribadiku, seharusnya kau bisa tahu apa kegiatanku dan apa saja yang aku lakukan di apartemen!" "Apartemenmu tidak memiliki CCTV." "Tapi aku memiliki tetangga!" "Kau tidak mau menyerah? Kau ingin mati?" "Kau pikir bagaimana caranya aku menyerah jika aku tidak memiliki apa yang kau inginkan! Dan lagi, kau pikir aku takut mati, hah?!" Rahang Xavier makin mengeras mendengarnya. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun yang lalu, darahnya kembali mendidih hingga ke kepalanya. Dia menatap Emilie dengan napasnya yang berderu kasar. Dan Emilie seolah tidak mau kalah dan menatap Xavier dengan mata yang juga menyorot tajam. "Zander." Panggil Xavier dengan dingin. "Ya, Tuan!" "Jangan berikan dia makan dan minum selama tiga hari. Dan setelah itu, buang tubuhnya ke hutan agar dimakan hewan buas di sana. Berikan dia kematian yang menyakitkan." Emilie kali ini tidak dapat menahan matanya yang mulai berkaca-kaca. Dia menelan ludah dengan susah payah dan membuang muka agar tidak menatap Xavier lagi. "Baik, Tuan." Xavier masih terdiam di sana selama semenit, menunggu ucapan permohonan dari Emilie dan untung-untung, dia bisa mendapatkan informasi mengenai anaknya. Namun, Emilie tetap bertahan dalam posisi membuang muka dan tidak ingin menatap Xavier. Dengan emosi, Xavier keluar dari kamarnya dengan bantingan pintu yang cukup kuat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD