bc

MY (EX) MY HYPER BOSS

book_age18+
298
FOLLOW
1K
READ
billionaire
second chance
dominant
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
bxg
kicking
bold
city
office/work place
childhood crush
assistant
like
intro-logo
Blurb

Semenjak ayahnya menderita cedera punggung yang serius akibat kecelakaan tunggal. Amanda harus menggantikan ayahnya bekerja sebagai Aspri keluarga Darwis, karena dia masih membutuhkan biaya rumah sakit untuk Bapaknya yang dulu juga pernah menjadi Aspri pribadi dari keluarga Darwis. Amanda tidak pernah menyangka kalau dia akan bertemu kembali dengan Nalendra yang tak lain adalah anak tinggal dari keluarga Darwis. Pada awalnya dia menolak, dan berpura - pura tidak mengenal Nalendra, karena Nalendra lah, yang sudah merenggut kesuciannya, ingin rasanya dia pergi namun langkahnya berat karena ayahnya masih butuh pengobatan rutin. Apakah masih ada rasa sayang antara Nalendra dan Amanda? Atau Amanda akhirnya keluar dari pekerjaan itu, baca kelanjutan ceritanya di setiap babnya.

chap-preview
Free preview
Bab.1 Pertemuan Yang Tak Diinginkan
Langit sore berwarna jingga pucat ketika Amanda turun dari ojek yang mengantarnya tepat di depan gerbang besar keluarga Darwis. Rumah itu tampak kokoh dan megah, seakan mengatakan sejak awal bahwa siapa pun yang masuk harus siap menghadapinya, terutama bagi seseorang seperti Amanda, yang datang bukan sebagai tamu istimewa, melainkan sebagai pekerja pengganti. Ia menarik napas panjang, merapikan map cokelat yang berisi daftar tugas ayahnya. Tangan Amanda sedikit bergetar. Bukan hanya karena gugup, tapi juga karena beban pikirannya selama seminggu terakhir: ayahnya yang jatuh sakit dan membutuhkan pengobatan, tagihan rumah sakit yang menumpuk, serta pekerjaan ini, pekerjaan yang tak pernah ia bayangkan harus ia jalani. "Tenang, Manda, Kamu cuma menggantikan Ayah sementara. Nggak akan lama," gumamnya, mencoba menenangkan diri sendiri. Namun begitu ia melangkah masuk ke halaman rumah itu, firasatnya tiba-tiba terasa aneh. Jantungnya berdegup sedikit terlalu cepat. Ia bahkan sempat berhenti sejenak, menatap jauh ke arah teras rumah yang dipenuhi cahaya lampu kuning hangat. "Jangan bilang ini cuma karena gugup ketemu keluarga Darwis…" ucapnya pelan. Dan ternyata firasat itu tidak bohong. Begitu pintu utama terbuka, dan seorang perempuan paruh baya, Bu Anindya, istri pengusaha besar Darwis, menyambutnya dengan ramah. Amanda masih baik-baik saja. Namun keadaan berubah saat suara langkah lain terdengar dari arah ruang tengah. Langkah yang tenang, percaya diri, dan terlalu familiar. "Loh, ada tamu baru?" suara itu muncul, lembut tapi jelas, dengan nada menggoda yang sering ia dengar bertahun-tahun lalu. Amanda menoleh. Dan jantungnya seketika jatuh. Nalendra, mantan pacarnya dulu yang tiba - tiba hilang tanpa pamit. Laki-laki yang pernah membuatnya tertawa, menangis, berharap, dan pada akhirnya meninggalkannya tanpa satu pun penjelasan. Sekarang berdiri tepat di ambang pintu, mengenakan kemeja hitam sederhana yang entah bagaimana justru membuatnya terlihat lebih matang. Lebih menggoda. Mata Amanda membesar. Tubuhnya kaku. Nafasnya tercekat. Ia tidak siap untuk ini. Sama sekali tidak. Nalendra menyipitkan mata, memandang Amanda dari ujung rambut sampai ujung kaki, seolah mencoba mengingat gambar lama yang nyaris hilang. Dan lalu… bibirnya melengkung. "Kayaknya… aku nggak asing. Kayak pernah lihat kamu ya," katanya ringan. "Tapi siapa ya?" Senyuman licik khas Nalendra. Senyuman yang dulu membuat Amanda luluh. Sekarang malah membuatnya ingin kabur. Amanda cepat-cepat menunduk, seluruh tubuhnya menegang. "Nggak kok, Bapak salah orang. Saya nggak pernah kenal Bapak." Ia menambahkan kata bapak dengan sengaja, menaruh jarak selebar mungkin. Nalendra terkekeh pelan. "Bapak? Aduh… aku tersinggung kalau dipanggil gitu. Masa mantan pacar sendiri manggil aku formal banget begitu sih?" DEG. Amanda langsung memejamkan mata sepersekian detik. Nafasnya memburu. Wajahnya memanas. Tetapi ia tetap menjaga ekspresi datar. Bu Anindya yang berdiri di sampingnya hanya melihat keduanya bergantian, lalu tertawa kecil tanpa curiga, "Ah, Nalendra ini suka bercanda. Jangan didengerin ya, Nak Amanda." "Mampus. Ini bukan bercanda. Ini Nalendra sedang mencari masalah." Gumam Amanda dalam hati "Nalendra," tegur ibunya, "sudah-sudah. Ayo, Amanda, masuk dulu. Biar saya jelasin tugas kamu selama menggantikan ayah kamu." Amanda mengangguk sopan dan melangkah masuk, meski jantungnya masih terasa tidak stabil. Ia bisa merasakan tatapan Nalendra mengikuti dirinya dari belakang. Tatapan yang sama seperti dulu. Tatapan yang membuatnya dulu merasa dicintai dan kemudian dibuang. Saat Bu Anindya berbicara, menjelaskan tugas harian, jadwal pekerjaan, dan area rumah yang boleh ia masuki, Amanda berusaha fokus. Ia mengulang pesan ayahnya dalam kepala: “Amanda, kamu harus tetap kerja di keluarga Darwis. Apapun terjadi. Kita butuh uangnya. Ayah nggak apa-apa. Ini demi masa depan kamu juga.” Ia menahan napas, menahan perasaan lama yang mulai muncul. Ini pekerjaan. Ia butuh uang. Hanya itu. Tapi semuanya buyar ketika Nalendra tiba-tiba bersandar di dinding, melipat tangan, memperhatikannya tanpa malu. Lalu dengan nada santai, ia berkata: "Really…? Kamu yakin nggak pernah kenal aku?" Ia mencondongkan tubuh sedikit. "Tapi sayangnya… aku masih inget lho sama kamu." Amanda merasakan wajahnya kembali panas, bukan karena malu, tapi marah. Nalendra tersenyum… puas. Dia tahu Amanda bereaksi. "Nalendra, jangan ganggu anak orang," tegur Bu Anindya akhirnya. "Tapi aku nggak ganggu, Ma. Cuma ngobrol," jawabnya enteng. "Obrolanmu bikin orang salah paham," sang ibu memukul pelan lengan putranya. Nalendra hanya mendengus pendek sebelum melangkah lebih dekat pada Amanda, cukup dekat hingga aroma parfumnya, yang dulu begitu ia hafal, kini menyentuh ingatan yang berusaha ia kubur. Amanda memalingkan wajah, pura-pura sibuk membuka map. Tetapi Nalendra menunduk sedikit, suaranya pelan, hanya untuknya. "Kamu pikir kamu bisa pura-pura nggak kenal aku kayak gitu aja, Manda?" Amanda tidak menoleh. "Kamu cuma imajinasi masa lalu, Mas," jawabnya dingin. "Dan masa lalu saya itu… sudah mati." Nalendra mengangkat alis, sedikit terkejut. Namun ia tertawa kecil. "Kamu makin galak sekarang, ya?" Amanda tidak menjawab. "Lucu banget," gumamnya sambil menahan senyum. Laki-laki itu kemudian berdiri tegap dan berkata dengan suara lebih keras, "Kalau gitu aku temenin kamu muter rumah. Kan seru, nostalgia dikit." "Saya nggak butuh ditemenin," potong Amanda cepat. Nalendra menoleh dengan wajah polos. "Loh? Aku cuma mau bantu. Masa nolak sih?" "Bukan nolak," jawab Amanda ketus. "Tapi saya kerja di sini , bukan buat main - main." Nalendra mengangkat kedua tangannya, berpura-pura menyerah. "Baik-baik. Profesional banget sekarang kamu." Seolah ia tidak pernah jadi alasan Amanda berubah seperti ini. Tur Keliling Rumah Meski Nalendra akhirnya memilih tidak ikut mengelilingi rumah, Amanda tetap merasakan napasnya nyaris tak stabil sepanjang tur. Rumah keluarga Darwis terlalu besar. Terlalu banyak ruangan. Terlalu banyak kenangan yang tak seharusnya ada. Dan ia bahkan belum sempat beristirahat ketika langkah kaki lain mendekat dengan cepat. Nalendra muncul lagi di lorong belakang, membawa dua gelas minuman. "Capek? Ini minum," katanya santai. "Saya nggak haus, Mas." "Amanda," katanya sambil menahan tawa, "kamu kalau bohong tuh dari dulu masih sama. Ketahuan banget." Amanda menggigit bibir. Nalendra mendekat lagi. "Cuma minuman, Manda. Aku nggak racunin kamu, kok." Ia memutar bola mata, tetapi akhirnya menerima gelas itu karena Bu Anindya juga sedang melihat dari kejauhan. "Terima kasih," ucap Amanda singkat. Nalendra menatap wajahnya lama. Terlalu lama. "Nggak nyangka kamu balik… ke hidup aku," ucap Nalendra pelan. Amanda berhenti minum. "Itu bukan keinginan saya," balasnya tajam. "Dan saya juga nggak berniat punya urusan sama Bapak." Nalendra tersenyum, kali ini berbeda, lebih serius. "Tapi kenyataannya… kamu di sini." "Karena kerja dan sebuah takdir." Amanda hampir tersedak. Nalendra terkekeh melihatnya panik. "Canda, Manda. Tapi… seru juga ya." "Seru apanya?" jawab Amanda ketus. "Ketemu kamu lagi." Amanda menatapnya tajam. Nalendra balas menatap dengan tenang, hampir lembut. "Sebenarnya…" katanya perlahan, "aku kangen banget sama kamu." Amanda membeku. Itu ucapan yang dulu selalu ia tunggu bertahun-tahun. Ucapan yang dulu tidak pernah keluar. Dan sekarang, ketika hati Amanda sudah tak lagi sama… kata itu justru muncul begitu saja. Ia memalingkan wajah, menahan emosi yang nyaris pecah. "Saya kerja di sini demi ayah saya," ujarnya lirih. "Tolong jangan bikin semuanya rumit." Nalendra menegang sejenak. Namun kemudian ia tersenyum tipis. "Kalau gitu… aku janji satu hal." Amanda menoleh. "Aku nggak akan bikin kamu susah." Ia berhenti sejenak, mendekat setengah langkah. "Tapi aku nggak janji, untuk berhenti gangguin kamu." Amanda memejamkan mata. Ia tahu pekerjaan ini akan jauh lebih berat daripada yang ia bayangkan. Dan Nalendra? Ia jelas bukan sekadar masa lalu. Ia adalah masalah yang sedang menunggu untuk kembali meledak.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

TERNODA

read
199.6K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
16.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.2K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.5K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
73.9K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook