Setelah beberapa hari berpikir dan merenung, akhirnya Madan memutuskan untuk mencoba peruntungannya pergi merantau.
Saat itu hari masih terlalu pagi,kabut malam masih belum hilang.
Madan ketika itu setelah sholat subuh menghampiri Buya Maliki untuk menyampaikan maksud serta mohon izin dari sang Buya.
Buya Maliki orang tua yang berwajah teduh serta pembawaan yang tenang juga berwibawa.
Rambut yang memutih tertutup oleh peci yang selalu dipakainya.
Sesekali sambil berjalan kadang sang buya juga mengelus-elus janggutnya yang panjang dan juga mulai memutih.
Selain sebagai guru silat dan guru mengaji madan waktu kecil,buya maliki merupakan sahabat dari almarhum ayah madan.
"Assalamu'allaikum Buya" Madan memberi salam kemudian menghampiri dan mencium tangan sang buya.
"Wa'allaikumusalam" jawab buya.
"Buya sudah mendengar kabar dari amak Madan, apa jadi hari ini Madan berangkat?" tanya sang Buya.
Karena buya sudah tahu, Madan berpikir untuk tidak lagi menjelaskan apa pun kepada buya maliki.
"Betul Buya, rencananya nanti siang Madan berangkat" jawab Madan.
"Dengan apa Madan berangkat?."
"Mungkin madan menumpang dengan uda Saman buya."
"Saman?Saman anak Marlis itu?"
"Iya Buya."
Buya Maliki mengangguk-angguk.
"Jadi begini Buya, Madan hendak minta izin dan minta restu Buya juga nasehat dari Buya untuk bekal Madan di rantau" lanjut Madan.
"Jika ingin meminta restu, lebih baik Madan minta restu kepada amak, ridho Allah ridho orang tua, jadi jika amak Madan ridho Madan pergi merantau, Insya Allah jalan Madan di rantau akan lapang selapang-lapangnya."
"Tapi, Buya cuma bisa berpesan untuk Madan, berjalanlah di jalan yang baik, dimana bumi dipijak di situ langit di junjung, tahu kata mendaki, mendatar juga melereng, hormati yang lebih tua sayangi yang lebih muda, bercanda dengan kawan seumuran dan yang terpenting yang lima waktu jangan sampai tinggal" lanjut sang Buya.
"Madan paham dan akan mengingat-ingat apa yang Buya sampaikan, Madan titip anak-anak mengaji ke kawan-kawan yang lain Buya."
Buya Maliki merogoh kantongnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan.
"Ini terimalah, untuk bekal Madan di jalan" kemudian orang tua itu menyodorkan uang itu kepada Madan.
"Tidak usah Buya, Madan masih ada sedikit uang untuk bekal dijalan" Madan menolak pemberian buya Maliki.
Sang buya tetap memaksa dan memasukan uang itu ke dalam kantong baju pemuda itu.
"Mau Madan pakai atau Madan berikan ke amak Madan itu terserah, tapi tolong terima saja pemberian Buya ini" ujar buya lalu orang tua itu bergegas pergi setelah cucunya datang dan mengajak dia pulang.
"Terima kasih Buya," ujar pemuda itu lirih.
Di Rumah amak Madan sudah mempersiapkan keperluan sang anak yang akan berangkat merantau.
"Assalamu'allaikum..."
"Wa'allaikumsalam " jawab amak Madan dari dalam.
"Sudah bertemu Madan dengan Buya Maliki nak?" tanya amak madan.
"Sudah mak" jawab Madan singkat sambil meminum kopi yang sudah disiapkan amaknya sedari tadi.
"Ini Buya Maliki menitipkan uang untuk amak" Madan menyerahkan uang yang diberikan oleh buya tadi kepada amaknya.
"Ini terlalu banyak untuk amak500 ribu, ambillah untuk Madan separuhnya."
"Tidak usah mak, amak simpan saja untuk kebutuhan amak, kalau untuk Madan, Madan ada simpanan mak" tolak pemuda itu.
Kedua ibu dan anak itu saling bercerita dan ngobrol cukup lama.
Sampai pada akhirnya uda Saman datang.
"Tidak jadi ikut kau Madan?" tanya uda Saman dari balik pintu.
"Masuklah Saman dulu, ibuk buatkan Saman kopi ya?" amak Madan menawarkan.
"Ndak usahlah buk, saya sedang terburu-buru" tolak uda Daman.
Madan mengambil tasnya dan menghampiri amaknya.
"Mak, Madan pergi dulu, do'akan Madan bisa membangkitkan batang tarandam dan mengangkat derajat keluarga kita" ujar Madan sambil mencium tangan amaknya.
"Iya nak, amak do'akan apa yang terbaik untuk Madan dan untuk keluarga ini" ujar orang tua itu sambil berhiba hati.
Madan memeluk amaknya,kedua ibu dan anak itu pun saling menangis.
"Jangan lupa pesan amak nak, yang lima waktu jangan sampai tinggal" pesan amak Madan.
Madan mengangguk pelan.
"Bik Ijuih, tolong jaga amak Madan" pesan Madan kepada Bik Ijuih adik dari amak Madan.
"Madan tenang saja, amak Madan bibi jaga untuk Madan" balas tek Ijuih.
Madan menyalami dan mencium tangan tek Ijuih juga.
"Assalamu'allaikum...." kemudian Madan berlalu pergi.
"Wa'allaikumsalam" jawab kedua orang tua itu.
Tampak wajah amak Madan begitu sedih melepas kepergian anaknya,karena baru kali ini ibu dan anak itu terpisah untuk waktu yang mereka sendiri tidak tahu pastinya kapan akan bertemu lagi.
Madan naik mobil truk uda Saman,dia duduk di tengah karena disebelah kiri ada kernetnya atau asisten sopir.
"Jadi, kemana tujuan Madan kalau sudah sampai di ibukota" tanya uda Saman sambil menjalankan mobilnya.
"Mungkin saya akan mencari si Bidin dulu da, melihat situasi di rantau baru mencari kerja" Madan menjelaskan.
"Si Bidin? Hahahaha" uda Saman tertawa seperti mencemooh atau meremehkan.
Walau pun uda Saman tau bagaimana keadaan si Bidin di rantau karena sering bertemu,namun dia enggan menjelaskan ke kepada Madan soal itu karena itu bukan urusan dia.
Truk itu terus melaju menuju ibu kota,menuju mimpi yang masih menjadi misteri bagi Madan.
*******
Setelah tiga hari dua malam perjalanan,truk yang ditumpangi madan sudah memasuki ibu kota.
Uda Saman menginjak rem dan menghentikan mobilnya.
"Uda cuma bisa sampai disini mengantarkan Madan, dilihat dari alamat yang diberikan si bidin,kemungkinan si Bidin tinggal di pusat kota,sedangkan uda ke arah area industri mengantar muatan mobil ini" kata uda Saman.
Madan diam sejenak dan berpikir.
"O...iya,Madan bisa naik taksi untuak bisa sampai ka alamat si Bidin tu,lebih mudah daripada Madan naik bis" uda Saman menjelaskan.
"Baiklah,Madan turun disini saja, hari masih sore-sore,biar Madan tidak kemalaman mencari alamat si Bidin itu" madan kemudian siap-siap hendak turun.
"Terima kasih uda Saman, telah mengantarkan Madan sampai di rantau."
"Sama-sama Madan,mudah-mudahan apa yang Madan cita-citakan bisa terwujud di perantauan ini" balas uda Saman.
Mereka pun berpisah ditempat itu.
Madan berdiri memperhatikan mobil yang ditumpanginya sampai mobil itu menghilang disebuah tikungan.
"Bismillah!" ujar pemuda itu dengan senyum optimis.
Cukup lama Madan berdiri dan menunggu taksi lewat.
Saat taksi itu lewat,dia pun melambaikan tangannya untuk menghentikan taksi itu.
Taksi berhenti dan sang sopir menanyakan kemana tujuannya.
"Kemana bang?" tanya sopir itu.
Madan membuka secarik kertas dan menyerahkan kerta itu kepada sang sopir.
"Century no 25? ini hunian elite ini bang" kata sopir taksi itu.
"Bapak tau alamatnya?" tanya Madan.
"Tau,tapi dari sini cukup jauh bang" jawab si sopir.
"Kalau abang gak keberatan soal ongkos,saya mau mengantarkannya" sambung si sopir tadi.
"Memang berapa pak ongkosnya?."
"Ya sekitar 150 ribu lah bang."
"Mahal betul?."
"Standardnya memang begitu bang,malah sopir taksi yang lain mungkin bakal mengambil lebih."
Madan berpikir sejenak,diperiksa uang dikantong masih sisa 250 ribu.
"Yang penting sampai dululah" pikir dia dalam hati.
"Ya sudah pak,antarkan saya"
Madan kemudian naik dan taksi itu berjalan menuju alamat yang telah ditentukan.
"Abang ini baru datang ke ibu kota ya?" tanya si sopir memecah keheningan karena dari tadi mereka hanya diam saja.
"Iya pak" jawab Madan singkat.
"Jadi dijalan century itu abang mau menemui siapa?."
"Teman saya pak."
"Teman?" tanya si sopir heran.
"Iya,kenapa bapak heran?."
"Setau saya ya bang,daerah century itu jarang ada warga lokal yang tinggal disana."
"Maksud bapak?" tanya madan penasaran.
"Iya,di sana tempat orang-orang kaya,tapi bukan warga lokal mereka orang-orang luar negri semua" si sopir menjelaskan.
"Wuih,benar-benar sudah sukses si Bidin itu,tempat tinggalnya saja tempat yang banyak orang asingnya" pikir madan dalam hati.
"Kenapa bang?senyum-senyum sendiri?."
"Ah tidak pak."
Taksi yang ditumpangi Madan terus melaju dengan cepat menerobos jalan dan kemacetan ibu kota.
******
Menjelang magrib sampailah taksi yang ditumpangi madan ke alamat yang dituju.
"Sudah sampai bang,century 25 kan?" tanya sopir taksi memberhentikan mobil didepan alamat yang di tuju.
Madan melongok keluar,rumah itu berpagar tinggi,namun dari luar masih tampak megahnya bangunan itu.
"Luar biasa si Bidin ini" gumamnya dalam hati.
"Oh,iya pak" kemudian madan turun sambil membayarkan ongkos taksinya.
"Semoga ini benar rumahnya teman abang,oke saya berangkat dulu,terima kasih."
"Terima kasih banyak pak" balas madan.
Taksi itu kemudian melaju dan pergi meninggalkan madan.
Pemuda itu masih tidak percaya melihat rumah mewah milik temannya itu.
Dia tampak kebingungan bagaimana caranya masuk atau mengetuk pintu pagar yang tinggi itu.
Dalam rasa bingungnya,tiba-tiba saja seseorang berseragam dan berbadan tegap datang menghampirinya.
"Mohon maaf mas,anda ada perlu apa berdiri didepan pagar ini?" tanya satpam itu sopan.
"Oh...beruntung ada pak satpam,apa betul ini alamatnya?" tanya Madan memberikan secarik kertas kepada satpam muda itu.
Satpam itu melihat dan membaca tulisan disecarik kertas itu.
"Betul...betul ini betul alamatnya,Century 25" ujar si satpam sambil mengangguk.
"Wah tidak salah lagi!" seru Madan.
"Maaf,anda siapa dan ada perlu apa kesini?" selidik satpam.
"Oh sampai lupa,nama saya Ramadan tapi biasa dipanggil Madan" jawab Madan memperkenalkan diri.
"Saya kesini mencari teman saya" sambungnya.
"Mencari teman?" tanya satpam sedikit terkejut.
"Iya,kenapa respon pak satpam seperti itu?" tanya Madan heran.
"Apa anda punya teman orang Jepang?" sang satpam memastikan.
"Bukan,"
"Siapa nama teman mu itu?."
"Namanya Bidin,teman sekampung saya dari Sumatera Barat."
"Anda mungkin salah alamat."
"Salah alamat?."
"Betul,di sini tidak ada yang bernama Bidin apa lagi orang Sumatera Barat seperti yang anda sebutkan tadi."
"Tapi alamat ini benarkan?."
"Betul,alamatnya benar tapi orang yang bernama Bidin tidak ada disini,asal anda tau saja ya,di sini rumahnya tuan Takeshi,seorang pengusaha asal Jepang,saya sudah hampir 10 tahun kerja di sini belum ada saya temui orang bernama Bidin tinggal di sini."
"Orang jepang? desis Madan pelan.
Pandangannya kosong dan tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Sudahlah,lebih baik anda pergi dari sini sebelum majikan saya marah,mungkin anda salah alamat atau teman anda sedang mengerjai anda,sudah pergi!" usir si satpam berjalan meninggalkan Madan menuju pos jaganya kembali.
Pemuda itu masih berdiri terpaku,hatinya merasa tak percaya kalau dia sudah dibohongi oleh temannya sendiri.
Pandangannya nanar,dia berjalan pelan seperti orang yang telah kehilangan semangat.
Itu adalah hari pertama dia ditanah yang sangat asing baginya,tanpa teman dan kenalan sama sekali.
Dia berjalan tanpa arah dan tujuan,sampai dia mendengar suara kumandang azan magrib.Kesitulah tujuannya yang pasti,ke masjid.
*******
Dia segera mengambil wudhu dan menuju ke dalam masjid setelah berwudhu,saat itu Imam baru saja mengucapkan takbir rakaat pertama.
Dia begitu khusuk menyimak bacaan imam,dan mengikuti gerakan imam sampai pada salam di rakaat ke tiga.
Madan mengangsur duduknya dan bersurut agak kebelakang.
Pemandangan yang asing baginya,pada saat di kampung masjid begitu ramai jemaah yang Sholat berjamaah.
Namun di sini dia dapat menghitung dengan jari saja jumlah jemaahnya.
Madan khusuk berzikir dan berdo'a setelahnya.
Dia bangkit untuk melaksanakan sholat sunah 2 rakaat setelahnya.
Selesai melaksanakan sholat sunah dia tetap duduk ditempatnya.
Madan bingung harus berbuat apa dan harus melangkah kemana lagi.
Alamat palsu yang diberikan kawannya Bidin cukup membuatnya kesal namun baginya biarlah dijadikan pembelajaran untuk di kemudian hari.
Sempat terlintas dipikirannya untuk pulang dan kembali saja lagi ke kampung tapi kata-kata si Rizal tempo hari selalu terngiang dikupingnya.
Lama juga dia termenung dan berpikir di dalam masjid itu.
Lamunannya buyar saat alarm waktu sholat isya masuk berbunyi.
Dia bergegas berdiri menghampiri Marbot masjid yang hendak mengumandangkan azan.
Madan minta izin kepada marbot tua itu biar dia saja yang azan.
Marbot itu pun mengizinkannya.
Madan pun mulai mengumandangkan azan,marbot itu sempat terperangah dan tidak percaya,ternyata suara pemuda yang tidak dikenalnya itu cukup indah dan merdu.
Selesai sholat isya madan masih duduk di masjid itu.
Marbot masjid menghampirinya.
"Maaf nak,masjid sebentar lagi akan di tutup" kata marbot tua itu.
Madan mengangguk dan tersenyum lalu bangkit dari tempat duduknya.
"Kalau bapak boleh tau,anak ini siapa?dan mau ke mana?" tanya marbot tua.
"Nama saya Madan pak,saya belum tau mau ke mana, ke mana kaki melangkah saja nantinya" jawab pemuda itu kembali tersenyum.
"Lho kok gitu?memangnya anak ini tidak punya sanak saudara disini?."
"Tidak pak,tapi saya punya teman namun teman saya mungkin salah memberi alamat sehingga saya jadi ke sasar begini" Madan kembali tersenyum.
Mereka berdua berbicara sambil jalan menuju keluar masjid.
"Jadi sekarang anak mau kemana?."
"Entahlah pak" jawab Madan sambil mengangakat bahunya.
Marbot tua itu sempat menawarkan untuk bermalam dirumahnya,namun Madan menolak karena tidak mau merepotkan orang tua itu.
Mereka berpisah setelah cukup lama berbincang-bincang.
Perutnya mulai terasa lapar,maklum saja terakhir dia makan tadi pagi saat mobil baru keluar dari kapal.
Langit malam tampak terang karena sambaran kilat,angin dingin mulai berhembus bertanda hujan akan segera turun.
Dia mempercepat langkahnya agar tidak kehujanan di jalan.
Langkahnya terhenti pas didepan sebuah warung nasi yang tanpa pikir panjang dia langsung masuk dan hujan pun dengan derasnya langsung turun.
********
Di dalam warteg itu Madan duduk dan langsung memesan makan.
Dia pesan nasi telur saja dan dapat tempe oreg juga.
Walau di rasa cukup sedikit manis,tapi Madan berusaha membiasakan lidahnya dengan makanan itu.
Madan makan dengan sangat lahapnya,di luar sana hujan makin deras sesekali disertai angin kencang.
Selesai makan,dia pesan kopi untuk melawan dinginnya cuaca malam itu.
Dua gelas kopi dihabiskannya dengan harapan hujan segera reda dan dia bisa pergi namun apa mau dikata hujan malah semakin deras.
Madan mulai gelisah melihat yang punya warung sudah siap-siap mau menutup warungnya.
Madan melangkah keluar namun dilihatnya hujan terus turun.
Dia menarik nafas panjang,dilihatnya kiri kanan.
Di sebelah kanan ternyata ada pondokan dan bisa di pakai untuk berteduh.
Madan masuk kembali ke dalam dan mohon ijin kepada si pemilik warung untuk bisa berteduh di pondok itu.
"Lho,memangnya kamu tidak punya saudara di sini?" tanya ibu pemilik warung itu.
"Tidak buk" jawab Madan menggeleng pelan.
"Jangan di pondok sana,hujan begini pondok itu juga sudah reot dan bocor,itu dulu bekas pos ronda tapi pos nya udah pindah ke dalam" terang ibu pemilik warung.
"Saya tidak tau lagi mau pergi ke mana buk,dari pada kehujanan di jalan,basah-basah dikit gak apa-apa lah" kata Madan.
"Memangnya kamu itu dari mana dan mau ke mana?" selidik si ibu.
Kemudian Madan menceritakan apa yang telah dialaminya kepada pemilik warung itu.
Sedang asik mendengar cerita Madan,tiba-tiba datang seorang lelaki paruh baya masuk ke dalam warung.
Si ibu acuh saat lelaki itu masuk,sedangkan madan sempat melirik dan mengangguk menyapa lelaki itu.
"Kasian," desis si ibu itu pelan.
"Nama kamu siapa?" tanya ibu warung.
"Nama saya Ramadan,panggil saja Madan" kata Madan memperkenalkan diri.
"Nama ibu,Leha orang-orang sini manggil ibu dengan sebutan mpok Leha,sedangkan itu yang barusan masuk tapi itu suami ibu namanya babe Sapar" mpok Leha menunjuk ke arah suaminya.
"Tunggu sebentar ya," kemudian mpok Leha menghampiri suaminya dan menceritakan apa yang di dengar dari Madan tadi.
"Gimana pak?" bisik mpok Leha.
"Di lihat dari romannya,dia anak baik-baik sih,tapi apa ibu yakin?" tanya babe Sapar.
"Kasian pak,kalau dia mau berbuat jahat ya udah biar Allah aja yang membalas nanti."
Kedua suami istri itu berbincang sambil sesekali melihat kearah Madan.
"Ya sudah,kalau itu keputusan ibu,bapak nurut aja" kata babe Sapar.
Kemudian mpok Leha berjalan ke arah Madan.
"Kata babe Sapar,suami mpok,kamu boleh nginap di warung ini untuk malam ini,kasian di luar masih hujan dan kamu juga tidak ada tujuan apa apa lagi sanak saudara" terang mpok Leha.
"Alhamdulillah,terima kasih buk eh mpok" ucap Madan dengan mata berkaca-kaca.
******
Pagi hari setelah sholat subuh, mpok Leha meminta Madan untuk menemaninya belanja keperluan dapur untuk warung makannya ke pasar,sebab pagi itu babe Sapar meriang karena kehujanan tadi malam.
Menjelang pukul 9 pagi Madan dan mpok Leha sudah kembali.
Tampak babe Sapar sedang beres-beres warung.
"Sudah mendingan pak?" tanya mpok Leha sambil berjalan menuju dapur di ikuti oleh Madan yang membawa banyak belanjaan.
"Belum buk,tapi kalau tidak di bawa bergerak takutnya malah makin parah nanti" jawab babe Sapar ikut menghampiri ke dapur.
Mereka berbincang-bincang di dapur sambil mempersiapkan segala hal yang akan di masak untuk warung makan.
Madan sibuk mencuci Ikan dan Ayam yang mereka beli
Sedangkan mpok Leha sibuk membersihkan kompornya.
Dan babe Sapar mengupas bawang serta mengiris cabe untuk bahan masakan.
Ketiganya bercerita sambil sesekali tertawa.
Madan cukup senang dengan kehangatan suasana keluarga itu membuat dia menjadi tidak begitu canggung walau berada di rantau orang.
Tiap ada masakan yang sudah masak di bawa keluar oleh babe Sapar ke etalase warung.
Namun setelah 3 kali bolak-balik,dari luar terdengar suara perdebatan babe Sapar dengan seseorang.
"Lu musti bayar uang keamanan lagi" ujar pria berambut gondrong memakai rompi berwarna hitam dan brewokan.
"Aduh bang,baru seminggu ini, saya sudah bayar,masa iya di tagih lagi?" tanya babe Sapar.
"Heh! Mau tiap minggu!tiap bulan!bahkan tiap hari gua tagih,lu mesti bayar!" Kali ini si gondrong sedikit membentak.
Madan dan mpok Leha buru-buru keluar dari dapur melihat apa yang terjadi.
"Kalau untuk hari ini,saya gak bisa bayar bang,lagi gak ada uang" jawab babe Sapar tenang.
Melihat orang yang di ancam tidak takut,si godrong makin kesal.
"Lu mau bayar atau warung lu gua acak-acak?" kali ini yang mengancam temannya si gondrong tapi dia gondrong juga.
"Warung saya baru buka bang,belum juga ada yang belanja,masa iya saya harus bayar uang ke abang-abang ini lagi?" tanya babe sapar.
"Jadi lu gak mau bayar?" bentak si gondrong.
"Bukannya gak mau bayar bang,tapi__."
Belum lagi babe Sapar menyelesaikan kalimatnya si gondrong langsung menarik leher bajunya.
Plaaakk....!!!
Satu tamparan mendarat di pipi babe sapar yang membuat tubuh orang tua itu terhempas.
Madan langsung menghampiri dan memapah babe Sapar untuk berdiri.
"Maaf,ada apa ini bang?" tanya Madan sopan.
"Heh! lu siapa?" tanya si gondrong yg menampar babe Sapar tadi.
"Saya Madan,kerabat dari babe Sapar ini" jawab Madan.
"Apa salah babe Sapar sampai dipukuli seperti ini?" tanya Madan.
"Gua minta uang keamanan,dia gak mau kasih,ya gua gampar hahahahha" kedua gondrong itu tertawa bersamaan.
"Kasihan sekali" ujar Madan pelan
"Siapa yang kasian?" tanya gondrong satu.
"Ya kalian,badan kekar dan masih muda kok mengemis kayak gini?" ejek Madan.
"b******k! berani lu ngejek gua?" tanya gondrong satu kesal.
Wuuussshhh....
Selesai bicara,gondrong satu melayangkan sebuah jotosan.
Taaaappp....
Kepalan tangan gondrong satu di tangkap oleh Madan.
Kepalan itu di pelintir pelan membuat gondrong satu menjerit kesakitan.
"Auh! aduh! berani lu sama gua!" bentak gondrong satu.
Madan diam dan dia berjalan menggiring si gondrong itu keluar dari warung nasi.
Gondrong dua yang melihat kawannya kesakitan lantas maju dan menerjang Madan.
Wuuuuusshhh....
Dengan enteng Madan mengelek tapi tangannya tetap memelintir tangan gondrong satu.
Buuuuukkkk.....
Madan menghantam perut gondong satu yang membuat tubuhnya terjengkang ke belakang.
Gondrong dua kembali menyerang,satu gerakan menghindar dan serangan balik diberikan oleh Madan.
Gondrong dua memukul tapi Madan berkelit ke kanan,satu hantaman lutut Madan ke arah perut membuat gondrong dua jatuh terduduk.
Buuuukkkk.....!!!!
"Huueekkk...." terdengar lenguhan dari mulut gondronh dua.
"Aku tidak ingin mencari masalah,tapi kalau ada yang mengganggu keluarga ku,aku akan hadapi siapa pun itu orangnya" ujar Madan.
Kedua gondrong itu pergi sambil mengancam.
"Urusan kita belum selesai,kami akan kembali" ujar gondrong satu.
"Celaka!" seru babe Sapar.
"Celaka kenapa be?" tanya Madan heran.
"Sebaiknya cepat kamu pergi dari sini,kami tidak ingin kamu mendapat masalah yang lebih besar lagi."
"Betul itu,pergilah" sambung mpok Leha.
Madan menggeleng dan berkata
"Saya akan hadapi resiko apa pun jika mereka kembali lagi".
*****