Episode 1 : Sebuah Kabar Buruk
Dia baru saja pulang dari surau setelah selesai menunaikan sholat isya berjamah.
Jarak surau kerumahnya tidak cukup jauh tapi disepanjang jalan itulah dia terngiang-ngiang tentang ajakan si Bidin kawan masa kecilnya untuk tinggalkan kampung dan pergi merantau ke kota besar.
Apa lagi dari cerita si Bidin yang didengar lewat telepon tadi sore itu,dia katanya sudah hidup enak di sana.
"Assalamu'allaikum...!!!" dia mengucap salam saat sampai di depan pintu rumahnya.
"Wassalamu'alaikum" terdengar suara wanita paruh baya menjawab salamnya dari dalam rumah.
Kreeekk....
Pintunya berdenyit saat dia membuka pintu.
"Sudah pulang Madan dari surau, cepatlah nak makan kita lagi, amak sudah menunggu sejak tadi" ucap wanita tua itu sambil menyiapkan makanan.
Pemuda itu lantas duduk di tempat dia biasa duduk.
"Jadi bagaimana anak-anak tadi?apa lancar mengajinya?."
"Lancar mak" jawab pemuda itu singkat.
Setelah semua siap,sang ibu ikut duduk bersimpuh dihadapan anaknya.
"Semenjak tadi sore, amak lihat Madan termenung dan merenung, apa ada masalah?" tanya si ibu.
"Tidak ada masalah apa pun mak" jawab sang anak yang ternyata bernama Madan.
"Amak ini orang tua mu Madan, orang yang membesarkan Madan, jadi amak ini tidak bisa Madan dustai, ceritakan lah ada apa sebenarnya."
"Benar mak, tidak ada masalah apa pun kok mak" jawab Madan sambil menyuap nasinya.
"Apa karena telepon si Bidin tadi sore itu?" tebak sang ibu.
Madan terkejut dan menghentikan suapannya.
"Ingin pergi marantau Madan?"
"Tidak mak, tidak mungkin Madan meninggalkan amak sendirian."
"Kalau benar Madan ingin pergi marantau, pergilah, kok amak tidak usah Madan pikirkan, amak masih kuat, kalau sakit-sakit sedikit ada bibi mu, Ijuih, yang akan merawat amak."
Madan tidak menjawab lagi,dia lanjutkan makannya.
Suasana rumah sunyi sampai selesai makan.
Selesai makan madan pun langsung masuk ke kamarnya.
Mencoba untuk tidur namun matanya sulit terpejam karena terngiang-ngiang ucapan si Bidin sore tadi.
Dia dilanda dilema yang baginya cukup besar.
"Pergi merantau meninggalkan ibunya dan membangkit batang terendam atau hidup begini-begini saja di kampung,bertani dan jadi guru mengaji?" pikirnya.
Dinginnya udara malam akhirnya membuat pemuda itu terlelap juga.
********
Matahari mulai naik dan panas cukup terik siang itu.
Dari kejauhan sayup-sayup terdengar suara azan zuhur.
Madan bergegas keluar dari sawah dan kemudian dia berjalan kearah kali kecil di dekat sawah itu untuk membersihkan diri serta bersiap-siap untuk melaksanakan sholah zuhur.
Madan selalu membawa perlengkapan sholat jika ke sawah dan dia bisa sholat di pondok dekat sawah tanpa harus pulang.
Biasanya setiap istirahat,dia selalu ditemani ibunya untuk makan siang.
Namun siang itu setelah mengantarkan makanan,sang ibu harus pergi ke pasar katanya ada keperluan.
Pemuda itu makan dengan lahap siang itu maklum sedari pagi sudah bekerja di sawah.
Sawah itu pun bukan sawah milik keluarganya namun dia hanya petani upahan.
Diupah mingguan untuk menggarap sawah orang.
Setelah magrib dia menjadi guru mengaji untuk anak-anak sekitar kampungnya.
Apa pun pekerjaan dilakukannya karena dia lah yang menjadi tulang punggung keluarga setelah ayahnya wafat beberapa tahun yang lalu.
Madan selalu berpikir,diam di kampung akan terus seperti ini atau pergi untuk merubah kehidupan.
Lamunannya buyar ketika dari arah samping kanan terdengar suara orang berdehem.
"Ehkheemm...."
Madan menoleh ke kanan,dia terkejut namun juga cukup senang dan itu terpancar dari senyum dan wajahnya.
"Nadia...!!" seru Madan memanggil sebuah nama.
"Bukan Nadia tapi Dokter Nadia" ujar seseorang dari belakang gadis cantik yang bernama Nadia tadi.
Madan memanjangkan lehernya ingin tau siapa gerangan yang bersuara tadi.
"Rizal...!!!" seru Madan.
Lelaki yang dipanggil dengan nama Rizal itu tersenyum sambil melambaikan tangan.
Madan segera berdiri dan menyalami mereka satu per satu.
Rizal dan Nadia adalah teman Madan waktu SMP dulu.
Madan dan Rizal malah teman satu kelas bersama dengan bidin.
Sedangkan Nadia merupakan adik kelas mereka.
"Bagaimana kabar bang Rama?" tanya gadis cantik itu dengan suara lembut.
Madan itu nama aslinya adalah Ramadhan,cuma Nadia yang memanggilnya dengan sebutan Rama.
Sedangkan kawan-kawan yang lain lebih suka memanggilnya dengan nama Madan karena dari kecil amak nya juga memanggil nama dengan nama Madan.
Belum lagi madan menjawab,sudah dipotong oleh Rizal.
"Seperti yang kamu lihat,Madan baik-baik saja dan tetap berteman dengan kerbau hahaha"
"Hush! bang Rizal jangan mengejek seperti itu" bela Nadia.
"Ahh...tidak kok,apa yang dikatakan Rizal memang betul adanya" jawab Madan tersenyum.
"Tadi si Rizal bilang kamu sudah menjadi dokter ya?wah...selamat ya" sambung Madan lagi.
"Iya bang,baru 3 bulan ini dan Nadia sudah bekerja di rumah sakit internasional di ibu kota" ujar gadis cantik itu.
"Wuih...! hebat! di rumah sakit internasional pula" puji Madan.
"Ahh...bang Madan jangan terlalu memuji seperti itu" kata gadis itu sambil tersipu malu.
"Begini Madan,kami kesini tidak lama-lama,ini juga kunjungan kami terakhir karena besok kami akan kembali ke ibu kota lagi" kata Rizal.
"Iya...kalau Nadia tidak paksa dia,dia tidak mau datang kesini" potong Nadia.
"Kenapa kalian baru datang sudah mau pergi lagi?" tanya Madan.
"Kami disini sudah hampir satu minggu bang" jawab Nadia.
"Sudah satu minggu?"
"Iya betul"
"Sudah satu minggu,tapi baru hari ini kalian datang menemui ku?bagus betul kalian" ujar Madan sedikit kesal.
"Kan diawal sudah dikatakan,kalau tidak dipaksa Nadia,aku mana mau kesini".
"Begitu?jadi kalian terpaksa mengunjungi aku?"
Terjadi sedikit perdebatan antara Madan dan Rizal sebelum pada akhirnya ditengahi oleh gadis cantik itu.
"Sudahlah bang Rizal,bang Rama jangan berdebat lagi,lebih baik bang Rizal beri tau saja tentang kabar gembira ini secepatnya kepada bang Rama" ujar Nadia kesal.
"Oke...oke..." Rizal mengangguk.
"Kabar gembira apa?" tanya Madan penasaran.
"Kami akan menikah 3 bulan lagi"
Taaarrr.....!!
Matanya membesar,mulutnya terbuka dan pandanganya kosong ke depan.
Dia harus gembira atau sedih mendengar kabar itu.
Madan tak habis pikir kenapa mereka berdua tega berbuat khianat seperti itu.
Dan Rizal sebagai sahabat tau betul bagaimana perasaan yang dimilikinya terhadap Nadia,gadis yang sangat dicintainya.
"Bang Rama pasti terkejut dan tidak menyangka mendengar berita ini kan?" ucapan gadis itu membuyarkan semuanya.
Dia mencoba untuk menekan luapan emosi yang menumpuk di dadanya.
"Selamat ya atas pertunangan kalian" ucapan selamat yang singkat dari mulut pemuda itu.
Nadia tahu persis apa yang dirasakan oleh madan saat ini.
Toh sebelum gadis itu berangkat untuk kuliah kedokteran,mereka sudah menjalin hubungan percintaan.
Namun seiring berjalannya waktu dan tak ada komunikasi antara mereka membuat perasaan itu menjadi memudar lalu hilang sama sekali.
Setelah lima tahun waktu berjalan,dia kembali memberi kabar kematian bagi Madan.
"Maaf," ujar gadis itu lirih sambil meninggalkan tempat itu.
Sekarang hanya tinggal madan dan Rizal di pondok itu.
Ingin rasanya Madan meninju wajah rizal yang dilihat sangat memuakkan itu.
"Kawan...!" ujar Rizal sambi menepuk pundak Madan.
Madan tetap diam tak bergerak sedangkan matanya tampak berkaca-kaca.
Rizal menarik nafas panjang sebelum memulai bicara.
"Jika kau tetap disini,kau akan kehilangan semuanya,lihat aku sudah menjadi orang hebat di rantau dan sebentar lagi aku juga punya istri cantik dokter pula hahaha".
Madan tetap diam,tubuhnya bergetar menahan emosinya.
Bagaimana bisa sahabat yang dipercayainya bisa setega itu bahkan tanpa rasa bersalah berani tertawa dan menasehatinya saat ini.
"Dengarkan aku kawan...cinta itu realistis dan materialistis,anak orang tidak akan kenyang jika diberi kasih sayang setiap hari,bayangkan mana ada anak orang yang terbiasa hidup senang,setelah menikah lantas hidupnya susah?hahaha...pikirkan itu kawan,aku orang kaya,keluarga Nadia juga kaya,semua cocok jadi tak mungkin lah Nadia mau menikah dengan mu kawan".
Bermacam hinaan yang ucapkan oleh Rizal terhadap Madan siang itu.
Sampai pada akhirnya Madan tak bisa lagi menahan dirinya.
Dipegangi leher baju Rizal itu olehnya.
"Aku masih menghargai kau sebagai kawan,tapi mulut kotor mu sudah kelewat menghina,pergi kau atau ku rontokan gigi mu agar kau tak bisa lagi bicara...!!!" bentak Madan.
Wajah Rizal pucat pasi seketika itu juga,dia tau kalau Madan pintar pencak silat jadi dia tak ragukan ancaman kawannya itu.
"Ba...baiklah...aku pergi" ujar Rizal sambil bergegas meninggalkan Madan,saking takutnya beberapa kali pria itu jatuh terjerembab di pematang sawah.
"Aagghhhhh.....!!!!"
Braaakkkk.....!!!!!
Sekali tinju saja tiang pondok itu langsung patah oleh Madan yang sedang dilanda amarah besar.
"Kucing air....!!!" gumamnya.
******
Seperti malam Jum'at sebelum-sebelumnya,setelah selesai sholat magrib anak-anak diajak untuk mengaji Yassin terus dilanjut sholat isya berjamaah.
Baru saja madan hendak melangkah pulang setelah selesai sholat isya,dia menghentikan langkahnya karena ada yang memanggilnya.
Pemuda itu menoleh kebelakang lalu menghampiri orang yang memanggilnya tadi.
"Angku Muchtar" kata pemuda itu sambil menyalami dan mencium tangan lelaki paruh baya yang dipanggil dengan sebutan angku Muchtar tadi.
"Bagaimana kabar amak Madan?apa sehat- sehat saja?" tanya angku Muchtar.
"Alhamdulillah sehat angku" jawab Madan.
"Syukurlah" orang tua itu mengangguk-angguk.
Lalu laki-laki paruh baya itu mengeluarkan dompet dan mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu.
"Ini upah ke sawah Madan" kata angku Muchtar sambil menyodorkan uang kepada Madan.
"Tapi angku, sekarang masih hari Kamis, biasanya upah Madan kan dikasih hari Sabtu" kata Madan.
"Iya, ini upah ke sawah Madan yang terakhir, besok Madan tidak usah ke sawah mengurus sawah angku lagi, biar gaek Bahar yang mengerjakannya."
Madan terkejut,tiada angin tiada hujan tiba-tiba saja angku Muchtar berkata seperti itu.
"Ambil lah,ini upah Madan angku bayat sampai hari Sabtu sekalian."
angku Muchtar menyodorkan uang kepada Madan.
Dengan berat hati madan menerima uang itu.
Dia tak ingin bertanya lebih lanjut lagi kenapa orang tua itu tidak mempekerjakannya lagi untuk menggarap sawahnya.
Madan menerima uang itu dan menghitungnya.
"Terima kasih angku" ujar pemuda itu sambil tetap menghitung uang.
"Ini uang angku lebih, Madan kerja sampai hari Kamis yang 2 hari itu bukan hak Madan" sambil memberikan kelebihan uang itu kepada angku Muchtar.
"Terserah kamu lah Madan" jawab angku Muchtar ketus.
Diterima uang itu lalu dia pergi berlalu tanpa menghiraukan jabatan tangan dari Madan.
Madan hanya geleng-geleng kepala sambil berlalu pulang.
Di Rumah seperti biasa Madan dan amaknya makan malam bersama dengan menu seadanya.
Selesai makan madan mengajak amaknya untuk mengobrol sebentar saja.
"Mak, ini upah dari kerja sawah angku Muchtar untuk minggu ini" kata Madan sambil menyerahkan uang kepada amaknya.
Amaknya heran lalu bertanya
"Kenapa hari kamis?bukannya Madan menerima upah setiap hari Sabtu?"
"Iya mak, ini upah yang terakhir."
"Terakhir? Terakhir apa maksud Madan?."
"Terakhir, karena besok Madan tidak lagi mengerjakan sawah angku Muchtar, gaek Bahar yang menggantikan."
"Kenapa begitu Madan? apa Madan ada masalah dengan angku Muchtar? kalau iya, biar amak turut si Muchtar itu besok!."
"Tidak usah mak, Madan tidak ada masalah sama sekali dengan angku Muchtar itu."
"Lantas kenapa main pecat orang begitu saja si Muchtar itu?" amak Madan kurang terima.
"Entahlah mak, mungkin gaek Bahar lebih butuh karajo daripada Madan" ucap Madan menenangkan amaknya.
"O...gitu" amak Madan mengangguk paham.
"Kau pikir aku anak kecil?, kau jawab macam itu langsung aku percaya begitu saja?" berkata amak Madan dalam hati.
"Tadi amak bertemu dengan orang tua Nadia di pasar, apa benar Nadia akan menika?" tanya amak Madan.
"Iya mak, dengan si Rizal."
"Heh...amak sangka Madan dengan Nadia dulu pacaran?."
"Tidak mak, Nadia itu seorang Dokter, mana mau dia sama orang miskin seperti Madan ini, hahaha" jawab Madan sambil tertawa untuk membesarkan hatinya sendiri.
"Ya sudah, amak mau tidur dulu, jangan lupa pintu diperiksa kembali Madan" kata amak madan sambil berlalu masuk ke kamarnya.
"Iya mak" jawab Madan singkat sambil mengunci pintu rumah dan kemudian juga bergegas untuk tidur.
*******
Ditempat yang lain.....
Dentuman suara musik ditempat itu membuat mereka larut dalam suasana dan bergoyang bersama.
Cahaya yang remang-remang,asap dari rokok yang mereka hisap serta bau alkohol serta bau parfum murahan juga keringat bercampur baur jadi satu.
Disudut yang lain tampak beberapa orang sudah terkulai lemas tak mampu bangkit lagi karena sudah mabuk berat.
Ditengah hingar bingarnya suara musik,ditengah-tengah kerumunan manusia yang sedang asik bergoyang malah ada yang adu jotos segala.
Mungkin dipicu karena senggolan dan akibat dari mabuk berat.
Beruntung pihak keamanan tempat hiburan itu sigap dan melerai mereka yang sedang adu jotos tadi.
Di atas ada sebuah ruangan yang dindingnya terbuat dari kaca,sehingga apa pun kegiatan yang terjadi dibawah dapat terpantau dar tempat itu.
Tempat itu tak hanya sebagai tempat untuk mengawasi pengunjung tapi juga sebagai kantor dari tempat hiburan itu.
Di kursi bos besar duduk seorang pria yang sudah cukup berumur.
Rambutnya mulai memutih,mulutnya sedang menghisap cerutunya dalam-dalam.
Dihadapannya duduk dua orang kepercayaannya.
Dan ada beberapa orang lagi yang berdiri sambil berjaga-jaga.
Berbanding terbalik dengan keadaan dibawah yang berisik oleh suara musik,di ruangan itu justru sangat sunyi karena ruangan itu kedap suara dari luar maupun dari dalam.
"Si Hansen itu bikin aku susah saja,walau dia mati harusnya mati tidak bikin susah orang" bos besar buka suara setelah menghembuskan asap rokoknya.
Sesekali ruangan itu di selingi oleh suara batuk sang bos besar.
"Si b******k Johan itu meminta setengah saham dari tempat ini,huh...dia mimpi...!!!" gerutu bos besar.
"Dan kau Jek,seharusnya kau larang si Hansen itu untuk berjudi" sambung bos besar.
"Apa lagi sampai mempertaruhkan Hells diskotik ini,kalau si Johan kuasai ini setengahnya,kalian bakal dapat apa?beruntung dia cuma pertaruhkan separuh saja hahahaha."
Pria yang disebut namanya tadi bereaksi ingin menjawab,namun bos besar mengangkat tangan sebagai isyarat agar dia diam.
"Kau jangan membela diri mu Jek, bagaimana pun aku dan Hansen itu adalah sahabat lama,jadi aku tau tabiat dia,bagaimana pun kau melarangnya untuk tidak bertaruh,dia akan tetap bertaruh tapi aku akan pertahankan Hells ini bagaimana pun caranya".
"Nah...Daniel,kau sebagai tangan kanan dan orang kepercayaan ku selain si Jek,cobalah kau negosiasikan keadaan ini dengan si Johan itu"
perintah si bos.
"Sudah bos,saya sudah ketemu bos Johan dua hari yang lalu" jawab Danil,pria yang berperawakan tinggi rambutnya selalu klimis dan berminyak.
"Lantas apa hasilnya" tanya si bos penasaran.
"Bos Johan ingin bertemu dan bicara dengan bos di dermaga lima,dua minggu lagi"
Bos besar mengangguk dan bergumam
"Dua minggu lagi"
******
Danil melihat jam tangannya,
"Bos,kami pergi dulu ada sedikit urusan yang aku dan anak-anak urus" katanya sambil berdiri dari tempat duduknya.
Si bos mengernyitkan kening lalu berkata,
"Jam selarut ini?"
"Iya bos,ini sangat mendesak"
"Haaaa...palingan kau pergi ke tempat nyonya Menor hahaha" celetuk se jek.
"Sok tau kau" jawab Danil dengan wajah kurang enak.
"Sudah,kau mau pergi kemana saja itu urusan mu,ini juga sudah larut malam,dunia kita memang dunia kelam jadi untuk melakukan apa pun tidak harus siang" kata si bos.
Danil pun undur diri dan pergi bersama lima orang anak buahnya.
Nyonya Menor sendiri adalah bos dari sebuah tempat lokalisasi yang cukup terkenal.
"Tampaknya aku harus bicara soal siapa pengganti ku kelak" kata si bos sambil menghisap cerutunya.
"Namun orang yang dekat dengan ku cuma kalian berdua saja,si Danil dia licik dan culas aku tidak percaya dengan dia"
Mendengar itu tampaklah senyum mengembang di wajah si Jek.
"Tapi,kalau aku memilih mu,aku takut organisasi kita tidak akan bertahan lama dan lama-lama bubar sendiri,walau kau cukup pintar dalam mengelola organisasi ini tapi kau tidak bisa bela diri dan banyak anggota yang tidak menyegani mu,kenapa kau bisa bertahan sampai saat ini,itu karena aku hahaha uhuk...uhuk..." lanjut si Bos sambil terbatuk-batuk.
Ya, si Jek memang menyadari kelemahan yang dimilikinya,dan betul kata si bos,kalau tidak dibela dan selalu ditolong bos besar dia mungkin sudah habis jauh jauh hari pikir si jek dalam hati.
Tok...tok...tok.....!!!
Pintu kantor itu diketuk tiga kali.
Penjaga pintu membuka pintu dan mempersilahkan orang itu masuk.
Seorang pemuda berjas putih layaknya seorang dokter.
Si pemuda melambaikan tangan.
"Selamat malam George tua" ujar pemuda itu.
Selain pemuda itu,tak ada yang berani memanggil bos besar dengan sebutan George tua seperti tadi.
"Selamat malam anak durhaka" balas bos besar.
"Bagaimana keadaan George tua hari ini?" kata pemuda itu sambil melangkah.
Cerutu di mulut bos besar diambilnya dan dipatahkan.
"Sudah aku katakan,jangan merokok..!kenapa masih bandel juga?"
Kemudian dokter muda itu menoleh kearah si Jek.
"Bang Jek ini juga,bagaimana sih?tidak bisa melarang George tua untuk berhenti merokok?"
"Heh...kau ini buta atau bagaimana?dia itu bos besar,bagaimana caranya aku melarangnya?bisa-bisa aku yang dilarang hidup olehnya" ujar si Jek.
"Betul juga" balas dia singkat.
Kemudian dia mengeluarkan peralatan medisnya untuk memeriksa kondisi bos besar.
Cukup lama dokter muda itu memeriksa kondisi bos besar.
"Kondisinya cukup sehat,bahkan untuk menikah lagi pun dia kuat kok hahaha" ujar dokter muda itu berseloroh.
"Syukurlah kalau aku baik-baik saja"
"Tapi tolong kurang-kurangi merokoknya"
"Tentu saja,kalau tidak aku kurangi rokok ku tak akan habis"
"Dan semua juga tau,orang yang tidak merokok pun akan mati,yang merokok juga mati,jadi mari kita merokok sampai mati haha" lanjut bos besar sambil mengambil rokok baru dan membakarnya.
"Dokter mau minum apa?yang berat atau yang ringan?" si Jek menawarkan minum.
"Haram...haram..." jawab dokter muda itu.
Jelas saja ditolak karena minuman yang ditawarkan adalah jenis minuman keras semua.
Dokter muda itu bernama Torik,dia adalah anak angkat dari George si bos besar.
Hubungan mereka sangat akrab layaknya ayah dan anak.
Setelah berbincang beberapa lama,dokter Torik pun pamit undur diri.
Di Ruangan itu tinggal bos besar,si Jek dan beberapa anak buah yang setia menemani mereka sampai pada akhirnya mereka juga pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat.
?????