"Loh Rizal, Dea mana?" tanya Annisa, saat melihat Rizal turun dari kamarnya seorang diri.
"Dea, masih tidur mom." jawab Rizal sambil tersenyum.
"seperti nya kamu sedang bahagia?" goda Annisa kepada Rizal.
"hmm" balas Rizal sembari tertawa sendiri membayangkan kejadian tadi di kamarnya.
Flashback On
Rizal tidak ingin melepaskan pelukannya meskipun Dea meronta-ronta sekalipun.
"Mas, lepaskan aku! awas mas," teriak Dea sambil memukul-mukul tangan Rizal.
"Tidak mau!" jawab Rizal dengan santai.
"awas ih mas!!" teriak Dea dengan geram.
"Haha, sudahlah sayang. jangan berteriak terus menerus nanti suaramu habis, lebih baik kamu diam saja. " usul Rizal. namun Dea tidak mendengarkan nya, Dea masih meronta-ronta agar di lepaskan oleh Rizal. Karena sudah kehabisan tenaga akibat meronta terus menerus, dea pun menggunakan jurus terakhir nya. Wanita itu, mengigit tangan Rizal dan seperti yang dea perkirakan, rizal kesakitan karena gigitan tersebut.
"Auww auww.." pekik Rizal, karena Rizal melonggarkan pelukannya Dea berhasil melepaskan diri dari pelukan itu.
"yeeeyy berhasil," seru Dea dengan senang.
"sayang, kenapa kamu tega denganku?" ucap Rizal dengan muka memelas. Dea tidak memperdulikan itu, ia lebih memilih berjalan ke pintu kamar untuk keluar. Namun sayang, pintu kamar itu telah di kunci oleh Rizal.
"Mass!!" jerit Dea. Rizal tersenyum menyeringai karena berhasil mengerjai istrinya.
"mana kuncinya mas!" ucap Dea dengan berpura-pura lembut.
"tidak akan ku kasih kan!" Ucap Rizal dengan memasang wajah menyebalkan bagi dea.
"Kamu keterlaluan mas! " teriak Dea lagi.
"Bodoh amat!" singkat Rizal.
"Mas, Dea lapar." ucap Dea dengan memasang muka puppy eyes. Rizal sebenarnya merasa gemas dengan tingkah Dea, namun ia menahan diri agar tidak jatuh ke perangkap rubah betina itu.
"panggil saja Bibi, nanti dia akan membawanya kesini." ucap Rizal dengan enteng, karena sudah sangat geram dengan suaminya itu. Dea akhirnya menghampiri Rizal dan menjambak nya.
"Auw.. auww.. auww.. sakit yang," keluh Rizal, namun lagi-lagi Dea tidak perduli. Dea tetap menjambak rambut Rizal hingga merontokkan rambut yang lumayan banyak, karena tidak tahan dengan rasa sakit. Rizal pun memegang tangan Dea, dan menarik Dea ke pelukannya lagi. Dan lagi-lagi Dea kalah tenaga dengan Rizal.
"Lepaskan mas!!" ucap Dea sambil meronta-ronta, Rizal di mendengar kan nya. ia lebih memilih diam dan memandangi wajah istrinya. Wajah Rizal mendekat ke arah, wajah Dea.
PLAAKK
sebuah tangan menampar wajah Rizal, tangan itu milik Dea. Karena takut suara jantung nya berdegup kencang di dengar oleh Rizal, ia menampar Rizal agar wajah laki-laki itu tidak terlalu dekat.
"Sakit sayang! akhir-akhir ini kenapa kamu ganas sekali sayang." goda Rizal, muka Dea sudah merah seperti tomat. ia sangat malu, dengan ucapan suaminya ceplas-ceplos itu.
"Apaan sih mas, sudah lepaskan aku!" balas Dea.
"Hahahaha lihat lah, muka mu itu sayang. merah seperti tomat" ledek Rizal.
"apaan sih mas, diam ih!!" jawab Dea
"Dea," panggil Rizal dengan lembut. Rizal membelai lembut pipi Dea, dan menatapnya dengan penuh cinta. Rizal pun mendekat kan wajahnya ke wajah dea. Ntah kenapa kali ini Dea tak melarang, Dea ikut larut dalam tatapan suaminya itu. Perlahan-lahan Rizal mendekat kan bibirnya ke bibir Dea. bibir mereka berdua pun bersatu, Mereka berdua pun berci**an. kebencian yang ada dalam diri Dea seakan-akan hilang, ia larut dalam ci***n hangat itu. Setelah cukup lama mereka berci****n, Rizal pun menyudahi nya. Dan terjadilah pergulatan panas antara Rizal dan Dea.
Flashback Off
"Hei Rizal!" panggil Annisa kepada Rizal.
"Hehe, iya mom." Jawab Rizal sambil cengengesan.
"Kamu kenapa sih! senyam-senyum sendiri seperti orang gila saja" Cetus Annisa.
"Hahaha, kepo ya?" ledek rizal.
"tidak! mommy hanya takut saja jika kamu gila beneran," ceplos Annisa.
"mom! kok gitu sih, sama anak sendiri." protes Rizal, Annisa hanya mengangkat bahu nya dan pergi begitu saja.
"Huh, dasar mommy." gumam rizal.
Di kamar, Dea baru saja bangun.
"eumm," Dea menggeliat dari tidurnya. Setelah itu, Dea bangun dan duduk di kasur.
"Kemana orang itu? Huh sakit semua badanku," keluh dea sambil memegang pinggangnya. Dea memunguti pakaiannya dan pergi ke kamar mandi. setelah membersihkan diri, Dea turun ke bawah.
"Sudah bangun kamu sayang?" Sapa Rizal, namun Dea diam saja sambil memasang wajah datarnya. Rizal yang melihat Dea telah berubah kembali pun tersenyum miring.
"Sayang, kenapa diam saja. Oh atau servis an mas kur—hmppt," ucap Rizal yang langsung di bekap oleh Dea.
"Bisa tolong diam tuan? " Ucap Dea dengan penuh penekanan. Rizal pun mengangguk an kepalanya. Setelah itu, Dea melepaskan tangannya dari mulut Rizal.
"haa.. haa.. ha.." Rizal mengambil nafas dengan rakus, mungkin jika 3 atau 5 menit lagi. Rizal akan benar-benar kehabisan nafas.
"Kamu ingin membunuh ku sayang?" seru Rizal. Dea tidak menjawabnya, wanita itu lebih memilih untuk cepat-cepat menghabiskan makanannya. setelah selesai makan, Dea pun pergi dari meja makan.
"Sayang mau kemana?" tanya Rizal, Dea tetap diam tak menjawab. Karena tau jika istrinya pasti tidak akan menggubrisnya, Rizal pun mengikuti nya saja.
"Bisa tidak jangan menganggu!" ucap Dea dengan dingin.
"Ini rumahku, jadi ya terserah ku!" jawab Rizal dengan enteng.
"Huh sabar Dea ingat, tinggal 29 hari lagi," batin dea.
"Terserahlah," Ucap Dea dengan cuek. Rizal tersenyum geli melihat tingkah istrinya yang cuek terhadap nya.
"haa.. Bukankah mereka terlihat harmonis?" seseorang menghela nafasnya, dan bertanya kepada seseorang lainnya.
"Ya, sangat harmonis," jawab seseorang yang lain.
"Jika kau tau, kenapa kau tidak batalkan saja perjanjian itu!" ucap seseorang itu.
"Maksud anda, ibu Annisa?" tanya seseorang lain.
"Haha, kurasa kau bukan wanita bodoh, yang tak paham dengan maksud ku!" maki Annisa. Ya, orang yang berada di balik tembok itu adalah Annisa dan elin.
"Tapi perjanjian itu, di buat oleh suami anda dan juga ayah saya. nyonya!" Lirih elin.
"Heh, jangan jadikan itu sebuah alasan. sekarang aku tanya, apa yang kau dapatkan dari merusak hubungan orang hah!" bentak Annisa. Elin hanya diam dan menunduk, ia tak berani menatap mata tajam Annisa.
"Huftt, elin saya yakin kamu sendiri pasti ragu bukan tentang ayah anakmu? " Ucap Annisa.
"saya–" ucap elin yang ia jeda.
"Elin, sebagai seorang ibu. saya bisa merasakan ikatan batin antara saya dengan calon cucu saya. namun saya, sama sekali tidak bisa merasakan ikatan batin antara saya dan anak yang kamu kandung! sekarang lebih baik kamu jujur saja. siapa ayah dari anak yang kamu kandung?" tanya Annisa.
"Saya hiks, tidak ingat." jawab elin dengan tangis.
"Haa.. menyebalkan! elin saya berharap kau bisa cepat mengingat-ingat kejadian waktu itu. agar semuanya jelas dan pasti. Sudahlah, pulang lah saja. Saya sudah menyuruh, sopir untuk mengantarkan kau pulang!" ucap Annisa, Annisa sangat kesal dengan sifat rapuh wanita disamping nya. Karena merasa sangat kesal, Annisa pun mengantarkan elin pulang kerumahnya.