Merencanakan hal jahat, untuk tuan muda Jakson.

1073 Words
Di dalam perjalanan pulang, elin terus memikirkan perkataan Annisa. Sejujurnya ia pun ragu dengan ayah dari anaknya itu. "haa.. siapa sebenarnya ayahmu nak?" batin elin sambil mengelus-elus perut nya. "non, kita sudah sampai," ucap sopirnya. "Oh, iya pak. Terimakasih," ungkap elin, setelah itu elin masuk ke dalam rumahnya. "Sudah pulang kamu, dari mana saja?" tanya bapak elin, rupanya bapak elin telah menunggu dirinya sedari tadi. "keluar, ketemu teman pak." jawab elin dengan sopan. "jangan berbohong elin!" bentak bapak elin, ia tak percaya begitu saja dengan jawaban anaknya. "benar, kok pak. elin tadi keluar ketemu teman," kilah elin. "bapak tidak percaya, kamu tadi keluar dengan ibu Annisa kan. ibu dari laki-laki b*j*ng*n itu!" tegur bapak elin, elin yang merasa jika bapaknya tidak bisa di bohongi itu pun hanya menunduk diam. "elin, duduklah sini. ada yang ingin bapak katakan!"perintah bapak elin, ia melembutkan sedikit perkataan nya. "iya, pak." balas elin, ia pun duduk di samping bapaknya. "Elin, keluarga laki-laki b*j*ng*n itu, tidak melukai mu kan?" tanya bapak elin. "tidak, kok pak. elin baik-baik saja" jawab elin dengan lembut, bapak elin pun meredakan emosi nya. "baiklah, jika seperti itu. kamu sudah makan belum? kalau belum, ayo makan. ibu mu tadi masak enak loh," ajak bapak elin, elin pun tertawa geli melihat tingkah bapaknya. "haha, ya sudah. ayo pak," tawa elin. mereka berdua, pergi ke meja makan untuk makan bersama. Di sebuah kamar hotel, terdapat seorang laki-laki yang memutar-mutar gelas berisi wine. Tok Tok Tok suara pintu diketuk pun terdengar. "Siapa?" tanya laki-laki itu dengan dingin. "Saya, tuan."jawab seorang wanita di balik pintu itu. "masuklah!" perintah laki-laki itu, wanita itu pun masuk ke dalam kamar tersebut. Wanita itu mengenakan pakaian seksinya, dia berjalan berlenggak lenggok di depan laki-laki tersebut. Dia menaiki ranjang laki-laki itu. "Tuan, Jakson" panggil wanita itu dengan sensual. Laki-laki itu pun mengisyaratkan kepada wanita itu untuk maju, menghampiri dirinya. "siapa namamu?" tanya Jakson sembari me***mi rambut wanita itu. "Angel, tuan." jawab wanita itu dengan malu-malu. karena sudah tak tahan lagi, Jakson langsung menerkam wanita tersebut. Beberapa jam kemudian, suara ponsel Jakson berdering. Jakson pun, bangun dari tidur. "Ya, hallo?" jawab Jakson dengan suara serak. "Jakson!!" teriak marah, seorang laki-laki dari telfon tersebut. Jakson merasa familiar dengan suara teriakan laki-laki itu pun melihat ke arah ponselnya. Dan benar saja, orang yang menelfon nya adalah kakeknya. "Oh shiit" umpat Jakson. "hei, Jakson! kau mengumpati ku?" marah kakeknya. "tidak kek, tidak." timpal Jakson. "Jakson kau–" jeda kakek saat mendengar suara wanita di dekat cucunya. "Tuan muda," panggil angel, wanita bayaran itu. "Jakson, dasar kau!! " murka kakek, Jakson memutar bola matanya malas dengan sang kakek, ia pun memutuskan menutup telfonnya. "Tuan muda," panggil angel dengan manja, angel mencoba memegang tangan Jakson. namun sayang Jakson menepisnya. "itu bayaran mu, pergilah saat aku sedang mandi! jangan muncul lagi di hadapan ku!" tegas Jakson, ia mengeluarkan uang dan memberikan kepada angel. setelah itu, ia pergi ke kamar mandi. "Ishh, menyebalkan," dengus angel, dia sangat kesal dengan sikap arogan yang dimiliki Jakson. Angel memunguti pakaiannya yang berserakan dan memakai nya, saat ia hendak memakai stocking suara notif terdengar dari ponsel Jakson. Ting karena penasaran angel, mencoba melihat sebentar. Angel membaca pesan tersebut, saat dia membacanya. betapa kagetnya dia, saat mengetahui sebuah rahasia besar yang Jakson sendiri pun tak mengetahuinya. "Wow, bukankah ini sebuah takdir" gumam angel, wanita itu tersenyum smirk. Ia memikirkan ide-ide jahat di benaknya, angel mengirim pesan yang berada di ponsel Jakson ke ponselnya. Setelah itu, ia menghapus pesan itu dari ponsel jakson tak lupa, ia memblokir dan menghapus kontak pengirim pesan itu di ponsel Jakson. setelah itu angel menaruh ponsel Jakson ke tempatnya tadi, ia memakai stocking nya kembali dan mengambil uang yang di berikan oleh jakson dan pergi dari kamar itu. Saat keluar kamar, angel tersenyum kemenangan sambil menciumi ponselnya. "Hahahaha, cepat atau lambat kau akan menjadi milikku tuan muda. Sampai bertemu kembali!" batin angel, sembari memasuki lift turun kebawah. Sedangkan di kamar Jakson, ia baru saja selesai mandi. Saat keluar kamar mandi, ia sudah tidak melihat angel. ia pun tersenyum sinis sambil mencemoohnya, "Heh p*l*c*r murahan!" cemooh Jakson. Jakson mengambil telfon hotel dan menelfon room service untuk membersihkan kamarnya. Saat kamarnya di bersihkan, Jakson pergi ke kamar Mark asistennya yang berada di samping kamarnya. Tok tok tok suara pintu yang diketuk oleh Jakson, Ceklek Mark membuka pintu kamarnya, ia melihat tuan mudanya berdiri di depan pintu dengan rambut yang basah habis keramas. "Tuan muda, ada apa anda kemari?" tanya Mark dengan mata yang menyipit. "Kamarku sedang di bersihkan," jawab singkat Jakson, Mark pun yang mengerti maksud Jakson. mempersilahkan Jakson masuk ke kamarnya, Jakson masuk ke dalam kamar Mark dan duduk di sofa. "Mark, masih berapa lama lagi kita menunggu surat-surat itu selesai? kakek tadi sudah menelfon ku!" tanya Jakson dengan datar. "mungkin, sekitar 12 hari lagi tuan." tegas Mark. "hmm, baiklah. bagaimana, pencarian tentang gadis itu?" tanya jakson lagi. "Saya, belum menemukan nya tuan," jawab Mark dengan datar. "maaf tuan, bukankah Anda sudah menyewa seorang detective, untuk mencari gadis itu." imbuh Mark lagi. "hmm, kau benar. tapi ntah mengapa, nomor Detective itu menghilang,"ucap Jakson. "Bagaimana mungkin, nomor itu tiba-tiba menghilang tuan? " tanya Mark dengan bingung. "Ya, mana ku tahu," ketus jakson. "Sudahlah, Mark. kau gunakan saja segala cara untuk menemukan gadis itu, aku tidak mau tahu kau harus bisa menemukan nya!" lanjutnya lagi. "Maaf, tuan muda. tugas saya hanya untuk mencari dan membawa nona muda pulang, bukan untuk mencari dan menemukan gadis anda. Jika ingin menemukan gadis itu, berusahalah sendiri!" tolak Mark dengan tegas. "Mark! kau, apa kau lupa jika kau itu asisten pribadi ku?" murka Jakson. "tentu saja, saya tidak lupa tuan. Tapi saat di Indonesia ini, saya sedang menjadi tangan kanan tuan besar. apa perlu saya menelfon tuan besar, agar anda percaya tuan muda," sanggah Mark dengan santai, Jakson hanya bisa menahan emosi jika Mark sudah membawa nama kakeknya dalam pembicaraan mereka. "Baiklah, Mark. Saat ini aku meminta tolong kepada mu sebagai sahabat, ayolah Mark bantu aku kali ini saja." pinta Jakson dengan penuh harap. "Hmm baiklah, akan saya pertimbangkan tuan muda!" putus Mark, sebenarnya ia sangat ingin tertawa karena berhasil mengerjai tuan mudanya. Namun Mark menahannya, jika ia tertawa saat ini. reputasinya sebagai tangan kanan, keluarga Abraham akan hancur dihadapan Jakson. Bukk Bukk Bukk "Haha, terimakasih Mark." ucap Jakson dengan senang, bahkan ia tanpa sadar menepuk-nepuk pundak Mark. "Ehem, ehem, tangan anda tuan!" deham Mark dengan dingin, Jakson tersadar dengan apa yang tengah ia lakukan pun hanya bisa menyengir saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD