Seorang wanita, baru saja keluar dari ruang ganti. wanita itu mengenakan lingerie s*k*i dihadapan seorang laki-laki.
"jangan, menatap ku seperti itu!"hardik wanita tersebut, laki-laki itu tersenyum dengan m*s*m dan menghampiri nya.
"memangnya, kenapa? kau kan istri ku," sahut laki-laki itu,
"mas Rizal!" teriak wanita itu, ya benar mereka berdua adalah Rizal dan Dea. hari ini adalah hari ke 2 perjanjian mereka, di hari ke 2 Rizal menyuruh istrinya itu menggunakan pakaian s*k*i nya.
"haha, kenapa kamu malu-malu seperti itu sayang?" goda Rizal,
"Mas Rizal!" seru Dea lagi, Dea berjalan ke arah kasur. Dea menyelimuti seluruh tubuh agar Rizal tak bisa menyentuh nya.
"sayang, kau tahu bukan jika tenaga kita berdua itu berbeda. O ayolah sayang, tidak ada gunanya kau menutup tubuhmu dengan selimut itu,” jelas Rizal, "jangan menjawab nya Dea, ayo berpura-pura tidur saja!" batin Dea pada dirinya sendiri.
karena mengetahui jika Dea berpura-pura tidur, Rizal pun menarik selimutnya.
"mas, rizal! kembalikan selimut ku!"seru Dea. setelah berhasil menarik selimut Dea, Rizal menindih tubuh Dea.
"mas, jangan macam-macam! aku teriak nih,"ucap Dea dengan gugup. Rizal menyeringai lalu berkata,
"teriak lah, aku tidak takut!" tantang Rizal,
"mas, aku teriak beneran nih!" ancam Dea.
"Ya,berteriaklah. tapi apa kau tidak malu kalau sampai mommy dan Daddy melihat penampilan mu yang seperti ini?" ucap Rizal, Dea diam sejenak. wanita itu berpikir, benar yang dikatakan oleh rizal. jika dirinya berteriak, dan mertua nya kemari mereka akan melihat penampilan Dea yang seperti wanita pengg*d* saja. Kali ini Dea benar-benar kalah telak, oleh Rizal.
"kenapa, diam. bukankah tadi kau ingin berteriak? ayo teriak lah!" ejek Rizal.
"mas, aku mohon. turun lah dari badan ku," rengek Dea, Rizal memajukan wajahnya ke wajah Dea.
"kau, semakin menggemaskan sayang."bisik Rizal, karena sudah tidak tahan lagi. Rizal menc*u*i dea dengan ganas. setelah itu Rizal melancarkan aksinya, dan terjadilah pergulatan panas. wkwkwkw maaf ya nggak aku jelasin? soale aku aja nggak tau gimana caranya ? oke next..
beberapa jam kemudian Dea terbangun dari tidurnya, Dea menatap wajah terlelap suaminya. "kenapa, aku tidak bisa membencimu mas?" batin dea di dalam hatinya. Dea mengelus pipi Rizal dengan lembut, dia sangat mencintai suaminya itu. setelah puas mengelus pipi Rizal, Dea bangun untuk ke kamar mandi namun sebuah tangan mencekalnya.
"Dea, apakah tidak bisa kamu batalkan gugatan itu?" lirih Rizal, Dea tidak sanggup menatap wajah Rizal.
"tolong, lepaskan tanganku mas."rintih Dea, rizal tidak mendengar kan ucapan Dea. laki-laki itu menarik Dea dan memeluknya,
"hiks, aku mohon, hiks, hiks,"tangis Rizal rupanya pecah di pelukan Dea.
"mas," panggil Dea dengan lirih, dea menahan tangisnya. ia tak ingin terlihat seperti wanita lemah, ia tak ingin pertahanan yang ia bangun selama ini runtuh hanya karena tangisan Rizal.
"kenapa? kenapa Dea. hiks hiks kenapa kau tidak percaya padaku," ucap Rizal dengan sedih,
"mas, kumohon jangan seperti ini!"sahut Dea,
"apakah aku bisa menjalani hari-hari tanpamu? hiks, hiks, hiks, Dea apakah kamu sudah tidak mencintai ku?" racau Rizal, Dea diam membisu ia tak bisa berkata-kata lagi. beberapa menit kemudian, suara tangis Rizal sudah tak terdengar.
"mas," panggil Dea dengan pelan, dengkuran halus terdengar. Dea pun tahu jika Rizal sudah tertidur, Dea pelan-pelan melepaskan pelukan Rizal. Dan akhirnya berhasil, Dea berhasil keluar dari pelukan laki-laki itu. dea bangun dan berjalan ke kamar mandi, di kamar mandi Dea meluapkan kesedihan nya.
"hiks, hiks, hiks, hiks," tangis Dea, wanita itu memukul-mukul dadanya ia merasa sesak di dadanya.
"hiks, hiks, hiks, apakah aku terlalu kejam ya allah. hiks hiks maaf mas aku tidak sanggup jika harus bertahan dalam hubungan ini," tangis Dea dengan sedih. setelah setengah jam menangis Dea pun membasuh mukanya dan keluar dari kamar mandi, dia melihat suaminya terlelap disana. Dea pergi ke ruang ganti, dan mengganti pakaiannya.
"nona muda, anda ingin pergi kemana?"tanya art rumahnya.
"saya, ada keperluan sebentar bi." jawab Dea dengan senyum di wajahnya.
"apa, tidak menunggu tuan muda saja non?" tanya art lagi.
"tidak bi, saya ingin pergi sendiri saja. oh iya nanti jika mommy dan mas Rizal mencari. bilang saja jika saya keluar berbelanja," ujar Dea,
"emm, tapi non–" ketika art nya ingin berbicara lagi, Dea memotong nya.
"Sudah, ya bi. saya berangkat dulu, assalamualaikum bi."potong Dea, ia pun pergi menggunakan mobilnya sendiri. hari ini Dea tidak ingin di antar sopir nya, wanita itu melajukan mobilnya ke suatu tempat, setelah melewati jalanan yang lumayan jauh. Dea pun sampai ke tempat tujuannya, wanita itu turun dari mobilnya.
"selamat datang, nona." sapa seorang wanita.
"apakah dia berada di sini?" tanya Dea,
"beliau, sudah menunggu anda di dalam nona. mari saya antar," ajak wanita tersebut, Dea pun mengangguk an kepalanya dan mengikuti wanita tersebut. Wanita itu mengajak Dea ke sebuah ruangan,
tok tok tok
Suara pintu yang wanita itu ketuk,
"masuk!" jawab seorang laki-laki
"silahkan masuk nona," wanita itu mempersilahkan Dea untuk masuk ke ruangan tersebut.
"baiklah, kau boleh pergi!" perintah Dea, setelah itu Dea masuk kedalam ruangan. Di ruangan tersebut terdapat seorang laki-laki, seumuran dengan Rizal tengah duduk di kursi sembari memegangi sebuah berkas.
"Duduklah," ajak laki-laki itu,
"apakah, aku mengganggu mu?" tanya Dea, laki-laki itu menaruh berkasnya dan berdiri dari kursinya. ia menghampiri Dea yang duduk di sofa tamunya.
"tentu saja tidak, tumben sekali kau kemari. ada apa?" tanya laki-laki itu,
"aku butuh bantuan mu!" tegas Dea, laki-laki itu tertawa.
"hahaha, untuk apa seorang menantu keluarga Prajawinata. meminta bantuan kepada ku yang hanya seorang gelandangan ini," goda laki-laki itu, Dea menatap kesal ke arah laki-laki itu.
"si*l*n kau, aku serius Fredy!" umpat Dea,
"haha, baiklah, baiklah. bantuan apa yang kau butuh kan?" tanya Fredy nama laki-laki tersebut.
"bantu aku, mengurus surat-surat perceraian ku!" ujar Dea,
"Apa!" pekik Fredy rupanya, laki-laki itu tidak mengetahui kabar rumah tangga Dea.
"kau meminta ku untuk mengurus surat-surat perceraian? maksudnya kau ingin bercerai dari suamimu," seru Fredy, dea memutar bola matanya.
"jangan lebay Fred, sekarang jawab pertanyaan ku bisa kan kau membantuku?" tanya Dea.
"apakah kau korban kdrt? atau suamimu berselingkuh? astaga apakah kita perlu ke dokter dahulu untuk mengecek tubuhmu," racau Fredy, karena kesal Dea memukul kepala laki-laki itu.
PLAAKK
"auww," ringis Fredy.
"hei, kau!" teriak Fredy.
"Diamlah kau, dengarkan aku baik-baik. kami bercerai bukan karena adanya kekerasan atau apapun itu. kami bercerai karena memang sudah takdirnya saja!" jawab Dea.
"Hei, lalu apa kau menyuruh ku untuk berbicara di pengadilan jika kau ingin bercerai karena memang takdirnya. Tidak bisa Dea! kau harus mempunyai alasan kuat agar proses perceraian mu cepat selesai!" ketus Fredy,
"ayolah, Fred. bantu aku kali ini saja, ku mohon." ucap Dea dengan sedih,
"haa.. baiklah kita bahas lagi nanti. sekarang ayo kita makan siang dulu, aku lapar!" ajak Fredy, Dea pun mengangguk dan mengikuti Fredy ke ruang makan.