Rizal dan Dea kembali ke kamarnya, saat sampai di kamarnya Dea langsung menyetel tv yang berada disana. Hari ini ntah kenapa Dea sangat menginginkan menonton film Cars. Dan karena acara itu tidak ada, Dea menyuruh Rizal untuk menyetel film Cars di ponsel dan di sambungkan ke tv mereka.
"Cepat, mas. Lama sekali!"gerutu Dea kepada suaminya.
"Sabar sayang,"ucap Rizal. Setelah mencoba berkali-kali, Rizal akhirnya bisa menyambungkan nya. Dea yang melihat itu pun kegirangan, matanya binar menatap tv tersebut. Rizal yang melihat tingkah laku istrinya itu merasa gemas. Sangking gemasnya Rizal tanpa sadar mencubit pipi Dea.
"auw, apaansih! sakit tau,"gerutu Dea, wanita itu menatap Rizal dengan tajam.
"Maaf, hehe!"ucap Rizal dengan tawa canggung nya. Dea tidak menjawabnya dan kembali fokus pada film Cars nya. Setelah setengah main film Cars, Dea tiba-tiba merasa lapar. Dia pun menatap Rizal yang tengah berkutat dengan laptopnya,
"Mas, aku lapar!"rengekan Dea berhasil membuat Rizal mengalihkan pandangannya.
"Bukankah kau baru makan?"sahut rizal.
"Ya, tapi aku lapar lagi mas."ucap dea, Rizal menghampiri Dea yang duduk di sofa.
"Kamu, ingin makan apa?" tanya Rizal. Dea terdiam sejenak, ntah mengapa Dea tiba-tiba menginginkan kebab Turki pinggiran jalan yang sering ia temui.
"Aku ingin kebab, yang penjual nya jualan di jalan menuju kantor mu mas."ucap Dea dengan binar di matanya. Rizal mengangkat sebelah alisnya, ia merasa aneh dengan permintaan istrinya itu.
"Kamu yakin sayang? ini kan sudah jam 6 sore. Apakah penjual itu masih ada,"jelas Rizal.
"Aku tidak peduli! pokoknya aku ingin itu titik!"seru Dea, wanita itu memaksa Rizal untuk tetap membelikan kebab itu.
"Hmm, baiklah aku akan membelikan nya. "jawab Rizal, laki-laki itu berdiri dan mengambil kunci mobilnya saat akan keluar dari kamar Dea menghentikan nya.
"Mas, tunggu. Aku ikut ya,"Dea bangun dari duduknya, dan mengambil jaket. Wanita itu menyusul Rizal yang berdiri di pintu kamar.
"kamu, ingin kemana?"tanya rizal.
"Ya, ikut lah! Ayo berangkat mas nanti keburu malam. Penjual nya sudah pulang,"Dea berjalan mendahului suaminya, Rizal yang melihat itu tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Mas, ayo!"teriak Dea dari tangga. Karena tak ingin membuat istrinya berteriak terus menerus Rizal pun berjalan dan menyusulnya. Saat mereka tengah berjalan menuju parkiran mobil, mobil Riswan datang dari kantor.
"Loh, kalian mau kemana?"tanya Riswan saat melihat anak dan menantunya itu hendak pergi.
"Mau beli makanan dad,"jawab Rizal, mereka berdua menyalami Riswan.
"Oh, ya sudah. Kalau begitu, hati-hati!, oh iya, pulang nya jangan malam-malam. Bahaya sekarang lagi maraknya penjahat jalanan."Riswan menasihati anak dan menantunya itu, Rizal dan dea menganggukkan kepalanya. Setelah itu, mereka berdua pun masuk ke dalam mobilnya. Saat mobil Dea dan Rizal keluar dari halaman, Riswan menatap nya dengan bahagia di hatinya.
"Semoga saja, mereka tidak jadi berpisah." gumam Riswan sembari melihat mobil Rizal keluar halaman. Setelah melihat anak dan menantunya keluar, Riswan pun masuk ke dalam rumahnya.
Sedangkan itu, mobil yang dikendarai Rizal sudah hampir sampai di jalanan kantor nya. Rizal menyetir mobilnya dengan menajamkan penglihatan nya. Ia takut jika melewati penjual kebab itu, saat Rizal tengah disibukkan. Dea pelaku yang membuat Rizal sibuk hanya berdiam diri saja. Wanita itu memilih untuk memainkan Ponselnya tanpa peduli dengan suaminya yang kerepotan.
"Hmm, dimana penjual itu. Kenapa tidak ada ya, apakah sudah pulang?"gumam rizal, perhatian Dea teralihkan ketika rizal berbicara jika penjual kebab itu tidak ada.
"Aku tidak mau tahu! aku ingin makanan itu,"ucap Dea dengan keras kepala. Rizal hanya bisa menghela nafasnya, ia tak mengira jika Dea akan sekeras kepala ini.
"Ya, ini juga lagi di cari sayang. Sabar ya,"ucap Rizal dengan sabar, laki-laki itu sebisa mungkin menahan rasa kesalnya.
"Hmpptt" Dengan kesal Dea mengalihkan pandangannya ke arah jendela dan melipat kedua tangannya. Rizal mengelus rambut Dea dengan lembut, sebenarnya Rizal merasa jika Dea bersikap sangat aneh hari ini. Namun karena tak ingin merusak momen-momen kemanjaan Dea, Rizal mengabaikan perasaan nya itu.
"Mas, berhenti!"teriak Dea ketika melihat penjual kebab nya masih ada berada disana.
Ckiit..
Karena kaget, Rizal mengerem mendadak mobilnya, akibat itu kepala Dea hampir saja terbentur karena tak memakai sabuk pengaman. Ya, jika Rizal tidak cepat sergap menghadang kepala Dea dengan tangan nya. Mungkin kepala wanita itu sudah memar akibat dashboard mobil.
"Mas, kok ngerem mendadak sih!"tegur Dea dengan marah, sedangkan laki-laki itu malah menatap dengan dingin.
"Kau sendiri yang salah, malah melemparkan kesalahan mu kepada orang lain!"ucap Rizal dengan dingin.
"Kamu, yang salah. Humppt!"Wanita itu kesal dan keluar dari mobil.
"Ah, shiit!"umpat Rizal dengan kesal. Laki-laki itu mengusap wajahnya dengan kasar, setelah itu Rizal meminggirkan mobil nya di jalanan itu. Rizal menyusul Dea yang sedang duduk menunggu kebab pesanannya. Saat mereka berdua menunggu kebab itu matang, ntah sebuah kebetulan atau memang takdir. Mereka bertemu dengan Elin dan ibunya, saat itu ibu elin menatap ke arah Dea dengan pandangan tidak suka.
"Ibu mau kemana?" tanya elin yang menyadari bahwa ibunya pasti akan membuat masalah.
"Sudah, diamlah. Kau tunggu sini! Ibu akan kasih pelajaran kepada mereka berdua,"ucap ibu elin dengan nada marah.
"Jangan Bu, elin mohon. Mereka tidak mengganggu kita, untuk apa kita mengganggu mereka Bu!"pinta elin, namun ibunya tidak mendengarkan elin. Ibu elin tetap nekad menghampiri Dea dan Rizal.
"Wah, enak ya kalian bersenang-senang disini. Hei kamu, bukannya kamu memilih bercerai dengan suamimu. Lalu merelakan nya untuk menikah dengan elin. Tapi kenapa kamu masih saja menempel dengannya, oh atau kamu kemarin sengaja mencari muka agar orang-orang kasihan padamu." cibir ibu elin kepada dea, Saat itu Dea dan Rizal sama-sama kaget dengan kehadiran ibu elin. Apalagi ketika ibu elin menghina Dea habis-habisan di depan umum seperti ini.
"Tolong jaga ucapan anda!"tegas Rizal, laki-laki itu tidak terima ketika melihat istrinya di hina di depan umum seperti ini.
"Loh, memang kenyataannya kan!"ucap ibu elin dengan santainya, dea menghela nafasnya. Ia tak menyangka jika ibu elin akan sebenci ini dengannya. Jika di pikiran seharusnya Dea lah yang membenci keluarga elin, namun ini malah sebaliknya.
"Seharusnya, ibu tahu kami berdua masih sah menjadi pasangan suami-istri jadi terserah kami ingin berdua-duaan. Dan lagi ibu tenang saja, kurang lebih dari sebulan ini saya pastikan mas Rizal akan menikahi anak ibu. Jadi bisa tolong jangan ganggu kami!" Karena tak ingin di anggap sebagai wanita lemah, Dea pun membalas ucapan ibu elin dengan tegas.
"Ibu, sudah. Ayo kita pulang,"ajak elin yang tiba-tiba muncul dihadapan Rizal dan Dea. Elin meminta maaf kepada Dea dan Rizal atas tindakan ibunya barusan. Setelah meminta maaf elin membawa ibunya pergi dari sana.
Saat kebab yang di pesan Dea sudah matang, wanita itu bergegas pergi menuju mobil. Ia bahkan dengan sengaja menyuruh Rizal membayar makanan nya itu,
"Maafkan tindakan istri saya pak, ini uangnya. Kembalian nya bapak ambil saja, terimakasih pak. Mari," Rizal meminta maaf kepada penjual itu karena Dea pergi begitu saja tanpa berbicara apapun kepada penjual kebab tersebut. Penjual kebab itu memaklumi Dea, karena jika dirinya di posisi wanita itu mungkin moodnya akan sama berantakan nya. Setelah membayar dan mengucapkan permintaan maaf, Rizal pun menyusul Dea ke mobil mereka. Di dalam mobil, Rizal bisa melihat wajah Dea yang sangat tidak bersahabat.
"Hei, jangan memasang wajah seperti itu."Mencoba merayu Dea agar kembali seperti tadi, namun wanita itu malah tambah memasang wajah datarnya.
"Jika kamu tidak ingin melajukan mobilmu sekarang, aku akan turun dan naik taksi saja!"ucap wanita itu dengan dingin.
"Ya, iya kita pulang."Rizal tidak ingin istrinya bertambah marah, maka dari itu Rizal melajukan mobilnya menuju rumah nya. Didalam mobil suasana terasa sangat senyap, tak ada percakapan disepanjang perjalanan. Mereka berdua memilih diam masing-masing.
Tak jauh beda dari suasana yang terjadi pada pasangan suami-istri tadi. Di sebuah rumah sederhana, sepasang anak dan ibu tengah bertengkar. Sang ibu yang berwatak keras itu, tak ingin mengalah dengan anaknya.
"Kenapa ibu harus seperti itu, Apakah ibu tidak memikirkan perasaan mbak Dea!" ucap elin.
"Untuk apa ibu memikirkan perasaan wanita itu, yang ibu pikirkan adalah perasaan mu!"tegas ibu elin.
"Ibu, yang menjadi orang ketiga di sini itu adalah aku. Bukan mbak Dea! Kenapa ibu bersikap seolah-olah mbak Dea yang telah menghancurkan hubungan ku!"bentak elin, wanita hamil itu tanpa sadar membentak ibunya. Ibu elin kaget dengan sikap anaknya itu, ia merasa sakit hati dan masuk kedalam kamarnya meninggalkan elin sendirian. Elin tersadar dengan tindakan nya barusan, karena sangat kesal elin tak bisa mengontrol emosi nya. Wanita hamil itu, terduduk di kursi tamunya. Ia menangis meratapi perbuatannya kepada sang ibu.