Mengambil Alih Riu

2067 Words
Jerry hanya bisa menatap gedung pengadilan di hadapannya itu dengan mulut terbuka tak percaya. “Luar biasa,” gumamnya. “Ternyata memang tidak perlu menunggu hingga musim ini berganti. Mereka bercerai setelah 3 hari. Wah, mereka benar-benar tidak tertolong.” Airin kembali ke mobil dengan membawa amplop coklat di tangannya. Ia mengetuk kaca jendela Jerry dan menyodorkan amplop itu padanya. “Berikan ini pada bosmu.” “Kau tidak akan pulang bersamaku, Nyonya?” “Aku tidak akan pulang ke rumah itu lagi,” jawab Airin. “Dan jangan pernah memanggilku dengan sebutan itu lagi! Sudah kubilang aku ini bukan Nyonya tapi Nona Muda!” Airin lalu melangkahkan kakinya hingga berdiri di tepi jalan. Namun seperti orang yang bingung, ia kembali lagi ke mobil dan duduk di kursi belakang. “Antarkan aku ke restoran mana pun yang menyediakan sup daging!” “Kau ingin makan sup daging, Nyonya?” tanya Jerry. Namun bukan jawaban yang ia dapatkan melainkan tendangan di belakang kursinya. Ia melirik Airin yang memelototinya melalui kaca spion lalu tersenyum aneh pada calon mantan istri bosnya itu. “Maafkan aku, Nona Muda. Aku akan mengantarmu ke restoran yang menjual sup daging paling lezat di kota ini.” Suasana di dalam mobil itu sangat tenang. Jerry sesekali melirik Airin melalui spion. Wanita itu menyandarkan kepalanya ke jendela, menatap keluar dengan pandangan kosong. Tiba-tiba ponsel Jerry berdering menandakan ada panggilan masuk. “Halo? Ah, Tuan. Aku sedang mengantar Nyonya‒ Ah!” Jerry memekik terkejut karena lagi-lagi Airin menendang kursinya karena tidak senang dengan sebutan ‘nyonya’ yang pria itu ucapkan saat membicarakan dirinya. “Sekarang? Baiklah, aku akan segera ke sana, Tuan.” Airin menegakkan tubuhnya dan melihat jalan yang mereka lalui saat Jerry memutar balik mobilnya. “Mengapa kau putar balik? Kau mau membawaku ke mana? Aku lapar!” “Tuan Arthur membutuhkan mobilnya, Nyonya‒“ Jerry tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena Airin terlebih dahulu menendang kursinya. “Tuan Muda jatuh dari kursinya dan‒“ “Tuan Muda?” “Maksudku Tuan Muda Riu,” jelas Jerry sambil melirik Airin melalui kaca spion. “Dia jatuh dari kursinya dan harus segera dibawa ke rumah sakit sekarang juga.” *** Arthur langsung masuk ke dalam mobil begitu mobil yang dikemudikan oleh Jerry itu berhenti di depan rumahnya dengan Riu yang menangis sangat keras di dalam gendongannya. “Rumah sakit! Cepat ke rumah sakit sekarang!” perintahnya dengan nada panik. Ia bahkan seperti tidak menyadari keberadaan Airin yang tengah menatap Riu dengan sangat cemas. Darah segar mengalir dari dahi anak itu dan m*****i kemeja putih yang Arthur kenakan. “Apa yang terjadi?” tanya Airin. Ia merasa ketakutan saat melihat darah terus mengalir dari luka di dahi Riu. Anak itu pasti sangat kesakitan hingga terus menangis seperti ini. “Aku tidak tahu! Hei, diamlah! Kita akan ke rumah sakit sekarang!” bentak Arthur. Suara tangisan Riu benar-benar membuatnya kacau dan tidak bisa berpikir jernih. Bahkan otak jeniusnya itu lupa tentang ambulans yang bisa ia hubungi untuk menjemputnya atau pergi dengan taksi dan justru menelepon Jerry di tengah kepanikannya. “Bagaimana kau bisa tidak tahu? Kau apakan anak ini?!” Airin yang merasa kesal pada Arthur kembali bertanya dengan nada membentak. “Aku benar-benar tidak tahu! Aku hanya meninggalkannya sebentar dan dia sudah seperti ini. Mungkin terbentur ujung meja,” sahut Arthur. “Tidak bisakah kau diam sebentar saja?!” Dan ia kembali membentak Riu setelahnya. Airin menatap Arthur tak percaya. “Bagaimana bisa kau seperti ini?” lirihnya dengan suara bergetar yang berasal dari rasa khawatir dan juga marah yang ccampur aduk di dalam dadanya. Airin mengambil alih Riu dari gendongan Arthur dan mendekapnya erat, tidak tahan melihat Arthur yang terus membentak anak yang sedang kesakitan itu. Ia tidak peduli pada darah Riu yang kini juga mengotori pakaiannya. “Kau yang bersalah di sini, Tuan! Kau yang seharusnya menutup mulutmu!” Perkataan yang Airin ucapkan dengan nada marah itu membuat Arthur terdiam. Ini memang salahnya. Tapi ia sungguh sangat khawatir sekarang. Ia benar-benar takut dan panik hingga tidak bisa berpikir dengan benar dan hanya bisa marah-marah seperti ini. Namun Airin… Sepertinya wanita itu jauh lebih khawatir dari dirinya. Bahkan wanita itu telah menangis sekarang meski ia terus berusaha menenangkan Riu. Di depan ruang perawatan di mana Riu sedang ditangani oleh dokter, Arthur dan Airin duduk berjauhan. Arthur hanya menatap kosong pada pintu di depannya, tidak bisa menggunakan otaknya untuk memikirkan apapun sementara Airin tidak berhenti meremas-remas tangannya sendiri karena sangat cemas. “Arthur!” Suara seorang wanita yang berlari mendekat mengalihkan perhatian Arthur dan Airin. Kaia berhenti di depan Arthur dengan napas tersengal-sengal. Ia mengenakan setelan piyama putih dengan motif berwarna biru di balik jaketnya. “Apa yang terjadi pada Riu? Apa dia baik-baik saja?” “Maafkan aku, duduklah dulu.” Arthur bangkit dari duduknya lalu membawa tubuh Kaia untuk duduk. Ia berlutut di hadapan Kaia sambil menundukkan kepalanya, tidak berani menatap wajah wanita itu. “Maafkan aku. Ini salahku.” Kaia mulai menangis sambil memukuli bahu Arthur dengan kepalan tangannya. Arthur hanya diam, menerima pukulan lemah Kaia dengan pasrah seolah membiarkan wanita itu menghukumnya. “Aku memintamu menjaganya, tapi mengapa kau justru membuatnya seperti ini?” tanya Kaia dengan air mata yang dengan cepat mengalir dari kedua matanya. “Jika kau saja yang papanya ini tidak peduli padanya, lalu aku harus mempercayakan Riu pada siapa? Jika bukan kau, siapa yang bisa kupercaya untuk menjaga Riu? Mengapa kau tega sekali melakukan ini pada kami?” Pemandangan yang dilihatnya ini kembali membuat hati Airin terasa sakit. Sebagai seorang wanita, meski ia tidak memiliki anak namun ia bisa memahami bagaimana perasaan Kaia sekarang. Jika ia saja yang bukan siapa-siapa sangat mengkhawatirkan keadan Riu, bagaimana dengan ibunya ini? Dan hal lain yang juga menyakiti hati Airin adalah statusnya yang masih istri dari Arthur. Ia tidak ingin peduli, tapi entah ada apa dengan hatinya yang terus-menerus merasa sakit saat melihat suaminya dan ibu dari anak suaminya seperti itu. Mungkin itu hanya naluri yang ia rasakan sebagai seorang istri saat melihat suaminya bersama wanita lain. Rasa sakit itu mungkin hanya karena ia terus memikirkan statusnya sebagai istri dari Arthur. Pintu terbuka dan dokter yang menangani Riu keluar. Airin ingin segera menghampiri dokter itu dan menanyakan keadaan Riu, namun mengurungkannya saat Arthur dan Kaia melakukannya terlebih dahulu. Ia harus sadar akan posisinya yang bukan siapa-siapa di sini. Bagaimanapun khawatirnya ia pada Riu, ayah dan ibunya itu tentu jauh lebih khawatir. “Mama~” Riu memeluk erat ibunya sambil terisak-isak saat Kaia menghampirinya. Kepalanya yang terluka telah dibalut dengan perban dan bajunya yang ternoda oleh darah telah diganti dengan piyama berwarna hijau muda. “Maaf, Sayang. Mama benar-benar menyesal. Kau pasti kesakitan, kan? Seharusnya Mama saja yang menanggung semua rasa sakit ini. Maafkan Mama, Riu.” Kaia menciumi seluruh wajah Riu sambil menangis, membuat hati Arthur terenyuh. Ia mengulurkan tangannya untuk membelai rambut Riu, namun anak itu beringsut menjauh dan bersembunyi di dalam pelukan ibunya. Ia menatap Arthur dengan rasa takut yang terpancar sangat jelas dari kedua matanya. Arthur hanya bisa menghela napas panjang, merutuki dirinya yang kini membuat putranya sendiri takut padanya. Ia menolehkan kepalanya ke pintu dan mendapati Airin yang berdiri di sana dengan kedua mata tertuju pada Riu. Namun saat tatapan mereka bertemu Airin segera memalingkan wajahnya dan melangkah meninggalkan tempat itu. “Airin!” Arthur memanggil Airin dari ambang pintu, namun wanita itu sama sekali tidak menggubrisnya dan terus melangkah pergi. “Airin, tunggu!” Hingga pada akhirnya Airin harus menghentikan langkahnya saat tangan Arthur mencekal tangannya. “Kau tidak ingin melihatnya?” “Aku ingin pulang,” sahut Airin sambil mencoba melepaskan tangannya dari cekalan Arthur. Namun Arthur tidak mau melepaskannya begitu saja dan justru menggenggamnya lebih erat. “Kau harus melihatnya. Kau yang paling mengkhawatirkannya tadi,” bujuk Arthur yang akhirnya berhasil membuat Airin kembali ke ruangan tempat Kaia dan Riu berada. Airin memasuki kamar perawatan Riu dengan langkah canggung. Kaia yang semula duduk di atas tempat tidur langsung berdiri begitu melihat kehadiran Airin. Airin menatapnya untuk beberapa saat sebelum mengangguk pelan. Ia tidak tahu harus berkata apa pada wanita itu dan akhirnya lebih memilih untuk mengalihkan tatapannya pada Riu. “Kau tidak apa-apa?” tanya Airin dengan diiringi senyum kecut. “Apa masih terasa sakit?” Riu tidak menjawab dan hanya terus menatap Airin. Lalu tiba-tiba ia mengulurkan tangannya yang memegang selimut dan menyentuh pakaian Airin. “Hmm?” Airin memperhatikan gerakan tangan Riu yang membersihkan noda darah di pakaiannya menggunakan selimut. “Kau ingin membersihkannya?” Riu menganggukkan kepalanya sambil terus berusaha membersihkan noda darah itu. Airin menyentuh tangan Riu. Hatinya terasa bergetar saat merasakan tangan mungil yang lembut itu di dalam genggamannya. “Terima kasih. Kau baik sekali.” “Nona Airin.” Panggilan Kaia membuat Airin menoleh padanya. Wanita itu menatapnya dengan tatapan tidak enak yang terlihat sangat canggung. “Aku baru mengetahui pernikahan kalian. Aku merasa sangat bersalah. Bagaimana bisa aku membuat Arthur membawa pulang anaknya pada istri yang baru dinikahinya?” Airin tidak menjawab. Bahkan meski Kaia menyesalinya sekarang, apa yang akan berubah? Ia sudah terlanjur merasa terluka dan sangat hancur dengan semua ini. “Seharusnya kalian menikmati kehidupan kalian sebagai pengantin baru,” kata Kaia sarat akan penyesalan. “Seharusnya kami sedang berbulan madu sekarang.” Airin menambahkan dalam hatinya. Masih menyesali bagaimana semuanya bisa jadi seburuk ini dalam sekejap hingga rasanya ia menjadi istri paling sial di seluruh dunia karena sudah menikahi Arthur yang menghancurkan pernikahan mereka hanya dalam waktu 3 hari. “Kalian pasti sangat terkejut dengan semua ini. Dan Arthur…” Kaia menatap Arthur dengan raut kecewa yang ia tunjukkan dengan jelas pada pria itu. “Sepertinya kau memang belum siap untuk menjadi seorang ayah. Karena itu...” Kaia menggantungkan ucapannya seolah apa yang akan dikatakannya itu benar-benar sangat sulit untuk ia sampaikan. Dan kemudian dengan suara yang lebih pelan dari sebelumnya ia menambahkan, “Selagi aku berjuang melawan penyakitku aku akan menitipkan Riu di panti asuhan.” Perkataan Kaia tidak hanya mengejutkan Arthur, tapi juga Airin. Arthur benar-benar telah menghancurkan kepercayaan Kaia padanya hingga wanita itu lebih memilih untuk meninggalkan putra semata wayangnya itu di panti asuhan dibandingkan dengan meninggalkannya pada ayahnya sendiri. “Seharusnya sejak awal memang seperti itu. Aku menyesal telah menyebabkan kekacauan seperti ini. Dan untukmu Nona Airin, aku benar-benar menyesal. Kau boleh membenci masa laluku bersama Arthur, tapi aku berani jamin jika sekarang kami sudah tidak ada apa-apa lagi. Karena itu‒“ “Tunggu dulu!” Airin memotong permintaan maaf Kaia padanya. Ia lalu menatap Arthur dengan tajam. Terlihat sangat marah pada pria yang hanya diam saja mendengarkan perkataan Kaia. “Kau akan membiarkannya? Kau akan membiarkan anakmu ditinggalkan di panti asuhan?” Arthur menelan ludahnya dengan susah payah, tenggorokannya terasa tercekat dan sangat kering. Ia tidak tahu harus setuju atau tidak dengan keputusan Kaia. Otaknya benar-benar tidak bisa diajak untuk berpikir sekarang. “Aku‒“ “Cih! Ternyata orang tuaku memilihkan suami yang b******k untukku,” sela Airin dengan nada dan tatapan merendahkan. “Dia adalah putramu, Tuan Arthur. Separuh dari dirinya berasal dari dirimu! Separuh dari dirimu hidup dan tumbuh dalam tubuh anak ini! Apa kau tega membiarkannya tinggal di panti asuhan seperti anak-anak malang yang tidak punya orang tua sementara dia sebenarnya punya orang tua yang seharusnya menjadi tempatnya berlindung?” Suara Airin terdengar bergetar. Ia terlalu marah sekarang untuk bisa bicara dengan suara normal. Airin lalu menarik napas panjang dengan mata terpejam sebelum menatap Kaia. “Jika kau tidak bisa mempercayainya lagi, maka percayalah padaku. Aku yang akan menjaganya!” Kaia menatap Airin tak percaya. “Tapi‒” “Kau juga tidak bisa mempercayaiku? Karena aku masih muda dan tidak berpengalaman mengurusi anak kecil? Kau takut aku tidak bisa menjaganya dengan baik?” Meski nada bicaranya terus meninggi, namun Airin mengatakan semua itu dengan diiringi oleh air matanya. “Aku akan belajar bagaimana merawatnya dengan baik. Aku adalah orang yang selalu hebat bahkan di percobaan pertama. Kau tenang saja, jalani pengobatanmu dengan baik dan aku juga akan menjaga anakmu dengan baik.” Kaia tidak dapat menahan air matanya saat rasa syukur dan haru itu membuncah memenuhi dadanya. “Kau pasti sangat membenci wanita hina sepertiku.” “Aku tidak membencimu. Aku membenci pria berengsek yang membuatmu merasa jika dirimu ini hina.” Tidak sulit bagi Arthur untuk menyadari jika kata-kata ketus itu Airin tujukan padanya. “Kau tidak perlu khawatir lagi karena mulai sekarang, aku yang akan merawat Riu.” **To Be Continued**
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD