Perjanjian Satu Tahun

1862 Words
Arthur menatap Riu yang tidur di tengah-tengah tempat tidur di dalam kamarnya. Ia mengulurkan tangannya, menyibak poni Riu dan menyentuh perban yang membalut dahi anak itu. Mungkin karena pengaruh obat yang mengandung penenang, ia tidak terlalu kesulitan untuk membuat Riu tidur malam ini. “Apa yang harus kulakukan besok?” Arthur bicara dengan suara yang sangat lirih agar tidak mengusik tidur Riu. “Saat kau bangun dan menangis lagi, aku harus bagaimana, Riu?” Dengan gerakan perlahan Arthur turun dari tempat tidur dan meninggalkan kamarnya. Lampu-lampu telah dipadamkan, namun lampu di ruang makan terlihat menyala. “Kau belum tidur?” Arthur menuangkan air ke dalam gelas dan membawanya duduk di hadapan Airin. Wanita itu sedang menyantap mie instan langsung dari pancinya. “Kau belum makan, kan?” Airin balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Arthur sebelumnya. Ia mengambil sebuah garpu dan menyodorkannya pada Arthur. “Aku sedang tidak ingin masak. Jadi makan saja ini.” “Tidak apa-apa. Kau saja yang makan,” tolak Arthur. Airin menatapnya, wajahnya terlihat tersinggung karena Arthur menolak tawarannya. “Ini tidak akan terasa seperti air bekas cucian, Tuan! Bahkan meski kemampuan memasakku sangat payah, aku tetap bisa masak mie instan dengan benar!” “Bukan begitu. Aku hanya tidak bisa makan,” kata Arthur. “Perutku terasa aneh.” Airin mendecakkan lidahnya lalu melemparkan sendok dan garpunya ke dalam panci. “Kau benar. Untuk apa memaksa makan saat perutku terasa aneh seperti ini? Itu hanya membuatku ingin muntah!” gerutunya sebelum menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Tidak ada yang berbicara lagi setelahnya dan itu membuat suasana terasa sangat tidak menyenangkan. Airin sudah berpikir untuk kembali ke kamarnya saja saat tiba-tiba Arthur kembali bersuara. “Aku ingin berterima kasih padamu,” ucapnya. “Berterima kasih untuk apa?” tanya Airin. “Untuk tetap menjadi waras bahkan di situasi yang paling kacau.” Airin sontak melebarkan kedua matanya, kelihatan sangat tersinggung dengan apa yang baru saja Arthur ucapkan padanya. Namun pria itu hanya membalasnya dengan tatapan yang terlihat tenang, tampak tidak menyesal dengan apa yang baru saja diucapkannya meski hal tersebut telah membuat Airin menjadi salah paham. “Aku merasa tadi itu benar-benar sangat kacau hingga untuk sesaat aku seperti kehilangan akalku,” kata Arthur sementara tatapannya berubah menjadi menerawang saat ingatannya membawanya kembali pada apa yang terjadi di rumah sakit tadi. “Aku merasa sangat bingung dan tidak bisa berpikir hingga saat Kaia memutuskan untuk menyerahkan Riu ke panti asuhan aku sempat berpikir jika itu keputusan yang terbaik. Sampai kemudian kau menyadarkanku dengan apa yang kau katakan.” Ucapan Arthur membuat Airin menghela napas keras dengan ekspresi kesal yang ia tujukan pada pria itu. “Bagaimana bisa kau pikir jika itu keputusan yang terbaik? Kau sudah gila ya ingin membiarkan anakmu sendiri tinggal di panti asuhan?” Airin bersungut dengan nada kesal. “Ya. Aku pasti sudah gila tadi.” Arthur membenarkan ucapan Airin yang membuat wanita itu kembali menghela napas panjang. “Lalu kau pikir apa yang akan kita lakukan setelah kau benar-benar membiarkan Riu tinggal di panti asuhan? Apa menurutmu kita terus baik-baik saja dalam pernikahan ini setelah melakukan sesuatu yang sangat kejam pada anak malang itu?” Kini giliran Arthur yang dibuat bingung dengan pertanyaan Airin. “Pernikahan apa? Bukankah kita akan bercerai?” “Bercerai?” Airin balik bertanya dengan nada tidak terima. “Kau pikir aku mau bercerai denganmu saat kita baru menikah beberapa hari saja?” “Itu...” Arthur memiringkan kepalanya, kelihatan masih bingung dengan perkataan Airin. “Kupikir kau tidak mau menikah denganku.” “Tentu saja aku tidak mau!” Nah, sekarang Arthur benar-benar jadi sangat bingung. Padahal baru beberapa saat yang lalu Airin berkata tidak ingin bercerai dengannya, namun sekarang wanita itu juga berkata jika tidak ingin menikah dengannya. Arthur benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya wanita inginkan. “Sejak awal aku tidak ingin menikah denganmu, tapi kita sudah melakukannya sekarang. Jika ada hal lain yang lebih kubenci selain pernikahan ini maka itu adalah perceraian. Aku benci dengan status sebagai janda yang harus kusandang jika kita sampai bercerai.” Arthur mengangguk-anggukkan kepalanya, akhirnyaa mulai memahami maksud ucapan Airin. Namun ia tetap saja bertanya, “Lalu apa yang kau inginkan sekarang?” Airin tidak langsung menjawab pertanyaan Arthur. Wanita itu terdiam untuk beberapa saat, kelihatannya juga tidak benar-benar tahu dengan apa yang diinginkannya sebagai jalan keluar dari pernikahan yang sudah sangat kacau ini padahal baru berumur beberapa hari. “Setidaknya bertahan satu tahun saja.” Dan saat kembali membuka suaranya, Airin justru mengatakan sesuatu yang sama buruknya dengan perceraian yang semalam Arthur tawarkan padanya. “Itu akan sangat memalukan jika kita bercerai begitu cepat padahal baru beberapa hari yang lalu kita mengadakan pesta yang sangat meriah untuk pernikahan ini. Jadi ayo kita bertahan setahun saja dalam pernikahan ini. Apapun yang akan terjadi, entah kita akan melanjutkannya atau menyerah, kita bisa memutuskannya setelah satu tahun ini berlalu. Bagaimana? Kau mau kan tetap menjalani pernikahan ini bersamaku setidaknya sampai setahun lagi?” *** “Kau bangun pagi sekali hari ini.” Airin bangun di jam seperti biasanya hari ini dan berpikir untuk menyiapkan sarapan saat ia melihat Arthur sudah duduk di kursi meja makan dengan menyangga kepala menggunakan kepalan tangannya sementara di hadapannya ada cangkir kopi yang hanya sudah hampir habis. Yang sepertinya kopi tersebut tidak terlalu berefek pada Arthur karena saat ini pria itu masih tampak sangat mengantuk. “Anak ini bangunnya pagi sekali. Dia langsung menangis dan minta pulang pada mamanya lagi begitu bangun dari tidurnya,” kata Arthur sambil menatap Riu yang duduk di sebelahnya sambil menikmati makanannya. Airin ikut mengalihkan tatapannya pada Riu dan kedua matanya sontak melebar saat melihat anak itu sedang menikmati es krim langsung dari tematnya yang berbentuk pot dan kelihatan sangat besar untuk anak kecil itu. “Eh, tidak boleh! Mana boleh anak kecil sarapan dengan es krim?” Airin langsung menyambar tempat es krim itu dan menjauhkannya dari jangkauan Riu, membuat Arthur buru-buru merebutnya dan kembali meletakkannya di hadapan Riu saat melihat wajah terkejut putranya itu yang seperti ingin menangis lagi karena es krimnya yang tiba-tiba direbut. “Kau tidak tahu bagaimana sulitnya mendiamkan anak ini, hah? Bagaimana jika dia menangis lagi karena kau mengambil es krimnya?” Arthur mengomeli Arin sambil mengembalikan es krim tersebut ke hadapan Riu tanpa mempedulikan pelototan yang wnaita itu berikan padanya. “Apa kau akan menuruti kemauannya bahkan meski itu bukan hal yang baik hanya agar dia tidak menangis?” Dan Airin tidak mau menyerah begitu saja. Ia kembali merebut es krimnya lalu buru-buru menyembunyikannya di balik punggung sebelum Arthur sempat merebutnya kembali. “Orang tua harusnya bisa bersikap tegas, bukannya membiarkan anak mengendalikan‒” “Huaaaaa!” Ucapan Airin terpotong oleh suara Riu yang tiba-tiba menangis dengan keras. Arthur yang sepertinya sudah sangat lelah dengan tangisan anak itu hanya bisa menjatuhkan kepalanya dengan pasrah ke atas meja makan sementara Airin yang menjadi tersangka utama hingga membuat Riu menangis itu hanya bisa membuka mulutnya tanpa tahu harus melakukan apa untuk mendiamkannya. “Ah, ini. Ini es krimnya. Kau boleh makan semuanya. Habiskan semuanya!” Airin buru-buru meletakkan es krim di hadapan Riu dan mengarahkan tangan mungil yang masih menggenggam sendok itu ke dalam tempat es krim lalu mendulangkannya ke mulut Riu. Membuat anak yang masih menangiss itu langsung diam saat ada sesendok es krim yang dimasukkan ke dalam mulutnya. “Anak pintar. Anak manis.” Airin berusaha bersikap manis dengan memuji Riu sambil membelai-belai lembut kepala anak itu agar ia tidak menangis lagi. “Aku tidak akan mengganggu lagi, jadi habiskan semua es krimnya. Itu enak, kan? Kau suka? Aku akan membelikanmu lebih banyak es krim jika kau jadi anak baik yang tidak suka menangis.” “Cih!” Airin mengangkat kepalanya untuk menatap Arthur saat mendengar suara decihan pria itu. Arthur melipat kedua tangannya di depan d**a kemudian dengan tatapan yang tampak menghina ia berkata, “Jadi orang tua itu seharusnya tidak boleh dikendalikan oleh anak, eh? Tidak boleh memberikan anak ssesuatu yang buruk hanya untuk membuatnya berhenti menangis, eh?” “Cih!” Airin hanya balas mendecih dan kembali membelai kepala Riu, tidak mau terpancing dengan ucapan Arthur. Tapi sepertinya Arthur memang ingin memancing pertengkaran dengan Airin saat menunjuk meja di hadapannya dan berkata, “Itu, ludah yang muncrat ke sana saat kau mengatakan semua itu bahkan belum sempat mengering tapi kau sudah‒ Aw!” “Tutup mulutmu, sialan! Kau yang mulai mengenalkan Riu pada es krim!” Airin yang tidak terima Arthur menjadikannya bulan-bulanan itu melempar kepala pria itu dengan sendok. Membuat Riu yang wajahnya belepotan es krim tertawa geli melihat Arthur yang memekik keras dengan wajah kesakitan. “Oh, kau suka ya?” tanya Airin pada Riu. “Kau ingin aku melempar kepalanya lagi?” Kali ini ia bertanya seraya tangannya mengambil sebilah pisau yang membuat kedua mata Arthur melotot horor. “Oi, jangan macam-macam! Letakkan itu!” kata Arthur sambil menunjuk pisau di tangan Airin. Namun Airin dengan wajah sok polos justru berkata, “Kenapa? Bukankah tidak masalah melakukan apa saja agar Riu tidak menangis lagi?” “Dia sudah baik-baik saja, jadi letakkan itu!” pinta Arthur. “Aku yang akan menangis nanti jika pisau itu sampai mengenai kepalaku.” “Cih!” Airin mendecih lagi, namun tidak melanjutkan perdebatannya dengan Arthur dan lebih memilih untuk menarik selembar tisu lalu menggunakannya untuk membersihkan es krim yang belepotan di wajah Riu. Arthur memperhatikan dua orang itu sambil menopang dagunya dengan kepalan tangan. Rasa kantuknya sudah hilang karena Airin yang mengajaknya berdebat dan sekarang ia tidak tahu lagi harus melakukan apa di hari liburnya ini saat dirinya tidak lagi merasakan kantuk padahal hari masih cukup pagi. “Apa yang akan kita lakukan hari ini?” Pertanyaan Arthur membuat Airin kembali menatapnya. “Jika mengikuti jadwal yang sudah kubuat seharusnya hari ini aku sarapan dengan croissant dan cafe au lait lalu pergi menonton fashion show dan‒” “Ehei, kau mulai lagi! Ini masih pagi!” Arthur buru-buru menyela ucapan Airin, tidak ingin ucapan wanita itu yang mengungkit tentang rencana bulan madu mereka ke Paris yang batal memancing pertengkaran lagi di antara mereka. “Aku kan hanya menjawab pertanyaanmu,” sungut Airin. Ia lalu menaikkan kedua alisnya saat mendengar bunyi pintu depan yang dibuka. “Kenapa pagi sekali Jerry sudah datang?” “Itu suara mamaku,” kata Arthur saat mendengar suara yang familiar mendekat ke arah mereka. “Oh? Ada suara mamaku juga,” ujar Airin seraya bangkit dari duduknya. “Kenapa pagi-pagi sekali mereka sudah datang ke sini?” “Tunggu!” Arthur berseru dengan suara berbisik sambil mencekal pergelangan tangan Airin untuk mencegahnya pergi menghampiri para ibu yang baru datang. Wajahnya kelihatan horor saat dengan suara berbisik ia bertanya, “Mereka tidak tahu kan jika kita batal bulan madu?” Kedua mata Airin sontak melebar saat ia sadar jika kedua orang tua mereka yang berpikir jika saat ini mereka sedang melakukan bulan madu tidak boleh melihat keberradaan mereka di rumah ini. Namun hal lain yang tak kalah membuat Airin panik adalah bunyi kunyahan Riu yang membuatnya sadar dengan keberadaan anak itu di antara dirinya dan Arthur. “Arthur, mereka juga seharusnya tidak boleh tahu kan jika kau punya anak sebelum menikah denganku?” **To Be Continued**
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD