“Tidak bisa napas... Aku tidak bisa‒”
“Sttt!”
Arthur meletakkan telunjuknya di depan mulut Riu agar anak itu berhenti mengeluh. “Kita sedang main sembunyi-sembunyian sekarang, jadi kau tidak boleh berisik dan ketahuan. Diam saja dengan tenang di sini,” ujarnya dengan suara berbisik.
“Tapi di sini benar-benar sangat pengap.” Dan setelah Riu diam, sekarang giliran Airin yang mengeluh. “Sampai kapan kita akan bersembunyi di sini?”
Saat ini, ketiga orang itu sedang berdesakan di dalam sebuah ruangan kecil yang ada di dekat dapur‒satu-satunya tempat yang bisa mereka jangkau untuk bersembunyi dari para ibu yang tiba-tiba datang ke rumah mereka. Itu adalah ruangan sempit yang akan digunakan sebagai gudang dalam rumah‒yang untungnya mereka baru pindah ke tempat ini beberapa hari yang lalu hingga ruangan itu masih kosong dan bisa mereka jadikan sebagai tempat persembunyian meski harus saling berdesakan seperti ini.
“Oh?” Sementara itu, Mama Airin yang baru menginjakkan kakinya di ruang makan menghentikan langkahnya saat sesuatu yang ada di meja menarik perhatiannya. Wanita itu kemudian kembali melanjutkan langkahnya dengan Mama Arthur yang mengekor di belakangnya.
“Lihat ini,” kata Mama Airin seraya menunjukkan gelas kopi milik Arthur yang masih tersisa sedikit. “Ada cangkir kopi yang belum dibereskan di sini.”
“Bisa-bisanya kau tidak meninggalkan cangkirmu begitu saja?” Di dalam tempat persembunyiannya, Airin menegur Arthur dengan suara berbisik sementara Arthur hanya bisa pasrah saja. Mana sempat ia memikirkan soal cangkir kopinya sementara kehadiran para ibu sudah membuatnya jadi sangat panik.
“Aduh, dasar pengantin baru.” Mama Arthur menanggapi ucapan Mama Airin sambil terkekeh pelan. “Mereka pasti menghabiskan malam panas yang sangat panjang hingga bangun kesiangan dan buru-buru pergi ke bandara sampai tidak sempat membereskan bekas kopinya seperti ini.”
“Oh, itu bisa jadi. Kurasa kita akan segera mendengar kabar baik dari anak-anak, besanku,” timpal Mama Airin sebelum keduanya tertawa bersama-sama.
“Cih! Malam panas apanya!” gerutu Arthur masih dengan suara berbisik. Merasa kesal karena para ibu itu berpikir yang tidak-tidak soal malam panas sementara di sini dirinya harus kepanasan bersembunyi di dalam ruangan yang sangat sempit. “Andai mereka tahu jika kau menendangku keluar dari kamar pengantin di malam pertama kita.”
“Cih!” Airin balas mendecih. “Mereka sedang menunggu kabar cucu dari kita, jadi haruskah kita keluar sekarang dan menunjukkan Riu pada mereka?”
“Cih!” Arthur hanya bisa mendecih, namun tidak berani untuk mendebat Airin lagi karena rasanya istrinya itu cukup gila untuk benar-benar melakukan ancamannya itu jika dirinya terus mendebat wanita itu.
“A...”
Airin menundukkan kepalanya saat merasakan tarikan pelan di ujung piyama daster yang dipakainya. Pelakunya adalah Riu, yang saat ini menatapnya dengan mengernyitkan kening.
“Sebentar, ya,” bisik Airin. “Aku akan memberimu coklat milikku setelah kita keluar nanti, jadi sekarang kau harus jadi anak manis dan tidak boleh rewel, uh.”
“Pipis,” kata Riu yang sontak membuat kedua mata Airin dan Arthur melotot horor. “Kebelet. Mau pipis.”
“He-hei! Kenapa baru mau pipis sekarang, hah? Kenapa tidak dari ta‒ Ah!”
Airin memelototi Arthur setelah menyela ucapan pria itu dengan cubitan yang ia berikan di perut Arthur. Merasa gemas sekali pada pria itu karena masih sempat-sempatnya bersikap galak pada Riu di situasi seperti ini.
“Kau bisa menahannya, kan?” tanya Airin penuh harap. “Silangkan kakimu. Jika kau berdiri dengan menyilangkan kaki nanti tidak akan kebelet lagi.”
Riu langsung menuruti ucapan Airin dan berdiri dengan menyilangkan kakinya. Berusaha keras untuk menahannya sebelum menggelengkan kepalanya. “Toilet...”
“Ini, ini! Pakai ini!” Arthur menunjuk wadah es krim yang masih ada di tangan Riu. “Cepat pipis di sana!”
“Tapi es krimnya masih ada,” kata Riu yang tentu saja tidak rela untuk pipis di tempat es krimnya karena ia masih ingin memakan es krim itu.
“Tidak apa-apa. Pipis di sana saja, ya.” Airin ikut membujuk, namun Riu masih menggelengkan kepalanya.
“Aku masih mau makan es krimnya. Tidak boleh pipis di makanan,” ujar Riu.
“Kalau mendesak tidak apa-apa. Ayo, buka celanamu dan pipis saja di sana sebelum kau ngompol,” kata Arthur.
Riu sepertinya benar-benar sudah tidak tahan lagi karena meski ia sangat suka es krim itu akhirnya ia menerima usulan Arthur untuk buang air kecil di sana. Airin buru-buru memalingkan wajahnya saat melihat Riu membuka celananya, menyerahkan tugas membantu Riu menyelesaikan urusan buang air kecilnya pada Arthur.
“Sudah?” tanya Arthur saat melihat Riu yang tidak kunjung memakai celananya lagi.
“Pupup,” cicit Riu yang membuat Arthur dan Airin jadi jauh lebih panik dibanding sebelum-sebelumnya. “Ingin pupup.”
“Kenapa kau jadi melunjak, uh? Tadi bilangnya hanya pipis, kenapa sekarang malah jadi ingin pupup juga?” Arthur mulai lagi mengomeli Riu dengan kedua matanya yang secara otomatis langsung melotot pada anak itu. Yang kemudian membuatnya kembali mengaduh saat Airin menghadiahinya dengan cubitan di perut.
“Kau pikir ini salah siapa, hah? Dia sakit perut karena kau memberinya sarapan es krim sepagi ini!” desis Airin.
“Kau juga sama saja!” balas Arthur. Ia lalu menunduk pada Riu dan berkata, “Pakai celanamu dan tahan saja! Aku akan membiarkan monster menyeramkan memakanmu jika kau sampai pupup di sini.”
Airin melotot pada Arthur, tidak percaya jika pria itu akan menakut-nakuti Riu seperti ini. Namun saat melihat anak itu memakai kembaali celananya karena tidak ingin dimakan oleh monster, Airin menambahkan, “Monster ittu bisa mencium bau pupup yang sembarangan. Jadi tahan, ya? Kita akan keluar sebentar lagi, jadi kuatkan dirimu.”
“Nah, kalau sudah begini mereka tidak perlu lagi bingung untuk urusan makanan setelah kembali dari bulan madu nanti.” Sementara itu, Mama Arthur yang baru selesai menata semua makanan yang telah dibelinya bersama Mama Airin itu menatap puas lemari pendingin yang telah terisi penuh.
“Biasanya pengantin baru lebih memilih untuk tidur daripada makan. Setidaknya dengan mengisi lemari pendingin mereka seperti ini anak-anak itu tidak akan terlalu malas makan,” timpal Mama Airin yang membuat Mama Arthur terkekeh karena sangat paham sekali dengan ‘tidur’ yang dimaksud oleh besannya itu.
“Sepertinya kita terlalu banyak beli bahan masakan. Apa Airin suka memasak?” tanya Mama Arthur yang membuat Mama Airin tersenyum dengan cara aneh mengingat bagaimana kemampuan memasak putri semata wayangnya itu.
“Ya. Dia suka mencoba berbagai resep yang dilihatnya di internet,” jawab Mama Airin. Ia tentu saja tidak berbohong dengan jawabannya itu karena yang Mama Arthur tanyakan adalah apa Airin suka memasak atau tidak, bukan apa wanita itu bisa memasak atau tidak.
“Kalau begitu ayo kita pergi sekarang,” ajak Mama Airin.
“Kita jadi pergi ke salon, kan?” tanya Mama Arthur yang dijawab dengan anggukan oleh besannnya. “Aku senang karena sekarang akhirnya punya teman untuk pergi ke salon. Aku tidak bisa pergi ke salon bersama anakku karena dia laki-laki. Aku tidak sabar menunggu Airin kembali dari bulan madunya jadi kita bisa pergi ke salon dan belanja sama-sama nanti.”
Mama Airin hanya menanggapi ucapan besannya itu dengan senyuman yang kelihatan canggung. Masalahnya Airin itu bukan jenis anak perempuan manis yang akan senang pergi menemani mamanya ke salon atau belanja menghamburkan uang papanya. Wanita itu lebih suka menghabiskan waktu di dalam kamarnya menonton belasan episode drama korea dalam sehari dan entah menurun dari siapa ia tumbuh menjadi orang yang perhitungan dan irit meski kedua orang tuanya adalah konglomerat yang hartanya tidak akan pernaah habis tidak peduli baagaimana caranya ia menghamburkannya.
Brot!
Mama Airin dan Mama Arthur sontak menghentikan langkah mereka di depan ruangan yang menjadi tempat persembunyian Arthur dan Airin saat mendengar bunyi kentut yang cukup kencang. Kedua wanita paruh baya itu saling berpandangan sementara di dalam ruangan tersebut Airin dann Arthur rasanya hampir pingsan terperangkap bersama Riu yang baru saja kentut dengan kerasnya itu.
“Hahaha...” Tiba-tiba Mama Airin tertawa dengan cara yang kelihatan kaku sekali. “Aku tidak dengar apa-apa, kok,” ucapnya yang berpikir jika itu adalah Mama Arthur yang kentut dan ia mengatakan hal seperti itu agar besannya itu tidak merasa malu.
“Hahaha...” Dan Mama Arthur balas tertawa dengan cara yang tak kalah canggungnya. “Aku juga tidak dengar apa-apa. Jadi tidak usah dipikirkan,” timpalnya yang berpikir jika itu adalah Mama Airin yang kentut dan ia berkata demikian agar besannya itu tidak merasa malu.
“Hoeeek!”
Dan akhirnya penderitaan Airin dan Arthur berakhir setelah mmereka menghambur keluar dari tempat persembunyian sesaat setelah mendengar bunyi pintu yang ditutup. Sepasang pengantin baru yang tubuhnya banjir keringat itu bernapas dengan rakus seolah ingin menetralkan bau busuk yang tadi rasanya seperti ingin membunuh keduanya sementara Riu sudah berlari menuju kamar mandi untuk menyelesaikan masalah sakit perutnya.
“Sudaaaaah!”
Airin dan Arthur yang duduk di kursi meja makan itu saling berpandangan saat mendengar seruan keras Riu dari dalam kamar mandi. Dan kedua orang itu saling melotot dengan horor saat mendengar seruan Riu selanjutnya.
“Sudaaaah! Tolong bersihkan pupupku!”
**To Be Continued**