Pembagian Tugas

1440 Words
“Ih! Iiiiih!” Airin yang berdiri di depan pintu kamar mandi hanya bisa meringis mendengar Arthur yang menjerit-jerit jijik di balik pintu tersebut. Dengan alasan dirinya tidak bisa melihat bagian pribadi seorang pria, Airin berhasil membuat Arthur menangangi urusan cebok Riu. Iya, urusan cebok. Bocah tiga tahun itu masih belum tahu bagaimana caranya cebok sendiri hingga masih butuh bantuan orang lain untuk membersihkannya. “Ini pertama dan terakhir kalinya! Aku sudah mengajarimu caranya cebok tadi, jadi nanti lakukan sendiri!” Arthur berkata pada Riu setelah keduanya keluar dari kamar mandi. “Bukankah itu masih terlalu awal untuk mengajarinya cebok sendiri?” tanya Airin yang membuat Arthur menatapnya. “Sepertinya aku baru bisa melakukannya sendiri saat masuk TK. Dia masih 3 tahun, kan? Itu harusnya masih dibantu, kan?” “Kalau begitu kenapa tidak kau saja yang membantunya?” Arthur membalik pertanyaan tersebut pada Airin, membuat wanita itu buru-buru mengubah pikirannya. “Kau sudah besar, harus belajar cebok sendiri! Nanti jika tidak bisa cebok sendiri kau akan dimakan monster yang menyeramkan,” kata Airin pada Riu yang membuat Arthur geleng-geleng kepala. “Sepertinya kita harus membicarakan masalah ini dengan serius,” kata Arthur. Dengan nada yang terdengar serius agar Airin mengerti jika saat ini dirinya tidak sedang main-main. Namun sepertinya Airin tidak terlalu melihat keseriusannya karena kemudian dengan tampang polosnya wanita itu bertanya, “Bicara soal cebok sampai serius? Kan jijik!” “Cebok hanya salah satunya, tapi masih banyak yang harus kita bicarakan soal merawat Riu,” ujar Arthur. “Karena kau juga sudah menyanggupi untuk merawatnya, maka kita harus berbagi tugas sekarang. Kau tidak akan lari dari tanggung jawab setelah berkata pada Kaia akan merawat Riu, kan?” *** “Dia bisa masuk angin kan jika duduk di sana?” Airin dan Arthur sudah bersiap untuk memulai pembicaraan serius mereka saat keberadaan Riu yang duduk bersila di depan lemari pendingin yang terbuka sambil makan es krim menarik perhatian mereka. “Dia bisa sakit perut lagi dan kau harus mencebokinya lagi nanti.” Arthur menghela napas panjang membayangkan beratnya beban menjadi seorang ayah yang harus mengurus masalah cebok anaknya. “Dia akan menangis dan membuatku kesal jika kita mengganggunya. Jadi biarkan saja dia melakukan apa yang diinginkannya.” “Kita bukan orang tua yang baik, ya?” Airin bertanya retoris dengan kedua matanya yang masih menatap Riu. “Kita membiarkan Riu melakukan hal-hal yang buruk seperti itu hanya karena takut dia menangis. Dia bisa tumbuh jadi anak yang nakal nanti jika kita tidak bisa mendidiknya dengan baik.” “Bukankah itu terlalu jauh untuk memikirkan pertumbuhannya?” tanya Arthur yang membuat Airin menatapnya. “Kita pikirkan saja bagaimana kita akan mengurusnya sekarang.” “Bagaimana?” tanya Airin. “Aku tidak pernah mengurus anak dan aku tidak punya adik atau saudara yang masih kecil. Aku tidak tahu bagaimana caranya mengurus anak.” “Lalu kenapa kau dengan sangat percaya diri berkata pada ibunya akan mengurus anak itu?” Pertanyaan Arthur membuat Airin melebarkan kedua matanya, menatap pria yang duduk di hadapannya itu dengan pandangan tak percaya. “Jadi kau menyesali keputusanku untuk mengurusnya? Kau lebih suka jika Riu dititipkan di panti asuhan?!” “Bukan begitu maksud‒” “Ini bukan salahku yang tidak bisa mengurus anak, sejak awal ini salahmu! Kenapa kau punya anak jika tidak bisa mengurusnya, hah?!” “Kau pikir aku mau punya anak?! Kenapa kau jadi lebih kesal dariku padahal aku lah yang tiba-tiba diberi kejutan seorang anak, hah?!” Arthur tidak bisa lagi bersabar dan ikut meninggikan suaranya dengan emosi pada Airin yang hanya bisa membuka mulutnya tak percaya. “Kita berdua sama-sama tidak bisa mengurus anak, kan? Kita tidak tahu bagaimana harus mendidiknya dan hanya membiarkannya melakukan semua yang disukainya karena kita bahkan tidak tahu bagaimana caranya menenangkannya jika anak itu menangis.” Arthur kembali berucap, kali ini dengan nada yang kembali normal sementara Airin menundukkan pandangannya seolah sedang merenungkan apa yang Arthur katakan. “Aku tahu bagaimana pun juga panti asuhan terdengar sebagai pilihan yang paling buruk. Tapi daripada dia tidak terurus dengan baik karena tinggal bersama kita yang tidak bisa merawatnya, kurasa lebih baik‒” “Tidak ada yang lebih baik bagi seorang anak selain dibesarkan oleh orang tuanya sendiri!” Airin menyela ucapan Arthur dengan nada tidak terima. “Dia masih kecil sekarang hingga hanya bisa pasrah saja ke mana pun orang dewasa membawanya. Namun saat dia tumbuh besar nanti, bayangkan betapa sakit hatinya dia mengetahui dirinya dibesarkan di panti asuhan padahal dia punya seorang ayah kaya raya yang seharusnya merawatnya,” kata Airin. “Ini baru sehari, jadi wajar jika kita kewalahan. Seiring berjalannya waktu kita juga akan terbiasa dengannya.” Arthur terdiam untuk sesaat, mencoba menemukan kembali kewarasannya karena untuk sesaat ia kembali berpikir jika menitipkan Riu di panti asuhan adalah keputusan yang terbaik. “Tadi kau bilang kita akan berbagi tugas untuk merawat Riu,” kata Airin yang diangguki oleh Arthur. “Aku akan melakukan apa saja selain bagian membantunya cebok.” Arthur mendengus pelan. Sudah jelas jika mulai sekarang sampai Riu bisa melakukannya sendiri dirinya lah yang harus mengurus masalah cebok anak itu. “Kalau begitu kau yang akan memandikannya‒” “Kecuali yang itu juga,” potong Airin yang membuat Arthur menaikkan kedua alisnya karena dari dua hal yang mereka bicarakan semuanya menjadi pengecualian untuk Airin. “Aku tidak bisa melihat laki-laki telanjang bahkan meski itu anak-anak sekali pun.” “Lalu aku tidak boleh telanjang saat melakukannya nanti, uh?” tanya Arthur yang secara spontan membuat Airin memundurkan tubuhnya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. Membuat Arthur yang memang hanya berniat untuk menggoda istrinya itu menyeringai kecil sambil berkata, “Apa gunanya menutupi bagian itu, uh? Memangnya ada apa yang bisa dilihat di sana?” “Cih!” Airin memasang ekspresi galak untuk menyembunyikan rasa malunya. “Kita sedang membicarakan Riu, Tuan Arthur! Berhentilah berpikiran m***m dan fokuslah hanya pada anakmu!” “Lalu apa yang akan kau lakukan untuk Riu?” Kali ini Arthur membiarkan Airin memutuskan sendiri karena sepertinya wanita itu hanya akan terus mengecualikan semua hal yang diucapkannya. “Aku bisa mengurus maslaah makannya. Aku akan memasak untuknya dan juga menyuapinya‒” “Memasak apa? Kau tega memberi anak kecil yang tidak berdosa itu makanan yang rasanya seperti air bekas cucian piring‒ Aw!” “Mulai sekarang kau urus perutmu sendiri! Aku hanya akan memasak untuk diriku sendiri dan Riu!” Airin berkata dengan kesal setelah sebelumnya melempar kepala Arthur dengan sendok. “Kau ini... Mengapa kau suka sekali melempar barang-barang ke kepalaku, hah?” Arthur hendak menyingkirkan tempat sendok menjauh dari jangkauan Airin, namun wanita itu bergerak lebih cepat dan memeluk tempat sendok itu seolah ingin menjadikannya senjata untuk kembali menyerang Arthur saat pria itu membuatnya kesal lagi nanti. “Bagaimana pun ini aku 3 tahun lebih tua darimu dan meski kau tidak mau memanggil namaku dengan sopan setidaknya jangan bersikap sekurang ajar ini padaku! Aku sudah sebesar Riu saat kau baru dilahirkan, jadi kau harus sopan padaku!” hardik Arthur yang justru membuat Airin mencibirnya. “Baiklah. Aku akan memanggilmu bapak mulai sekarang. Kau puas?” tanya Airin. “Bapak apa?” “Bapak-bapak! Kau kan sudah tua, sudah bapak-bapak! Jadi aku akan memanggilmu Bapak saja mulai sekarang!” “Kubilang bersikaplah yang sopan, Nona. Mengapa kau justru mengolok-olokku seperti ini?” “Aku tidak mengolok-olokmu, tuh. Aku hanya berusaha memanggilmu dengan sopan. Ah, atau kau lebih suka dipanggil Garfield saja? Bapak perut buncit yang seperti Garfield?” “Kita tadi sedang membicarakan apa, sih?” tanya Arthur yang merasa jika pembicaraan mereka sudah melenceng jauh dari pembahasan awal. “Kita sedang membicarakan tentang pembagian tugas merawat Riu. Jadi tua itu pasti susah sekali, ya? Kau jadi gampang lupa, ya?” Arthur memejamkan kedua matanya dan menghela napas panjang entah untuk yang ke berapa kalinya hari ini karena bersama Airin membuatnya selalu menemukan alasan untuk menghela napas. “Aku belum sarapan tapi sebentar lagi sudah waktunya makan siang,” kata Airin seraya bangkit dari duduknya. “Masak untuk dirimu sendiri! Aku akan beli makanan untukku dan Riu!” peringat Arthur saat melihatt Airin berjalan menuju lemari pendingin yang sudah tertutup sementara Riu sudah pergi entah ke mana. “Oh, lihat betapa percaya dirinya kau, Pak Tua! Aku memang tidak berniat untuk‒ Kyaaaa!” “Ada apa?” Arthur berjengit kaget saat suara teriakan keras Airin yang sangat tiba-tiba itu membuatnya sangat terkejut. Airin yang tentu saja lebih terkejut dari Arthur hingga menjerit keras itu menolehkan kepalanya pada Arthur sementara telunjuknya menunjuk ke dalam lemari pendingin. “Anakmu...” kata Airin. “Dia tidur di dalam lemari pendingin.” **To Be Continued**
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD