Dea mencoba menenangkan dirinya, meski hatinya terasa seperti dihimpit batu besar. "Oh, hanya urusan keluarga saja," jawabnya cepat, dengan senyum kecil yang tampak dipaksakan. Namun, Aiden tidak mudah percaya. "Keluarga? Siapa yang kamu maksud? Dan kenapa kamu terlihat gelisah?" tanyanya sambil memperhatikan wajah Dea dengan saksama. Ia tahu istrinya sedang menyembunyikan sesuatu. Toni, yang merasa situasi semakin rumit, langsung menyela. "Saya hanya mengingatkan Madam tentang dinner dari undangan teman Pak Wijaya. Kami harus memastikan semuanya siap." Aiden menatap Toni dengan alis terangkat. "Dinner? Apa yang kamu maksud dengan dinner? Dan kenapa aku tidak tahu apa-apa tentang ini?" Dea menarik napas dalam, berusaha menguasai dirinya. "Aiden, ini bukan sesuatu yang penting untuk di

