46

1274 Words

Dea menarik napas panjang, mencoba mengendalikan debar jantungnya. Ia tahu saat ini adalah momen yang sangat penting, dan tidak ada ruang untuk keraguan. Setelah meyakinkan dirinya sendiri, ia berdiri tegak, menatap Wijaya yang memberikan senyum penuh dukungan. "Kamu akan baik-baik saja, Dea," ucap Wijaya dengan nada lembut namun tegas. "Ingat, ini bukan tentang siapa kamu sebelumnya, tetapi siapa kamu sekarang dan ke mana kamu akan membawa mereka." Dea mengangguk perlahan, mengambil naskah pidatonya dan berjalan keluar dari ruangan dengan ayahnya di sampingnya. Toni segera mendekat, memastikan jalur aman untuk mereka. Sepanjang perjalanan menuju aula utama, Dea memperhatikan bagaimana para anggota organisasi berdiri berjajar di sepanjang lorong, memberikan penghormatan saat ia lewat. M

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD