phlox kangen feal

2056 Words
. . . P. Aku tidak pernah memikirkan dalam hidupku bahwa aku akan dipenjara. Mustahil sekali. Secara aku masih remaja yang biarpun berbuat keji sekali pun, agaknya tindakan hukumannya bakalan jauh dari yang namanya penjara. Dan lagian, aku tidak mungkin bertindak jahat untuk memungkinkanku ditangkap polisi. Aku berasal dari keluarga terpandang. Meski orangtuaku cenderung memberiku keprotektifan, tapi di sisi-sisi lain juga secara tak langsung, aku harus bersikap anggun, elegan, dan terhormat untuk bisa dikenali sebagai anggota keluarga. Tapi malah sebaliknya. Bukan salahku. Kupikir ini kutukan. Jangankan tersenyum penuh kharisma pertanda identitasku sebagai tuan putri di istana orangtuaku, hal-hal yang membuat derajat jatuh, itulah yang biasa raut wajahku sampaikan. Aku tidak bisa tersenyum, tertawa, gembira, terharu, dan pokoknya emosi positif lainnya. Dalam hati, ya, aku masih bisa merasakannya. Diam-diam bahagia meski bibir yang melengkung ke bawah yang terlihat. Percuma saja. Meski aku berkoar tentang senangku pada siapa pun itu, pasti tak akan ada yang percaya. Raut wajahku terlampau sukar untuk dikira sedang bahagia. Jadinya, hadirlah si Tuan Putri Sedih yang menjabat sebagai satu-satunya keturunan di keluarga kaya orangtuaku. Tak aneh kalau selanjutnya aku begitu diperhatikan dan disayang alih-alih dilatih untuk menjadi pintar. Yang penting kamu bisa bahagia, Sayang. Yah, mau diberi es krim setruk pun, memang pada dasarnya aku dilahirkan sebagai manusia sedih, meski masih bisa mendapati aroma enak rasa bahagia itu, nyatanya tak semudah itu. Tetap saja, hanya kesedihan serta kesedihan saja yang selalu menyelimuti hati dan wajahku. Hingga Ayah mendatangi kedua pangeran itu. Pangeran. Pangeran. Yang akan menjagaku. Yang akan melindungiku. Yang akan membuatku bahagia. Mereka datang. Feal dan Orfeo. Aku bisa menilai keduanya dari pertemuan pertama. Feal lebih penurut. Perhatian, khawatiran, dan apa saja yang bisa membuatmu serasa dicintai. Feal memberikan segalanya untukku. Bukan sejenis perlakuan terhadap majikan. Aku tak pernah menangkap rasa segan atau pun takut pada sikapnya selama ini padaku. Dia menjadikanku sahabat setia selamanya. Jauh sekali dengan Orfeo. Seringnya dia tidak hadir saat Feal ada bersamaku. Dia lebih tinggi, lebih tegas, lebih berjiwa pemimpin dibanding Feal. Tapi aku tak suka dengan sikapnya itu. Yah, oke, aku memang tak pernah sekali pun dimarahi oleh dia meski tampang dinginnya itu benar-benar memungkinkan untuk meluapkan amarah pada siapa saja. Dia cuek. Aku merasa tak diperhatikan meski dia pangeranku yang lainnya. Harusnya kan aku diperlakukan dengan baik! Sesekali saja mungkin dia melontarkan kalimat manis yang setelahnya dia sendiri menyesal telah mengatakannya. Terlihat tidak tulus. Aku benci Orfeo. Hilang saja kau dari muka bumi ini. Tinggalkan aku berdua dengan Feal. Betul. Karena kehadiran Feal di sisiku yang hampir setiap saat, aku terlena oleh apa pun yang ada pada dirinya. Rasa egoisku melambung tinggi. Aku ingin agar Feal tetap di sampingku saja kapan pun dan di mana pun. Aku perlu perlindungannya, penjagaannya, sikap baiknya, serta rupa-nya yang perlahan ... itu memabukkanku. Feal dan Orfeo sebenarnya sama-sama ganteng. Dan ya, kebanyakan orang pasti akan memilih mengalihkan pandangan ke Orfeo yang penuh kemisteriusan dalam dirinya. Tapi mereka tidak tahu saja. Menurutku, Feal jauh lebih segalanya dibanding Orfeo. Bersama Feal, yakinlah kau bisa menghadapi seluruh penjahat di dunia. Kau akan aman dalam pelukannya. Hingga suatu ketika, saat perlahan aku mulai merasa diintai, akan disakiti, aku mengatakannya secara tak langsung, ke Feal, soal jatuh cintaku yang teramat besar padanya. Tidak mungkin kalau dia menolak. Aku ini seorang tuan putri cantik dari keluarga kaya raya. Lelaki mana pun dalam sekali lihat, pasti akan langsung terpikat. Tapi .... "Kalau Phlox nyuruh aku buat tertarik ke Phlox, aku akan melakukannya." Kau tahu, meski aku bisa senang karena Feal mungkin akan membalas cintaku, itu malah jauh lebih menyakitkan. Bukan berasal dari hati. Kau kira aku yang selalu mengemis rasa bahagia ini rela melakukan itu agar semuanya tercapai? Sakit tahu, Feal. Aku tahu kau begitu menyayangiku sampai bersedia mati untukku. Tapi apa gunanya kalau itu bukan berlandaskan ketulusan yang berasal dari hatimu. Apa mungkin kau tidak punya hati? Aku cinta kamu, Feal. Pelukan pertamamu malam itu yang spontan kau lakukan untuk meredam ketakutanku, di saat kau bertanya apa harus begini selamanya, sejujurnya aku sangat ingin berkata iya. Aku sangat nyaman berada di posisi itu, dan oh, astaga, aku semakin ingin memilikimu. "Phlox ingin aku menjadi suami Phlox?" Ingin. Ayo kita hidup selamanya dengan aku yang bisa memandangi wajahmu setiap saat. Tidak usah memiliki anak. Kita hidup berdua saja sampai kiamat datang. Pasti kau mau, kan? Ah, aku sudah jadi gila. Dan seperti yang kukatakan di awal, aku belum pernah masuk penjara. Ketika aku tahu Feal sudah tak bersama denganku, saat terbangun, aku menganggap itu sudah seperti mati. Lantai tanah berbenjolan yang tak pernah sekali pun dibersihkan. Bau menyengat yang berasal dari mana pun yang bisa membuat hidungmu bengkak. Sungguh, mati saja lebih baik. Penglihatanku tak jelas di tempat remang berjeruji besi itu. Hanya dari celah di atas saja cahaya matahari masuk sehingga membuat objek apa pun di sini jadi agak terlihat. Tapi aku tak mau memikirkan bantuan apa pun yang mungkin akan menyelamatkanku. Aku hanya ingin Feal. Dalam posisi berbaring dengan tubuh sedikit nyeri, air mataku merembes keluar dan aku tak perlu bingung mengapa itu terjadi. Aku sudah biasa menangis. Dan sekarang aku menangisi Feal, jelas saja. "Wah, kau sudah bangun?" Dua kelopak mata terbuka, aku mendudukkan diri dengan langsung memeluk tubuh. "Si-siapa kau?" Ketakutanku langsung terjalin dan mendadak aku merasa takut mati walau sebelumnya sangat ingin. Tak terlihat apa pun di sekelilingku karena pengaruh mata yang sembap. Tetapi kemudian, kurasakan seseorang menepuk pundakku di samping. "Tidak perlu takut begitu. Aku juga tahanan sepertimu." Tahanan? Aku tahanan? Yah, tetap saja itu membuatku kaget meski keadaan ini sangat mendukung pernyataan itu. Aku segera menoleh ke kiri meski kutahu itu tak ada gunanya karena hanya gelap yang masih terlihat. Tampaknya dia menyadarinya. "Sebentar, akan kunyalakan cahaya untuk melihatmu." Kupikir sebuah lampu minyak yang akan dia gunakan, tahunya, dalam sekali kedip, ruangan sel yang ternyata cukup luas ini seketika hidup seperti telah dinyalakan lampu. Sebelumnya aku sempat mendengar bunyi jentikan jari. Mungkinkah dia yang membuatnya begini? Tapi lantas itu apa? Pertanyaanku kemudian bertambah dengan siapa lelaki itu sebenarnya. Dia berparas terlalu ganteng untuk disandingkan dengan makhluk-makhluk bumi yang bertampang agak di bawahnya (mengalahkan Feal dan Orfeo). Wajahnya menyenangkan dan jenis yang akan membuat suasana menjadi hidup oleh candaannya yang luar biasa lucu. Dia tersenyum menghadapku, sedikit menurunkan rasa tegangku karena keadaan ini. Perlahan, alisnya tertekuk. "Kenapa kau menangis?" "Feal. Feal gak ada di sini." Aku masih terisak. Dia menggaruk rambutnya dengan jari, bingung. "Baiklah, kenalkan dulu namaku Ivalo." Mengarahkan tangan untuk kusalami. Aku hanya menatapnya saja. "Phlox." Tahu aku tidak menyambut ulurannya, dia menurunkan tangannya kemudian. "Jadi, Feal ini siapa?" Tanpa sempat berpikir apa-apa, sesuai niatnya untuk berbuat baik padaku, aku pun menceritakan keadaanku ke Ivalo. Semuanya tentang Feal. Hanya tentang Feal. Seolah secara tak langsung itu sebagai pernyataan agar dia tak usah mendekatiku sebagai lawan jenis. Aku sudah punya Feal! Tampaknya dia mendengarkan ceritaku. Betulan orang baik. "Hee. Begitu, ya. Feal ini kekasihmu?" Aku merona. Memalingkan wajah. "Bu-bukan. Hanya harapku." Lelaki itu terkekeh. Senyum merekahnya sempat membuatku terpana sesaat dan tidak bisa menghindarinya. Dia menatapku semakin lekat. "Sudah punya tambatan hati ternyata. Kupikir di sini aku akan mendapat partner." Kemuraman yang tersirat yang selanjutnya dia tampilkan. Di situ aku tiba-tiba merasa tidak enak. Oke, aku memang sudah memiliki Feal dan Orfeo sebagai penjagaku seumur hidup (meski mereka sudah menikah sekali pun). Tapi apa ini. Partner? Teman maksudnya? Menyadari aku sedang gelisah, Ivalo menanggapinya dengan tertawaan lagi. "Sudahlah tidak usah dipikirkan. Aku hanya bercanda." Bercanda? Bercanda katanya? Aneh. Kenapa di situasi mencekam begini, dia malah kelihatan baik-baik saja. "Aku sudah terkurung di sini selama hampir setahun. Sudah seperti rumah sendiri. Dan, ya, ketika kau datang, aku seperti telah mendapat belahan jiwa." Apa dia pandai mengetahui pertanyaan di benak orang lain? "Maksudku, seorang teman. Kau tahu, aku sangat kesepian di sini. Tidak perlu dijelaskan lagi kan segimana aku bahagianya sekarang karena ada seorang teman yang tiba-tiba muncul di sini. Eh, bukannya aku bersyukur kau diculik. Cuman, yah, setidaknya kehadiranmu sedikit menghiburku." Aku tidak pernah berpikir aku pandai menganalisa perkataan orang atau sebaliknya. Sadar dan tahu tabiat dia yang asli. Aku selalu tidak punya waktu untuk mengurusi orang lain. Tapi ini, di saat aku pun mungkin ini adalah saat-saat terburuk dalam hidupku karena berada di luar jangkauan Feal dan Mama Papa, aku ... iba padanya. Tak jauh di sampingku, Ivalo yang semulanya bertampang ceria seperti yang kubilang tadi dia seperti seorang penghibur, kini aku telah benar-benar menemukan secercah raut sedih yang tak tertahankan di wajahnya yang rupawan itu. Entah kenapa aku bisa memperhatikan dia segini pedulinya alih-alih memikirkan apa yang harus kulakukan selanjutnya. Dia ... dia seperti telah sangat mempengaruhiku pada pertemuan pertama ini. Setelah mengelap air mata sendiri di pipi, tanganku secara spontan menepuk pundaknya, lalu mengusapnya pelan seperti menenangkan. Ivalo senyum saja, kembali pada kecerahannya yang memesona. "Kau kenapa bisa ada di sini?" tanyaku, bersikap seperti telah menerimanya sebagai teman. Dengan sukarela, cowok itu pun menjelaskan dari awal. Soal dia yang adalah seorang mantan b***k. Ditawan di sini akibat perbuatan ayahnya yang telah membunuh keluarga kerajaan. Tentu saja si pelaku itu langsung dieksekusi. Dan sebagai hukuman lain, Ivalo yang berkali-kali memaki Raja karena ibunya turut diseret untuk eksekusi, lantas langsung dicebloskan ke penjara. Hm. Kejam sekali, ya. Eh. Sebentar sebentar. Dia bilang soal kerajaan? Serius? I-ini di mana sih sebenarnya. Cowok itu tak lanjut bercerita karena menyadari perubahan suasana wajahku yang menggelap. Tunggu, apa aku belum memastikannya? Ini benar kan ada di dalam penjara? Walau aku tak pernah tahu percis seperti apa isinya, bukannya penjara itu seharusnya lantainya berupa keramik dan bukannya tanah kasar begini? Seharusnya ada seorang sipir yang menjaga di depan. Tapi kondisi di sini terlalu sepi, gelap, dan busuk untuk jadi bagian dari kantor polisi yang biasanya agak terawat. Well, aku cuma diculik, aku gak melakukan tindak kejahatan apa-apa. Sebentar. Diculik? Kalau diculik kenapa harus sampai dipenjarakan .... Air mata favoritku kembali mengalir deras ke wajah penakut yang tak pernah senang ini. Diiringi isakan yang keras, aku lantas menjerit. "Ini, ini di mana!" Aku memegangi kepala dengan sangat frustrasi. Kenapa, kenapa aku tidak menyadarinya! Ini sangat berbeda jauh dengan penjara yang biasa berada di area tempat tinggalku. Ataukah ini, ruang khusus tempat penculikan makanya penuh debu begini? Ivalo di sebelah berusaha menenangkanku namun masih berjarak. Dia tidak juga menjawab pertanyaanku seolah omonganku barusan cuma sekadar lolongan serigala. Jadi aku menjerit lagi padanya, "Ini di mana!" Klik! Hatiku tetiba menghangat. Dan seakan seluruh frustrasiku disedot oleh sesuatu yang membuat hangat itu, pikiranku pun berubah menjadi rileks. Tubuhku langsung terhuyung ke belakang seperti kelelahan, baru saja akan mengenai tanah jika Ivalo tak segera menahan punggungku dengan sebelah tangannya. Dengan cepat, dia menyeimbangkan posisiku lagi dengan sedikit kikuk. "Maaf." Aku mengambil napas sedikit-sedikit. Omong-omong, apa itu tadi, ya? "Sudah lebih baik?" Aku menatap padanya. "Kau yang melakukannya?" Dia yang tersenyum bergurau mewakilkan jawaban iya. "Bagaimana caranya?" Aku bertanya lagi. Seharusnya orang ini memang patut dicurigai. Tetapi aku tidak lantas langsung merasa takut begitu saja. Sesuatu yang bikin tenang tadi masih menjalari seluruh tubuhku. Ivalo mengangkat bahu. "Aku jelaskan dari awal saja kalau begitu." Dia berganti posisi, menyangga tubuh dengan kedua telapak tangan menopang ke belakang. "Sebenarnya kita ini sekarang sedang berada di Dunia Peri." Pada kalimat pertama itu, seharusnya aku sudah diserang rasa kaget yang tiada tara. Tapi anehnya lagi aku masih bisa bersikap tenang. "Penjara bawah tanah Istana Jahat. Percisnya ketika aku bangun pagi tadi, aku tiba-tiba saja sudah melihatmu di sini. Kuduga dari ekspresi ketidaktahuanmu ini, kau bukan berasal dari dunia ini, ya?" Aku menggeleng dengan lambat. "Benar ternyata. Aku sudah menduganya kalau ada dunia lain di semesta ini selain Dunia Peri tempatku tinggal." "Me-Memangnya kau ini bukan manusia?" Dia tersenyum. "Manusia. Tepatnya, manusia Dunia Peri. Kalau kau juga manusia, mungkin kau manusia dari dunia tempat asalmu. Yang membedakan, manusia di sini bisa melakukan sihir. Seperti tadi yang kulakukan padamu dan ruangan ini yang jadi menyala." .... Ini mimpi, kan? "Atau jangan-jangan, kau juga bisa sihir?" Aku menggeleng cepat-cepat. Ivalo merasa tidak enak. "Baiklah, em, sepertinya ini di luar dugaanku. Begini saja," katanya kembali pada posisi duduk awal. "Kau mau keluar dari sini, kan?" "I-Iya!" "Aku punya rencana," kata Ivalo. "Tapi sebelumnya, kau siap dengan apa yang akan kau lihat nanti?" Perkataan itu mendadak membuatku ragu. Tapi aku kepikiran soal Feal. Jika aku keluar dari sini, aku akan berjumpa dengannya, kan? Maka dengan itu pun, aku mengangguk. "Demi bisa bertemu dengan Feal, ayo kita lakukan!" 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD