joo lebih ingin menghabiskan waktu dengan bintan

2017 Words
...J. Sumpah, aku mencintai Shiarla. Sangat mencintainya, menyayanginya, sampai-sampai aku ingin melindunginya terus. Terdengar seperti sangat mengutamakan cinta? Ah, bagiku mungkin, aku ingin membuat Shiarla bahagia. Ini bukan soal aku, soal aku yang ingin terus merasa terpuaskan oleh kehadirannya. Aku hanya ingin membuat Shiarla bahagia. Ini hanya tentang dia. Shiarla adalah jenis perempuan penyabar, tangguh dari dalam namun rentan dari luar, yah, itu karena dia mengalami hal-hal yang buruk di rumah. Kedua orangtuanya sudah meninggal. Tersisa bibi yang mau tak mau harus mengangkutnya bersama dengan anak perempuan kandungnya yang lain yang masih smp. Bibi, kan? Bukan ibu tiri. Sepupu, kan? Bukan kakak atau adik tiri. Tapi perbuatan mereka ke Shiarla lebih parah dari perlakuan ibu tiri ke anak tirinya atau kakak tiri ke saudara tirinya. Tidak adil untuk Shiarla. Mereka melampiaskan ketidakhadiran sosok seorang ayah di keluarga sana yang menghilang tanpa kabar ke Shiarla yang mana mereka menganggapnya sebagai beban. Shiarla patut disalahkan. Pikir mereka. Seperti kisah Cinderella saja. Meski begitu, Shiarla tetap tampil ceria di sekolah. Kehadirannya yah, tidak begitu berarti. Biasa saja. Punya segelintir teman yang kurang peduli, yang akan ada jika membutuhkan saja. Intinya, dia tidak mempunyai seseorang sebagai 'tempat pulang'. Dan di situlah aku hadir. Saat tak sengaja melihatnya menangis secara diam di pojokan suatu bangunan sekolah yang terbengkalai, Shiarla terjongkok menunduk di sana. Sangat menampilkan kerapuhannya kepada siapa saja yang menurutnya tidak akan ada yang lewat. Tapi aku lewat. Tidak sengaja. Saat ingin menenangkan diri akibat kesal yang tak ingin kuperlihatkan ke siapa pun. Shiarla di sana. Aku di sana. Masih saling asing. Dia menangis. Aku ... Shiarla mendongakkan kepala saat aku tak sengaja membuat suara. Dia begitu kaget melihatku di sini yang melihatnya menangis. Seperti berusaha menyembunyikan, dia kemudian segera menghapus semua air matanya yang tersisa di wajah. Terlambat. Ciri-ciri itu terlalu kelihatan. Aku menatapnya meremehkan. "Tidak punya teman, ya?" Gadisku itu tak segan lagi untuk melanjutkan menangis sembari masih memandang ke arahku. Tak peduli lagi sepertinya akan harga dirinya sebagai seseorang yang lemah. "Jangan bilang ke siapa pun," kembali menempelkan dagu ke lutut. "Memangnya aku mengenalmu atau peduli untuk membiarkanmu dipandang rendah oleh mereka?" Wujudku yang selalu ingin menang dan tampil sempurna terpaksa harus menyakitinya untuk pertama kalinya. Ya memang aku tak pernah bersikap baik pada seseorang! Suara isakan yang hampir membuatku simpati, terdengar. "Aku mohon. Jangan sampai ada yang tahu kalau aku serapuh ini." "Kenapa?" "Aku tidak mau mereka menggangguku. Biasanya yang lemah selalu dijadikan korban kenakalan." "Oh. Bagus. Kebetulan aku nakal." Setengah mati, kulihat Shiarla terlonjak saat kembali menatapku dari sana. Bibirnya bergetar-getar. "Kau .... Apa yang akan kau lakukan padaku?" Dengan sendirinya, mulutku naik sebelah, menyorotkan jalan menuju kemenangan. Dan kekuasaan. Padahal aku tidak tertarik untuk sekadar menyentilnya. Tidak ada gunanya. Aku tidak mengenalnya lagipula. Saat itu, aku berjalan mendekatinya. Berpikir mungkin akan mengerjainya sedikit. "Kau mau memberiku apa sebagai sogokan tutup mulut?" Shiarla sangat ketakutan akibat sikapku yang menyudutkan. Dia benar-benar seorang gadis yang sok kuat dan ingin disebut kuat meski aslinya sangat tidak kuat. Kemudian, dengan lirihan, setelah menunduk kembali, dia menjawab, "Aku. Tubuhku." Aku tertegun. Tiba-tiba menelan ludah dengan begitu cepat. "Hah?" "Aku sudah tidak sanggup lagi menjalani ini. Ah, sudahlah. Tak apa, kau beberkan saja apa yang kau lihat ini ke semua orang. Dengan begitu, aku tak perlu ragu lagi untuk membunuh diriku sendiri." Cewek ini gila. Sangat gila. Begitu tidak berdayanya sehingga rela menjual harga dirinya untuk siapa saja yang dia temui. Mentalnya apakah sudah mati? Yakin mau bunuh diri? Perlahan dan tanpa sadar, aku semakin berlangkah mendekatinya, ikutan jongkok untuk menyamakan posisi. Masih dengan genangan air matanya di pipi, dia lalu menoleh padaku. Tatapannya takut. "Kau mau berbuat apa padaku?" "Katanya tidak apa-apa." Lihat, meski belum semenit lalu dia sok-sokan berani ingin menjual asetnya padaku, tapi sikapnya sekarang sama sekali tidak menunjukkan itu. Memang, perempuan cuma bisa mengandalkan mulut. Aku yakin dia ingin menjauhkan diri dariku saat itu, tapi dia tidak bergerak, mungkin tidak sanggup karena telah kehabisan tenaga. Aku lantas tersenyum. Bukan senyum yang ingin siapa pun lihat. "Bagaimana kalau mulai nanti, kau jadi milikku?" Mata merahnya membulat. "M-Maksudnya?" "Suruhanku." Memangnya apa yang dia harapkan? Pacar? Buset, tidak sudi sekali. Dia belum menjawab apa-apa. "Kalau aku butuh bantuan, aku bebas memanggilmu. Dan kau tidak berhak menolak." "Bantuan seperti apa misalnya?" "Rahasia." Dia diam sesaat. Berpikir agaknya. Dan dengan kesadaran yang belum sepenuhnya pulih, dia mengiyakan tawaranku. Saat itu, saat pertemuan pertama kami, yang menjadi awal dari sebuah ikatan yang dengan main-main kuciptakan, aku menerima bumerang-ku sendiri. Sejak saat itu, Shiarla jadi lebih sering berada di dekatku, menjalankan kewajiban. Pergi ke kelasku misalnya di jam istirahat untuk membelikan jajanan di kantin. Sewaktu-waktu, dia terlihat begitu kesal. Mungkin telah menyesali mengapa bisa menghindari kemungkinan buruk lain dengan masuk ke kemungkinan yang lebih buruk lagi. Haha, dia sepertinya baru benar-benar sadar akan sosokku yang seharusnya dihindarinya ini. Dan sekarang, ikatan kami tak terlepas. Sampai sebagian orang mengira, kami terlalu dekat untuk ukuran pelaku dan korban. Terlalu dekat. Sampai rasa itu muncul. Mengubah status suruhan menjadi seseorang yang tak ingin kulepas untuk bisa kugenggam selamanya. Aku jatuh cinta padanya. Pada rasa sakitnya yang tak seorang pun tahu. Pada rasa bahagianya yang pura-pura dia jalani. Pada hatinya yang terlampau kuat. Dan pada senyumnya yang ingin kupertahankan untuk selalu bersemayam di bibirnya yang semanis madu itu.Oke, Shiarla. Jangan khawatir. Mulai saat ini, Joo akan selalu berada di samping Shiarla. Jadi, jangan menangis lagi, ya? . "Yang tadi itu, siapa?" Oh, dia melihatnya, ya. Aku menjawab dengan enteng. "Bukan siapa-siapa. Jangan pedulikan." Aku dan Shiarla tengah berjalan bersama menuju tempat kami biasa menghabiskan waktu berdua. Bukan pacaran. Seperti, yah ini tempatku bersamanya. Area bangunan yang sudah tidak terpakai lagi. Tempat pertama kami bertemu. "Dia ... cantik." Aku menoleh padanya. "Lantas?" Shiarla mengalihkan pandangannya. "Kadang aku suka berpikir kau hanya main-main." Main-main dengan rasa sukaku padanya yang selalu kutunjukkan secara terang-terangan belakangan ini. Lebih lama dari belakangan ini. Sudah berbulan-bulan, mungkin. "Inginnya sih main-main. Tapi yah, mana ada main-main yang setotalitas ini." Dia agaknya terkesiap. Bahunya sedikit berguncang. "Sungguh, jangan kasihan padaku. Aku tidak ingin kau begini gara-gara tahu aku sebenarnya sangat ingin ditemani." "Menemanimu tidak perlu sampai melibatkan rasa, kan? Aku sudah menemanimu. Dari dulu. Bedanya sekarang kau sendiri tahu betapa ingin aku membuatmu bahagia. Bukan sekadar menemani lagi. Kan?" Aku selalu menjebaknya untuk mengatakan 'ya'. "Kau cemburu dengan Bintan?" Pertanyaanku itu tanpa diduga membuatnya menghentikan langkah, dan menghadapku kemudian. "Aku cuma takut kau akan pergi ... meninggalkanku." Aku tertawa. Tak sedap untuk didengar. "Jadi kau ingin selamanya aku jadikan suruhan?" "Iya." Mendongak padaku. "Jangan pergi, Joo." Parau sekali dia mengatakan itu. Hm, beginikah rasa cemburu perempuan? Padahal tadi itu adalah ketidaksengajaan saat aku membalas cibiran Bintan tentang Phlox. Ketidaksengajaan. Aku membalas tatapan Shiarla dengan lunak, menyatukan kening kami kemudian. "Dengar, aku menyayangimu dengan segenap ragaku. Aku rela mati, untukmu. Untuk perempuan yang telah meruntuhkan angkuhku hingga membuatku bertekuk lutut padanya." Aku mengambil pipinya. "Shiarla. Aku mencintaimu." Tersampaikan juga. Memang, sudah sangat lama semenjak Shiarla sadar akan perasaan sukaku padanya. Namun tak pernah aku mengakuinya atau mengatakan hal itu padanya. Tak pernah. Bagiku, jatuh cinta itu adalah suatu kekalahan. Kekalahan akan seutuh sikap, fisik, pada diri seorang manusia lawan jenis yang bisa saja, dia tidak merasakan itu. Hanya perasaan sepihak, bisa saja. Tapi tetap mengukuhkan rasa. Aku berpikir di sini cintaku tak terbalaskan. Dengan sifat nakalku yang tak bisa dibendung, sangat mungkin Shiarla akan membenciku meski dia tahu aku suka padanya. Dia bukan jenis perempuan gampangan seperti itu. Dia kuat. Tidak jelas-jelas mengharapkan laki-laki alih-alih siapa saja yang bisa dijadikan penopang. Tidak harus laki-laki. Tapi masalahnya aku laki-laki, yang mungkin dia tidak akan menganggapku ada. Tapi .... 'Jangan pergi, Joo.' Shiarla juga mencintaiku? Sejujurnya aku tak begitu peduli akan itu. Sumpah, cukup memberi kasih ke dia saja, tak perlu dibalas, memang seharusnya dia mendapatkan itu. Aku tidak peduli soal rasaku yang dibalas. Tapi jika sudah begitu, aku tidak bisa menahan lagi untuk tidak menyatakan segalanya. Ah, rumit sekali. Sejak mengenal Shiarla, keangkuhan Joo mulai luntur hanya jika di hadapannya. Keangkuhan Joo. Keangkuhan yang mengakar dalam diriku entah sejak kapan aku mencoba mengingatnya. Joo yang angkuh, yang ingin selalu menang, yang selalu percaya diri, yang selalu menatap rendah ke siapa saja, yang selalu tersenyum pongah bak iblis kehausan, aku sudah memiliki itu, dan tak bisa terhapus. Seolah sudah menempel pada jiwa dan ragaku sampai kapan pun. Namun perlahan itu semua lenyap, saat aku sedang bersama Shiarla. Akibat jatuh cinta itu barangkali. Aku menatapnya tulus sekali, lalu berjalan kembali. "Jangan khawatir. Aku di sini. Selalu." Kalau dipikir, sangat wajar jika dia cemburu dengan Bintan. Apalagi setelah melihat kedekatan bak musuh kami (seolah mengibaratkan benci tapi cinta), sangat wajar jika Shiarla berpikir aku ada apa-apa dengan Bintan, seseorang yang cantik dari kelasku. Nyatanya, memang ada apa-apa. Bukan. Sungguh. Ini bukan salahku. Aku tidak mengerti mengapa aku bisa tertarik secara tiba-tiba ke cewek itu. Padahal sudah hampir tiga tahun aku bertemu dengannya setiap hari di kelas. Tak ada obrolan yang berarti. Hanya hubungan teman sekelas biasa yang tidak ada spesial-spesialnya. Tapi kenapa dalam sekejap mata dia bisa berubah menjadi seseorang yang sangat kudambakan. Bintan berubah menjadi tiga kali lipat lebih memikat di mataku. Rambutnya, matanya, bibirnya, wajahnya, tubuhnya, aku tidak bisa menghilangkan hasrat terus memandanginya dengan berlebihan. Aku pasti sudah menjadi laki-laki paling kurang ajar jika merealisasikan perasaan aneh yang tiba-tiba menerpa itu. Kurang ajar. Kurang ajar sekali. Bintan. Apa yang telah kau lakukan padaku! Di istirahat kedua, secara tidak sengaja saat melewat di depan suatu kelas lain, aku melihat cewek terkutuk itu sedang bersama dengan seorang laki-laki yang tak kukenal. Pembicaraan mereka pelan dan bernuansa serius. Aku mendadak penasaran, tetapi tak ingin menguping. Jadi kuputuskan untuk mendekati saja. "Mau dipikir berapa kali juga, itu mustahil." "Ya sudah. Malam ini kita buktikan." "Membuktikan apa?" Kalau seandainya rasa tertarikku ke Bintan tidak ada, pasti aku sudah menyingkir sekarang. Bintan menatapku terkejut. Aku menyadari ada setitik kesenangan di sana. "Jangan ikut campur!" Hey, berkatalah jujur, wahai gadis pemarah. "Kalau menyangkut kau, aku harus ikut campur." Makin senang dia, pasti. "Siapa?" Laki-laki asing di antara kami itu bertanya ke Bintan. "J-O-O. Bukan siapa-siapanya dia." Setelah diterbangkan menuju langit ke delapan, sekarang dia kujatuhkan ke liang kubur paling dalam. Rasakan itu. "Jadi ingin membuktikan apa?" "Soal Phlox. Joo ingin membantu?" Seakan sudah mengenalku selama bertahun-tahun, dengan seenaknya dia menyebut namaku seolah aku tidak akan tersinggung. Sok akrab sekali. Namanya saja aku tidak tahu. Sementara kusaksikan, Bintan membisu di sebelahnya. Pasti karena aku. Sebentar. "Ingin mencarinya?" tanyaku. "Bukannya Bintan sangat membenci cewek itu." Uap dari hidung banteng yang bernapas dengan gusar seketika terasa menyambar udara. Siapa lagi kalau bukan Bintan. "Sudah kubilang, tidak usah ikut campur!" "Kau mau menjahilinya dengan cara apa lagi?" Bukannya aku sok tahu dengan hubungan antar cewek di kelasku, tapi status permusuhan transparan antara Bintan dan Phlox, memang sangat kental meliputi tubuh keduanya. "Tidak puaskah kau membuat dia melarikan diri dari dunia?" Bintan berdiri, perlahan menghadapku dengan muka tertunduk. Skala kemarahan, angka 1000. "Itu. Bukan. Salahku. Dan. Kau ...." Mendongakkan kepala dengan aura kecantikan yang tidak putus. "Pergi dari hadapanku sekarang juga!" Aku tergelak. "Turuti saja kata hatimu, kenapa sih. Aku beneran pergi, nih." Kugerakkan sebelah kakiku menuju jalan keluar, masih menghadap Bintan, masih tersenyum menghadap Bintan. "Kalau ingin membantu mencari Phlox, Joo tinggal saja." Alisku terangkat sebelah, ke arahnya. "Lebih banyak orang, lebih baik." "Aku hanya ingin membersamainya saja," menunjuk Bintan dengan dagu, "asyik sekali, membuat dia naik darah." "Malam ini. Pukul dua belas. Datang ke rumahku." Ucapan yang rendah namun penuh penekanan. Setelahnya, Bintan mengeluarkan diri dari pembicaraan dengan warna mukanya yang suram sekali. Sama saja seperti ditikam hiu jika berani memberhentikan langkahnya. Yah, begitulah Bintan. Cewek cantik pemarah yang hanya aku yang bisa mengalahkannya. Lagipula, aku tidak pernah dikalahkan oleh siapa pun. Siapa pun. Selain Shiarla. Dua gadis dalam satu hati. Ingin melindungi Shiarla, tapi lebih ingin menghabiskan waktu dengan Bintan. Ingin membuat Shiarla bahagia, tapi lebih ingin membuat diri sendiri bahagia dengan terus menjahili Bintan. Ingin melihat Shiarla aman, tapi lebih ingin melihat Bintan tersenyum, marah, merengut, mengejek, dan berbagai ekspresi lainnya yang hanya boleh aku yang membuatnya begitu. Kenapa aku bisa begitu serakah kalau menyangkut Bintan?Sial.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD