Honda wing itu meluncur cepat, karena jalanan tidak terlalu padat. Kendaraan yang berwara wiri ramai lancar. Khadija menyimpan barang belanjaan dan kacang rebusnya sebagai penghalang, agar tubuhnya tidak nempel dengan punggung Rasyid. ‘Dija, ini apaan, kho panas?” Rasyid berbicara, namun suaranya samar terbawa angin. “Apaan Kak?” Khadija sedikit berteriak. “Ini apaan panas di punggung aku?” ucap Rasyid lebih keras lagi. “Oh ini kacang rebus Kak, aku beli sepuluh tadi,” jawab Khadija masih dengan suara yang keras mengimbangi hembusan angin malam yang semakin kencang. Angin berhembus dingin seperti mau hujan. Beruntung dia memakai jaket Rasyid, jadi tubuhnya tetap hangat. “Banyak banget, emang porsi makan kamu udah sebanyak itu ya sekarang?” Rasyid bertanya lagi. “Aku cuma kasian

