Arga mengunci pintu begitu masuk sementara aku sibuk memastikan keadaan fasilitas MCK di pondok kayu ini. Luasnya hanya seperti sebuah kamar hotel saja. Begitu masuk langsung mendapati double bed dan beberapa perabotan standar penginapan. Ada buffet kecil dengan lemari es mungil, sebuah boiler, beberapa botol air mineral, cangkir-cangkir bertatakan, dan bermacam minuman hangat instan dalam bungkus individu. Demikian juga dengan kamar mandinya, ada kloset duduk, wastafel, dan shower.
Usai memastikan semua fasilitas yang ada bekerja dengan baik, barulah aku berniat untuk segera mandi. Ingin segera menunaikan salat Magrib dan Isya yang bisa disingkat dan digabung selagi dalam perjalanan.
“Mandi dulu, yuk, Ga!” ajakku pada lelaki tampan yang memilih merebahkan diri di atas ranjang.
Arga menolehku. “Cari alasan untuk mandi dulu, yuk, Nil!” sahut sambil tersenyum-senyum.
Tidak aku sangka lelah karena perjalanan tidak menyurutkan niatnya berbulan madu. Kusambangi dia, ingin menarik lelaki kesayanganku itu untuk segera ke kamar mandi membersihkan diri. Akan tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Dengan tatapan matanya yang menyiratkan rasa ingin aku tersihir. Lengan kokohnya dengan mudah pula menguasai tubuh kecilku.
“Sabar, dong, Sayang!” ucapku percuma diambang rasa tertarik ingin.
Bau keringat, asap, debu bahkan bau rawa yang menempel ditubuh tidak menjadi penghalang buatnya untuk mencumbu. Tak banyak kata, sebentar saja akhirnya aku ikut hanyut. Lelakiku itu memang tidak suka sengaja dibantah jika inginnya terhalangi. Usai membunuh rindu secara kilat, Arga merapatkan selimut di tubuhku. Setelah itu tanpa berkata apa-apa bergegas lebih dulu ke kamar mandi.
“Curang!” kataku sebelum tubuhnya lenyap di balik pintu kamar mandi. “Mestinya, `kan, aku tadi, tuh, yang duluan mandi.”
“Ya udah! Ayo, ikut mandi!” sahutnya.
Kepala Arga menyembul sebentar dari sela pintu dengan senyum terkulum. Lagi-lagi, yang keluar dari mulutnya berefek seperti mantera. Setiap katanya segera kuturuti.
“Abis salat, kita cari makan malam, ya, Ga!”
“Iya, tenang aja! Di lobi pondok tadi ada restorannya, kok. Ntar, kita makan di sana.”
“Aku lapar banget, Ga.”
“Aku juga, tapi setidaknya untuk sementara gak lapar kamu lagi,” sahutnya sambil mengucurkan shower yang sudah diatur hangat airnya ke kepalaku.
Untuk beberapa lama akhirnya menjadi sibuk saling membesihkan sehingga kegiatan itu terselesaikan dengan cepat bersama.
“Tolong ambilkan baju bersih, Sayang!” pinta Arga begitu keluar dari kamar mandi.
Kulihat dirinya sudah selesai mengeringkan badan. Cepat kuraih ransel yang kami bawa. Segera memberikan pakaian dalam dan sesalin pakaian bersih. Setelah itu, tidak lupa juga mengambil sesalin pakaian bersih untukku sendiri.
Usai mengoleskan deodorant pada ketiak Arga, aku lanjut mematut diri sendiri. Tidak makan waktu lama, berdua segera mengejar waktu awal salat Isya. Tak lupa mengerjakan salat Magrib terlebih dahulu saat menggabungkan dua waktu salat itu. Lepas melakukan ibadah wajib secara berjamaah, Arga mencoba menghubungi Arshi.
“Duh, si Arshi ngapain, sih? Kok, panggilanku gak diangkat-angkat,” desisnya setelah dua kali mencoba menelepon adiknya itu.
“Masih sibuk kali, Ga.”
“Apa mereka gak lapar, ya?”
“Kalau lagi gituan, mana berasa lapar,” sahutku asal.
“Dasar pengantin baru,” sungut Arga sambil menutup panggilan.
Wajahnya terlihat kurang bersemangat karena sedari mandi tadi sudah merasakan kelaparan.
“Aku coba lihat mereka dulu, ya, Nil.”
“Ngapain, Ga? Masak kamu mau intip mereka?”
“Ya, gaklah. Masa ngintip?” Arga mendelik halus ke arahku. “Istriku otaknya lagi mesum.”
Aku terpingkal mendengar sungutannya. “Bercanda doang.”
“Kalau aku yang bercanda seperti itu, pasti kamu bilang sama.”
Akhirnya kami terpingkal berdua.
“Ya, udah. Aku samperin dulu. Kamu di sini aja! Supaya matamu tidak ternoda!”
“Arga …!” Panggilku tidak ingin ditinggal
“Hum …!” Dia membungkamku dengan satu kecupan. “Tunggu di sini!” pintanya lebih tegas setelah itu, sambil menunjuk tempat tidur dengan dagu.
Aku naik ke atas tempat tidur sesuai perintahnya. Setelah itu, lelaki kesayanganku itu segera pergi untuk menyambangi Arshi dan Tammi. Kutatap punggung bidangnya yang hilang begitu pintu pondok tertutup.
Lepas sosok lelaki kesayanganku itu dari pandangan, membuat napas terhela panjang sambil merebahkan diri di ranjang. Setahun bersamanya membuat rasa menggilai justru kian menjadi dan belum pernah berkurang. Kupejamkan mata, sececah mengingat apa yang tadi baru saja dibuatnya. Kenikmatan itu masih bisa kurasakan.
Seprai yang terbuat dari katun halus membuatku merasa kian nyaman. Sejurus kurubah posisi menjadi menelungkup. Rasa nyaman langsung lebih banyak diperoleh, terutama pada bagian punggung yang sedari tadi memikul ransel yang lumayan berat.
Dengan maksud mengusir penat, kuregangkan otot-otot tangan dan kaki. Sekonyong-konyong, kurasakan hanya panas menyengat. Mata yang tadi memejam sontak terbuka. Ingatan langsung terhantarkan pada pengalaman sebelumnya. Rasa panas yang menyambarku berulang kali saat berada di dalam perahu bermotor.
Detik berikutnya, kuputuskan untuk beringsut bangkit. Akan tetapi, mendadak tidak ada daya untuk melakukan itu. Tubuhku terasa ditindihi beban yang begitu berat. Semakin bergerak semakin berat pula beban itu sehingga membuatku terperenyak ke dalam kasur.
‘Apa ini?’ benakku bertanya heran.
Cemas yang lebih besar terundang saat bau busuk terhidu kembali oleh indera penciumanku. Cepat aku beristigfar sambil berusaha menggerakkan tubuh agar bisa bangkit. Namun, masih saja rasanya terkunci.
Tepat ketika seseorang terdengar ingin membuka pintu pondok, tubuhku langsung dapat digerakkan, seakan sengaja dibebaskan. Buru-buru aku bangkit dengan pandangan segera mendapati Arga yang melangkah masuk.
“Kamu kenapa, Nil?” tanyanya saat berserobok mata.
Aku belum sempat menjawab, baru saja bisa terduduk di ranjang. Arga langsung menghampiri dengan mata sedikit memicing. Tangannya terulur cepat menyentuh pipi.
“Kok, kamu pucat?”
“Kak Nila kelaparan kali, Bang Arga,” sahut Tammi yang ternyata mengekor di belakang suamiku itu.
“Ya, ayo, Sayang, kita ke restoran pondok sekarang!” ajak Arga sembari mengangsurkan jilbab yang harus aku kenakan. “Buruan pakai jilbabnya, sebelum Arshi datang!”
Aku pun bergegas sambil mencoba melupakan apa-apa yang di rasa dan terjadi tadi. Namun, cemas yang sempat terundang di hati tidak serta merta bisa berlalu begitu saja. Hal itu membuatku menjadi berjaga sepanjang waktu. Akibat berjaga, sikap yang tampak pun menjadi berubah dan tidak biasa.
“Kenapa, Sayang? Dari tadi kamu celingukkan melulu,” tegur Arga padaku saat duduk di restoran pondok yang akan menyajikan rendang gurita.
Kukedikkan bahu karena bingung harus menjawab apa. Tak ingin membuat orang lain ikut bingung, akhirnya aku berusaha tampil senormal mungkin. Untungnya perhatian Arga cepat teralih pada menu special pulau Kapo-kapo yang dihidangkan pelayan. Berupa rendang gurita yang cukup besar. Binatang yang merupakan khas hasil laut pulau ini konon sangat terkenal. Sangat nikmat saat diolah dengan banyak rempah yang ada di nusantara.
Jenak-jenak berikutnya kami terbius dan tenggelam dalam menikmati hidangan makan malam itu.
“Makan yang banyak, Sayang! Aku gak takut kamu gemuk.” Arga seperti sengaja mendukung bakat gemuk yang aku punya.
Beberapa ucapannya yang lain mampu mengalihkan pikiranku akan hal yang sampai detik itu belum dapat kumengerti. Sedangkan, candaannya bersama Arshi sempat membuatku benar-benar lepas dari kecemasan.
Sebentar saja hidangan rendang gurita itu kami tandaskan. Setelah itu masing-masing memesan minuman hangat dan beberapa potong kue yang manis untuk hidangan penutup. Arga memesankan dua cangkir kopi jahe untuk kami berdua sementara Arshi dan Tammi dengan seleranya masing-masing.
Tidak perlu waktu lama, hanya sepuluh menit berselang pesanan kami pun datang. Seorang pelayang dengan papan nama Andi di seragam yang dipakainya menghidangkan empat cangkir minuman hangat dan kue-kue.
Di waktu yang sama, Arga menegur pemandu wisata yang sore tadi telah membantu kami memesan pondok. Samsul namanya.
“Bang Samsul!” Lelaki yang disapa Arga sontak menoleh ke arah kami.
Pandanganku dari secangkir kopi segera pula beralih padanya. Sebentar tatapan kami beradu. Namun, aku cepat-cepat menunduk. Lelaki pendek, gemuk, dan berkepala botak itu perlahan mendekat sambil mengangkat tangannya. Pada awalnya aku tidak merasa apa-apa. Akan tetapi, pertanyaannya yang tertuju khusus padaku spontan membuat rasa cemas kembali terundang.
“Kak, tadi di perahu motor, dipesankan apa saja dengan Bapak baju hitam?”
Kairo, 21/07/2021
**WMB**