Part 3. Kosong

1215 Words
            “Bapak baju hitam? Maksud Bang Samsul, suamiku?” Tammi buru bertanya karena di perahu bermotor tadi yang mengenakan baju hitam selain penumpang berponco hitam, ada Arshi juga.             Akan tetapi, pertanyaan Tammi membuatku sadar kalau dia tidak melihat penumpang lain yang berbaju hitam selain suaminya. Dalam keadaan aku sibuk mencerna pertanyaan Bang Samsul dan Tammi, Arga malah ikut bertanya pada Arshi.             “Pesan apa kamu, Shi?”             Kutoleh Arshi. Cepat dia mengedikkan bahunya. Siklus kebingungan terputus setelah pemandu wisata bernama Samsul itu berkata, “Sepertinya saya salah lihat, tadi.” Sambil tersenyum arif padaku.             Detik selanjutnya aku merasa seperti tertarik pada satu hal lain yang tidak bisa ditolak. Terpisah begitu saja dari pembicaraan Arga, Arshi, dan Bang Samsul si pemandu wisata. Bahkan suara Tammi tidak dapat aku tangkap. Sebentar itu diriku seperti kembali ke atas perahu bermotor dan memandang dengan jelas lelaki berponco hitam yang duduk di antara tiga pasang suami istri yang menumpang. Dalam perjalanan tadi aku tidak menyadari kalau pernah melakukan kontak mata dengannya. Akan tetapi, dalam ingatanku yang sebentar itu, ternyata dia sempat menoleh padaku dengan tatapan mata yang awas.             “Nil!” Panggilan Arga dibarengi dengan sedikit guncangan dibahu telah membuatku kembali terduduk di sampingnya.             Sejurus kemudian Arga menarik wajahku hingga kami bertatapan dengan jarak tak sampai tiga puluh senti meter.             “Danila, kamu jadi bengong begitu, kenapa?” Pertanyaannya kali ini sambil menggambarkan kondisiku barusan, disampaikan Arga dengan suara rendah. Rasa khawatir terbersit begitu jelas di sorot matanya.             Glek! Kutelah buru-buru liur kebingungan. Seketika timbul dorongan ingin berterus-terang dengan Arga. Tiba-tiba kebutuhan untuk bercerita menjadi begitu mendesak. Mulutku akhirnya terbuka, berniat membagi cerita. Namun, urung ketika mendengar Dita dan Indra yang datang menyapa Arga dengan penuh keakraban.             “Ga! Kalian besok, rencananya mau ngapain?” tanya Indra.             Sontak pandangan Arga beralih pada Indra. Aku ikut menyambut kedatangan sepasang suami istri seperjalanan itu dengan senyuman. Dita dengan ramah bertanya padaku, “Masih mabok laut, kak? Masih berasa mual, Kak Nila?” Aku menggeleng dan hanya tersenyum saja untuk menjawab pertanyaannya.   Setelah itu dia beralih menegur Tammi. Kulihat ada kecocokan di antara mereka berdua saat berbincang. Seperti gayung bersambut, Dita dan Tammi mengobrol berdua. Sedangkan Arshi bergabung mengobrol dengan Indra dan Arga. Dari obrolan mereka, aku mendengar rencana esok pagi, memancing ikan di laut. Usai berbagi segala macam informasi, akhirnya dua kelompok kecil itu pun membubarkan diri. Aku yang hanya menjadi pendengar, merasa cukup memberikan anggukan saat Dita dan Indra undur diri. “Bye, Kak Nila!” ucap Dita. “Selamat malam, Kak Nila.” Indra tak mau kalah memberi salam padaku. Kedua pengantin baru yang masih terlihat jelas sisa malam berinai pada kedua belah kuku-kuku tangan mereka itu segera berlalu. Dengan perasaan ikut senang pandanganku menghantarkan mereka berjalan menuju pondoknya. Namun, sekonyong-konyong mataku menangkap gulungan angin yang berputar menyambar-nyambar mereka berdua hingga menyelimuti indra seorang saja. Kukerjapkan mata, mencoba melihat lebih jelas lagi. Detik berikutnya hal aneh pun terjadi. Saat Indra sekali lagi menoleh ke arah kami, aku melihat wajah yang berbeda terjiplak di sana. Ada bayangan wajah lain pada wajah aslinya. Terlihat melekat dan saling membayangi. Sontak membuatku terperangah dengan bulu kuduk mendadak meremang. Hembusan angin tiba-tiba terasa sedikit lebih kencang. Bersamaan dengan itu, gulungan angin yang menyelimuti Indra pun ikut melesat. Akan tetapi, sebelumnya seperti sengaja menerpaku hingga butir pasir yang terbawa bersamanya bersarang pada mata. Aku sontak memejam. “Angin lautnya tiba-tiba kencang, Nil. Duh, kamu gak pakai jaket, ya?” Kudengar Arga mempermasalahkan kelupaanku memakai jaket. Aku tidak menyahut karena masih sibuk dengan rasa perih akibat beberapa butir pasir yang mampir ke mata. Masih terus memicing saat Arga memakaikan jaketnya untukku. “Kamu kenapa, Sayang? Kena pasir, ya?” Pertanyaannya yang lain singgah ke telingaku. Setelah itu, terasa tangan Arga mencoba membuka mataku. “Sini coba aku tiup!” Seperti tidak punya daya, aku biarkan Arga berkutat dengan apa yang dilihatnya terjadi padaku. Lelaki tampan itu sibuk meniup-niup kedua mataku. “Udah enakkan belum, Sayang?” tanya Arga ditengah usahanya. Akhirnya aku mengangguk. Padahal, bukan karena rasa perih itu sudah berkurang, tetapi karena kasihan dengannya yang tidak berhenti berusaha membuatku nyaman. Sekonyong-konyong, aku menjadi begitu sedih dan terharu. Bulir air mata tiba-tiba saja memenuhi rongga mata dan menetes tanpa bisa ditahan. “Perih banget, ya?” tanya Arga lagi. Aku mengangguk dan refleks ingin mengusap mata dengan tangan. “Jangan! Jangan dikucek! Biar pasirnya keluar terbawa air mata,” pinta Arga sambil menggenggam kedua belah tanganku. “Kak Nila, kelilipan?” tanya Tammi yang duduk di belakang. “Iya, tuh! Tadi angin lautnya kencang banget,” sahut Arshi menjawab pertanyaan istrinya. “Duh, matamu jadi merah banget ini, Nil,” keluh Arga ketika aku mencoba membuka mata sepenuhnya. Spontan Tammi ikut menilikku. “Loh? Ini kena pasir apa alergi, Kak Nila?” tanyanya. Aku tak punya alergi makan makanan laut. Ingin sekali menjawab pertanyaan Tammi dengan sanggahan. Akan tetapi mulutku seperti tak mau bergerak. Aku hanya bisa merasakan mata yang mengerjap dan memandangi mereka. “Kita pulang ke pondok aja, yuk, Sayang!” Arga bergegas dan segera membuat keputusan. Tanpa berkata apa-apa kuikuti dirinya yang segera bangun dari duduk. “Tam, Shi! Aku bawa Danila kembali ke pondok! Kalau bisa kalian jangan terlalu malam tidurnya, supaya besok kita bisa mulai lebih pagi memancing,” usul suamiku itu dengan mereka. Beberapa jenak kubiarkan dia sibuk mengatur acara besok. Setelah itu, segera menerima uluran tangannya saat ingin menuntunku kembali ke pondok. Tiba di depan pintu pondok. Bulu kudukku yang meremang spontan menghilang ketika sempat mengucap basmallah dan salam dalam hati sebelum masuk. “Nil, kita langsung istirahat, ya! Kayaknya kamu kelelahan sampai buat bicara aja males,” celoteh Arga saat mengunci pintu pondok kayu tempat kami menginap. Tak lupa pula dia memeriksa satu-satunya jendela pondok yang terletak di samping. “Iya, Ga,” sahutku. Spontan lelaki kesayanganku itu menoleh. Kernyit halus timbul di pangkal hidungnya yang bangir. Sambil mendekat perlahan tatapannya menilikku. “Ada masalah apa, Sayang? Dari tadi banyak orang yang mengajakmu bicara, tapi kamu tidak menjawab.” “Banyak orang?” tanyaku tidak mengerti. “Ya. Dari Bang Samsul, Dita, Tammi, bahkan aku berkali-kali bertanya, tapi gak kamu tanggapi. Ada apa?” tanyanya hati-hati sambil mendudukkanku di tepi ranjang. Sececah aku mencoba mengingat-ingat sementara Arga sengaja berlutut untuk memeriksa mataku yang sebelumnya dikatakan memerah. Dengan sebelah tangan dia memegang kepala dan sebelahnya lagi sengaja membuat mataku membeliak. “Hm, secepat ini hilangnya? Matamu gak merah lagi sekarang. Alhamdulillah, bukan alergi” gumamnya seperti sengaja diperdengarkan. Lantas, sejurus dia duduk di samping sembari menggenggam sebelah tanganku.  “Ada apa, Sayang? Kenapa kamu tadi terlihat kosong dan tidak merespons siapa pun? Ada yang kamu gak suka? Atau jangan-jangan kamu marah sama aku?” Pertanyaan Arga terdengar bernada begitu hati-hati. “Gak, kok, Ga. Tadi aku ngerasa biasa-biasa aja.” “Tadi kamu blank, Sayang. Kamu kosong.” Arga menekankan kata itu padaku dan aku sama sekali tidak merasakan hal itu, kecuali mulut berat dan rasa terkunci. Mungkin karena melihatku kembali terdiam, akhirnya Arga memutuskan untuk segera beristirahat. “Baiklah, sebaiknya kita tidur sekarang! Mungkin kamu benar-benar lelah. Kita ngobrol besok aja, kalau kamu sudah merasa enakan!” Tanpa menunggu respons apa-apa dariku, sejurus dirinya bangkit lalu melucuti pakaian hingga tersisa pakaian dalam saja. Demikian biasanya Arga kalau tidur tanpa piyama. Menjadi kebiasaanku juga sejak menjadi istrinya. Kairo, 21/07/2021 **WMB**
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD