Kusempatkan berwudu dan mengerjakan salat witir tiga rakaat sebelum naik ke peraduan dan masuk dalam pelukan lelaki kesayangan. Perasaan tenang dan damai segera kuperoleh. Bahkan ketakutan akan sesuatu yang tidak nyata itu ikut berkurang. Rasa nyaman pun terundang.
“Hmmm, harum.” Gumam Arga saat menyambutku dalam dekapannya. “Jadi seger … bening …,” komentarnya berlanjut sambil selintas mengecup dahi.
“Memang tadi aku gak seger, gak bening, ya, Ga?”
Aku menengadah menanti jawabannya. Jarak wajah yang tak sampai sejengkal membuatku tidak dapat melihat ekspresinya dengan jelas, dia terlihat menjadi buram.
“Iya, seperti orang kelelahan dan kebingungan,” sahutnya.
“Iya. Tadi aku ketakutan sampai bingung mau cerita sama kamu atau tidak.” Akhirnya pengakuan itu meluncur dari mulutku.
“Takut apa?”
“Takut hantu, Ga.”
“Ih, istriku lucu. Sudah gede, kok, takut hantu,” komentarnya sambil menjawil pucuk hidungku.
“Beneran, Ga. Aku ngerasa beda begitu sampai di sini.”
“Tempat baru memang akan menimbulkan perasaaan beda, Danila Sayang. Untuk itulah orang-orang pergi berekreasi.”
“Tapi ini perasaan berbeda dalam arti negatif, Ga. Aku seperti bisa melihat dan merasakan yang aneh-aneh. Terus ada bau busuk yang bikin merinding dan bulu kudukku meremang.”
“Kamu lagi mengarang cerita horror supaya bikin aku ketakutan, ya? Gak bakal berhasil, Nil.” Arga mencubit halus pipiku.
“Aku serius, Ga! Aku serius! Kan, tadi kamu yang bilang aku berbeda.”
Sejurus dia menghela napas. Tubuhnya yang miring mengarahku direbahkan penuh sekarang. Ganti aku yang memiringkan badan dan mengalih fungsikan dadanya menjadi bantalan kepalaku.
“Begini! Kita memang harus percaya kalau makhluk gaib itu ada. Di mana-mana memang mereka ada. Bahkan sebenarnya kita hidup berdampingan tapi masing-masing dengan urusannya. Nah, ada urusan apa mereka denganmu? Memang kamu punya hutang sama mereka?” jelasnya diakhiri pingkal kecil.
Keseriusanku mendengarkan langsung buyar ketika sadar penjelasannya berujung canda. Spontan aku berbalik 180 derajat, menjadi memunggunginya.
“Aku serius, Ga. Aku bisa lihat sosok lain yang kalian gak bisa lihat dan ada bau busuk pada waktu-waktu tertentu, juga ada hawa panas.”
“Ih, kok, segitu marahnya, sih, Sayang? Oke, maaf tadi bercanda. Tapi yang jelas, apa pun keadaanmu, aku tetap bersamamu, `kan? Aku gak akan membiarkanmu jika dalam bahaya,” bujuk Arga cepat sambil membelai rambutku yang tergerai.
Kembali aku berbalik. Kini menelentang merebahkan diri sepenuhnya, agar bisa memandang wajah suamiku lagi. Tangan Arga yang tadi terulur untuk membelai rambut kini berganti tugas menjadi mengusap pipiku dengan punggung jari-jarinya.
“Kupikir, bau busuk itu bisa saja karena binatang atau hewan liar yang mati di sekitar sini. Tempat ini, `kan wisata alam, Nil. Masih banyak bagian yang alaminya.” Arga melanjutkan penjelasannya sambil terus mengusap pipiku.
“Tapi, Ga?”
“Gak ada tapinya, Sayang,” bisiknya lirih sambil mengecup halus telinga.
Sebenarnya aku masih keberatan dengan tanggapannya, tetapi rasanya tidak akan dapat memperoleh tanggapannya yang lain lagi. Ketika menyadari perhatian lelakiku itu telah berganti. Dia lebih fokus memandangi wajah sementara tangannya intens menjalari kulit terbukaku di mana-mana. Sejurus kepalanya malah turun sejajar d**a, berkutat menghangatkanku di sana. Pillow talk itu pun mendadak berubah menjadi ajang membunuh rindu sekali lagi. Tanpa dapat ditolak, dicegah, atau dihalangi, kami berdua terbakar semangat berbulan madu kembali.
“Ga!”
“Hm.”
“Jangan lupa baca doa!”
“Doanya sudah dari tadi, Sayang.”
**WMB**
Alarm di ponsel pintar yang aku atur agar berbunyi sebelum masuk waktu subuh, telah terdengar. Tubuh yang terasa penat membuatku malas beranjak. Sementara dengkur halus Arga yang terdengar meningkahi bunyi alarm dari ponsel yang buru-buru kumatikan membuatku bersemangat tertidur kembali. Bunyi Alarm sebelum subuh itu pun terabaikan.
Saat kedua kalinya aku terjaga, ternyata Arga telah lebih dulu bangun. Kudengar bunyi air dari shower yang mengucur di kamar mandi. Entah kenapa, rasanya mataku semakin berat dan sulit untuk dibuka. Sekembalinya Arga naik ke atas ranjang dengan tubuh yang hangat membuatku justru mulai terbuai lagi untuk terpejam.
Lelakiku itu kembali memeluk dari belakang. Menyelipkan tangannya di antara tubuhku dengan posisi tertidur setengah menelungkup di atas ranjang.
Kusambut tangannya untuk mendekap, karena suhu pagi hari yang dingin membuatku membutuhkan rasa hangat yang lebih. Tangannya kian kurapatkan sampai menyentuh d**a. Sampai … kepalaku memberi pesan peringatan. Saat rasa hangat yang kudapat lebih dari sekadar rasa hangat biasa.
Tangan dalam dekapan itu kurasakan memanas. Ketika meraba bentuknya pun tidak biasa. Terasa pipih, keras, dan berbentuk segitiga. Spontan aku mencampakkan sesuatu yang kukira tangan itu ke luar dekapan sambil mengucap ta’awuz.
Rasa pelukan hangat di punggung segera menghilang. Setelah itu, terdengar desauan angin kencang di telinga bersamaan dengan tertangkapnya wujud gulungan angin berwarna hitam pekat yang melesat. Begitu kerasnya gulungan angin itu berembus hingga bunyi tamparannya terdengar saat menerobos daun jendela.
Sontak aku bergidik. Rasa takut luar biasa segera terundang. Bahkan tereskalasi dengan cepat. Pasalnya, lepas dari keterkejutan merasakan sentuhan makhluk tak kasat mata, aku kembali dikejutkan dengan bayangan hitam yang mengintai di sudut ruangan.
“Arga!” Aku terpekik keras memanggil nama lelaki yang telah berjanji tidak membiarkanku dalam bahaya.
Tak ada sahutan. Sepertinya Arga tidak mendengar, mungkin karena teriakanku tenggelam oleh bunyi kucuran air dari shower.
“Arga!” pekikku sekali lagi sambil menutupi tubuh lebih rapat dengan selimut dan mulai menggigil ketakutan.
Masih saja tidak ada sahutan.
Tubuhku semakin bergetar hebat, jantung berdentam keras, napas tersengal sehingga d**a pun menjadi sesak, seiring meningkatnya rasa takut. Ketika bayangan itu mengejawantah pelan-pelan menjadi sosok berbaju hitam dengan ponco yang menutupi kepala dan wajahnya.
“Ar-“ Aku ingin memekikkan nama itu kembali. Akan tetapi, sekonyong-konyong tenggorokanku tercekat. Suara yang aku teriakkan terasa seperti tertelan.
Sosok itu semakin mendekat. Sambil menahan seluruh efek rasa takut yang timbul, akhirnya terlintas dalam pikiran untuk membacakan surah An-Nas. Walaupun hanya di dalam benak, ‘Qul a'ụżu birabbin-nās. Malikin-nās. ilāhin-nās. Min syarril-waswāsil-khannās. Allażī yuwaswisu fī ṣudụrin-nās. Minal-jinnati wan-nās.’
Usai membacakan surah An-Nas dalam benak, buru-buru aku memejamkan mata karena sosok itu sudah semakin dekat. Namun, sebelum mataku benar-benar tertutup rapat, bayangan hitam itu melesat menerobos pintu tanpa dibuka. Bersamaan dengan terbukanya pintu kamar mandi dan Arga muncul keluar dari sana.
Spontan dia mencampakkan handuk yang digunakannya untuk mengeringkan rambut secara sembarang, ketika tatapan matanya mendapatiku menggigil ketakutan.
“Nil? Kamu kenapa?” Dirinya menyerbuku dengan tanya dan langkah yang memburu.
Aku belum bisa berkata apa-apa. Leherku masih terasa tercekat dan napas pun masih tersengal. Hanya bisa segera menghambur dalam pelukannya dan menangis di sana.
“Aku di sini. Aku di sini. Aku di sini!” Arga berulang mengucapkan kata itu seperti ingin menenangkanku dengan cepat.
Dibiarkannya aku menumpahkan tangis ketakutan itu lebih dulu sehingga nyaris reda. Setelah itu, barulah Arga kembali bertanya dengan nada rendah dan lebih tenang.
“Kamu kenapa, Sayang? Tadi mimpi buruk, ya?”
“I-i-ini bukan mimpi buruk, Ga!” sahutku cepat di antara sengal tangisku yang mulai mereda.
**WBM**
Entah kenapa, pertanyaannya yang bernada seperti tidak percaya di telinga itu, sekonyong-konyong membuatku meradang. Kudorong tubuhnya agar menjauh setelah itu.
“Aku beneran gak lagi mimpi, Ga! Aku sudah bangun! Aku gak tidur!”
Reaksiku yang tinggi membuat Arga tercengang. Apalagi aku sambil melotot-lotot dan menyergahnya.
“Oke, oke, oke Sayang. Aku hanya bertanya. Aku gak keberatan mendengarkan ceritamu. Supaya aku tahu apa yang sedang kamu hadapi dan rasakan. Tapi, jangan marah! Kok, jadi galak, sih, Sayang?”
Tangisku yang tersengal-sengal memang berubah menjadi bentakkan yang meledak tadinya. Sebelumnya aku tidak pernah bersikap seperti itu, apalagi dengan suamiku. Perlahan aku berusaha menguasai emosi negatif yang rasanya terlalu cepat tereskalasi. Kuhela napas sambil berucap istigfar berulang-ulang.
Arga yang tadi kudorong hingga pelukannya terurai kembali berani merangkulku dalam dekapannya. Aku tahu dia sangat khawatir. Bisa aku rasakan usapan lembut di kepala sebagai wujud kepeduliaannya. Hal itu tidak mungkin salah. Memang demikianlah Arga saat mengekspresikan rasa cintanya yang dalam.
“Aku tidak mengerti apa yang kamu hadapi barusan. Kamu bisa cerita denganku, Sayang. Jika memang rasanya berat sekali untuk melanjutkan acara kita pelesiran ini, sebaiknya kita pulang saja,” ucapnya runtun di telinga.
Mendengar kata pulang, sontak terbayang kebahagiaan Tammi dan Arshi yang sedang benar-benar menikmati bulan madu mereka. Ada perasaan bersalah yang terselip dalam hati jika sampai dirikulah yang membuat perjalanan bulan madu mereka menjadi berantakan.
Dalam pelukan Arga, kutarik napas dalam-dalam, lalu kuembuskan perlahan-lahan.
“Kasihan Tammi dan Arshi,” ucapku pelan sambil mengurai pelukan lelakiku itu.
“Gak apa-apa. Mereka pasti mengerti. Atau jika mereka mau melanjutkan tanpa kita, kupikir itu lebih baik.”
Tawaran Arga membuatku menjadi berpikir dua kali, seketika itu mendadak menjadi bingung. Apalagi tatapan lelakiku itu benar-benar menunjukkan kesungguhannya. Ajakkan Arga seperti menandakan dirinya tidak menyangkal apa-apa yang aku katakan barusan. Padahal, aku belum sama sekali menceritakan secara detil tentang apa yang aku hadapi sebelum dirinya keluar dari kamar mandi tadi. Namun, tawarannya untuk pulang itu, entah kenapa sulit untuk langsung aku setujui.
Akan tetapi, sebelum sempat aku membuat sebuah keputusan, terdengar pintu pondok di ketuk dengan cukup keras.
“Assalamualaikum!” Diikuti salam dengan suara lantangnya Arshi.
Hal itu mengagetkanku juga Arga. Terburu aku bangun dari ranjang. Arga pun sigap menutupi tubuhku dengan selimut karena usai bercinta malam tadi tidak sempat mengenakan sehelai benang pun. Tak lupa sambil menyahuti salam adiknya, “Waalaikumussalam, sebentar Shi!”
Setelah itu, cepat dia mengantarkanku ke kamar mandi. Akhirnya ketakutanku berkurang seketika itu juga. Kehadiran Arshi dan Tammi saat aku dalam keadaan tidak berbaju rasanya sama menakutkan dan mengagetkan dengan penampakan tadi. Tanpa pikir panjang aku segera mandi lalu bergabung dengan mereka setelah menunaikan salat Subuh yang kesiangan.
“Ehem, jarang-jarang, Danila salat gak tepat waktu. Bertempur berapa ronde, lu, malam tadi?” celoteh Arshi sambil cengar-cengir menggoda Arga.
Suamiku cuma melengos. Sebagai ganjarannya, Arshi justru mendapat protes keras dari Tammi.
“Abang gak sopan, nih!”
“Ih, becandanya lelaki, ya, begitu, Tam!” sahut Arshi terdengar begitu terbukanya pada Tammi. Tak peduli dirinya saat dicemberuti istrinya. Setelah itu, keduanya bertengkar kecil, tetapi penuh kemesraan.
Sementara itu, aku mengambil kesempatan membuatkan empat cangkir teh tanpa bertanya dan diminta. Sengaja aku melakukan itu agar tidak perlu menonton keintiman kedua adik iparku itu. Selain itu, juga berusaha mengenyahkan ingatan yang menakutkan sebelum mereka datang tadi.
Sekali lagi Arshi melancarkan candaannya saat melihat Arga bergegas mengerjakan salat Subuh yang belum sempat dia kerjakan. “Ya ampun, jadi lu juga belum salat Subuh, Ga? Jangan-jangan waktu aku datang tadi kalian baru selesai.”
“Bang Arshi!” pekik Tammi tidak suka dengan candaan khas lelaki.
Sedangkan Arga tidak bergeming. Dia cukup khusuk mengerjakan ibadah wajib itu. Akan tetapi, usai dirinya mengerjakan salat wajib dua rakaat itu, Arga melempar Arshi dengan sandal khusus kamar yang dipakainya.
“Kalau orang lain lagi salat, lu jangan jadi setannya!” desisnya pedas.
Gesit Arshi menangkap sendal yang dilemparkan Arga sebelum mengenai wajah tampannya. Bersamaan dengan selesainya aku menyeduh empat cangkir teh untuk kami semua. Segera kubagikan lebih dulu pada Arshi untuk membungkam mulutnya, atau paling tidak mengalihkan pikiran adik ipar lelakiku itu pada hal lain.
“Gulanya berapa ini, Nil?” tanyanya ketika menerima cangkir teh miliknya.
“Satu sendok,” jawabku singkat saja.
“Uhm, aku suka yang manis. Tam, tolong tambahin gulanya satu sendok! Atau aku pinjam jarimu saja!” ucapnya sambil meraih cepat tangan istrinya lalu mencelupkan kelingking Tammi ke dalam tehnya.
“Argh!” pekik Tammi tertahan.
Arshi seperti tidak menyangka aksinya membuat Tammi benar-benar merasa sakit. Akhirnya dia sibuk sendiri menolong Tammi meredakan rasa panas yang diperolehnya tiba-tiba. Berdua mereka meniup jari kelingking yang dicelupkan ke teh tadi.
Aku dan Arga sedikit kaget dengan hal yang dilakukan Arshi pada awalnya. Setelah itu, aku terpingkal kecil ketika Arga berkomentar panjang.
“Mau ngegombalin istri bilang dia manis kayak gula gak begitu caranya, Shi! Cukup dipandangi saja waktu kamu minum. Masa jari kelingkingnya lu celupin ke teh panas! Kasihan, `kan, teh lu jadi kotor! Kali aja kelingkingnya abis ngebersihin hidung!”
“Abang Arga!” sungut Tammi sambil melotot. Terlihat benar dirinya keberatan menerima seloroh seperti itu.
“Istri gue gak jorok, Ga!” sahut Arshi cepat untuk membela Tammi, sambil tatapannya tertuju padaku. Akan tetapi, Arshi tidak berani berucap satu patah kata buruk pun tentang aku.
“Maksud lu, istri siapa yang jorok, Shi?” tegas Arga bertanya sambil memasang wajah angker.
“Ya … istri-istri orang di luar sana. Istri lu sama istri gue gak ada yang jorok,” ujar Arshi buru-buru membuatku dan Arga tersenyum.
Hari sebenarnya masih terlalu pagi untuk memulai kegiatan memancing. Arshi dan Tammi ternyata sengaja menyambangi lebih pagi untuk mengajak kami untuk sarapan di restoran pondok. Setelah itu, akan segera mencari anak-anak penduduk pulau Kapo-kapo ini untuk memancing gurita sekaligus untuk menyewa perahu mereka. Ternyata demikian arahan dari Bang Samsul, si pemandu wisata malam tadi.
Dua adik iparku itu terlihat sangat bersemangat. Hal itu membuatku merasa tidak berdaya ingin meninggalkan mereka berdua dengan alasan apa pun. Meski sebenarnya tidak akan berpengaruh pada kebahagiaan mereka. Namun, rasanya akan berbeda saat pergi bersama, tetapi tidak pulang bersama pula.
“Tam, buruan habiskan tehnya!” perintah Arshi pada perempuan yang baru dinikahinya selama sebulan itu.
Tanpa banyak tanya Tammi menenggak teh manis hangat dalam cangkirnya dengan segera. Arga pun kulihat menandaskan teh itu sebelumnya. Hanya aku yang belum menghabiskan teh dalam cangkirku.
“Shi, kamu tunggu aku di restoran pondok. Sebentar lagi aku akan ke sana juga!” Perintah Arga sementara matanya lekat menatapku.
Seperti mengerti dan menangkap ada hal yang akan kami bicarakan, Arshi segera mengajak Tammi untuk beranjak pergi.
“Yuk, Tam! Kita duluan! Mereka bakal nyusul kita sebentar lagi.”
“Iya, kita duluan aja, Bang Arshi! Jadi bisa pilih tempat duduk strategis,” sahut Tammi sambil tak sungkan bergelanyut manja pada lelakinya.
Mereka pun pergi tanpa mengucap salam. Terlihat betul sudah siap untuk pergi mengarungi lautan. Mataku tak sengaja menangkap sebotol lotion anti sinar matahari yang berada di tas jinjing Tammi.
“Nil! Kamu mau pulang sekarang?” Pertanyaan Arga membuat perhatianku pada Arshi dan Tammi terlepas.
**WMB**
Kairo, 14/08/2021