bc

Christopher si Psikopat

book_age18+
315
FOLLOW
1.7K
READ
dark
arrogant
manipulative
drama
evil
virgin
like
intro-logo
Blurb

Christopher Alexander. Pria berdarah dingin keturunan Asia yang tak akan segan membunuh siapa saja yang akan menghalangi jalannya dan mengganggunya. Tampan dan digilai banyak wanita. Tapi tidak ada yang tau bahwa pria itu sangatlah kejam tidak berperasaan.

Lalu pertemuannya yang disengaja dengan gadis berkebangsaan Rusia yang saat itu sedang berkunjung ke Thailand. Sarah Alana Benjamin, orang-orang terdekatnya memanggilnya Cala. Gadis ceria yang menyukai Travelling.

Seketika keceriaan itu sirna ketika dirinya bertemu dengan Christopher. Pria kejam berhati iblis. Dan Cala sangat membencinya.

chap-preview
Free preview
1. Pria Berdarah Dingin
Christopher Diwei Alexander. Pria berdarah dingin blesteran China - Inggris yang menetap di Thailand itu tak akan segan membunuh siapa saja yang akan menghalangi jalannya dan mengganggunya. Tampan dan digilai banyak wanita. Tapi tidak ada yang tau bahwa di balik wajah tampannya pria itu sangatlah kejam tidak berperasaan. Lalu pertemuannya tidak sengaja dengan gadis berkebangsaan Rusia yang saat itu sedang berkunjung ke Thailand. Sarah Alana Benjamin, orang-orang terdekatnya memanggilnya Cala. Gadis ceria yang menyukai Travelling. Seketika keceriaan itu sirna ketika dirinya bertemu dengan Christopher. Pria kejam berhati iblis. Dan Cala sangat membencinya. °°°°° "Papa, besok aku akan berangkat ke Thailand." Suara lembut seorang gadis menyapa pendengaran Benjamin. Pria tua itu menatap anak satu-satunya. Calanya sudah tumbuh menjadi gadis dewasa yang ceria sekarang, hingga Benjamin tidak ingat kapan terakhir kali ia menggendong putrinya. Mengantarkannya sekolah, dan bertanya meskipun sekedar, “Apa di sekolah semua baik-baik saja?” Ia terlalu sibuk mengurusi pekerjaannya. Menjadikannya pria yang gila kerja, tapi semua itu Benjamin memiliki alasan dan di balik itu semua hanyalah pengalihannya untuk tidak selalu mengingat istrinya, ibu Cala—Bella. Istrinya meninggal ketika dalam keadaan sakit. Benjamin tersenyum menatap anak gadisnya. "Berapa lama kau akan di Thailand, sayang?" Cala diam sejenak. "Mungkin sepekan.'' Benjamin mengangguk mengerti. Dulu setelah kepergian ibunya Cala selalu murung dan berdiam di kamar. Lalu Benjamin menyibukkan diri dengan bekerja. Kematian Bella membuat keduanya tidak lagi berkumpul seperti dulu. Semuanya berubah. Seakan rumah yang dulu ditinggali oleh keluarga yang harmonis menjadi sepi seperti tak berpenghuni. Lalu Cala yang lelah selalu murung, meratapi kepergian Bella mengalihkan semuanya dengan travelling. Memutuskan untuk mengunjungi wisata-wisata di berbagai belahan dunia. Selama dua tahun, Cala sudah mendatangi hampir lima puluh negara. Dan Benjamin menyetujuinya, mungkin dengan begitu Cala tidak akan sedih lagi. Begitu pikirnya. Benjamin juga merasa mampu maka dari itu permintaan Cala diturutinya semua. "Baiklah, besok akan Papa antar kamu." Cala menatap Benjamin. "Apa Robert tidak bisa mengantarkanku?" Benjamin menggeleng. "Papa hanya ingin mengantarkanmu saja. Apa itu tidak boleh?" Cala terkekeh. "Tentu saja boleh, Pa!" Tiba-tiba saja hatinya menghangat. Karena sejak dulu selalu Robert yang mengantarkannya dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun Benjaminlah yang akan mengantarkannya. Cala paham mengapa papanya seperti itu, maka dari itu ia tidak pernah mempermasalahkan dan meskipun papanya seperti itu Cala tetap menyayanginya. Ia memilih diam. Karena hanya Benjaminlah sekarang orang tua yang ia miliki. "Apa kau sudah menyiapkan semua keperluanmu, sayang?" tanya Benjamin. Dengan berani Cala menyandarkan kepalanya pada bahu Benjamin membuat pria paruh baya itu terkejut. Lalu sedetik kemudian terbitlah senyuman dari bibirnya. "Aku sudah menyiapkannya. Semuanya sudah beres, Pa." Benjamin mengangguk. "Jika begitu tidurlah. Sudah larut malam," ujarnya. "Aye-aye captain!" jawab Cala tersenyum lebar. Mungkin ini akan menjadi awal yang indah untuknya. °°°°° Pria bertubuh tegap keluar dari sebuah ruangan. Mata sipitnya yang tajam menatap depan, rahangnya begitu tegas. Senyum puas terbit dari bibirnya, seperti sebuah seringaian. "Buang mayatnya dan jangan meninggalkan jejak!" Perintahnya dengan suara yang maskulin tetapi terdengar tegas. Seorang pria yang menjadi bawahannya mengangguk, tanpa menjawab langsung bergerak menuju ruangan yang tadi sempat didatangi Christop. Ya, Christopher Diwei Alexander. Seorang psikopat berdarah dingin blesteran China-Inggris. Tidak hanya psikopat, Christop juga seorang mafia. Semua orang yang berurusan di dunia underground sudah dipastikan mengenal siapa itu Christopher Diwei Alexander. Pria kejam berhati iblis tanpa belas kasihan. Christoph melangkahkan kakinya keluar menuju bugatti berwarna hitam kesayangannya yang sudah terparkir di depan pintu. Melajukan mobilnya di atas kecepatan rata-rata, Christop tersenyum lebar. Entah ini target yang sudah keberapa kalinya ia tidak tau. Yang terpenting ia sudah merasa puas sekarang bisa membunuh seorang politikus terkenal di negaranya dengan tangannya sendiri. Christop melajukan mobilnya menuju bandara, siang ini ia harus pergi ke China karena ada seseorang yang meminta bantuannya. Ia bisa saja menggunakan pesawat pribadi miliknya, tapi entahlah ia hanya tidak ingin sekarang. Ada beberapa alasan yang membuat Christop menjadi dingin dan psycho. Hanya saja alasan itu tidak bisa dijelaskan. Semua akan membuatnya mengingat masa lalu. Dulu, Christop tidak seperti itu. Ia pria yang baik, ramah. Memiliki perusahaan besar yang dikelolanya semua karyawan menghormati dan segan padanya. Tapi tiba-tiba semua berubah begitu cepat. Membuat semua orang bertanya-tanya. Dan sekarang perusahaan yang ditinggali orang tuanya itu ia alihkan pada adiknya, Abraham Diwei Alexander. Ponselnya berdering, tangan kirinya mengambil ponsel yang berada di saku celananya dan tangan kanannya memegang stir mobil. Lalu menggeser tombol hijau, menempelkannya pada telinga. "Aku sedang dalam perjalanan menuju bandara," jawab Christop datar. "Kau tunggu saja,” lanjutnya lalu mematikan sambungan telepon. Tidak bisakah sahabatnya itu menunggunya sebentar. Pria itu bernama Chen Hui Ying. Seorang mafia kelas kakap di China. Christop bisa saja menetap di China, tempat kelahirannya. Tapi ia memilih untuk tinggal di Thailand, mengubah kartu kependudukannya menjadi warga negara gajah putih itu. °°°°° Sesampainya di Shanghai, China–Christop langsung menghubungi Abraham ia memberi tau jika sedang berada di China. "Topher!" Teriakan itu membuat Christop menoleh. Hanya Abraham dan kedua orang tuanyalah yang memanggilnya dengan sebutan Topher. Tersenyum hangat, senyum yang jarang ia perlihatkan ke semua orang. "Bagaimana kabarmu?" tanya Abraham membuka percakapan. Keduanya berjalan beriringan menuju parkiran, lalu masuk ke dalam mobil melajukan mobilnya keluar dari bandara. "Baik. Kenapa bukan Jay yang menjemput? Apa kau tidak ada pekerjaan?" Abraham menggeleng. "Tidak ada. Apa menjemput seorang kakak yang sudah lama tidak bertemu itu salah?" "Tidak," jawab singkat Christop. "Bagaimana kabar perusahaan?" "Baik, awal kau pergi memutuskan untuk mengalihkannya padaku semuanya sedikit kacau dan bermasalah. Tapi aku dengan segera bertindak tegas menanganinya," balas Abraham. "Dan sekarang setiap bulannya selalu mengalami kenaikan keuntungan yang sangat besar." Lanjutnya. Christop mengangguk paham. "Syukurlah. Berarti aku bisa mengandalkanmu." "Tentu," balas Abraham percaya diri. Sesampainya di mansion yang luas dan besar, pagar berwarna putih tulang yang menjulang tinggi terbuka secara otomatis. Abraham melajukan mobilnya masuk melewati pekarangan mansion. Di sana terdapat air mancur, lalu sedikit bendungan kecil yang menyerupai sungai. Christop menatap mansion yang ditinggali kedua orang tuanya, dia dan Abraham dulu. Disini, begitu banyak kenangan yang Christop sendiri tidak bisa melupakannya. "Apa kau rindu suasana dulu?" tanya Abraham begitu memasuki mansion. Beberapa pelayan yang sedang berada di sana menatap terkejut, berharap mereka tidak salah melihat jika majikannya mengunjungi mansion. Karena sudah beberapa tahun terakhir semenjak kematian orang tuanya Christop jarang mengunjungi mansion ini. Christop menempatkan dirinya duduk bersandar di sofa bludru berwarna putih tulang, menghembuskan napasnya matanya menatap sekeliling. Menjelajahi isi yang ada di mansion ini, semuanya masih sama belum berubah. Christop mengangguk. "Tentu. Sudah lama aku tidak kemari." Bahkan foto keluarga yang terpajang di dinding, lalu beberapa foto yang diletakkan di atas meja masih tertata rapi. "Semuanya masih sama," celetuk Christop. Abraham yang duduk di sebelah Christop mengangguk. "Ya. Karena aku tidak berani mengubah ini semua. Terlalu banyak kenangan di setiap letaknya." Christop yang berada di mansion dan di Thailand akan berbeda. Jika di rumah ia akan menjadi orang yang hangat, hanya dengan Abraham. Tetapi jika di Thailand, Christop akan berubah menjadi monster. Menjadi pria yang kejam tanpa belas kasih. "Sampai kapan kau akan berada di sini?" tanya Abraham. "Besok pagi aku akan kembali lagi ke Thailand," balas Christop membuat Abraham membeo. "Secepat itukah, Kak?" Christop mengangguk. "Aku akan ke kamar untuk membersihkan diri. Karena nanti malam aku harus bertemu Chen," ujarnya. "Itu menyangkut pekerjaan?" tanya Abraham. "Tidak usah aku menjawab pasti kau sudah tau Ab." Abraham mendengus, sampai kapan kakaknya akan selesai berurusan dengan mafia itu. Ia hanya tidak ingin kakaknya terkena masalah, karena hanya tinggal Christoplah keluarga yang dipunya. "Dan aku akan berhati-hati, kau tidak usah khawatir." Lanjut Christop menjawab pertanyaan dipikiran Abraham. "Kuharap begitu," jawab Abraham. Di depannya pintu berwarna putih tulang menyambut kedatangannya, masih sama ada sebua gantungan dengan nama Thoper di sana. Christop tersenyum, memasukkan kedua tangannya pada saku celana. Lalu tangan kanannya bergerak membuka pintu. Aroma pinus menyambut penciumannya, kamar yang sangat luas ini masih tertata rapi. Kamar dengan dominan warna hitam dan abu-abu ini memperlihatkan kesan maskulin. Bahkan beberapa lembar foto hasil bidikannya masih pada tempatnya dan kamar ini terlihat bersih, mungkin dibersihkan setiap harinya tanpa merubah tatanan di setiap sudutnya. °°°°° "Apa kau sudah siap, sayang?" tanya Benjamin pada Cala. Gadis itu mengangguk. "Sudah. Ah iya Pa, jalan-jalan selanjutnya aku ingin ke China!" Benjamin tersenyum hangat. "Apa pun untukmu sayang." "Terima kasih, Papa," ujar Cala memeluk Benjamin yang dibalas pria itu. "Sebaiknya kita segera berangkat," ajak Benjamin. Cala mengangguk lalu keduanya berjalan beriringan menuju mobil yang sudah terparkir di halaman depan rumah. Selama perjalanan menuju bandara, Cala tak henti-hentinya bercerita tentang pengalamannya selama ini ketika travelling. Pernah waktu itu, ketika Cala mendatangi Korea Selatan. Ia tak sengaja bertemu dengan para member Exo. Awalnya Cala tidak tau, tapi beberapa orang berbicara menggunakan bahasa inggris yang dimengerti, Cala jadi paham jika mereka adalah boyband terkenal asal Korea Selatan yang banyak digilai kaum hawa dari belahan penjuru dunia. "Dan Papa tau? Mereka sangat tampan, aku jadi ingin menikahi salah satunya, Ah iya dia Jongdae," gurau Cala berangan-angan. Benjamin tergelak. "Berdoalah agar kau dijodohkan dengan salah satunya," jawabnya menanggapi. "Ah, satu negara yang tak akan pernah aku lupakan," ujar Cala. "Negara mana?" tanya Benjamin. "Indonesia, ketika aku datang semua penduduknya ramah-ramah. Dan negaranya sangat unik, dan aku menyukainya. Mungkin Indonesia akan menjadi salah satu daftar negara untukku nanti ketika honeymoon," Cala terkekeh di akhir kalimat menyadari kekonyolannya. "Apa kau sudah memiliki calon?" Cala menggeleng. "Kekasih saja tidak punya." Jawaban Cala membuat Benjamin tergelak kencang membuat Cala memajukan bibirnya kesal. "Sudah sampai," ujar Benjamin memberhentikan mobilnya setelah terparkir. Keduanya turun dari mobil, Benjamin membantu Cala membawa koper gadis itu. Sedangkan Cala hanya membawa tas jinjing berwarna coklat s**u senada dengan dress yang dipakainya. Lalu pemberitahuan jika penerbangan yang akan membawa ke Thailand akan segera berangkat. Cala segera mencium kedua pipi Benjamin, mengambil alih kopernya. Benjamin mengusap kepala Cala. "Jaga diri dan jaga kesehatan. Jika sudah sampai hubungi papa." Cala tersenyum mengangguk. "Pasti!" "Sampai ketemu minggu depan, Pa!" lanjut Cala. "Hati-hati sayang," ujar Benjamin. Selama perjalanan udara Cala hanya menghabiskan waktunya untuk tidur dan mengisi perutnya jika lapar. Sesampainya di Bangkok, Thailand. Cala langsung menuju mobil yang akan membawanya menuju penginapannya. Kemarin, Benjamin sudah menyiapkan seseorang untuk mengantarkannya berkeliling selama di Thailand dan tentu saja akan mempermudah Cala. Cala turun dari mobil, lalu langsung memasuki salah satu penginapan terkenal di Thailand yang sudah di siapkan Benjamin. Cala merasa senang, akhirnya papanya itu memperhatikannya. Dan melupakan pekerjaannya sejenak demi dirinya. Merebahkan dirinya di atas kasur, Cala menatap langit-langit kamar. Koper yang dibawanya masih ia letakkan di depan lemari, mungkin nanti setelah mandi ia akan membereskannya. °°°°° "Kau ingin aku membantumu apa?'' tanya Christop pada pria bermata sipit yang duduk di depannya. Dia Chen. "Aku ingin kau membunuh Frans. Aku akan membayarmu." Christop mendengus. "Tapi aku bukan pembunuh bayaran." "Aku hanya membunuh orang-orang yang menghalangi jalanku dan mengganggu milikku.'' "Tapi aku sangat membutuhkan bantuanmu," balas Chen. "Kau seorang mafia, kenapa bukan kau sendiri saja yang turun tangan?" tanya Christop. Sekarang mereka sedang berada di salah satu Kasino terkenal di kota Shanghai. Banyak orang berjudi, tentu dengan jumlah nominal uang yang sangat besar namun Christop tidak tertarik. Tadi Chen sudah mengajaknya tapi Christop menolak. "Kau tau sendiri Frans itu siapa," jawab Chen. "Lebih baik kau akhiri saja hubunganmu dengan Yura." Chen melototkan matanya. "Tapi aku masih mencintainya.'' "Kau mafia yang payah," ejek Christop membuat Chen mendengus tak suka. "Haruskan aku merengek padamu?" tanya Chen malas. "Kupastikan nanti malam semuanya sudah beres dan besok aku akan kembali ke Thailand.'' "Secepat itukah?" tanya Chen. Christop mengangguk. "Ada urusan yang harus cepat ku selesaikan." "Aku pergi," ujar Christop beranjak dari duduknya. "Kau tidak ingin sedikit bermain?" tanya Chen menawarkan. Christop menggeleng. "Kau saja. Aku tidak berselera."

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Kali kedua

read
223.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
196.3K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
23.6K
bc

TERNODA

read
204.4K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
237.7K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.5K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
23.9K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook