3. I Got You

1109 Words
Matahari mulai nampak, sinarnya mulai menerobos ke celah-celah jendela membuat sang empu yang sedang tertidur terusik. Christop perlahan membuka matanya. Melirik jam di dinding sudah menunjukkan pukul tujuh pagi dan ia sudah tidur sejak tadi sore sehabis Abraham menelponnya. Christop menghela napasnya, nanti siang seorang suruhannya sudah siap dengan dokumen-dokumen yang diinginkan dan ia akan tau secepatnya. Meraih ponselnya, dirinya mencari nomor seseorang. "Nanti siang datang ke mansionku. Jam sebelas aku tunggu dan jangan terlambat," ujar Christop begitu teleponnya diangkat. "Baik, Sir," jawab seseorang dari seberang. Tanpa berujar lagi, Christop memutus sambungan telepon lalu memutuskan untuk mandi. Selesai mandi, Christop melangkahkan kaki keluar kamar. Di meja makan, makanan sudah terhidang. Christop duduk, mulai mengambil daging domba yang dipanggang dan mulai melahapnya. "Topher!" Teriakan itu membuat Christop hampir tersedak karena terkejut. Christop mendelik begitu tau dalang di balik itu semua adalah adiknya sendiri, Abraham Diwei Alexander. "Kau!" geram Christop menatap adiknya penuh kesal. Sedangkan Abraham hanya menatap Christop dengan tampang wajah tanpa dosanya dengan kedua jari yang terangkat membentuk V. Abraham menyengir. "Maafkan aku, Kak. Aku tidak bermaksud mengejutkanmu, hehe." Christop mendengus. "Ada urusan apa kau kemari?" "Berlibur?" Abraham bertanya. "Bagaimana bisa kau berlibur dan meninggalkan pekerjaanmu!" geram Christop menatap adiknya kesal. "Ish!" decak Abraham. "Bukankah tadi sore aku sudah menelpon dan memberi taukan padamu jika aku akan ke Thailand urusan pekerjaan." Lanjut Abraham. "Kau mengatakannya akan ke Thailand ...." "Ya! Dalam waktu minggu ini kakakku." Lanjut Abraham kesal. "Baiklah-baiklah terserah kau saja. Lalu berapa lama kau akan berada di sini?" tanya Christop. "Seminggu, mungkin?" jawab Abraham. "Kau menginap di sini?" Abraham mendengus. "Lalu aku akan menginap di mana jika kakakku saja memiliki rumah di Thailand," ujarnya datar. "Carilah kamar yang kau inginkan, karena aku ada urusan," ujar Christop lalu melanjutkan makannya tanpa peduli dengan Abraham yang melongo. Tanpa disuruh Abraham mengambil kursi untuk duduk disebelah Christop, ikut menyantap makanan yang terhidang dan Chtistop hanya melirik saja tanpa bersuara. °°°°° Pagi ini Cala memutuskan untuk pergi ke pantai Railay hingga sore, lalu setelahnya ia akan mengunjungi Pattaya dan menginap beberapa hari di sana. Cala tertarik dengan Pattaya ketika malam hari. Katanya di sana adalah surganya kaum adam. Di sana lebih enak jika mengunjunginya ketika malam hari. Oh, ia jadi tidak sabar untuk segera sampai di Pattaya. Sesampainya di pantai Railay, Cala langsung meletakkan tas, kaca mata dan topinya di atas meja yang sudah tersedia di pinggiran pantai. Lalu tanpa malunya Cala langsung melepas dress tanpa lengannya itu meninggalkan bikini berwarna pink soft yang melekat di tubuhnya, dan pergerakan Cala tak lepas dari beberapa pasang mata keranjang milik para lelaki yang jaraknya tidak jauh dari tempat Cala berdiri. "Dasar mata keranjang," gumam Cala berdecih kesal, dan itu membuatnya muak. Melangkahkan kakinya mendekati bibir pantai, Cala mulai membidik pemandangan sekitar dengan kamera kesayangannya. "Kau sungguh sexy, Nona." Kalimat yang dilontarkan seseorang membuat Cala menoleh ke kanan dan mendapati dua seorang lelaki sedang menatapnya dengan pandangan menggoda. Cala mendengus, tanpa menjawab ia memutuskan untuk meninggalkan kedua lelaki itu. "Mau ke mana kau?" ujar salah satunya mencekal tangan Cala. Gadis itu menatap kesal, lalu menghempaskan cekalannya. "b******k, lepaskan!" "Wow, kau sungguh galak Nona," ujar pria berambut coklat kemerahan. "Persetan dengan itu, jangan coba-coba menggodaku jerk!" sentak Cala sebelum akhirnya ia memutuskan untuk berlari. Cala membungkuk, mengatur napasnya. "Huft, untung saja," gumamnya, Cala menengok ke belakang dan mendapati dirinya sudah cukup aman dari jangkauan kedua lelaki m***m yang sempat menggodanya. °°°°° Inilah saat-saat yang ditunggu Christop. Di depannya, pria yang mungkin umurnya sekitaran papanya duduk dengan dokumen di depannya. "Ini dokumen sesuai dengan yang anda perintahkan, Sir," ujar pria paruh baya itu sopan. Christop mengangguk, dan langsung mengambil map yang berisikan dokumen itu. Perlahan ia mulai membuka dan membacanya. Christop begitu cermat membacanya, hingga tidak melompati sedikitpun. "Giovanno Benjamin?" gumam Christop. Pria paruh baya bernama Hansel itu menatap Christop. "Dia adalah mantan mafia di Rusia, Sir." Rahang Christop mengeras. "Berita menariknya adalah putri Giovanno sedang berada di Thailand, Sir." Hansel memberi tau. Christop mendongak, menaikkan sebelah alisnya tertarik. Lalu senyum smirk terbit di bibirnya. "Siapa namanya?" tanya Christop. "Sarah Alana Benjamin," jawaban Hansel membuat Christop semakin gencar. Anak dari mantan mafia itu adalah perempuan. Dan ini akan semakin menarik, begitu batinnya. "Cari tau di mana dia sekarang.'' Perintah Christop dengan tegas. "Saya sudah tau, Sir. Dia sekarang sedang berada di pantai Railay lalu sore nanti ia akan menginap di Pattaya." Lagi-lagi jawaban Hansel membuat Christop berdecak kagum. "Aku memang tidak salah untuk mempercayakan semuanya padamu, Paman." Christop menatap pria paruh baya itu kagum. Ya, Christop cukup tau jika pria di depannya adalah kepercayaan orang tuanya sejak dulu dan ia menghargai dan sudah menganggap Hansel sebagai pamannya sendiri, begitupun dengan Abraham. "Terima kasih atas kepercayaanmu," ujar Hansel tersenyum hangat. Ah, Christop jadi mengingat papanya. "Kalau begitu nanti malam mungkin aku akan ke Pattaya dengan Abraham, sedikit mencuci mata." Hansel terkekeh dan menular pada Christop. Hansel pun juga tau kenapa Christop berubah menjadi dingin dan menyuruhnya ikut ke Thailand daripada di China dengan Abraham. "Paman, apa kau memiliki foto anak dari Giovanno?" tanya Christop bersuara. "Aku sudah menyiapkannya di map, baliklah," jawab Hansel memberi tau dan Christop langsung membalik map yang dibawanya. Gotcha! Christop menatap satu lembar berukuran sedang itu. Di sana terpampang jelas gadis bermata hijau dengan rambut coklatnya dengan wajah datar. "Beautiful girl," decakan kagum keluar dari mulut Christop. Sedangkan Hansel menatap Christop dengan tatapan penuh arti. Ada secuil harapan yang ada di hatinya. °°°°° Bulir-bulir keringat sudah membanjiri tubuh Cala, gadis itu mengusap pelipisnya. Pergerakan Cala sungguh menggoda. Sekarang Cala sudah memakai bajunya kembali, dan sore ini ia memutuskan untuk segera ke Pattaya. Sehari sebelum keberangkatannya ke Thailand, Cala sudah menyiapkan semuanya mulai dari penginapan dan sebagainya sehingga tidak menyusahkannya ketika ia sampai nanti. "Kau ingin minum, Nona?" tawar sopir pribadinya yang sudah menua. Cala menggeleng. "Tidak terima kasih. Aku ingin segera sampai di penginapan," jawab Cala halus. Dalam perjalanan Cala memutuskan untuk melakukan video call dengan papanya. Dering ke tiga belum juga diangkat, hingga dering ke lima disana sudah menampilkan wajah Giovanno yang tersenyum. "Papa, Cala rindu," rengek Cala seperti anak kecil begitu wajah papanya terlihat. Giovanno terbahak melihat anaknya yang merengek. "Ah Papa juga rindu sayang." "Kapan kau akan pulang?" tanya Giovanno. Cala diam sedikit berpikir. "Aku akan pulang hari sabtu, Pa." "Baik, nanti jika kau sudah sampai Rusia beri tau Papa. Biar Papa yang menjemputmu." Cala mengangguk antusias, mengacungkan jempolnya. "Siap Papaaa." "Nanti lagi ya, aku sudah sampai di Pattaya." Lanjut Cala. "Bye, Pa!" Sesampainya di salah satu penginapan di daerah Pattaya, Cala segera turun dan melangkahkan kakinya memasuki penginapan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD