5. Gairah

1363 Words
Christop menatap pria di depannya tajam, siapa lagi jika bukan adiknya—Abraham. "Kenapa kau pulang?" ujar Christop dengan ketus. "Kau meninggalkanku!" Abraham berdecih. "Dasar bodoh." "Kau mengumpat dan mengatai kakakmu bodoh? Di mana sopan santunmu!" ujar Christop dengan geram tak terima. Abraham menatap malas Christop. "Tidak usah mengajariku sopan santun. Aku ingin istirahat," ujarnya berlalu tanpa memperdulikan tatapan siap membunuh Christop. "Jika dia bukan adikku, sudah kupastikan dia mati sekarang juga," ujar Christop mendengus—menatap punggung adiknya yang semakin menjauh. Christop terdiam, berpikir. Adiknya itu sepertinya harus segera pergi dari rumahnya. Tidak mungkin jika harus membiarkan Abraham berkeliaran selama satu minggu sedangkan ia sedang menyandera seorang gadis. Dalam hati Christop berdecak kagum, membayangkan tubuh Cala yang menurutnya sangat seksi dan ini menjadi sebuah keberuntungannya. Mungkin sedikit bermain dengan gadis itu sangat menyenangkan. Christop bersiul, lalu melangkahkan kakinya menuju kamar memutuskan untuk membersihkan diri. °°°°° Di dalam kamar, Cala berjalan mondar-mandir. Entah ini sudah ke berapa kalinya, ia tidak tau. Menggigit ujung kukunya, Cala berpikir keras bagaimana caranya untuk keluar dari sini. Mengingat tadi ketika menginjakkan kakinya di rumah ini, beberapa bodyguard tersebar di setiap ujung. "Siapa sebenarnya pria itu?" gumamnya berdecak kesal. Cala terdiam, ia mengira kemarin sebelum berangkat menuju ke Thailand adalah awal yang baik karena papanya sudah kembali seperti dulu bersikap manis dan lembut padanya, tapi ternyata tidak karena sekarang masalah besar menghampirinya. Lelah berdiri, Cala memutuskan untuk duduk di pinggiran kasur sembari memikirkan cara untuk kabur. "Kau tidak tidur, baby?" Suara bariton yang sudah dikenal Cala membuatnya terlonjak kaget. Cala menoleh ke arah kiri, di ambang pintu Christop berdiri dengan pakaian santainya. Membuat Cala tak sadar berdecak kagum dalam hati. Sadarlah Cala! dia itu pria b******k, psikopat yang tiba-tiba menyanderamu! Batin Cala kesal. Menghela napasnya Cala berujar. "Mau apa kau kemari?" "Itu bukan urusanmu dan ya, ini rumahku jadi terserahku," jawab Christop angkuh berjalan mendekati Cala. "Jangan mendekat!" Peringat Cala. Christop menaikkan sebelah alisnya, tersenyum miring dan Cala benci melihatnya. "Siapa kau berani melarangku?" Ketika sudah berdiri di depan Cala, Christop mensejajarkan tingginya. Hidung keduanya menempel napasnya saling beradu, tidak ada jarak di antara mereka. "Besok malam kau dandan yang cantik, aku harus menghadiri pesta temanku." Cala menggeleng keras. "Aku tidak mau," ujarnya menolak. Christop menegakkan tubuhnya. "Jangan menjadi gadis pembangkang, aku tidak suka," ujarnya menekankan kalimatnya, sembari mengusap pucuk kepala Cala. Dan pergerakan itu membuat darah Cala berdesir dan jantungnya berdegup lebih kencang. Ini gila! Batinnya. °°°°° "Ab, sebaiknya kau mencari tempat penginapan," ujar Christop masuk ke dalam kamar Abraham. Abraham yang sedang memainkan ponselnya menoleh, menaikkan sebelah alisnya. "Kau mengusirku?" tanyanya tak suka. Christop mengangguk. "Ya. Aku mengusirmu." Abraham mendengus. "Kenapa kau tiba-tiba mengusirku setelah tadi kau meninggalkanku di Pattaya?!" "Kau banyak dosa padaku." Lanjut Abraham. Christop mendengus, memasukkan tangannya pada saku celana. Berjalan mendekati Abraham. "Aku akan mencarikanmu penginapan dan pergilah besok," ujar Christop mengusir. "Ish," decak Abraham. "Aku tidak mau pergi." Lanjut Abraham bersuara lagi. Christop menatap tajam adiknya, menghela napas. "Jika begitu kau tidak boleh sembarang masuk ruangan di rumah ini." "Memangnya ada apa?" tanya Abraham malas. "Kau menyembunyikan seorang gadis di sini?" Lanjut Abraham menebak. Christop diam. "Aish, kau tidak usah banyak bertanya dan cukup patuhi perintahku!" ujar Christop sebelum melangkahkan kakinya keluar kamar. Meninggalkan Abraham yang sibuk menebak-nebak. °°°°° Tidak akan ada Pattaya, Phuket, The Grand Palace, Krabi dan masih banyak lagi tempat wisata yang ingin di kunjungi Cala. Karena semua itu musnah ketika dirinya bertemu dengan pria b******k yang entah siapa namanya, Cala tidak tau. Cala mendengus. "Aku harus mencari cara untuk kabur," gumamnya sebelum memejamkan matanya. Christop berdiri di ambang pintu, menatap Cala yang sudah tertidur nyenyak. Melangkahkan kakinya mendekat, lalu berjongkok menatap wajah damai gadis itu. "Cantik," gumamnya tersenyum. Tapi tiba-tiba saja senyumnya lenyap mengingat gadis di depannya itu adalah anak dari seseorang yang membunuh kedua orang tuanya. Christop tersenyum menyeramkan, mendekatkan wajahnya pada Cala. Pria itu dapat merasakan hembusan teratur dari gadis di depannya. Dan cup! Bibirnya menyentuh bibir kenyal milik Cala. Sangat manis dan memabukkan. Batin Christop. Lalu tangan kanannya menelusup di balik baju tidur berbahan satin yang sudah disiapkannya tadi untuk Cala. Meremasnya pelan, hingga "Ahh." Gadis itu mendesah dengan memejamkan matanya. Dan desahan yang keluar dari bibir mungil Cala membuat Christop menatap gadis di depannya dengan mata berkabut gairah. Sebelum semuanya terlambat, Christop tidak melanjutkannya dan memilih berdiri meninggalkan kamar Cala sebelum dirinya benar-benar kehilangan kendali dan memperkosa gadis itu di saat tidur. °°°°° Cala terbangun dengan napas tersenggal. Hanya mimpi. Batinnya. Melirik jam di dinding ternyata hari masih gelap, tetapi semua itu terasa nyata, lumatan kecil di bibirnya lalu remasan di dadanya. Cala menggeleng. "Ini sungguh menjijikkan," gumamnya. Jika pun hanya mimpi, tapi bagaimana bisa dirinya memimpikan hal semacam itu. Merasa kerongkongannya kering, Cala berdecak ketika mengetahui di atas nakas tidak ada air. Itu berarti ia harus keluar kamar menuju dapur sedangkan ia sendiri tidak tau dimana letaknya. Ketika Cala akan berdiri, gadis itu tidak jadi dan mendudukkan tubuhnya pada pinggiran kasur. "Tunggu dulu," gumamnya sendiri. "Siapa yang mematikan lampu kamar dan menggantinya menjadi lampu tidur?" gumamnya lagi bertanya pada diri sendiri. Lalu pandangan Cala beralih menatap baju tidur yang diberikan Christop. Ia dapat melihat kancing bawahnya terbuka dua. Cala menatap horor dan memutuskan itu semua bukanlah mimpi tapi kenyataan. Lalu siapa yang berbuat c***l seperti ini? Batinnya berteriak kesal. Lelah memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang muncul di otaknya. Cala memutuskan untuk segera melangkahkan kakinya keluar, mengambil minum. Sungguh, haus ini sangat menyiksanya. Gelap. Sepi. Itulah kata yang terlintas di otaknya, hanya cahayanya remang-remang yang menemaninya sepanjang jalan. Dapat Cala akui jika rumah ini sangat besar bahkan terlewat mewah. Dominan warna putih tulang dan merah maroon. Kaki telanjangnya tanpa alas kaki itu menuruni tangga, hingga membawanya pada lantai satu. Cala memutuskan untuk ke arah kiri, berpikir jika mungkin letak dapur ada di sana. Batinnya berteriak girang ketika sudah menemukan dapur. Dengan langkah lebar Cala mengambil gelas lalu menuangkan air putih dan menegaknya hingga tandas. Cala menghela napasnya, semoga saja tidak ada yang melihatnya di sini. Ketika hendak berbalik, karena penerangan yang sangat minim membuat kening Cala menyentuh sesuatu. Cala mendongak dan akan berteriak jika saja seseorang itu tidak segera membekap mulutnya. Christop menarik tubuh Cala yang masih dalam bekapannya, lalu menekan saklar lampu membuat seketika dapur menjadi terang. "Lepaskan!" kesal Cala menatap Christop tajam. Christop tersenyum miring, perlahan melepaskan bekapannya dan mendekatkan diri pada Cala hingga tidak ada jarak di antara mereka. "Sepertinya kau tidak diajari sopan santun ya." "Jaga ucapanmu!" balas Cala tidak terima. Christop terkekeh, membuat Cala mengernyit. "Lalu apa mengambil minum di rumah orang lain tanpa ijin itu sopan?" "Aku hanya haus, aku butuh minum," jawab Cala. "Bahkan ini sudah larut malam untuk ijin kepadamu!" Lanjutnya. "Ah, mungkin menguncimu di kamar itu adalah yang terbaik," gumam Christop. "Kau tidak bisa seenaknya padaku! Aku ingin pulang, kembali ke Rusia!" Christop menatap Cala tajam, menggeleng tegas. "Kau tidak akan pulang, sebelum semuanya terbalaskan." Cala menatap Chrsitop tidak mengerti. "Apa maksudmu?" Christop tidak menjawab pertanyaan Cala dan malah menarik pergelangan tangan gadis itu membuatnya meringis karena bekasnya yang memerah belum sembuh. "Bisakah kau tidak menggenggam pergelanganku terlalu kuat? Kau menyakitiku!" Cala memprotes. Christop hanya melirik. "Aku tidak peduli." Setibanya di kamar yang Cala tempati, Christop membanting tubuh Cala membuat gadis itu terhuyung dan terjatuh di atas kasur. Berdecih. "Kau!" geram Cala tak terima. Christop menaikkan sebelah alisnya. "Kau harus membayar semua kesalahan Giovanno Benjamin di masa lalu, Sarah Alana Benjamin." Cala terkejut mendengar kalimat Christop. Apa yang sebenarnya terjadi. Batinnya berteriak. "Apa kesalahan yang diperbuat papaku sehingga kau berbuat kejam dan kasar padaku?" tanya Cala emosi. Christop terkekeh, begitu menyeramkan. "Kesalahan yang tidak bisa dimaafkan. Dan kau harus menerima balasannya, hanya kaulah aku bisa membalaskan dendam." Cala mulai menatap Chrisrop was-was dengan perasaan takut. "Apa yang kau inginkan?" "Kematian," jawab Christop santai tapi cukup menakutkan di mata Cala. Lalu Christop berjalan mendekat ke arah Cala, meraih bahu gadis itu dan berkata. "Perlahan tapi pasti. Karena aku ingin Giovanno merasakan apa yang aku rasakan, kehilangan seorang dicintainya dan berarti di hidupnya?" "Menarik bukan?" tanya Christop terkekeh begitu menakutkan membuat Cala tidak sadar sudah mengeluarkan air matanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD