Oscar, Daniela, Natalia, dan Nicole sedang duduk di pinggir pantai, membisu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Oscar, Daniela dan Natalia melupakan permasalahan mereka sejenak, setelah mendengar kabar kematian Juan yang cukup tragis.
"Aku masih tidak percaya, ini terjadi pada Juan" ujar Nicole.
"Kau sudah memberitahukan orang tuanya?" tanya Daniela.
"Ya. Aku sudah memberitahukannya pada mereka" sahut Oscar.
"Apa kita akan pulang?" tanya Natalia.
"Entahlah" jawab Oscar sambil mengambil sebuah ranting kayu yang terdampar kemudian ia menoreh-noreh pasir dengan ranting tersebut.
Ketika mereka sedang melepaskan kesedihan, sebuah bola pantai terlempar dan mengenai punggung Nicole.
"Maaf, aku tidak sengaja melempar bolanya" ujar seorang wanita.
"Tidak apa-apa" sahut Nicole sambil memberikan bola itu kembali.
"Patricia...!!" seseorang pria memanggil wanita itu.
"Ya!!" sahut Patricia.
Pria yang memanggil Patricia tersebut, berlari menghampirinya. Di belakangnya, seorang wanita lain berjalan pelan mengikutinya.
"Mengapa kau melemparnya terlalu tinggi?" kata pria tersebut.
"Aku tidak sengaja Rafael. Lagipula aku sudah minta maaf padanya" ujar Patricia.
"Tidak apa-apa. Aku benar-benar tidak apa-apa" ucap Nicole sambil tersenyum.
"Terima kasih. Temanku ini memang terkadang kurang berhati-hati" kata Rafael.
"Apa? Jangan mengejekku" kata Patricia sambil meninju d**a Rafael pelan.
"Hey, bukankah kau orang yang...?" tanya wanita lainnya yaitu Anna.
Patricia dan Rafael juga mengenali wajah-wajah yang sedang berada dihadapan mereka, terutama wajah Oscar, yang telah membuat kepanikan di kapal wisata Life Friends kemarin.
"Kami... dengar apa yang terjadi dengan teman kalian" kata Rafael.
"Ya. Kami turut bersimpati" lanjut Patricia.
"Terima kasih" sahut Oscar.
Entah kenapa lagi-lagi mereka saling terdiam. Mereka sekali lagi memikirkan kejadian yang menimpa kapal wisata Life Friends dan kejadian yang menimpa Juan tadi siang.
Keheningan itu lagi-lagi buyar setelah muncul seorang pria memakai pakaian menyelam sambil membawa sebuah alat selancar. Pria itu langsung membuka pembicaraan yang menarik perhatian mereka.
"Aku pernah dengar kalau kejadian seperti ini pernah terjadi sebelumnya" ujar pria tersebut.
"Santiago..." sapa Anna pada pria yang sudah ia kenal tersebut.
Santiago tersenyum manis kepada Anna, kemudian ia menancapkan alat selancarnya kedalam pasir.
"Apa maksudmu?" tanya Oscar penasaran.
"Aku pernah dengar, katanya ada rombongan anak sekolah yang hendak berangkat tur ke Paris. Lalu salah seorang siswa berteriak mengatakan kalau pesawat yang akan mereka tumpangi akan mengalami kecelakaan. Ia panik keluar pesawat, bersama beberapa temannya. Ketika pesawat itu berangkat, pesawat itu meledak sesaat setelah tinggal landas" jelas Santiago.
"Apa? Aku tidak percaya dengan hal itu" kata Rafael.
"Dan kalian tahu apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Santiago.
Mereka semua saling pandang karena tidak tahu maksud perkataan Santiago.
"Siswa yang berhasil selamat dari pesawat tersebut...... mereka mati satu persatu dalam kecelakaan yang sangat mengerikan" jelas Santiago.
"Omong kosong, kau menceritakan hal ini hanya untuk menakut-nakuti kita kan?" ujar Patricia.
"Aku tidak mengada-ngada. Dan aku fikir saat ini kita berada dalam kondisi seperti orang-orang yang selamat dari kecelakaan pesawat tersebut" ujar Santiago.
Daniela menatap Oscar yang daritadi hanya diam tidak memberikan tanggapan. Sementara Nicole dan Natalia hanya menghela nafas mendengar cerita Santiago. Mereka sulit memilih antara percaya atau tidak.
"Yang jelas saat ini kita semua harus meningkatkan kewaspadaan. Aku yakin kematian masih mengincar kita semua" ujar Santiago sambil mencabut papan selancarnya kemudian meninggalkan kelompok remaja tersebut.
"Dia hanya mengarang cerita. Jadi jangan dipercaya" kata Rafael.
"Aku setuju denganmu, kita tidak perlu memikirkan ucapan orang itu. Lebih baik kita kembali ke hotel sekarang" kata Patricia.
"All right. Ayo Anna" ajak Rafael pada Anna.
Sementara itu Oscar, Daniela, Nicole dan Natalia masih terdiam tanpa menunjukkan reaksi apa-apa. Mereka masih bingung mengapa harus menghadapi semua ini, disaat mereka seharusnya bersenang-senang karena sedang mengadakan liburan. Namun tujuan liburan yang seharusnya mendatangkan kesenangan, malah membuat semuanya terlihat sedih dan kalut.
"Hari sudah sore, lebih baik kita juga kembali ke hotel" ujar Daniela.
"Ok.. baiklah" sahut Oscar sambil menganggukkan kepalanya sesekali.
Natalia dan Nicole berjalan di depan Daniela dan Oscar. Ketika Oscar hendak meninggalkan pinggiran pantai tersebut, pandangannya tertuju pada gambar yang ia buat di atas pasir tadi. Tanpa sadar kalau ia sudah membuat gambar kepala tengkorak dengan dua buah tulang yang menyilang di bawah kepala tengkorak tersebut. Yang lebih aneh lagi, gambar tersebut tidak terhapus oleh ombak pantai yang sedang mengalami pasang naik.
"Oscar, ayo" suara Daniela membuyarkan perhatiannya pada gambar tengkorak tersebut.
Daniela menarik tangan Oscar sambil tersenyum padanya.
"Tentang kejadian dengan Natalie kemarin, aku benar-benar menyesal. Aku tidak ingin kita berpisah" kata Oscar pelan.
Daniela sedikit menghela nafas. Saat ini sebenarnya ia merasa enggan untuk membicarakan hal tersebut. Namun ia juga berfikir tidak ingin memperpanjang masalahnya dengan Oscar.
"Oscar, sebenarnya aku ingin menyelesaikan masalah kita. Tapi tidak sekarang waktunya. Jika aku sudah merasa siap, kita akan membicarakan mengenai hubungan kita selanjutnya" ucap Daniela.
Oscar hanya diam tidak memberikan tanggapan atas ucapan Daniela.
*****
Nicole dan Natalia sudah tiba di kamarnya terlebih dahulu. Sementara Oscar dan Daniela sedang menunggu di depan pintu elevator. Sekali lagi kejadian aneh dirasakan oleh Oscar. Ia melihat lampu angka-angka penunjuk tingkat lantai hotel yang ada dibagian atas pintu elevator berubah-ubah warna. Sesaat berwarna merah, lalu berubah hijau, selanjutnya berubah menjadi kuning.
"Daniela lihat" ucap Oscar.
"Lihat apa?" tanya Daniela.
Saat Oscar akan memberitahukan keanehan itu, pintu elevator pun terbuka. Dari dalam elevator muncul Mickey dan Renata. Kedua kakak beradik itu hendak pergi melihat-lihat kota Cancun di malam hari.
Oscar sesaat menoleh kearah Mickey yang memakai kaos bergambar sebuah traffic light. Oscar dan Daniela pun masuk kedalam elevator. Ketika pintu elevator akan menutup, pasangan suami istri Lorenzo dan Isabel muncul dan mereka juga ingin menaiki elevator tersebut.
"Aku merasa aneh saat berpapasan dengan mereka tadi" ujar Oscar.
"Ayolah Oscar, jangan berfikir macam-macam" kata Daniela.
"Hey, bukankah kau anak yang kemarin!! Yang membuat keributan itu kan?" kata Lorenzo.
"Lorenzo, jangan bicara seperti itu. Kau menyakiti perasaannya" sahut Isabel.
"Tidak nona, tidak apa-apa" lanjut Oscar.
Tidak lama kemudian pintu elevator terbuka. Mereka berempat keluar elevator tersebut dan menuju kamarnya masing-masing.
*****
Sementara itu, Renata dan Mickey saat itu sedang mengemudikan mobil porsche merah milik Martin. Mickey mengajak Renata keliling kota Cancun, agar Renata bisa melupakan tentang Martin sejenak.
Mickey menyetir mobilnya sambil sesekali melihat kearah Renata yang hanya terdiam sejak mereka berangkat tadi.
"Hey Renata, melihat pemandangan kota ini di malam hari benar-benar indah, ya" kata Mickey yang mencoba menarik perhatian Renata.
Akan tetapi Renata hanya tersenyum sedikit menanggapi pemandangan yang ditunjukkan oleh Mickey.
"Ayolah Renata. Kau harus ceria lagi. Aku tidak ingin selamanya kau seperti ini" ujar Mickey.
"Aku tidak apa-apa. Hanya saja aku masih belum bisa melupakan kejadian mengerikan itu" sahut Renata.
"Aku mengerti. Tapi setidaknya kau harus memberikanku senyuman manismu seperti biasa" rayu Mickey kepada adik satu-satunya yang ia sayangi itu.
Mickey terus mengendarai mobilnya sambil sesekali menunjuk ke beberapa tempat yang menarik. Mobilnya terus melaju sampai hampir tiba disebuah persimpangan empat arah. Ia berhenti di persimpangan tersebut karena traffic light menunjukkan warna merah.
Namun tanpa mereka sadari dari arah lainnya, sebuah truk yang sedang mengangkut beberapa buah tong yang berlogo tengkorak dan dua tulang yang saling silang, melaju kencang. Di belakang truk terlihat dua buah mobil patroli polisi yang sedang mengikuti truk tersebut. Ternyata truk tersebut sedang mengangkut bahan-bahan kimia berbahaya hasil selundupan, dan polisi mengejarnya untuk menangkap pelaku penyelundupan tersebut.
Traffic light kini berwarna hijau, sehingga Mickey pun mengemudikan mobilnya kembali. Tapi baru beberapa detik mobilnya melaju, tiba-tiba truk pengangkut bahan kimia berbahaya tadi lewat menembus lampu merah. Melihat truk tiba-tiba lewat, Mickey membanting setirnya kearah kiri, sehingga sisi mobilnya yang bagian kanan terserempet dengan truk tersebut.
Pengemudi truk itu pun menginjak remnya dengan kencang, sehingga truk menabrak sebuah traffic light di pinggir persimpangan lainnya. Akibat tabrakan itu, salah satu tong terguling, dan karena benturan yang cukup keras, membuat tong tersebut mengalami kebocoran, sehingga cairan kimia yang berbahaya itu langsung menyirami tubuh Renata yang saat itu sedang duduk diposisi jok sebelah kanan, posisi mobil yang terserempet dengan truk pengangkut bahan kimia berbahaya itu.
"Aaaaaaaarrrgghhhhhh.... Mickey.....help.... me"
Mickey keluar mobil dari sisi kiri tepatnya dari posisi kemudi tentunya. Ia benar-benar panik dan kebingungan melihat Renata yang tubuhnya mulai meleleh akibat terkena cairan kimia tersebut. Ia tidak tahu harus berbuat apa untuk menyelamatkan adiknya. Akhirnya Mickey harus menyaksikan Renata meregang nyawa akibat terkena siraman cairan kimia yang berbahaya itu.
"Renataaaaa.... tidaaaaaakkkkk...."
Di tengah kepanikannya, tiba-tiba traffic light yang tertabrak truk tadi perlahan tumbang kearah Mickey berdiri. Traffic light itu tumbang begitu tiba-tiba, sehingga Mickey tidak sempat menyelamatkan dirinya. Akhirnya traffic light menimpa tubuh Mickey dan membuat tulang tubuhnya patah menjadi dua.
*****
Tbc