Daniela, Natalia, dan Nicole saat itu sedang mengadakan makan malam di restoran yang ada di hotel tempat mereka tinggal. Saat itu Oscar belum tiba karena masih berada di kamarnya. Nicole terlihat menikmati makannya dengan santai. Sementara Daniela dan Natalia saling diam karena permasalahan diantara mereka. Karena merasa bosan juga, akhirnya Natalia membuka pembicaraan lebih dulu.
"Daniela, aku ingin mengucapkan sesuatu" kata Natalia.
Mengetahui Natalia dan Daniela ingin bicara, Nicole memutuskan untuk beranjak sebentar untuk mengambil air minum.
"Mmm.. aku mau ambil minum sebentar" ujar Nicole.
"Daniela..." seru Natalia.
"Natalia.. aku tidak ingin membicarakannya sekarang, ok" sahut Daniela.
"Baiklah.. baiklah" kata Natalia yang semakin merasa serba salah.
Kebisuan diantara mereka tidak berlangsung lama ketika mereka mendengar suara pecahan gelas. Mereka menoleh keasal suara tersebut. Ternyata Nicole tidak sengaja menjatuhkan gelasnya. Daniela dan Natalia segera menghampiri Nicole. Saat itu juga Oscar pun muncul karena mereka memang sudah merencanakan makan malam di tempat itu.
"Nicole, ada apa?" tanya Daniela.
"Lihat berita yang ada di televisi" ujar Nicole sambil menunjukkan jarinya kesebuah televisi yang ada di restoran tersebut.
"Hey, ada apa?" tanya Oscar.
"Just watch" ujar Nicole.
Mereka berempat menyaksikan berita yang disiarkan di televisi tersebut. Berita itu menyiarkan kabar tentang kecelakaan yang terjadi sekitar setengah jam yang lalu. Kecelakaan yang menimpa Renata dan Mickey Smith serta merenggut nyawa kedua saudara tersebut.
Oscar mulai merasa kalau apa yang diucapkan oleh Santiago saat di pantai tadi adalah sebuah kebenaran. Lalu ia berfikir, kalau pertanda-pertanda aneh yang selama ini ia rasakan merupakan peringatan yang ditujukan untuk dirinya mengenai kematian yang akan mengejar orang-orang yang selamat dari kecelakaan kapal wisata Life Friends sehari sebelumnya.
"All right. Aku rasa kita semua harus berkumpul" ujar Oscar.
"Apa? Memangnya kenapa, Oscar?" tanya Natalia.
"Aku fikir.. apa yang dikatakan pria yang bernama Santiago itu ada benarnya. Dan kita harus menemukan jawaban dari semua ini" jelas Oscar.
"Tapi...."
"Daniela, kita harus melakukannya, OK"
"Ok, terserah kau saja" sahut Daniela.
"Nicole, ayo" panggil Oscar ketika melihat Nicole yang mulai terlihat ketakutan.
*****
Oscar dan Daniela mencoba mencari keberadaan Santiago, sementara Nicole dan Natalia mencari Rafael, Patricia dan Anna ke kamar mereka. Namun pencarian mereka sia-sia karena menurut sang resepsionis kalau mereka berempat sedang tidak ada di kamarnya.
"Kemana kita akan mencari mereka?" tanya Daniela.
"Mungkin kita temui mereka besok saja" lanjut Nicole.
"Oscar, mungkin sebaiknya kita urungkan saja rencana kita ini, karena aku masih belum bisa mempercayai hal-hal seperti itu" ujar Natalia.
"Tidak bisa Natalie. Aku harus segera menemukan penjelasan dari semua ini, sebelum semuanya terlambat" sahut Oscar.
"Hey, bagaimana dengan pasangan muda itu? Bukankah mereka berdua juga penumpang kapal wisata itu juga?" tanya Daniela.
"Daniela, kau benar" ujar Oscar tersenyum. Ia hampir saja mencium kening Daniela karena mengingatkan tentang pasangan muda itu, namun Daniela mencegahnya.
"Mmmm.... sorry" Oscar terlihat salah tingkah, mengingat kesalahan yang ia lakukan karena telah membuat Daniela kecewa.
"Sebaiknya kita mencari mereka" kata Daniela.
"Akan ku tanya ke resepsionis" ujar Nicole.
Ketika menunggu Nicole yang sedang mencari informasi dari resepsionis tentang pasangan muda Lorenzo dan Isabel, Oscar terlihat serba salah. Sesekali ia memandang kearah Daniela yang masih terlihat cuek dan acuh tak acuh. Ternyata Daniela masih menyimpan kekecewaan terhadap perbuatan Oscar dan Natalia.
Sementara itu Natalia sedang duduk di salah satu sofa yang ada di ruang depan hotel tersebut. Matanya juga terkadang melirik kearah Oscar dan Daniela.
Tidak berapa lama Nicole muncul dan memberitahukan keberadaan Lorenzo dan Isabel.
"Mereka masih di hotel. Kata resepsionis, sejak sore tadi mereka belum pergi kemana‐mana. Mereka berada di kamar nomor 138" jelas Nicole.
"Baiklah. Kita harus menemui mereka dan membicarakan hal ini" kata Oscar.
"Entahlah Oscar, aku ragu apakah mereka akan percaya dengan hal ini" kata Natalia.
"Aku tahu. Tapi setidaknya kita bisa memberitahu mereka agar lebih waspada" sahut Oscar.
*****
Di salah satu kamar hotel bernomor 138, Lorenzo dan Isabel sedang b******u. Mereka berdua terlihat bahagia dengan bulan madunya meskipun sempat terganggu karena masalah kecelakaan kapal wisata itu.
Lorenzo membelai rambut pirang Isabel yang tergerai indah. Isabel membalasnya dengan senyuman manis.
"Apa kau menikmati bulan madu kita?" tanya Lorenzo.
"Tentu saja. Aku senang dengan hadiah dari kedua orang tuamu ini. Mereka benar-benar pandai memilih tempat berbulan madu" ujar Isabel.
"Aku tahu. Mereka dulu juga berbulan madu disini" Lorenzo tersenyum sambil memberikan kecupan hangat di kening Isabel.
"Baiklah, lupakan tentang mereka. Sekarang yang berbulan madu adalah kita, jadi......"
"Jadi...... apa?" ucap Isabel dengan genit.
Mata Lorenzo terlihat nakal, tanpa pikir panjang ia mencium bibir mungil istrinya itu. Begitu pula dengan Isabel, ia pun membalas ciuman itu dengan penuh perasaan cinta. Namun percumbuan mereka terhenti setelah mendengar suara ketukan pintu dari luar.
"Tok... tok... tok..."
"Shit... now what..." gerutu Lorenzo.
"Mungkin pelayan hotel" ujar Isabel.
Lorenzo bangkit dari tempat tidurnya sambil mengenakan celana panjangnya lagi. Ia pun membuka pintu kamarnya dengan perasaan kesal.
"Sorry, saya mengganggu" dari balik pintu Oscar terlihat sedikit gugup karena ia tahu sudah mengganggu privasi orang lain.
"Kau...." ujar Lorenzo sambil membuka pintunya sedikit lebar. Ia melihat dibelakang Oscar juga ada tiga orang gadis bersamanya.
"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Lorenzo.
"Sayang... siapa itu?" tanya Isabel dari dalam.
"Bukan siapa-siapa" jawab Lorenzo.
"Sekali lagi kami benar-benar minta maaf, tapi kedatangan kami kemari karena ingin memberitahukan kapada anda sesuatu yang penting" jelas Oscar.
"Tunggu... tunggu... apa kau tidak tahu kalau ini bukan waktu yang tepat. Kemarin kau membuat keributan saat di kapal itu. Ya... meskipun tidak ku pungkiri kalau kau telah menyelamatkan nyawaku dan istriku. Dan kini kau mau mengganggu waktu privasiku. Ku jelaskan pada kalian saat ini bagiku yang terpenting adalah berada di dalam kamar bersama dengan istriku. Jadi aku benar-benar tidak ingin diganggu" kata Lorenzo.
"Tapi tuan...."
"Tidak ada tapi-tapi" Lorenzo menutup pintu cukup keras. Lalu ia membuka kembali pintunya sambil memasang sebuah tanda bertuliskan 'Do Not Disturb' dan menggantungnya di handle pintu kamarnya.
Oscar, Daniela, Nicole dan Natalia hanya bisa menghela nafas dan memaklumi apa yang dimaksud oleh Lorenzo.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Nicole.
'Aku berfikir untuk kembali ke kamar saja" ujar Natalia yang bergegas menuju kamar inapnya.
"Natalie tunggu, aku ikut" Nicole pun ikut bersana Natalia menuju kamar mereka.
Tinggal Oscar dan Daniela yang masih berdiri di depan pintu kamar Lorenzo. Mereka berdua masih saling diam seribu bahasa.
"Lebih baik aku juga ikut bersama mereka" kata Daniela.
Oscar hanya mengangguk tidak menjawab. Namun saat ia melihat Daniela sedang berjalan menuju ke kamarnya, pandangan Oscar tertuju pada seseorang yang pernah ia temui sebelumnya. Yaitu seorang wanita gypsi yang pernah bertubrukan dengannya di depan hotel sebelum kejadian kecelakaan yang mengerikan itu. Oscar jadi teringat kembali kata yang sempat diucapkan wanita itu. Ia mulai berspekulasi kemungkinan wanita itu mengetahui sesuatu tentang semua kejadian ini. Oscar kemudian berlari mendekati Daniela, dan menarik tangannya.
"Daniela, temani aku sebentar" kata Oscar.
"Hey... ada apa?" tanya Daniela keheranan.
Oscar mengajak Daniela ke sebuah kamar yang masih terletak di satu lorong dengan kamar mereka.
"Apa yang kau lakukan? Memangnya ini kamar siapa?" tanya Daniela semakin penasaran.
"Kau akan segera tahu" kata Oscar sambil mengetuk pintu kamar itu.
"Tok... tok... tok..."
Oscar mengetuk pintu itu beberapa kali, sampai akhirnya pintu itu terbuka dan muncullah seorang wanita cantik yang memakai banyak aksesoris di tubuhnya, terutama pada tangan dan lehernya.
"Ya... ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita itu.
"Maaf sebelumnya karena sudah mengganggu anda. Tapi apa anda masih ingat dengan saya?" tanya Oscar.
Wanita itu menatap Oscar dengan tatapan tajam lalu ia tersenyum sambil membuka pintunya lebar-lebar.
"Masuklah" wanita itu mempersilahkan Oscar dan Daniela untuk masuk ke kamarnya.
Oscar dan Daniela merasa heran karena wanita itu tanpa basa basi langsung mempersilahkan mereka masuk ke kamarnya.
"Ayo, tidak perlu sungkan. Aku tahu apa tujuan kalian menemuiku" kata wanita itu.
Oscar dan Daniela masuk ke kamar wanita itu dengan perasaan heran, mengapa ia bisa mengetahui apa tujuan mereka menemuinya.
"Kau tahu apa tujuan kami menemuimu?" tanya Daniela heran, padahal ia masih belum mengerti tujuan Oscar mengajaknya untuk bertemu dengan wanita itu.
"Silahkan duduk" wanita itu mempersilahkan mereka berdua untuk duduk.
Kemudian wanita itu pun duduk di kursi lainnya, mengambil posisi di sebelah mereka berdua.
"Aku tahu kau ingin mencari penjelasan mengenai kecelakaan itu, mengenai visimu, mengenai apa yang akan terjadi selanjutnya. Bukankah begitu?" tanya wanita itu.
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Oscar.
"Namaku Amber Granger. Aku seorang peramal dari suku gypsi" ujar wanita itu.
"Aku.. Oscar dan ini... Daniela, dia adalah..."
"Kekasihmu" sambung Amber.
"Ya" ucap Oscar ssmbil menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, aku tidak akan membahas tentang permasalahan cinta kalian, tapi aku ingin memberitahukan kepada kalian mengenai hidup kalian" ujar Amber.
Oscar dan Daniela saling memandang dengan perasaan penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan.
"Hidup kami?" tanya Daniela.
"Ya. Hidup kalian" ujar Amber.
"Bisa anda jelaskan lebih spesifik?" tanya Oscar.
Wanita itu bangkit dari tempat duduknya sambil mengambil segelas tequilla yang ada di meja di sebelah tempat tidurnya. Ia menawarkan minuman itu kepada Oscar dan Daniela dengan isyarat. Namun Oscar dan Daniela menolaknya.
"Kau tahu? Ketika kita berdua bertubrukan, aku tahu kalau sesuatu yang buruk akan terjadi denganmu".
"Hal yang buruk? Maksudmu?" tanya Oscar.
"Kecelakaan itu. Aku tahu kalau kau akan mengalami kecelakaan bersama teman-temanmu" ujar Amber sambil meneguk minumannya.
"Apa? Jadi anda sudah mengetahuinya, mengapa anda tidak memberitahukan hal itu kepada kami atau siapa pun?" tanya Daniela yang sedikit emosi.
"Karena aku tidak bisa mencegahnya" jawab Amber.
"Mencegahnya? Apa maksudmu? Kau bisa saja memberitahukannya kepada pihak keamanan" kata Oscar.
"Pertama, apakah ada yang mau percaya dengan ucapanku. Kau sudah mengalaminya kan. Tidak ada yang mempercayaimu sewaktu kau mengatakan kalau kapal itu akan mengalami kecelakaan. Kedua, karena aku tidak bisa menghentikannya mengejar kalian" jelas Amber.
"Siapaa yang mengejar kami?" tanya Daniela semakin penasaran.
"Kematian" jawabnya singkat.
Mendengar jawaban itu, membuat Oscar dan Daniela menjadi merinding.
"Kematian?" kata Oscar pelan.
"Ya. Tidak ada satu pun yang bisa lari dari kematian. Jika waktunya tiba, tidak ada yang bisa kau perbuat untuk menyelamatkan diri. Satu hal, seharusnya kalian semua ditakdirkan tewas dalam kecelakaan itu" jelas Amber.
"Jika kami ditakdirkan tewas dalam kecelakaan itu, lalu mengapa aku mendapatkan visi tentang kecelakaan itu, dan akhirnya aku bisa menyelamatkan beberapa teman-temanku. Hingga sekarang kami masih hidup" kata Oscar.
"Benarkah? Bagaimana dengan temanmu yang tewas kemarin dan dua saudara yang tewas dalam kecelakaan beberapa jam yang lalu. Meskipun kalian selamat dari kecelakaan itu, kematian masih mengejar kalian dalam pola yang berbeda" jelas Amber.
Oscar dan Daniela menelan ludah mendengar penjelasan dari wanita gypsi itu.
"Penglihatan mu membuat rancangan kematian yang sudah disusun untuk kalian menjadi kacau, sehingga rancangan baru dibuat untuk kalian satu persatu".
"Jadi menurutmu, meskipun kami selamat dari kecelakaan itu, kematian masih tetap mengejar kami" ujar Daniela.
"Lalu bagaimana kami bisa melewati dan mengalahkannya?" tanya Oscar.
"Tak ada yang bisa melawan kematian, karena kematian adalah tujuan akhir kita" jelas Amber sambil tersenyum.
"Ku mohon, kami tahu anda mengetahui caranya. Jadi kami sangat berharap anda mau memberitahukannya kepada kami" ujar Daniela sambil memelas.
"Seperti yang kukatakan, aku tidak tahu caranya. Tapi kalian bisa menemukan polanya agar bisa mencuranginya sekali lagi" kata Amber.
"Maksudmu?" tanya Oscar.
"Apa kau pernah merasakan hal-hal aneh disekelilingmu?" tanya Amber.
Oscar berpikir sebentar. Kemudian ia mengingat beberapa hal-hal aneh yang ia temukan dan rasakan belakangan ini.
"Ya. Sebelum kecelakaan itu terjadi, aku merasakan hal-hal yang aneh. Begitu pula sebelum Juan dikabarkan tewas, aku sempat mendengar suara alunan gitar, tapi aku tidak melihat ada orang yang bermain gitar didekatku" jelas Oscar.
"Jadi kau tidak berbohong mengenai alunan gitar itu?" tanya Daniela.
"Tentu saja tidak" jawab Oscar.
"Itu lah tanda-tandanya. Temukan polanya dan baca tanda-tandanya"
"Jika aku bisa menemukan pola dan tanda-tandanya, kami bisa mencurangi kematian itu?" tanya Oscar.
"Aku harap begitu. Tapi satu hal kutegaskan, tidak ada yang bisa lari dari kematian. Meskipun kau berhasil mencuranginya, kematian itu akan tetap mengejarmu sampai ia berhasil mendapatkanmu" jelas Amber yang sekali lagi meneguk minumannya.
Oscar dan Daniela hanya bisa berpandangan dengan penuh rasa takut dan kebingungan. Meskipun mereka mendapatkan penjelasan dari wanita gypsi itu, tetapi mereka sama sekali tidak menemukan solusi yang bisa menyelamatkan hidup mereka.
*****
Oscar dan Daniela berjalan menuju ke kamar mereka. Mereka tidak habis pikir harus menghadapi semua ini, disaat seharusnya menikmati masa muda mereka, liburan bersama teman-temannya.
"Jadi apa yang dikatakan Santiago memang benar" kata Daniela membuka pembicaraan.
"Kita harus menemukan polanya, jadi kita bisa tahu giliran siapa berikutnya" kata Oscar.
"Baiklah, pertama Juan. Kemudian kedua saudara itu, Renata dan Mickey Smith, lalu..." kata Daniela.
"Tunggu sebentar.... sesuai dalam penglihatanku, Juan memang tewas terlebih dulu. Lalu kapal wisata itu menabrak sebuah kapal boat lain, dan kapal itu adalah milik Renata dan Mickey. Mereka tewas saat tabrakan itu".
"Lalu...." kata Daniela.
"Langit-langit kapal rubuh dan menimpa......"
"Siapa?" tanya Daniela semakin penasaran.
"Beberapa orang disaat yang bersamaan. Ketiga mahasiswa itu, Rafael, Anna dan Patricia. Lalu pasangan muda itu dan juga termasuk Nicole dan Natalia".
"So..."
"Aku tidak tahu pasti giliran siapa sekarang. Yang pasti salah satu diantara mereka berikutnya" kata Oscar.
"Kalau begitu, kau harus menemukan tanda-tandanya. Hanya itu satu-satunya cara untuk mengetahui siapa yang akan menjadi gilirannya" ujar Daniela.
"Kau benar. Yang jelas besok kita harus mengumpulkan mereka semua"
Oscar mengusap rambutnya dengan kedua telapak tangannya, sebagai tanda ia benar-benar bingung menghadapi kejadian yang menimpa dirinya.
"Ya Tuhan.... mengapa semua ini harus terjadi kepadaku?" ucapnya pelan.
Melihat Oscar yang merasa kebingungan, Daniela merasa sedih. Lalu ia pun memeluk Oscar untuk mengurangi beban fikirannya.
*****
Tbc