Chapter 6. Honeymoon's Over

2107 Words
Pagi menjelang siang, didalam kamar Oscar sudah berkumpul Daniela, Natalia, Rafael, Anna, Patricia dan Santiago. Semetara Nicole dan Oscar sedang berusaha menemui Lorenzo dan Isabel. Namun mereka berdua telah pergi meninggalkan hotel pagi-pagi sekali. Oscar dan Nicole sudah mencari disepanjang pinggir pantai, namun mereka tidak berhasil menemukan pasangan suami istri itu. Karena tidak berhasil menemukan pasangan muda tersebut, akhirnya Oscar dan Nicole memutuskan untuk kembali kedalam hotel. "Bagaimana? Kalian berhasil menemukan mereka?" tanya Daniela. "Nope. Kita terlambat, mereka sepertinya pergi keliling kota lagi" jawab Oscar. "Maaf sebelumnya, sebenarnya tujuan kalian mengumpulkan kita disini apa? Karena kami tidak bisa lama-lama disini" tanya Rafael. "Ya. Rafael benar. Kami semua masih punya kesibukan lain yang harus dikerjakan" lanjut Santiago. "Baiklah. Akan ku jelaskan. Ini semua ada hubungannya dengan apa yang dikatakan oleh Santiago kemarin sewaktu di pantai" kata Oscar. "Yang ku katakan? Memangnya apa yang telah ku katakan?" tanya Santiago. "Apa? Kau lupa dengan apa yang kau ceritakan kemarin?" kata Nicole. "Tentang apa?" Santiago semakin bingung. "Cerita tentang seorang pemuda yang melihat kecelakaan pesawat sebelum kejadian itu terjadi. Dan pemuda itu menyelamatkan beberapa temannya. Kemudian mereka yang selamat tewas satu persatu dalam kecelakaan yang aneh. Bukankah hal itu yang kau ceritakan kemarin?" jelas Nicole. Santiago dan Anna saling pandang. Tiba-tiba Santiago tertawa terbahak-bahak, sementara Anna  tersenyum menahan geli. "Ha.. ha.. ha.. ha.."  "Mengapa kau tertawa?" tanya Oscar heran. "Dia benar. Apa ada yang lucu? Kau juga Anna, mengapa kau tersenyum-senyum seperti itu?" tanya Rafael. "Baiklah.. baiklah, akan ku beritahu. Apa yang ku ceritakan kemarin itu hanya sebuah candaan. Aku tidak menyangka kalau kalian mempercayai hal itu" jelas Santiago. "Ya, Santiago sudah menceritakannya padaku, kalau waktu itu hanya candaan saja" sambung Anna yang masih menahan tawa. Sejak pertama kali bertemu dengan Anna, Santiago langsung menaruh hati padanya. Begitu pula sebaliknya. Belakangan ini mereka sering bertemu dan jalan berdua. Jadi sudah pasti Santiago telah menceritakan candaannya itu kepada Anna. "Ha.. ha.. ha.. kau memang hebat. Kau telah berhasil membuat mereka mempercayaimu" kata Rafael. "Guys... aku tidak peduli kau sedang bercanda atau tidak. Tapi yang jelas apa yang kau ceritakan itu memang benar. Sekarang aku ingin menunjukkan sesuatu kepada kalian" ujar Oscar sambil melirik ke Daniela sembari memberi isyarat untuk mengambil sesuatu. Daniela berjalan menghampiri meja yang ada disebelah tempat tidur, kemudian ia mengambil beberapa lembar kertas yang ada di atas meja tersebut. Saat ia mengambil kertas tersebut, tiba-tiba sebuah cincin terjatuh ke lantai. Daniela pun memungut cincin itu. Ia pun terkejut setelah melihat ada ukiran nama 'Natalia' di cincin tersebut. Dengan perasaan kesal, Daniela menanyakan cincin itu kepada Oscar. "Oscar, cincin siapa ini? Mengapa di cincin ini terukir nama Natalia?" tanya Daniela. Oscar dan Natalia tersentak melihat Daniela menemukan cincin itu. "Itu..." Oscar terlihat gugup. Bibirnya seolah-olah tertutup dan sulit untuk menjawab pertanyaan Daniela. Begitu pula dengan Natalia, ia pun terlihat serba salah dan gelisah. Rafael, Patricia, Anna, Santiago dan Nicole menjadi bingung sendiri, karena tiba-tiba saja terjadi perubahan topik pembicaraan. "Apa-apaan ini? Jadi kita dipanggil kesini hanya untuk melihat pertengkaran sepasang kekasih" ujar Patricia pelan. "Sudah cukup, kita harus segera pergi melakukan penelitian terhadap peninggalan suku Maya" kata Rafael. "Kau benar. Ayo, nanti kita bisa kesorean" lanjut Patricia. "Ayo, aku bisa jadi guide kalian disana" ujar Santiago sambil menggandeng tangan Anna. Nicole jadi bingung, karena rencana awal untuk membicarakan hal mengenai bahaya yang saat ini sedang mengincar mereka, jadi batal hanya karena sebuah cincin. "Ku mohon kalian jangan pergi dulu" cegah Nicole kepada ke empat orang tersebut. Sementara itu Daniela, Oscar dan Natalia benar-benar terlihat tegang. Mereka tidak lagi peduli, kalau Rafael dan teman-temannya sudah pergi dari tempat itu. "Kalian berdua, ku mohon jawab aku. Ada apa sebenarnya dengan kalian berdua" paksa Daniela. Oscar masih diam membisu seribu bahasa, tidak tahu harus mulai darimana untuk menjawab pertanyaan Daniela. "Cincin itu milikku. Dan aku akan menceritakan sesuatu padamu" ucap Natalia. ***** Sementara itu, Lorenzo dan Isabel sedang berada disebuah taxi. Saat itu mereka hendak kembali ke hotel untuk makan siang. Namun Isabel ingin mereka makan siang di restoran lain dengan maksud untuk menikmati suasana yang berbeda. "Bagaimana kalau di restoran oriental itu" tunjuk Lorenzo kearah sebuah restoran ala oriental yang letaknya tidak jauh dari hotel tempat mereka menginap. "Tentu. Mengapa tidak" jawab Isabel sambil mencium mesra suaminya itu. Kemudian Lorenzo menyuruh sang supir agar berhenti di depan restoran yang bernama 'Kampai Japanese Restaurant' tersebut. Mereka berdua pun masuk ke dalam restoran, dan disambut ramah oleh para penerima tamu. Saat itu restoran tersebut cukup sepi karena sebagian besar turis pengunjung kota tersebut masih memanjakan diri menikmati indahnya pantai Cancun. Seorang pelayan mempersilahkan keduanya duduk disalah satu meja yang letaknya cukup dekat dengan meja masak milik sang koki. Restoran itu berdekorasi cukup modern. Langit-langitnya diberi lapisan kaca, dan beberapa bagian yang bergaya Meksiko. Namun tempat itu masih memberikan ciri khas aslinya. Seperti pajangan bergambar bunga sakura dan sekat pemisah antar meja yang seperti dinding rumah tradisional Jepang. Dan yang lebih menarik adalah meja sang koki yang bisa dilihat jelas oleh para pengunjung restoran. Karena selain memasak, sang koki juga memberikan atraksi-atraksi hebat sewaktu ia sedang memasak. "Kau pesan apa?" tanya Lorenzo pada Isabel. Isabel melihat-lihat daftar menu yang berada di atas meja. "Bagaimana kalau kita coba Sushi dan Tempura dan minumnya... mmmmmm.... aku ingin pesan minuman spesial restoran ini" "Ok terserah kau saja" Sang pelayan mencatat menu yang dipesan oleh mereka berdua. "Baiklah, sembari menunggu, silahkan menikmati minuman khas Jepang, yang ada di meja" kata sang pelayan yang kemudian bergegas untuk menyiapkan menu yang dipesan oleh kedua pasangan suami istri tersebut. Saat mereka sedang menunggu pesanannya, tiba-tiba seorang anak kecil berlari kearah mereka sambil membawa sebuah pistol mainan. Selanjutnya anak itu menembakkan pistol mainan tersebut. Sehingga membuat Isabel sangat terkejut. "Tar!!" pistol mainan itu menembakkan peluru plastik dengan tekanan yang kuat. Kemudian peluru plastik itu mengenai langit-langit yang memiliki lapisan kaca itu. Meskipun peluru itu terbuat dari plastik, karena tekanan yang kuat, peluru itu membuat langit-langit kaca itu menjadi retak. "Aaaaa... Oh My God...!!!" teriak Isabel yang terkejut sambil memegangi dadanya. "Sayang kau tidak apa-apa?" panik Lorenzo. "Aku baik-baik saja. Aku hanya agak terkejut" jawab Isabel sambil tersenyum pada anak kecil itu. Beberapa saat kemudian, orang tua anak tersebut menghampiri anaknya sambil meminta maaf kepada Lorenzo dan Isabel. "Maafkan anak saya, karena telah membuat anda berdua jadi tidak nyaman" kata wanita tersebut. "It's ok. No problem" jawab Lorenzo. Wanita dan anaknya itu pun kemudian pergi meninggalkan Lorenzo dan Isabel. Sepeninggal wanita dan anaknya itu, Lorenzo dan Isabel menyaksikan sang koki yang sedang memasak sambil beratraksi. Namun, tanpa disadari retakan langit-langit kaca yang tepat berada di atas mereka semakin melebar. Dilain pihak sang koki sedang memasak sambil menyirami masakannya dengan bahan arak makanan dan bumbu lainnya. Semakin menarik lagi ketika masakan yang ia masak bisa mengeluarkan api. Ketika ia menyirami arak makanan tersebut sambil beratraksi, sebagian cairannya ada yang terpercik kesebuah bohlam yang terpasang di dinding, yang tidak jauh dari tempat ia memasak. Cairan itu perlahan bereaksi dengan bohlam yang menghasilkan energi panas. ***** Kembali ke hotel, Natalia telah menceritakan sebuah kebenaran tentang dirinya dan Oscar. Sebuah kebenaran yang membuat Daniela sangat terkejut. Hatinya sangat sakit ketika mendengar bahwa Oscar dan Natalia adalah pasangan kekasih. Hubungan Oscar dan Daniela hanyalah sebuah taruhan yang Oscar lakukan bersama Juan, Christian dan Angel. Mereka menantangnya, apakah Oscar mampu menjadikan Daniela sebagai pacarnya dan mengajaknya ikut dalam liburan musim panas bersama mereka. Tidak hanya Daniela yang terkejut dan sakit hati, Nicole yang merupakan sepupu Daniela, juga merasa disakiti karena Oscar telah melukai perasaan Daniela. "Aku benar-benar tidak percaya. Kau benar-benar tega melakukan hal ini padaku" Daniela benar-benar terlihat sangat marah. Matanya pun mulai berkaca-kaca. Sementara Natalia hanya diam membisu setelah menceritakan semua kebenaran itu. "Daniela, aku benar-benar menyesal karena telah menjadikanmu sebagai taruhan. Aku......" "Cukup Oscar!!!!!" bentak Daniela. Ketika Daniela membentak Oscar, disaat yang bersamaan cermin yang ada di kamar tersebut retak dan membuat mereka berempat menjadi heran dan penasaran. "Apa yang terjadi?" tanya Nicole. "Cermin itu retak dengan sendirinya" jawab Natalia pelan. "Itu sebuah petunjuk" kata Oscar. "Cermin itu retak seperti hatiku saat ini. Mungkin ini adalah giliranku" kata Daniela sambil mengusap linangan air mata yang menetes di pipinya. "Tidak. Ini bukan giliranmu. Aku yakin sekali kalau saat ini bukan giliranmu" kata Oscar. "Jadi giliran siapa?" bentaknya lagi kepada Oscar. Oscar menatap cermin yang retak itu dalam-dalam. Kemudian ia melihat bayangan Daniela yang mengenakan kaos bergambar hati dan bertuliskan couples terpantul di cermin tersebut. Karena terlihat dari cermin yang retak, gambar hati pada kaos milik Daniela itu seolah-olah ikut retak. Lalu Oscar membaca tulisan yang ada di kaos tersebut. "Couples..... Oh shitttt!!!! Pasangan suami istri itu" ucap Oscar dengan jelas. "Kalau begitu tunggu apa lagi. Kita harus menyelamatkan mereka" ujar Nicole. "Nicole, ayo... kita temukan mereka" ajak Daniela pada Nicole. "Daniela tunggu, kita cari bersama-sama" kata Oscar sambil memegang tangan Daniela. Karena masih merasa kesal, Daniela dengan spontan menampar pipi Oscar. "Jangan sentuh aku lagi" kata Daniela. "Tapi....." "Jangan berfikir macam-macam, lebih baik kita mencari keberadaan pasangan muda itu dan memperingatkan mereka kalau nyawanya sedang terancam" kata Daniela sambil menarik tangan Nicole bergegas meninggalkan kamar Oscar tersebut. "Natalie, ayo... kita juga harus menemukan pasangan muda tersebut" ajak Oscar. "Tidak... aku tidak ikut. Lebih baik kalian saja yang pergi" ucap Natalia yang kemudian duduk di atas tempat tidur. Oscar tidak mengucapkan sepatah kata pun. Kemudian berlari keluar kamar lalu menyusul Daniela dan Nicole. Ketika di depan lobby hotel, sekali lagi mereka kebingungan, karena tidak tahu harus mencari Lorenzo dan Isabel dimana. Mereka telah menanyakan kepada resepsionis tentang keberadaan pasangan muda tersebut. Namun sang resepsionis tidak mempunyai petunjuk kemana kedua pasangan itu pergi. "Nomor telepon...!! Mungkin resepsionis menyimpan nomor telepon mereka" kata Daniela. Kemudian mereka bertiga menanyakan nomor telepon milik Lorenzo. Untung saja sang resepsionis memiliki nomor telepon Lorenzo, yang ia dapatkan sewaktu Lorenzo mengisi data-data ketika ia memesan kamar di hotel tersebut. Setelah mendapatkan nomor telepon milik Lorenzo, Oscar pun mencoba menghubungi Lorenzo melalui nomor tersebut. "Hallo, siapa ini?" tanya Lorenzo melalui telepon genggamnya. "Tuan Lorenzo ini saya................. tuuuuuuuuuuuuttttt......." tiba-tiba hubungan telepon mereka terputus. "Hallo.... hallo.... Tn. Lorenzo....." "Ada apa?" tanya Daniela. "Terputus" jawab Oscar. Sementara itu di dalam restoran, Lorenzo juga merasa aneh karena telepon genggamnya tiba-tiba mati. "Aneh, telepon ku tiba-tiba mati" kata Lorenzo. "Mungkin ada yang rusak" kata Isabel. "Sudahlah, lebih baik kita lanjutkan makannya" kata Lorenzo. ***** "Sekarang bagaimana cara kita menemukan mereka?" tanya Nicole. "Entahlah" jawab Oscar. Ketika mereka sedang kebingungan, sebuah mobil box datang memasuki halaman hotel. Oscar melihat tulisan yang terdapat di mobil box tersebut. Sebuah tulisan 'Trip To Japanese' dengan huruf 'T' yang terlihat pudar dan sebuah gambar koki yang sedang memegang sebuah gelas. Oscar menganalisa tulisan dan gambar tersebut sampai akhirnya ia mengerti maksudnya. "Aku tahu dimana mereka" kata Oscar. "Dimana?" tanya Nicole. "Aku yakin mereka sedang berada disalah satu restoran Jepang" jawab Oscar. Mendengar ucapan Oscar, Daniela langsung mengambil inisiatif untuk menanyakan apakah ada restoran Jepang disekitar kota Cancun. Tidak berapa lama Daniela pun mendapatkan informasi tersebut. "Kata resepsionis, dua blok dari hotel ini terdapat sebuah restoran Jepang bernama Kampai Japanese Restaurant" jelas Daniela. "Kalau begitu ayo cepat..." ajak Oscar. Tanpa membuang-buang waktu mereka bertiga bergegas mencari lokasi restoran Jepang tersebut. Beruntung, tidak berapa lama mereka berhasil menemukan lokasi restoran itu, yang memang letaknya tidak jauh dari hotel tempat mereka menginap. "Itu restorannya" teriak Nicole ketika melihat sebuah restoran ala Jepang. Dengan tergesa-gesa, mereka segera menuju ke restoran Jepang tersebut. Ketika itu di dalam restoran, lampu bohlam yang terkena percikan arak makanan tadi, tiba-tiba pecah. Serpihan pecahan bohlam itu melukai pipi sang koki, sehingga membuatnya tersentak. Konsentrasinya pun buyar sehingga menumpahkan arak makanan lebih banyak kedalam masakannya yang saat itu sedang mengeluarkan api. Selain itu ia juga menyenggol tutup pengaman tabung gas yang ada di bawah mejanya. Api yang membesar, menyambar kain celemeknya. Dengan spontan ia melepaskan celemeknya dan tanpa sengaja melemparkan celemek tersebut ke tabung gas yang sudah sedikit bocor tersebut. Koki tersebut segera berlari untuk mengambil pemadam api. Sementara para pelayan dan beberapa tamu termasuk Lorenzo dan Isabel, mulai panik dan mencoba melindungi dirinya masing-masing. "Aku harap mereka ada di restoran ini" ucap Daniela yang kemudian membuka pintu restoran tersebut. Bertepatan ketika Daniela membuka pintu restoran itu, tabung gas itu pun meledak. Ledakan itu melontarkan dua buah parang memasak milik sang koki kearah Lorenzo berada. Tak bisa dielakkan lagi, kedua parang yang bertuliskan kata 'gladys' digagangnya itu menancap tepat di kening Lorenzo dan membuatnya tewas saat itu juga. "Aaaaaaaaaaaarrggghhhhhhhhhhhh......... aaaaaaaaaarrgghhhhhhhh......." teriak Isabel dengan histeris. Oscar mencoba menyelamatkan Isabel dari tempat itu, namun belum sempat ia menghampiri Isabel, efek ledakan gas tersebut juga menyebabkan langit-langit kaca yang sudah retak tadi pecah berkeping-keping. Dan salah satu pecahan kaca langsung menancap di wajah Isabel, ketika ia menengadahkan kepalanya sewaktu langit-langit itu pecah. Nicole tidak sanggup melihat kejadian yang mengerikan itu terjadi tepat di depan matanya. "Cukup... cukuppp.... aku tidak sanggup lagi menghadapi semua ini" ucapnya sambil menangis tersedu-sedu. Melihat sepupunya menangis ketakutan, Daniela pun memeluknya agar menjadi tenang. "Aku tidak sanggup Daniela..." "Nicole tenanglah...." ucap Daniela juga ikut menangis. Oscar juga terlihat menyesal karena gagal menyelamatkan Lorenzo dan Isabel. Ia menghampiri Daniela yang sedang memeluk Nicole yang saat itu benar-benar sangat ketakutan. "Oscar........... kita putus" ucap Daniela tiba-tiba dengan mata berkaca-kaca. Kemudian ia mengajak Nicole pergi meninggalkan restoran yang sebagian tempatnya sudah porak poranda akibat ledakan gas tadi. "Daniela....." panggil Oscar. Namun Daniela tidak menoleh sedikit pun. Oscar benar-benar tidak menyangka, kalau Daniela memintanya putus disaat yang tidak terduga seperti ini. ***** Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD