"Inilah dia lokasi peninggalan bersejarah peradaban suku Maya yang pernah ada di Cancun" kata seorang pria yang berprofesi sebagai pemandu di lokasi bersejarah itu.
"Amazing" puji Rafael sambil mengambil beberapa foto tempat bersejarah itu.
"Aku benar-benar tidak percaya jika tidak melihatnya sendiri" sambung Patricia.
"Lihat! Reruntuhan itu disebut reruntuhan El Rey. Suku Maya jaman dulu menjadikan tempat itu sebagai tempat pemujaan terhadap dewa mereka. Dan ada satu reruntuhan lagi yang disebut dengan El Meco".
"El Meco?" tanya Anna yang sedang bergandengan dengan Santiago.
"Ya. Reruntuhan bersejarah yang lebih terlihat jelas dan spesifik" jawab sang guide.
"Dimana lokasinya?" tanya Rafael.
"Berada diluar kota, tepatnya berdekatan dengan perbatasan antara Cancun dengan Punta Sam" jawab sang guide.
"Hey, Anna... aku juga bisa menjadi seorang pemandu seperti dia" bisik Santiago pada Anna.
"Jangan bercanda" ucap Anna sambil memukul d**a Santiago pelan.
"Hey kalian berdua, bisakah serius sedikit?" ujar Patricia.
"Sorry" sahut Santiago.
"Ok. Bagaimana kalau kalian ikut ke kantorku? Akan kutunjukkan video tentang peradaban Maya pada jaman dulu" kata sang guide.
"Tentu. Kami akan sangat senang sekali, Tn. Jackson" jawab Rafael.
Anna dan Patricia pun setuju dengan pendapat Rafael. Akhirnya mereka berempat bersama sang guide yang bernama Jackson itu menuju kantornya yang tidak jauh dari lokasi peradaban tersebut untuk melihat beberapa informasi lainnya mengenai peradaban Maya tersebut.
Kantor tersebut berada di lantai dua sebuah gedung bernama History Of Cancun. Gedung itu juga berfungsi sebagai museum yang menyimpan segala bentuk peninggalan bersejarah dari suku Maya. Gedung tersebut hanya terbuka untuk umum setiap Senin sampai Kamis. Sementara saat itu adalah hari Jumat, yang berada di gedung tersebut hanyalah para staf dan pekerjanya saja.
"Ayo.... kantorku ada di lantai dua" ujar guide tersebut.
"Anna... maaf aku tidak bisa ikut bersama kalian. Kau tahu aku sudah punya rencana untuk berski di pantai" ujar Santiago.
"Ok. Tidak masalah. Tapi nanti malam kita ketemu lagi kan?" tanya Anna.
"Tentu saja" ucap Santiago sambil mencium pipi kanan Anna.
"Anna... ayo, kita tidak punya banyak waktu" teriak Patricia memanggil Anna.
Rafael, Patricia, dan Anna mengikuti pria itu ke kantornya. Sementara Santiago memutuskan untuk berpisah dengan mereka, karena saat itu ia sudah berencana untuk melakukan kegiatan ski air di pantai Cancun.
Tn. Jackson membawa ketiga mahasiswa itu menuju gedung tersebut dan mendaftarkan mereka sebagai pengunjung ke bagian resepsionis. Selanjutnya, mereka berempat menuju ke lantai dua dengan menggunakan elevator. Di pintu elevator tersebut tertempel stiker bertuliskan 'No Exit'.
*****
Sementara itu, dengan mengendarai sebuah mobil sewaan, Oscar, Daniela, Nicole dan Natalia sedang menuju ke lokasi reruntuhan El Rey berada. Mereka berempat hendak memperingatkan Rafael, Patricia dan Anna kalau salah satu diantara mereka bertiga adalah giliran berikutnya.
Ketika Natalia mendengar berita dari Oscar bahwa pasangan suami istri Lorenzo dan Isabel telah tewas, ia pun memutuskan untuk ikut serta dengan Oscar untuk menghadapi masalah ini bersama-sama.
Didalam mobil, keempat wajah remaja itu terlihat sangat tegang dan was-was. Terutama Nicole yang masih teringat kejadian saat menyaksikan tewasnya Lorenzo dan Isabel yang cukup mengenaskan.
"Nicole, apa kau yakin tidak apa-apa?" tanya Daniela.
"Aku baik-baik saja" jawabnya singkat.
"Tapi kau kelihatan tidak sehat" lanjut Oscar.
"Berhentilah mengkhawatirkan keadaanku. Yang ku fikirkan saat ini adalah mencari cara agar kita bisa terbebas dari teror kematian ini" ujar Nicole.
Oscar dan Daniela terlihat cukup heran melihat keberanian yang ditunjukkan oleh Nicole. Padahal seperti telah mereka ketahui, kalau Nicole sangat histeris ketakutan ketika melihat apa yang terjadi dengan Lorenzo dan Isabel.
Sementara Natalia masih merasa tidak nyaman dengan permasalahan yang terjadi antara dirinya dengan Oscar dan Daniela. Ia terlihat cukup canggung dan gelisah karena merasa bersalah atas apa yang ia dan Oscar lakukan terhadap Daniela.
Perasaan itu pun juga dirasakan oleh Oscar. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi agar Daniela benar-benar mau memaafkan perbuatan bodohnya itu. Lain halnya dengan Daniela. Apa yang ada difikirannya hampir sama dengan apa yang difikirkan oleh Nicole. Ia benar-benar sudah mati rasa terhadap Oscar. Yang tersisa hanyalah rasa sakit didalam hatinya. Namun ia menyingkirkan perasaan itu sesaat, dan lebih mementingkan mencari cara untuk menyelamatkan hidupnya dan juga teman-temannya.
*****
"Bagaimana? Kalian menyukai videonya?" tanya Tn. Jackson.
"Tentu saja, kami sangat menyukainya" jawab Rafael.
"Baiklah. Kalian boleh melihat-lihat apa saja yang ada ditempat ini. Aku tinggal dulu, karena masih ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan" kata Tn. Jackson.
Tn. Jackson meninggalkan mereka bertiga di ruangan khusus dokumentasi tersebut.
"Oh shitt!! Aku lupa beberapa catatanku" ujar Rafael.
"Bagaimana bisa?" tanya Patricia.
"Tadi aku menyimpannya di tas milik Santiago" jawab Rafael.
"Tidak kusangka ternyata kau ceroboh juga" ucap Anna sambil tertawa.
"Kalian tunggu sebentar disini, aku akan menghubungi Santiago, mudah-mudahan dia belum jauh" kata Rafael.
"Ok. Kami tidak akan kemana-mana" ucap Patricia.
Rafael keluar dari ruangan itu sambil memegang telepon genggamnya dan mencari-cari nomor telepon milik Santiago. Saat ia hendak menuju elevator, ia melihat Santiago melalui jendela masih berada di parkiran, terlihat sedang mengotak-atik motor besarnya.
"Great! Dia masih ada disini" ujarnya pelan.
Rafael mendekati pintu elevator. Ketika ia hendak menekan tombol elevator itu, terdengar suara Patricia memanggil namanya.
"Rafael tunggu!!" panggil Patricia yang berlari menghampiri Rafael, sementara Anna berjalan santai di belakang Patricia.
Rafael pun menoleh dan membalikkan badannya menghadap Patricia sambil tangannya menekan tombol elevator tersebut.
Tanpa mereka sadari kalau lampu indikator petunjuk jumlah lantai gedung tidak berpindah dari posisinya. Yang menandakan kalau box elevator yang saat itu berada di lantai lima tidak berpindah ke lantai dua.
"Ada apa?" tanya Rafael.
"Pekerjaan kita sepertinya akan lama, jadi tolong sekalian pesankan makanan, agar kita tidak kelaparan" ujar Patricia.
"Baiklah... baiklah" kata Rafael.
Disaat yang bersamaan pintu elevator terbuka. Ketika itu, posisi badan Rafael masih menghadap ke Patricia dan membelakangi pintu elevator. Rafael melangkahkan kakinya dan tidak menyadari kalau box elevator tidak berada ditempatnya.
"Rafael jangan.....!!!" teriak Patricia yang menyadari kalau elevator tersebut kosong tanpa boxnya.
Rafael kehilangan keseimbangan dan secara spontan tangannya menarik tubuh Patricia. Akhirnya mereka berdua pun terjatuh kedalam lorong elevator tersebut. Tangan kanan Patricia sempat meraih tepi lantai, namun tiba-tiba pintu elevator tertutup dan menjepit pergelangan tangan kanan Patricia. Sedangkan Rafael terjatuh ke lantai dasar.
Rafael masih hidup, namun mengalami patah tulang serius diseluruh tubuhnya.
"Pung...gung...ku..." ucapnya sambil menahan sakit.
"Anna...!!!" teriak Patricia memanggil nama Anna yang saat itu berdiri di samping jendela sambil melihat Santiago yang ada di parkiran.
Anna terkejut mendengar teriakan Patricia. Ia berlari menghampiri elevator tersebut dan melihat kalau tangan Patricia yang terjepit pintu elevator.
"Patricia...!!! Apa yang terjadi?" tanya Anna panik sambil mencoba membuka pintu elevator tersebut. Namun usahanya sia-sia.
"Kami terjatuh ke lorong elevator kosong. Cepat cari bantuan" teriak Patricia yang meringis karena pergelangan tangannya terjepit sementara saat itu tubuhnya bergantungan di tepi pintu elevator.
"Kalian berdua... bertahanlah..!!" teriak Anna.
"Cepatlah..." teriak Patricia.
Anna berlari untuk mencari bantuan. Namun ia tidak menemukan satu orang pun di lantai tersebut. Sampai akhirnya Tn. Jackson muncul dari ruangan lain. Tanpa fikir panjang Anna berlari dan menghampiri Tn. Jackson.
"Tn. Jackson... kau harus membantu Rafael dan Patricia" ucap Anna panik.
"Memangnya apa yang terjadi dengan mereka?" tanya Tn. Jackson heran.
"Mereka terjatuh kedalam lorong elevator" jawab Anna.
"Apa? Baiklah, aku akan segera menghubungi petugas keamanan" kata Tn. Jackson yang langsung menelepon petugas keamanan gedung tersebut.
*****
Sementara itu Oscar, Daniela, Nicole dan Natalia pun tiba di tempat itu. Lalu tidak sengaja, Natalia melihat Santiago yang masih asyik mengotak-atik motornya.
"Itu Santiago" teriak Natalia.
"Ayo hampiri dia" ujar Oscar.
Mereka berempat segera menghampiri Santiago.
"Bagus kau masih disini" kata Oscar.
"Kalian? Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Santiago heran.
"Dimana Rafael dan yang lainnya?" tanya Daniela.
"Memangnya ada apa? Jangan bilang kalian masih memikirkan cerita bodoh itu" ujar Santiago.
"Aku tidak peduli kalau kau menganggap ini hal bodoh, tapi yang pasti, saat ini Rafael dan kedua temannya sedang dalam bahaya" ujar Oscar yang mencengkram baju Santiago.
"Lepaskan tanganmu..." balas Santiago yang mulai emosi.
Saat mereka terlibat bersitegang, Nicole melihat beberapa orang sedang berlari-lari menuju kedalam gedung yang ada di sebelah mereka.
"Oscar, lihat... sepertinya sedang terjadi sesuatu didalam gedung itu" kata Nicole.
"Kalau begitu, sebaiknya kita mencari tahu kedalam" kata Natalia.
"Kau benar" ujar Oscar.
Mereka berempat segera berlari memasuki gedung penyimpanan dokumen sejarah itu. Santiago yang juga penasaran, ikut mencari tahu apa yang terjadi didalam gedung tersebut.
"Maaf, apa yang sedang terjadi disini?" tanya Oscar pada sang resepsionis yang juga terlihat khawatir.
"Ada orang yang terjatuh kedalam lorong elevator" jawab sang resepsionis itu.
"Apa!!????"
Perhatian Oscar tiba-tiba tertuju kesebuah kalender yang terletak di atas meja sang resepsionis. Kalender itu bertuliskan sebuah kalimat 'Trap in the hole', dan hari itu bertepatan dengan hari jumat tanggal 13.
*****
Anna dan Tn. Jackson muncul bersama dengan dua orang mekanik. Kedua mekanik itu mencoba membuka pintu elevator yang menjepit pergelangan tangan Patricia dengan alat sejenis linggis. Namun usaha mereka ternyata semakin mengganggu sistem kerja elevator. Elevator yang tadinya macet, kini bergerak turun ke bawah bahkan dengan kecepatan dua kali lipat. Box elevator turun dengan cepat dan menggilas tubuh Patricia, sehingga membuat pergelangan tangannya putus. Selanjutnya box elevator terus meluncur ke bawah dan menimpa tubuh Rafael yang saat itu tergeletak tidak berdaya.
"Aaaaaaarghhhh..." teriak Anna yang kemudian pingsan.
Suara jatuhnya elevator terdengar cukup keras, membuat Oscar dan yang lain termasuk Santiago menjadi shock. Karena mereka tahu, kalau Rafael dan Patricia masih berada di lorong elevator ketika box elevator tersebut meluncur jatuh ke bawah. Tubuh mereka terasa lemas, karena lagi dua orang telah menjadi korban.
*****
Tbc