Mila tiba di ruang olah raga tempat biasa ia berlatih gaya cheerleader bersama teamnya. Wajahnya masih terlihat kaku dan ketakutan. Ia masih trauma dengan kejadian yang terjadi di aquarium beberapa hari lalu. Ditambah lagi, kejadian yang menimpa Flint kemarin malam. Benar-benar kejadian yang tidak disangka-sangka.
Sungguh ironis, jika sebelumnya Flint terselamatkan dari kejadian di aquarium tersebut, namun kemarin malam pemuda itu harus tewas dalam sebuah kebakaran yang membakar rumahnya.
Apakah kejadian ini masih saling berhubungan? Pertanyaan itu yang kini terus berputar-putar dibenak Mila. Namun ia tidak menemukan jawabannya atau dimana ia harus mencari jawaban pertanyaan tersebut.
"Mila...." panggil Michelle yang saat itu sedang bersama dengan Cecil juga berada di ruangan olah raga itu. Mereka berdua menghampiri Mila yang terlihat sangat sedih.
"Mila... kau baik-baik saja?" tanya Cecil.
"Mengapa kau datang kemari? Bukankah jadwal latihan kita diundur karena kejadian.... kecelakaan itu. Apalagi sekolah juga diliburkan" kata Michelle.
"Aku tahu tentang pengunduran jadwal itu. Kalian sendiri sedang apa disini?" tanya Mila.
"Kami hanya.... ingin datang kesini, itu saja" jawab Michelle.
"Aku.... bosan berada di rumah terus. Tidak bisa ku pungkiri kalau kejadian kecelakaan itu masih membuatku trauma untuk keluar rumah. Tapi aku rindu ingin datang ke sekolah dan melihat tempat latihan kita" jelas Mila.
"Ya. Kami juga merasa begitu" sahut Cecil.
"Kalian berdua melihat berita kemarin malam?" tanya Michelle.
"Berita yang menimpa Flint? Ya aku melihatnya" jawab Cecil.
"Aku juga" sambung Mila.
"Benar-benar tragis, ia harus mati dengan cara seperti itu" kata Michelle.
"Kalian tahu... sebelum kematiannya, aku seperti mendapat sebuah firasat buruk" ujar Mila.
"Firasat buruk? Maksudmu... seperti ketika di aquarium? Kau mendapatkan..... yang disebut visi itu? Apa seperti itu?" tanya Cecil.
"Bukan Cecil, bukan seperti itu. Aku seperti mendapat sebuah pesan yang aku sendiri tidak memahaminya" ucap Mila.
"Lalu.... pesan seperti apa?" tanya Cecil semakin penasaran.
"Sudah... sudah jangan bicarakan hal itu lagi. Semua yang terjadi biarkanlah berlalu. Kita lupakan sejenak semua masalah kecelakaan itu. Sekarang aku ingin mengajak kalian ke cafe biasa, sudah lama kita tidak kesana" kata Michelle.
"Benar juga. Mungkin bisa menghilangkan sedikit rasa trauma" kata Cecil.
"....... baiklah, aku ikut" sahut Mila.
*****
Beli dan kawan-kawan baru saja kembali dari proses pemakaman Flint. Mereka tidak kembali ke rumah masing-masing, melainkan kembali ke studio tempat mereka berlatih. Ekspresi sedih terpapar di wajah mereka masing-masing. Karena Flint satu-satunya drummer terbaik buat band mereka. Kini sang drummer telah tewas dalam sebuah kebakaran yang penyebabnya masih belum diketahui.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Alicia.
"Entahlah.... nothing" jawab Dimitri yang tidak bersemangat sambil memukul-mukul drum dengan sticknya.
"Sebaiknya kalian vakum dulu, break, take a rest" ujar Chris.
"Aku bingung Chris, seharusnya tidak lama lagi kami harus tampil disebuah cafe. Dan sekarang semuanya berantakan" kata Beli.
"Mengapa kalian tidak mencari seorang drummer baru?" saran Chris.
"Mencari drummer baru? Itu tidak gampang. Sulit menemukan yang cocok dengan selera bersama" sahut Alicia.
"Mungkin saran Chris ada benarnya juga, kita break sebentar sampai semuanya kembali bersemangat" kata Dimitri.
"Sepertinya boleh juga. Lagipula pihak cafe pasti mengerti dengan apa yang terjadi" sambung Alicia.
"Jika keinginan kalian begitu... baiklah aku juga tidak bisa melarang, karena aku pun benar-benar kehilangan semangat saat ini" sahut Beli.
"Aku yakin setelah beberapa hari kalian break, kalian akan mendapatkan semangat baru" kata Chris.
"Semoga saja" kata Alicia.
"Ya. Semoga saja. Dan semoga saja tidak ada lagi hal buruk yang menimpa kita" sambung Dimitri sambil memukul keras drum tersebut.
*****
Disebuah cafe bernama Scarz Cafe, Mila dan teman-temannya sedang mencoba mendapatkan kembali rasa semangat mereka setelah beberapa hari ini mengalami masa-masa buruk.
"Girls.... sepertinya aku pulang saja" kata Mila.
"Mengapa Mila? Memangnya ada apa?" tanya Michelle.
"Entahlah Chelle, aku benar-benar tidak bisa menghilangkan perasaan ini. Perasaan yang terus saja menggangguku. Maaf teman-teman, aku benar-benar harus pulang" kata Mila.
Saat Mila hendak meninggalkan bangkunya, tidak sengaja ia menabrak seorang pemuda yang hendak memesan minuman kepada pelayan cafe.
"Ouch... maaf, aku tidak sengaja" kata Mila.
"Tidak, tidak masalah, aku baik-baik saja" kata pemuda itu.
"Kevin..... ternyata kau" kata Mila.
"Ya, ini aku. Kau.... sedang bersama teman-temanmu ya?" kata Kevin yang saat itu datang bersama Nathan ke cafe tersebut.
"Ehhmmm... sebenarnya aku sudah mau pulang" ujar Mila.
"Benarkah? Kau pulang dengan siapa? Boleh ku antar?" tanya Kevin.
"Jika kau tidak keberatan.... aku bersedia" jawab Mila malu-malu.
"Tentu saja aku tidak keberatan" sahut Kevin dengan senang hati.
"Tunggu... tunggu... kau mau meninggalkanku disini sendirian" kata Nathan.
"Bukankah ada teman-teman Mila disini. Ayolah kawan ini kesempatanku untuk mencoba mendekatinya" bisik Kevin pada Nathan.
"Baiklah-baiklah, aku mengerti" sahut Nathan.
"Cecil, Michelle... aku pulang dulu. Nanti aku akan menghubungi kalian" kata Mila sambil bergegas meninggalkan cafe tersebut dengan ditemani oleh Kevin.
"Ok" jawab Cecil dan Michelle bersamaan.
Saat mereka keluar cafe, Cassandra dan gengnya pun baru tiba di cafe tersebut. Rupanya tempat itu menjadi tempat favorit mereka juga.
"Nadine lihat, bukankah itu Kevin?" kata Evelyn sambil menunjuk kearah Kevin.
"Itu... memang dia. Tapi... dia sedang bersama... Mila, si cheerleadeer itu" kata Nadine agak kesal.
"Ow, kau kalah satu langkah teman" ejek Cassandra.
"Diamlah Sandra, aku benar-benar tidak ingin membahasnya" sahut Nadine.
Namun Cassandra dan Evelyn hanya tersenyum-senyum sambil menutup mulut mereka.
"Hey, kalian berdua menertawakanku ya?" tanya Nadine semakin kesal.
"Tidak.... kami tidak menertawakanmu, tenanglah Nadine, kau masih banyak kesempatan. Dan kami akan membantumu untuk mendekatkanmu dengan Kevin" sahut Cassandra.
Ketika mereka sedang berbicara didalam mobilnya, tiba-tiba Nathan muncul dan mengagetkan mereka bertiga.
"Hey.... apa yang kalian lakukan disini?" tanya Nathan yang datang tiba-tiba.
"Aaaaaarrrgghhhhh...." teriak ketiga gadis tersebut.
"Kau.... kau mengejutkan kami, tahu?" bentak Cassandra.
"Maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu" sesal Nathan. "Maafkan aku Nadine" sambungnya sambil memohon-mohon kata maaf kepada Nadine.
"Oh tidak.... aku mau pingsan... aku mau pingsan... girls bawa aku pergi dari sini" kata Nadine.
"Nadine kau tidak apa-apa?" tanya Evelyn.
"Aku sekarat... bawa aku pergi dari sini" sahut Nadine.
"Baiklah, kita pergi dari sini" ujar Cassandra sambil menyalakan mobilnya dan segera pergi meninggalkan tempat itu.
"Hey.. kalian mau kemana? Mengapa kalian meninggalkanku?" teriak Nathan ditempat perparkiran. Sehingga mengundang perhatian orang-orang yang kebetulan sedang berada disekitar tempat itu.
*****
Disebuah toko penjual perkakas pertukangan, Dimitri yang ditemani Alicia sedang membeli beberapa alat-alat yang digunakan untuk bertukang, seperti paku, palu, dan lainnya.
"Dimana tempat bor tangan?" tanya Dimitri kepada sang penjaga toko.
"Rak nomor enam, dibagian paling ujung" jawab sang penjaga toko.
Dimitri pun segera menuju ke rak tersebut untuk mencari bor tangan yang sedang ia butuhkan.
"Kau ingin melakukannya sendirian?" tanya Alicia.
"Melakukan apa?" Dimitri balik bertanya.
"Mereparasi apartemenmu" kata Alicia.
"Ya. Mengapa tidak" jawab Dimitri.
"Mengapa kau tidak memanggil tukang saja?" tanya Alicia lagi.
"Untuk menghemat" jawab Dimitri sekenanya.
"Kalau begitu biarkan aku membantumu" kata Alicia.
Dimitri menatap Alicia sejenak dari kepala sampai kaki. "Tidak".
"Mengapa tidak?" tanya Alicia. "Apa karena aku seorang perempuan? Kau tidak yakin aku bisa membantumu mengerjakan pekerjaan seperti ini?".
"Sekali tidak tetap tidak" tegas Dimitri yang telah menemukan sebuah bor tangan bermerk 'doomz' dan membawanya ke meja kasir.
*****
Setelah mengantarkan Alicia pulang ke rumah orang tuanya, Dimitri pun kembali ke apartemennya. Saat ia hendak memasuki apartemen, ia menemukan kalau apartemen tersebut sudah dipasang sebuah pagar baru di sisi kanan dan kirinya. Ia pun tersenyum ketika melihat pagar itu terpasang di kedua sisi apartemennya.
Ia pun masuk ke ruangan miliknya yang berada di lantai lima. Sejenak ia melihat seluruh ruangan itu yang cukup berantakan. Setelah menutup pintu, ia pun merapikan sedikit barang-barangnya. Selanjutnya ia berganti pakaian dan ingin segera memulai pekerjaannya dengan menggunakan barang-barang yang ia beli tadi.
Dimitri hendak memasang sebuah palang gorden yang akan ia pasang di jendela apartemennya. Ia pun membuka jendela apartemennya sambil melihat pemandangan di luar. Saat itu ia hendak memasang sebuah tali kawat pada jendelanya. Kemudian ia mengambil sebuah bangku dan memanjatinya agar bisa mencapai bagian atas jendela tersebut dan memasang tali kawat tersebut.
Hal selanjutnya yang ia lakukan ialah hendak melubangi dinding sebagai tempat memasukkan mur dan baut. Untuk melubanginya, ia mengambil bor tangan yang telah ia beli di toko pertukangan tadi sore. Setelah memasukkan mata bor pada mesin bor tangan tersebut, Dimitri pun menghubungkannya dengan arus listrik.
Lalu ia memanjat kembali ke atas bangku dan mulai melubangi dinding apartemennya.
*****
Sementara itu, di kediaman Mila, saat itu sang ayah hendak melakukan aktivitas pertukangan. Ia hendak melubangi dinding untuk memasang sebuah figura lukisan. Mila dan adiknya yang laki-laki sedang menyaksikan sebuah pertandingan baseball dengan team favorit mereka team 'Driller', sedangkan adiknya yang perempuan sedang bermain bersama dengan sang ibu.
Saat sang ayah hendak menghidupkan bor tangannya, tiba-tiba suasana pencahayaan rumah menjadi redup. Hal itu membuat penghuni rumah tersebut, terutama Mila, menjadi heran.
"Ada apa? Mengapa penerangan kita meredup?" tanya Mila.
"Honey, mengapa penerangan rumah meredup?" tanya sang ibu kepada sang ayah.
"Aku tidak tahu, mungkin ada masalah dengan sekring listriknya" sahut sang ayah sambil mematikan bor tangan miliknya. Saat ia mematikan bor tangan tersebut, cahaya lampu seluruh rumah kembali terang.
"Horee... terang lagi" kata sang adik perempuan.
"Mungkin tidak ada masalah apa-apa" ujar sang ayah sambil menghidupkan bor tangannya lagi. Dan lampu pun meredup lagi.
"Horee... redup lagi" ucap sang adik perempuan lagi.
"Lily berhentilah" bentak Ben.
"Mommy..."
"Benjamin.... jangan membentak adikmu seperti itu" kata sang ibu.
"Sorry..." sahut Ben.
"Baiklah.. aku akan memeriksa sekringnya sekarang juga. Ini benar-benar aneh, kejadian ini belum pernah terjadi sebelumnya" gerutu sang ayah.
Kejadian aneh tidak hanya meredupnya penerangan rumah, siaran televisi yang sedang Mila dan Ben saksikan, tiba-tiba berhenti. Hanya terdengar suara sang komentator yang terdengar berulang-ulang.
"Watch out...!!! The drill...
Watch out....!!! The drill...."
"Sekarang, ada apa dengan televisinya?" tanya Ben sambil menepuk bagian atas televisi tersebut, dan televisi itu pun normal kembali.
Mila merasa aneh dengan hal-hal yang terjadi di rumahnya. Meredupnya lampu, dan siaran televisi yang tiba-tiba berhenti, dengan suara yang berulang-ulang seperti sebuah kaset video yang rusak.
"Mengapa lagi-lagi perasaanku tidak enak" gumamnya.
*****
Dimitri masih melakukan pelubangan terhadap dindingnya dengan menggunakan sebuah bor tangan, tiba-tiba bor tersebut macet dan tidak mau berputar.
"Now what?" ucapnya.
Dimitri pun merasa sedikit kesal, karena bor tangan itu baru saja ia beli tadi sore, dan kini bor tersebut malah menyusahkannya. Dimitri hendak memeriksa bor tangan tersebut, ia berbalik badan dengan berposisi membelakangi jendela apartemennya yang sedang terbuka lebar.
Ia menekan-nekan tombol bor tangan tersebut sambil mengarahkan ujung mata bor ke wajahnya sendiri. Beberapa kali ia mencoba, namun bor itu tidak mau berputar juga. Sampai kesekian kalinya, tiba-tiba mata bor itu berputar dan terlepas dari mesinnya. Karena adanya sentakan dari mesin bor tangan, maka bor itu langsung menancap pada mata Dimitri yang sebelah kanan.
"Aaarghhhh...." teriaknya saat mata bor itu menusuk bola mata kanannya.
Keseimbangannya pun mulai terganggu, sehingga kakinya terlepas dari bangku tempatnya berpijak. Ia pun terjatuh ke belakang, dengan leher terjerat pada tali kawat yang sebelumnya ia pasang melintang pada jendela apartemennya tersebut. Tubuhnya jatuh keluar jendela, namun masih berposisi menggantung dengan leher yang terjerat pada tali kawat tersebut. Ia pun berusaha meraih sisi jendela, namun tangannya tidak bisa meraih sisi jendela tersebut.
Ketika itu, muncul sebuah taxi yang berhenti di depan apartemen tersebut. Seorang gadis pun keluar dari taxi tersebut.
Melihat gadis tersebut, Dimitri mencoba memanggilnya namun jeratan di lehernya membuatnya semakin tersiksa. Lama kelamaan tali kawat itu tidak mampu menahan berat tubuhnya.
"Terima kasih" ujar sang penumpang yang ternyata adalah Alicia. "Dim bodoh, mengapa ia meninggalkan ponselnya di tasku. Dasar ceroboh. Mudah-mudahan ia tidak ceroboh saat melakukan reparasi apartemennya" ucap Alicia.
Ketika Alicia hendak memasuki apartemen tersebut, tiba-tiba tubuh Dimitri jatuh ke bawah dan tertancap pada pagar apartemen yang baru saja dipasang.
"Aaaaaaa......" teriak Alicia histeris yang kemudian pingsan di depan apartemen tersebut.
*****
Tbc