FD 2 Chapter 5. The Diary

1399 Words
Proses pemakaman Dimitri baru saja selesai. Tampak Alicia dan kedua orang tuanya kelihatan sangat sedih. Terlebih lagi Alicia yang masih tidak percaya kalau Dimitri sudah pergi, apalagi dengan cara yang mengenaskan seperti itu. Mereka berdua memang saudara tiri, dan sering terlibat ketidakcocokkan. Namun di hati Alicia yang paling dalam, sebenarnya ia sayang dengan Dimitri, karena dari Dimitri ia menemukan sosok seorang kakak, yang tidak pernah ia miliki sebelumnya. Beli dan Chris juga terlihat menghadiri proses pemakaman tersebut. Kini ia telah kehilangan dua anggota bandnya. Hal ini membuat Beli putus asa. Namun ia beruntung masih memiliki Chris di sisinya, yang selalu setia menemaninya disaat suka maupun duka. "Ini benar-benar sebuah tragedi" kata Cecil kepada Mila saat mereka sedang kembali dari pemakaman Dimitri. "Aku tahu Cecil. Aku juga merasa kematian Dimitri dan Flint ada hubungannya dengan kecelakaan akuarium tiga hari yang lalu" ujar Mila sambil menghela nafas. "Apa maksudmu?" tanya Cecil. "Aku masih belum yakin Cecil. Tapi yang jelas aku harus menemukan jawabannya" kata Mila. Tidak berapa lama, mereka pun tiba di kediaman Mila. "Terima kasih Cecil. Kau sudah memberikan ku tumpangan" kata Mila. "It's ok, no problem" sahut Cecil sambil tersenyum. "Kau mau kemana setelah ini?" tanya Mila. "Aku ingin menemui Michelle di butik milik ibunya" jawab Cecil. "Ow... kalau begitu aku titip salam buat Michelle. Maaf aku tidak bisa ikut denganmu" kata Mila. "Tidak apa-apa Mila. Aku mengerti" ujar Cecil. "Sekali lagi terima kasih ya" kata Mila. "Ya. Bye Mila... salammu akan ku sampaikan pada Michelle" ujar Cecil sambil mengemudikan mobilnya meninggalkan rumah Mila. "Bye..." balas Mila. Sepeninggal Cecil, Mila pun masuk kedalam rumahnya dengan wajah sendu dan tidak bersemangat. "Mila... kau sudah pulang. Bagaimana keadaan di pemakaman?" tanya sang ibu. "Baik. Semuanya baik. Hanya saja... keluarganya sangat sedih karena kepergian Dimitri" jawab Mila. "Ya. Aku mengerti perasaan mereka" sahut sang ibu. "Oh ya, ada orang yang sedang mencarimu". "Mencariku? Siapa?" tanya Mila penasaran. "Seorang gadis. Katanya dia temanmu. Dia sudah menunggumu daritadi di ruang tamu. Sebaiknya kau melihatnya" kata sang ibu. Mila menjadi penasaran, kira-kira siapa gadis yang datang menemuinya saat ini. Ia pun bergegas menuju ke ruang tamu, dan menemukan seorang gadis sedang membaca-baca majalah yang ada di atas meja. "Maaf, kau mencariku?" tanya Mila. Gadis itu sedikit terkejut mendengar suara Mila yang menyapanya dengan tiba-tiba. "Oh, kau sudah tiba" kata gadis itu sambil berdiri dari tempat duduknya. "Kau siapa?" "Kau tidak mengenaliku? Aku Jessica" kata gadis tersebut, namun Mila masih belum mengenal siapa gadis itu sebenarnya. "Jessica...??" "Cheerleader, alumni... apa kau masih lupa?" tanya Jessica. "Jessica.... Oh My God, mengapa aku sampai bisa melupakanmu?" kata Mila yang sudah mengingat siapa gadis itu sebenarnya, "aku benar-benar tidak percaya ini kau. Kemana saja kau setelah lulus dari sekolah?" "Hmmmm... tentu saja aku melanjutkan pendidikanku di California University, dan dua hari yang lalu aku baru kembali dari New York" "New York?" "Ya. Aku mengunjungi pemakaman sepupuku yang meninggal karena kecelakaan" jelas Jessica. "Sepupumu? Maksudmu...." "Ya. Oscar Alberto. Kau mengenalnya kan?" "Aku tidak begitu mengenalnya, tapi aku tahu dia. Meskipun begitu aku turut berduka cita. Hhh... belakangan ini orang-orang yang ku kenal juga meninggal dalam sebuah kecelakaan" sahut Mila. "Terima kasih" kata Jessica. "Lalu.... mengapa kau mencari ku? Apa ada sesuatu yang penting?" tanya Mila. "Ehmmm... sebenarnya aku juga bingung harus memulainya dari mana. Tapi aku merasa berkewajiban untuk memberitahukan hal ini kepadamu" "Tentang apa?" tanya Mila penasaran. "Hal ini ada hubungannya dengan.... Oscar dan apa yang terjadi di akuarium San Diego serta kecelakaan yang menimpa kedua teman-temanmu itu" kata Jessica. "Apa maksudmu, Jessica? Aku benar-benar tidak mengerti" kata Mila. "Aku tahu dari televisi dan koran, apa yang terjadi di taman laut San Diego tiga hari lalu. Dan di berita tersebut juga menyatakan kalau kau melihat kejadian itu sebelum kecelakaan itu terjadi. Dan kau secara tidak langsung telah menyelamatkan beberapa orang teman-temanmu dari kecelakaan tersebut yang seharusnya menjadi korban didalam kecelakaan akuarium tersebut" jelas Jessica. "Jessica, sebenarnya apa yang ingin kau beritahukan kepadaku?" tanya Mila yang mulai enggan untuk membicarakan hal tersebut. "Aku hanya ingin memberitahukan kepadamu, apa yang telah kau rasakan dan kau alami, sama dengan apa yang telah dialami oleh Oscar" jelas Jessica. "Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kau bicarakan?" Jessica mengeluarkan sebuah buku diary berwarna hitam yang dibagian sampul depannya terdapat sebuah tulisan 'Final Destination'. "Ini adalah buku harian milik Oscar" ucap Jessica sambil menyerahkannya kepada Mila, "Aku menemukan buku tersebut ketika berkunjung ke rumahnya untuk menghadiri pemakamannya. Awalnya aku tidak bermaksud membacanya... tapi ada sesuatu yang mendorongku untuk membaca buku tersebut" lanjutnya. "Final Destination" gumam Mila pelan. "Kau harus membaca buku harian ini, dan aku harap kau bisa menemukan sebuah jawaban atas pertanyaanmu" kata Jessica. "Baiklah, aku... harus pergi sekarang, karena aku masih harus mengerjakan sesuatu" "Oh baiklah" sahut Mila agak kaku. Jessica pun meninggalkan Mila yang masih menyimpan perasaan bingung. Sementara itu Mila masih memegang buku harian Oscar yang dipinjamkan oleh Jessica kepadanya. Antara rasa penasaran dan rasa enggan membuatnya bingung memilih untuk membaca buku itu atau tidak. Ia pun melangkah meninggalkan ruang tamunya menuju ke kamarnya. "Sayang... dimana temanmu tadi?" tanya sang ibu yang muncul dari dapur. "Dia sudah pulang, Mom" jawab Mila. "Hmm... ok..." sahut sang ibu sambil kembali masuk kedalam dapur. ***** Beberapa jam kemudian, didalam kamar, Mila berbaring di atas tempat tidurnya sambil sesekali melirik ke buku harian Oscar yang ia letakkan di atas meja belajarnya. Tampaknya rasa penasaran membuatnya berniat membaca buku harian tersebut. Secara perlahan ia membuka halaman pertama buku tersebut. "8 Juli 2020 Namaku Oscar Alberto. Hari ini aku bersama dengan teman-temanku mengadakan liburan musim panas ke kota Cancun. Kami benar-benar senang bisa berlibur ke kota yang sering disebut sebagai Mexican Carribean itu. Tapi semua kesenangan berubah ketika sebuah kapal wisata yang akan kami tumpangi mengalami kecelakaan fatal yang menewaskan seluruh penumpangnya. Yang membuat aku tidak habis fikir, sebelum aku dan teman-temanku berangkat menaiki kapal wisata itu, aku mendapatkan sebuah penglihatan kalau kapal itu akan mengalami kecelakaan. Aku benar-benar panik sesaat mendapatkan penglihatan yang begitu nyata aku rasakan. Kepanikanku membuat sedikit kekacauan dan mengakibatkan beberapa orang penumpang, termasuk teman-temanku turun dari kapal tersebut dan mengurungkan niat mereka untuk menikmati kapal wisata tersebut. Sampai akhirnya, kejadian yang aku lihat sebelumnya, benar-benar terjadi. Kapal wisata itu meledak dan menewaskan seluruh penumpangnya, termasuk dua orang temanku yang masih berada didalam kapal tersebut." Mila tersentak sejenak dan berhenti membaca buku tersebut, ia benar-benar tidak percaya kalau ada orang lain yang pernah mengalami kejadian seperti dirinya. Kemudian ia memutuskan untuk meneruskan membaca buku itu lagi. "9 Juli 2020 Mengapa ini harus terjadi kepadaku? Pertanyaan itulah yang berulang kali aku lemparkan kepada diriku sendiri. Apalagi kejadian naas masih belum beranjak meninggalkan kami. Satu dari temanku yang selamat, bernama Juan Fransisco. Ia ditemukan tewas disebuah club yang belum beroperasi. Tubuhnya ditemukan tertimpa lighting........". Mila terus membaca isi buku harian Oscar dengan serius. Semakin ia membaca semakin timbul rasa penasaran didalam dirinya. Apalagi ia mulai mengetahui setelah membaca diary tersebut, kalau meskipun ia dan teman-temannya telah selamat dari kecelakaan akuarium, teror kematian belum berhenti mengejar mereka. Teror itu akan kembali mengejar mereka satu persatu. "......... Peramal yang bernama Amber itu memberitahukan, kalau aku dan teman-temanku sudah mencurangi rancangan kematian yang sudah direncanakan untuk kami. Dan kini kematian itu telah membuat rancangan kematian baru untuk kami semua. Itu terbukti dengan tewasnya satu persatu orang-orang yang selamat dari kecelakaan kapal wisata itu.....". "Benarkah seperti itu?" tanya Mila pelan. "Jika benar kenyataan seperti itu, aku harus memperingatkan teman-temanku, kalau mereka semua sedang dalam bahaya besar. Sesuatu bisa saja mencelakakan mereka, seperti yang telah menimpa Flint dan Dimitri". Ia pun mengambil sweater ungunya dan bergegas meninggalkan kamarnya sambil membawa buku harian milik Oscar tersebut. "Mom, aku mau menemui Cecil dan Michelle" pamit Mila kepada ibunya. "Kau akan pulang ketika makan malam kan?" tanya sang ibu. "Ya, aku akan kembali sebelum waktu makan malam" jawab Mila. Mila pun dengan buru-buru meninggalkan rumahnya. Ketika ia berada di depan pagar rumahnya, Kevin pun muncul dengan mobilnya. "Kevin....? Apa yang kau lakukan disini?" tanya Mila. "Aku ingin mengunjungimu.... hmmm... tidak boleh ya?" ujar Kevin. "Bukan... bukan itu. Kebetulan sekali, maukah kau mengantarkanku ke butik milik ibunya Michelle?" pinta Mila. "Tentu... tentu saja, dengan senang hati" jawab Kevin. Mila pun naik kedalam mobil Kevin dengan ekspresi wajah penuh kekhawatiran. "Mila... ada apa denganmu? Apa ada yang sedang kau fikirkan?" tanya Kevin. "Ehhmmmm... aku hanya ingin bilang, kalau kita semua sedang dalam bahaya" kata Mila. "Bahaya? Maksudmu?" tanya Kevin heran. "Aku akan menceritakan padamu didalam perjalanan, yang jelas saat ini aku harus bertemu dengan Michelle dan Cecil, dan mengumpulkan yang lainnya, mulai dari teman-teman satu team sepak bolamu, Alicia, Beli, dan juga para gadis populer itu" "Mila.... sebenarnya ada apa?" tanya Kevin semakin penasaran. "Aku akan menceritakannya padamu selama di perjalanan. Tapi sekarang, ayo cepat... jalankan mobilmu" paksa Mila. "Ok... ok..." Kevin dengan penuh rasa penasaran menuruti semua permintaan Mila. Ada apa sebenarnya? Mengapa Mila terlihat begitu khawatir dan ketakutan? Bahaya apa yang dimaksudkan oleh Mila? Pertanyaan-pertanyaan itu bersarang dibenaknya dan membuatnya benar-benar penasaran. ***** Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD