BAB 1 - Milikku
Theana mengusap gelas whisky dengan kain lap yang sudah agak basah, pekerjaan yang biasa ia lakukan setelah berbulan-bulan bekerja di lounge "Velvet Eclipse". Tempat yang selalu ramai pada kamis malam hingga menjelang weekend. Tapi malam ini terasa berbeda, udara lebih berat dan sesak.
“Theana, dua gin tonic untuk meja nomor delapan.” ucap Selly sambil melewatinya dengan nampan penuh.
“Ok.” jawabnya singkat.
Theana Vivian Wijaya (29) atau yang biasa disapa Theana, selama 4 tahun tinggal di Amerika untuk kuliah lalu kembali lagi ke tanah air dengan kehidupan yang membosankan. Hingga akhirnya menjadi seorang bartender adalah pilihannya. Tempat orang-orang kalangan menengah atas datang untuk melupakan masalah mereka.
Sudah enam bulan lamanya, ia bekerja. Di saat orang lain bekerja untuk bertahan hidup. Tapi bagi Theana, ia menjadi bartender hanya karena jenuh dengan kehidupan sebagai putri konglomerat.
Selain jenuh, alasan lainnya yaitu karena terobsesi dengan pria incarannya yang sering menjadi pelanggan tetap di lounge bar ini, tempat sekarang ia bekerja. Bahkan sebelum menjadi bartender, ia sudah mengintai pria idamannya itu.
Lewat kenalannya, Theana meminta untuk bekerja di sana dengan keahlian sebagai bartender, di samping itu ia memang mempunyai sertifikat resmi sebagai bartender profesional.
Matanya kembali tertuju ke pojok ruangan yang paling gelap, tempat biasa pria itu duduk.
“Hei, mana pesanan untuk meja nomor delapan.” ucap Selly yang kembali lagi.
“Jangan melamun, aku sudah duga kau akan memerhatikan CEO itu.” ejek Selly yang sudah tahu kebiasaan Theana jika ada pria incarannya.
Dengan cepat Theana meracik minuman yang sudah dipesan dan segera meletakkanya tepat di nampan yang Selly bawa.
“Cepat bawa itu, sebelum pelanggan meneriaki mu.”
Zane Alexander Pramudya (33) adalah seorang CEO muda yang dingin, brilian, misterius dan menakutkan yang sekaligus merupakan pewaris dari PRAM Tech perusahaan teknologi keluarga yang sudah go public dan berkembang pesat.
Zane terbiasa datang seorang diri, meskipun terkadang bersama assistentnya namun tak pernah lama untuk menemaninya.
Penampilan Zane dengan kemeja hitam lengan digulung sampai siku, memperlihatkan lengan yang kuat dengan urat-urat yang menonjol. Rambutnya rapi, rahangnya tegas, dan tatapannya dingin sekaligus tajam. Seperti predator yang sedang mengamati mangsanya.
Theana menelan ludah saat melihatnya mengangkat gelas ke bibir. Gerakan itu lambat, terkendali. Ia membayangkan bagaimana rasanya jika jari-jari panjang itu menyentuh lehernya.
"Tunggu saja, akan ku buat kau jadi milikku selamanya. Aku tahu ini gila. Tapi setiap kali mataku bertemu dengan punggungnya yang lebar, setiap kali aku mencium aroma parfumnya yang samar ketika ia lewat di depanku, sesuatu di dalam diriku berbisik semakin keras. Dia milikku."
Seruan dalam hati Theana terus bergeming tiada henti, seolah-olah sedang mendapatkan target buruannya.
Merasa seperti sedang diawasi, Zane pun menoleh ke area meja bar, tatapannya menyapu pelan hampir tanpa emosi. Untuk sepersekian detik, mata mereka bertemu. Gadis itu membeku, napasnya seperti terhenti. Tak ada respon apapun dari pria itu. Ia hanya menatap beberapa detik, lalu kembali ke layar laptopnya seolah tidak terjadi apa-apa.
Sedari tadi Theana sudah memantau Zane selama berjam-jam. Dari balik meja bar, ia melihat setiap gerakannya. Caranya mengendurkan dasi, bagaimana jari-jarinya mengetik cepat di laptop, dan tatapan lelah yang jarang sekali pria itu tunjukkan di depan orang lain.
Theana mengecek layar tablet di meja bar nya dan terdapat pesanan baru.
‘whisky single malt tanpa es'
“Cihh... yang benar saja, bukankah dia sudah pesan? kenapa pesan lagi?" gumamnya pelan.
Di saat Theana sedang mempersiapkan pesanan tadi, terdapat sosok wanita sexy dengan gaun merah tipis dan ketat, rambut bergelombang disertai dengan senyuman nakal, langkahnya sedikit sempoyongan namun masih terlihat sadar, wanita itu langsung menuju pojok gelap, tempat Zane duduk.
“Boleh ikut bergabung?" wanita itu membungkuk sedikit di depan meja Zane, memperlihatkan belahan d**a yang dalam, bibirnya bergerak tertawa kecil sambil menyentuh lengan Zane sekilas.
“Sepertinya... kau terlihat butuh teman?"
Zane tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap wanita itu dengan tatapan datar yang khas, tapi tidak mengusirnya. Tangan wanita itu masih berada di lengan Zane lebih lama dari yang seharusnya.
Rasa cemburu dalam diri Theana bangkit, namun ia tetap menahan diri, dan mencoba mengamati tiap gerakkan wanita itu namun bukannya semakin menjauh, wanita itu justru semakin liar dengan hampir mencium pipi pria incarannya.
“Sialan, biar aku yang mengantar pesanan ke meja pojok.” ujar Theana kesal.
Selama ini Theana cukup hanya menikmati dengan cara memandang dari kejauhan serta mengikuti diam-diam kemana pun Zane pergi tanpa bertemu secara formal, tapi melihat wanita lain berani mendekat, apalagi menyentuh miliknya maka harus siap berhadapan dengannya.
Semakin dekat, semakin jelas. Theana datang menghampiri dengan membawa segelas whisky dan menaruhnya di depan Zane.
“Ini pesanannya. Dan..." ucap Theana sambil melirik ke arah wanita berbaju merah.
"Mohon maaf, Nyonya... Kami mendapat aduan jika anda bukan pelanggan tetap VIP di meja ini. Jika anda sedang mencari tempat duduk, ada banyak kursi kosong di area tengah.” ujar Theana dengan akal-akalannya.
Wanita berpakaian merah itu menoleh ke arahnya dengan alis terangkat, jelas tidak senang dengan kehadiran Theana.
“Meja di sini sama saja kan? Kamu hanya seorang karyawan, jangan ikut campur urusanku.” ucap wanita itu.
"Benar, namun meja ini sudah dikhususkan untuk seorang diri." ucap Theana lembut dengan senyuman palsunya.
Ia tidak mundur, matanya tetap tertuju pada Zane. Saat itu juga Zane menatapnya intens. Untuk pertama kalinya, tatapannya tidak lewat begitu saja. Ada kilatan sesuatu di mata hitamnya penasaran.
"Dia benar." ucap pria itu dengan suara rendah yang dalam, mereka saling menatap "Aku tidak suka diganggu."
Wanita itu tersentak, melepaskan tangan yang sedari tadi melingkar di lengan Zane. Tanpa banyak kata, akhirnya ia pergi dengan menghentakan kaki sambil memberikan tatapan tajam.
Ruangan terasa hening sejenak. Hanya ada alunan musik lounge yang pelan dan degup jantung yang membahana di telinga.
"Terima kasih." ujar Zane mengambil gelas whisky pesanannya tadi.
"Saya sering melihat anda sendirian, jadi saya rasa dia bukan teman anda." ujar Theana semangat.
Zane menyesap whiskynya sekali lagi dan menyimpan kembali gelas itu di atas meja. "Senang sekali ada yang memerhatikan."
"Hanya… memastikan pelanggan tetap puas." ucapan itu terlontar dari otak Theana yang menggila.
Zane mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. Tatapannya menusuk, seolah bisa membaca setiap pikiran gelap yang bersarang di kepala gadis ini.
"Puas?" ulangnya pelan, nada suaranya berubah lebih rendah.
"Kata itu terasa seperti menelanjangiku di depannya, napasku tertahan, ada semburat senyuman kemenangan yang telah ku dapatkan. Dan aku memutuskan untuk melangkah lebih dekat lagi, tak ada niat untuk mundur sekalipun." seruan monster dalam hati Theana benar-benar gila. Ia sudah berani menampakkan erangannya setelah berbulan-bulan menjadi pengagum rahasia.