Chapter 22

909 Words

Ketika senyum sudah perlahan surut, dirinya seakan hidup tanpa tujuan. Hidup hanyalah untuk satu nyawa yang kini bersemayam didalam rahimnya. Entah mimpi buruk atau memang dirinya yang bodoh. Bisa-bisa sampai seperti ini. Memang, dulu Rexia sangat menginginkan bayi dan bersedih saat kehilangan janin yang baru beberapa Minggu hidup di rahimnya. Tapi, kali ini Rexia tidak tahu harus merasa bahagia atau menderita dengan kehadiran janin ini. Jika dirinya tidak bisa menguasai diri, mungkin nasib janin ini sudah tiada dari dulu. "Kenapa kamu hadir hem? Aku takut tidak bisa membesarkan mu dengan baik. Aku ini wanita gila, aku takut menyakitimu." ucap Rexia sendirian. Tangan kecilnya dengan ragu mengusap area perutnya yang sedikit menonjol. "Aku ini gila, aku tidak akan bisa merawat mu dengan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD