Tidak ada yang spesial selama satu bulan terakhir ini, jiwanya benar-benar terguncang dan stress berat kembali ia alami. Rasanya, ingin lenyap saja dari muka bumi ini, jika tidak mengingat ada satu nyawa didalam perutnya. Wanita itu Rexia. Setelah seminggu lalu mengetahui jika dirinya tengah berbadan dua, rasanya ia sudah tidak kuat untuk hidup lagi. Setiap malam jeritan-jeritan pilu menemaninya, kesendirian selalu menjadi teman setianya. Fawnia? Wanita itu sama terkejutnya, apalagi saat ia mendengar cerita keseluruhan dari mulut Rexia sendiri. Rasanya tak percaya, tapi apa boleh buat, semua sudah terjadi! Fawnia juga tidak bisa berbuat lebih, terlebih tidak tidak mempunyai kontak kedua pria itu. Stevano ataupun Arslan. Jikapun dia punya, rasanya sangat mustahil jika Arslan mau mene

