07

1009 Words
"Aneth, main yuk!" Nathan memanggil seperti anak kecil sembari memencet bel apartemen Defa. "Aneth," panggil Nathan lagi. Salah siapa tidak mempunyai nomer telepon gadis itu, ia pun terpaksa menunggu tanpa bisa berbuat banyak selain memencet bel apartemen. Pintu terbuka, terdapat Aneth yang nampaknya baru bangun tidur. "Gue lupa, tunggu." Aneth kembali menutup pintu dan hal itu membuat Nathan menganga lebar. Tiba-tiba Defa datang, nampaknya pemuda itu sehabis melakukan olahraga pagi. "Aneth udah bangun?" tanya Defa sembari memencet sandi kamar. "Udah, baru aja. Gue masuk ya!" ucap Nathan saat pintu terbuka. Defa mengangguk, mempersilahkan Nathan duduk disofa. "Mau kemana?" tanya Defa meraih sebotol minuman dari dalam lemari es. "Jalan-jalan, buset dah. Tadi malam udah gue bilangin," jawab Nathan sambil memainkan ponselnya. "Minta nomer Aneth dong!" ucap Nathan menyodorkan ponselnya. Defa tersenyum meremehkan. "Cari aja sediri," ucap Defa lalu masuk kekamarnya. Tak lama kemudian Aneth selesai bersiap dengan pakaian jalan-jalannya. "Gue bawa mobil," ucap Nathan memperlihatkan kunci mobilnya. "Biar malaikat gue nggak kepanasan, hehehe..." Nathan terkekeh lalu mengikuti langkah Aneth yang sudah beranjak pergi. "Nath! Hati-hati, bawa mobil!" teriak Defa sebelum pintu tertutup. Nathan mengangguk lalu menggandeng tangan Aneth menuju lift. Mereka sudah dalam perjalanan, tak ada pembicaraan dan Aneth hanya sibuk dengan ponselnya. "Udah sarapan?" tanya Nathan menatap gadis itu sekilas. "Belum," jawab Aneth jujur. Nathan mengambil sesuatu dari jok belakang, yakni sepotong roti dan s**u kotak. "Nih, jangan sampai lo sakit ya! Awas aja," gerutu Nathan membuat sudut bibir Aneth terangkat. "Makasih," ucap Aneth menerima makanan tersebut. "Sama-sama, cantik." Nathan tersenyum sambil mengusap pucuk kepala Aneth. Drt... Drt... "Siapa?" tanya Nathan saat Aneth tak kunjung menjawab panggilan di ponselnya. "Malik," jawab Aneth malas. "Paling dia cuma mau nyuruh gue pulang, gue nggak mau!" tutur Aneth menatap keluar jendela. "Angkat aja, dia pasti khawatir sama lo," titah Nathan namun Aneth malah mematikan ponselnya. Nathan hanya bisa menarik napas, dilihatnya gadis disampingnya nampak memiliki suasana hati yang kurang bagus akibat panggilan tersebut. "Hei," panggil Nathan. "Jangan murung gitu dong, kita 'kan mau jalan-jalan, senyum dulu. Lo lebih cantik kalau senyum," ucap Nathan lembut. "Tau ah!" singkat Aneth memilih memejamkan matanya dengan kepala menyender pada kaca mobil. Cukup lama Nathan menyetir, akhirnya mobil berhenti didekat pantai yang terlihat sangat indah dari kejauhan. "Aneth, bangun. Udah sampai nih, hei!!" tegur Nathan menepuk pelan pipi gadis itu. "Aneth..." panggil Nathan lagi. Aneth membuka matanya, yang pertama kali dilihatnya adalah wajah Nathan dengan jarak yang sangat dekat. "Udah sampai," ucap Nathan membuat Aneth langsung melepas sabuk pengaman lalu turun dari mobil. Gadis itu menatap kedepan dengan tatapan kagum. "Pantai!?" tanya Aneth langsung berlari meninggalkan mobil hungga membuat Nathan tersenyum. Aneth sudah bermain ditepi pantai sedangkan Nathan hanya memandanginya dari kap mobil. "Nathan!" panggil Aneth membuat Nathan langsung melangkah menghampirinya. "Kenapa sayang?" tanya Nathan berjongkok melepas sepatu gadis itu. "Jadi basah deh sepatu lo," ucap Nathan, Aneth hanya tersenyum lalu berlari kearah pantai dengan senyum lebar. "Ini keren banget!!" teriak Aneth menatap Nathan. Nathan mengangguk lalu duduk ditepi pantai sambil menatap sekitar, sesuai dugaanya kalau pantai sepi seperti biasa. Sebab sejak dulu ia pergi bersama Amanda, tak pernah ada orang lain selain mereka. "Capek?" tanya Nathan saat Aneth menghampirinya dengan ekpresi sulit diartikan. "Istirahat dulu yuk." Nathan diam membisu saat gadis itu memeluknya bahkan mereka sampai terjatuh kepasir. "Makasih ya!" ucap Aneth senang. Nathan mengangguk membalas pelukan gadis itu sampai-sampai matanya terpejam karena silaunya cahaya mentari pagi. "Aneth?" panggil Nathan mengetahui gadis itu tengah terisak dilekukan lehernya. "Gue seneng!" ucap Aneth jujur. "Jangan nangis dong," ucap Nathan bangkit masih memeluk Aneth. "Kebahagiaan bakalan datang kalau lo ngebuka diri," ucap Nathan membuat Aneth menatapnya. "Gue nggak bisa." Aneth melepas pelukannya perlahan dan kembali terdiam memandangi laut biru. "Gue takut, bahagia." "Gue takut, ada sakit setelah bahagia lagi." Aneth tersenyum tanpa tahu kalau Nathan tak pernah mengalihkan pandangan darinya. "Terus?" tanya Nathan lebih dalam. "Gue kehilangan matahari--" "Tutup mata lo," potong Nathan membuat Aneth menutup mata dengan perlahan. "Sekarang buka," perintah Nathan dan Aneth mengikuti. Pandangannya masih sama, yakni pada laut biru, namun kali ini mata Aneth tertuju pada pancaran sinar mentari pada lautan. Ia mendongakkan kepalanya dengan kening berkerut. "Matahari nggak pernah pergi, dia selalu ada buat lo. Jadi saksi waktu lo nangis, jadi saksi waktu lo ketawa, jangan pernah berpikir kalau elo nggak bakal bahagia di dunia ini," tutur Nathan tulus hingga Aneth menatapnya dalam diam. "Ada gue." Nathan tersenyum membuat Aneth membalas senyumannya. "Main air yuk!" ajak Nathan mengulurkan tangannya yang langsung disambut hangat oleh Aneth. Mereka berlarian ditepi pantai, sesekali tertawa karena percikan air. "Huh..." Nathan mengusap keringatnya begitu pun Aneth. "Gue suka sama lo!" ucap Nathan seketika membuat ekspresi Aneth berubah drastis. "Basi," ucap Aneth melangkah ke tepi lalu duduk dibawan naungan pohon. "Gue nggak bakal berenti bilang suka sebelum elo ngejawab perasaan gue," ucap Nathan datang membawa minuman yang diambilnya dari mobil. "Gue bilang, enggak." Aneth tersenyum lalu meminum minumannya. "Gue nggak bakal berenti nyatain perasaan sebelum elo jawab iya," ucap Nathan lagi. "Terserah," singkat Aneth dengan senyum kecil. "Harus mau!" kesal Nathan seperti anak kecil. "Jangan karena gue nurutin kemauan lo, lo berpikir kalau gue juga punya perasaan yang sama," ucap Aneth menegaskan. "Mungkin," polos Nathan nampak berpikir. "Mungkin nanti! Masih ada hari besok buat bikin elo jatuh cinta sama gue!" girang Nathan mengusap pucuk kepala gadis disampingnya. "Aneh lo," ucap Aneth menepis tangan Nathan. "Tapi lo seneng 'kan?" tanya Nathan jahil. Aneth mengangguk, ia tak ingin membohongi perasaannya. "Nanti setelah ini, gue bakalan ngajak lo ke gunung, terus taman di ujung kota, makan di angkringan langganan, banyak deh pokoknya! Siapa tau, nantinya lo jadi suka sama gue, hehehe..." kekeh Nathan garing. "Defa bilang, setiap orang bisa berubah." Nathan menatap Aneth setelah gadis itu mengucapkan kalimat yang membuatnya berpikir dua kali. "Perasaan gue ke Amanda nggak pernah berubah, Defa salah." Nathan bangkit, berdiri memandangi laut, seiring dengan cahaya mentari yang mulai meredup sebab awan hitam. "Sampai nanti?" tanya Aneth dan Nathan malah mengangguk. "Lo sama aja," kekeh Aneth tersenyum sumbang lalu mengetik sesuatu diponselnya. "Gue pulang dijemput sama Defa, lo bisa pergi duluan." Ucap Aneth seiring rintik hujan yang membasahi mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD