08

1055 Words
"Gue, duluan." Defa pamit pada Nathan yang hanya bisa diam memandangi Aneth yang sudah berada dimobil milik Defa. "Bro!" panggil Defa hingga membuat Nathan terkejut. "Oke, oke." Nathan tersenyum, namun senyuman yang sulit diartikan. Ia membiarkan Aneth pergi pulang bersama Defa, bahkan gadis itu tak berniat membalas tatapannya. Sementara itu dipejalanan pulang, Defa berkali-kali memanggil nama gadis disampingnya namun tak mendapat jawaban apapun. "Cerita sama gue," ucap Defa memberhentikan mobilnya dengan tatapan fokus pada Aneth. Aneth menoleh, setitik air mata jatuh dari pelupuk mata indahnya dan hal itu berhasil membuat tangan Defa terkepal kuat. "Hiks!" Aneth langsung memeluk Defa, menangis terisak dalam dekapan pemuda itu. "Jangan nangis, dong..." ucap Defa menenangkan. "Kalau lo nggak suka, tinggal lo lepas. Jangan berusaha digenggam," ucap Defa lagi hingga membuat Aneth terdiam. "Gue mau pulang," ucap Aneth. "Kerumah," sambung Aneth pelan. Defa mengangguk, kembali menjalankan mobilnya guna menuruti kemauan gadis itu. Namun saat mobil berhenti dipekarangan rumah mewah kepunyaan Laurenz, tiba-tiba Aneth kembali merasakan sakit luar biasa dihatinya, lebih dari saat Nathan mengatakan masih menaruh rasa pada Amanda. "Ke apartemen," ucap Aneth menahan tangis. Defa kembali mengangguk dan menjalankan mobilnya hingga mereka tiba digedung apartemen. Aneth langsung turun dan segera memasuki lift menuju kamar mereka. Hal itu tentu saja membuat Defa juga ikut terluka. "Nathan... awas lo!" gumam Defa kesal. Keesokan paginya, Aneth pergi kesekolahan seperti biasa. Duduk sendiri memandangi jendela, seperti hari-hari sebelumnya. "Nih! Gue bawain roti!" ucap Defa mencoba menghibur namun Aneth hanya diam tak bergeming hingga guru memasuki kelas dan mengabsen satu persatu nama murid dikelas. "Nathan Fernando? Murid baru," ucap guru wanita tersebut. "Enggak masuk!" jawab beberapa siswa. "Cih, kalau lo masuk hari ini. Abis lo sama gue!" gumam Defa pelan. Aneth mengangkat tangan. "Permisi," ucap Aneth kemudian pergi meninggalkan kelas hingga menimbulkan tanda tanya bagi seisi kelas. Aneth terdiam di rooftop sekolah, ia hanya memfokuskan pandangannya pada langit biru, membiarkan cahaya mentari mengenai dirinya. "Ma... Sisil kangen," ucap Aneth seiring air matanya yang mulai jatuh perlahan. Aneth mengusap air matanya saat menyadari kehadiran seseorang dari belakang. "Sil, pulang yuk?" ajak Malik bersuara sendu. "Pergi!" usir Aneth dingin. "Kalau lo nggak mau pergi! Biar gue yang pergi!" tegas Aneth langsung pergi meninggalkan Malik. Gadis itu berlari menuju mobilnya lalu tancap gas meninggalkan sekolah seperti biasanya. Tujuannya tiada lain adalah makam sang ibunda. Aneth menangis, menyenderkan kepalanya pada batu nisan sang ibu. Air matanya tak dapat berhenti jatuh, seiring langit yang mulai gelap dan rintik hujan yang kembali menjatuhi bumi. "Sisil capek..." ucap Aneth parau. Tiba-tiba seseorang datang menghampirinya sambil membawa payung, meneduhi gadis itu dengan senyum tipisnya. "Gue udah duga kalau lo disini," ucap Nathan lembut. "Neduh yuk?" ajak Nathan mengulurkan tangannya. Aneth menolak, gadis itu berlari masuk kedalam hutan meninggalkan Nathan yang langsung mengejarnya. "Aneth! Tunggu!" teriak Nathan yang sudah berlari tanpa membawa payung. "Aneth!" Jdwarrr!! Petir menyambar hingga membuat Aneth terkejut langsung terjatuh ketanah. Nathan langsung memeluknya dengan erat mencoba memberikan kekuatan pada gadis itu. "Lepasin gue!!" "Jangan ganggu gue!!" "Pergi dari kehidupan gue!!" Teriak Aneth memukuli punggung Nathan namun Nathan tak sedikitpun melepaskan dekapannya pada gadis itu. "Aneth! Dengerin gue!" Nathan mengenggam bahu Aneth, menatap intens manik mata gadis itu yang nampak masih mengeluarkan air mata. "Semuanya udah berubah!" "Tolong terima kenyataan!" "Jangan terjebak dalam masalalu----" Plak! Pipi Nathan memanas saat mendapat tamparan dari gadis itu. "Jangan nasihatin gue tentang masa lalu! Lo juga belum bisa lupain Amanda!" bentak Aneth tak kalah marah. "Gue, gue nggak bakal bisa lupain dia! Tapi gue berhasil terima kenyataan kalau dia udah pergi! Kita ngerasain hal yang sama! Gue ditinggal Amanda! Dan elo ditinggal nyokap lo---" Plak! Tamparan kedua. Nathan mencoba menahan emosinya, jika ia marah, maka hal itu hanya akan memperburuk keadaan. "Gue benci elo!" Aneth bangkit kemudian pergi kesembarang arah, hujan mulai reda, namun amarah Nathan belum juga padam. Dikejarnya gadis itu, ia berhasil mendapatkan lengan Aneth dan langsung dibawanya kembali kemobil. "Tolong!" ucap Nathan pasrah. "Gue sayang sama lo," tutur Nathan menatap Aneth. "Lo itu cuma penganggu!" bentak Aneth. "Apa mencintai lo termasuk ngenganggu elo!?" tanya Nathan kesal. "Iya!" bentak Aneth. "Gue nggak pernah minta dicintain sama lo!" tukas Aneth membuat Nathan diam tak bergeming. "Perasaan ini datang sendiri! Gue nggak pernah berpikir mau buka hati buat cewek baru! Gue juga nggak ngerti! Gue jatuh cinta sama lo sejak pertama kali ngeliat lo nangis di makam! Gue nggak tau kenapa! Gue ngerasa ada hal indah waktu gue ngeliat elo!" "Gue cuma berharap, lo ngertiin perasaan gue. Gue nggak minta balasan! Cukup ngerti!" Aneth tersenyum sinis. "Gue aja nggak ngerti sama diri gue sendiri, gimana gue mau ngertiin elo!" ucap Aneth menolak mentah-mentah pernyataan cinta Nathan. "Lo terlalu buru-buru buat jatuh cinta sama gue," kekeh Aneth masih dengan senyuman sumbangnya. Hujan mereda, Aneth turun dari mobil Nathan lalu masuk kemobilnya kemudian pergi begitu saja, selalu begitu. Kini Nathan kembali terdiam. "Manda, Nath harus gimana?" gumam Nathan pelan. Nathan memutuskan untuk pulang kerumah yang langsung disambut oleh Olivia dengan ekspresi bingung, sebab Nathan basah kuyup padahal anaknya itu menggunakan mobil untuk pergi ke makam Amanda. "Nathan," panggil Olivia namun Nathan nampak tak mendengari panggilan ibunya dan langsung masuk kekamar. Ia merebahkan tubuhnya memandangi dinding kamar yang terdapat banyak foto dirinya dan Amanda sejak kecil. Pemuda itu mengusap ekor matanya, menahan air mata untuk tidak jatuh sekarang. "Manda pergi ya, Nath harus bahagia..." Kalimat terakhir yang diucapkan gadis yang sangat dicintainya sebelum memasuki ruangan operasi. "Nathan," panggil Olivia mengetuk pintu. Olivia masuk dengan senyuman lalu mengusap kepala anaknya. "Ada masalah?" tanya Olivia. Nathan menggeleng mencoba tersenyum. "Sama Aneth?" tanya Olivia lagi. Nathan diam kemudian mengangguk. "Kok bunda tau?" tanya pemuda itu dengan polosnya. "Gimana bunda nggak curiga, habis pulang jalan-jalan, kamu langsung diam. Nggak cerewet kayak biasanya, terus tiba-tiba nggak mau sekolah, mau ke makam Amanda aja." Tutur Olivia membuat Nathan tersenyum. "Aneth marah sama Nath," ucap Nathan sendu. "Karena Nath masih nggak bisa lupain Manda," sambung Nathan membuat Olivia terkejut. "Jadi, Nath cerita soal Amanda ke Aneth?" tanya Olivia. Nathan kembali mengangguk. "Bunda tau, maksud Nath baik. Mau Aneth tau masa lalu Nath. Tapi mungkin cara Nath nyampain yang salah," tutur Olivia menjelaskan. "Nanti, dicoba lagi pelan-pelan aja. Jangan maksa seseorang buat ngertiin Nath, ya..." Olivia berhasil membuat Nathan berpikir dua kali, sepertinya ia sudah melakukan banyak kesalahan pada gadis bernama Aneth. Nathan akan mengulangnya, bicara baik-baik dengan malaikatnya, akankah semuanya berjalan sesuai keinginannya, semoga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD