09

1047 Words
Aneth masuk ke kamar apartemennya, nampaknya Defa belum pulang dari sekolah. Tiba-tiba ponselnya berdering, panggilan berasal dari Defa. "Gue ada latihan basket, mungkin pulang agak malam. Nanti gue pesanin makanan, lo istirahat ya, by..." Panggilan berakhir, Aneth hanya menganggukkan kepala lalu mulai membersihkan dirinya dan sekarang ia sudah bersantai didepan televisi. Ponselnya kembali berdering, nomer tak dikenal menghubunginya. "Kasih gue kesempatan kedua." Aneth mengenal suara itu, apakah si penelepon adalah Nathan. "Salah sambung," dingin Aneth mematikan panggilan tersebut. Ponselnya kembali berbunyi. "Hallo, ini Nathan. Kayaknya ini benar nomer Aneth, maaf." Mereka terdiam cukup lama dengan panggilan yang masih berlangsung. "Apa lagi?" tanya Aneth membuat Nathan yang berada diseberang sana terkejut. "Ini benar nomer lo! Gue kira anak-anak cuma mau ngejahilin gue ngasih nomer palsu." Aneth hanya diam mendengarkan ocehan Nathan. "Maaf ya, gue mulai ngerti setelah bunda jelasin. Kasih gue kesempatan, buat nunjukin rasa gue ke elo." "Enggak." Tut! Aneth mematikan panggilan tersebut sekaligus mematikan ponselnya. Ia memilih menonton kartun ditemani cemilan sambil menunggu kedatangan Defa. Di pagi yang cerah, Nathan nampak tak bersemangat pergi sekolah. Ia hanya mengaduk-ngaduk makanannya hingga membuat Olivia merasa kasihan. "Nath, ayo makan. Nanti sakit," tutur Olivia lembut. "Nath makan disekolah aja, pergi dulu ya. Assalamualaikum," ucap Nathan lesu sembari mencium punggung tangan sang ibu. Nathan pergi kesekolah dengan motornya, tidak seperti biasanya saat dalam perjalanan, Nathan selalu bersenandung bahkan menyapa beberapa pengendara. Kali ini sepertinya suasana hatinya sangat buruk. "Nathan! Ngapain kamu parkir motor di parkiran khusus guru!?" teriak satpam yang mulai mengenali Nathan sebab beberapa kali melihat Nathan bertengkar dengan beberapa siswa. "Bibit bad boy," ucap beberapa siswa saat Nathan tetap memarkirkan motornya tanpa menghiraukan teriakan satpam. "Heh!" Nathan menghentikan langkahnya mendapati Malik berdiri diujung koridor. "Mana Aneth!?" tanya Malik ketus. "Nggak tau," jawab Nathan jujur saat mereka sudah berhadapan. "Kalau sampai elo berani nyakitin Aneth! Awas lo!" ancam Malik membuat Nathan tertawa meremehkan. "Bukannya elo yang nyakitin dia?" tanya Nathan dengan ekspresi sinisnya. "Jaga mulut lo!" bentak Malik hendak memukul Nathan namun langsung dihentikan oleh beberapa siswa yang menyadari hal tersebut. Nathan dan Malik berhasil dilerai, dengan Malik yang memutuskan untuk pergi. "Bro, tumbenan amat lo lesu kayak gini," tegur Irhan, salah seorang pemuda yang menengahi perdebatan Nathan dan Malik. "Cuman capek aja," jawab Nathan bergiringan bersama Irhan menuju kelas. "Nathan ya!?" tanya seorang pemuda menghampiri mereka. "Kenalin, gue Alex. Anak kelas sebelah, gue dengar elo sering ribut sama Malik, hahaha! Keren lo!" puji Alex merangkul bahu Nathan. "Biasa aja," jawab Nathan mencoba tersenyum. "Btw, malam ini mau ikut kita nggak?" tanya Alex menatap Irhan sejenak. "Kemana?" tanya Nathan ingin tahu. "Nongkrong. Main game, ya kayak yang biasa dilakuin anak muda," kekeh Alex diangguki Irhan. "Boleh, lokasi?" tanya Nathan merasa tertarik dengan tawaran Alex. Lagi pula, ia memang belum memiliki teman di sekolah. "Dekat pohon besar di Jalan Mawar, gue tunggu nanti malam. Ada banyak anak sekolah juga kok," ucap Irhan menjelaskan. "Oke, oke!" ucap Nathan kemudian masuk kekelas bersama Irhan setelah kepergian Alex. Nathan menghentikan langkahnya mendapati sebuah kursi yang masih kosong. "Aneth ya? Kayaknya belum datang. Defa juga nggak ada," ujar Irhan seolah mengerti isi kepala Nathan. "Dia marah sama gue." Nathan masih berdiri bersama Irhan didekat papan tulis. "Wajar sih, elo ngeganggu ketenangan dia," kekeh Irhan. "Kita anak cowok yang sekelas sama Aneth sejak kelas satu aja nggak ada yang berani ngajak dia ngobrol, lah elo." Dirga, salah seorang siswa angkat suara mendengar obrolan Nathan dan Irhan. "Ya, maaf." Nathan tertawa garing membuat Irhan dan Dirga juga ikut tertawa. "Ayo, duduk dikursinya masing-masing! Kalian nggak dengar bel!?" tanya seorang guru wanita memasuki kelas dengan banyak buku yang dibawanya. Nathan dan para murid bergegas duduk dikursinya. Namun seketika, kelas kembali gaduh saat seorang gadis memasuki kelas, yang bisa dibilang terlihat sangat cantik dengan poninya. Para siswa bersiul merayu sedangkan para siswi nampak berbisik. "Hari ini, kalian kedatangan teman baru lagi setelah kehadiran Nathan." Bu Lisa memulai pembicaraan hingga membuat siswi tersebut nampak terkejut. "Ayo, perkenalkan diri kamu dengan baik," perintah Bu Lisa dengan senyuman. "Hai, kenalin. Nama gue Aleta. Biar lebih akrab, kalian bisa panggil gue Leta. Semoga kita bisa jadi teman baik!" ucap Leta mengundang tepuk tangan seisi kelas. Aleta menabur senyum pada semua orang dan hal itu membuat beberapa siswi dikelas nampak tak senang dengan tingkahnya. "Btw, lo dari SMA mana?" tanya salah seorang siswa. "Gue dari SMA Merah Putih, sama kayak SMA Nathan dulu!" ucap Aleta dengan lancar. Nathan menoleh mendengar namanya disebut. Saat itu juga suasana hatinya semakin buruk, apalagi saat Aleta melambaikan tangan padanya. "Lo temennya Nathan?" tanya salah seorang siswi. "Hm! Kita teman dekat!" jawab Aleta lagi hingga membuat Nathan menatapnya dengan malas. "Dih, sok cantik." Risya, salah satu siswi populer dikelas pun bersuara. "Wuuuu!!" teriak beberapa pemuda. Aleta hanya tersenyum, meski dengan tangan terkepal yang tak ia perlihatkan. "Cantikan juga Aneth!" cibir seorang siswi mendapat acungan jempol dari Risya. "Kalian ini, bagaimana. Seharusnya kalian bangga jika murid pindahan memilih sekolah kita, artinya sekolah kita ini memiliki prestasi luar biasa dan di pandang baik oleh masyarakat," ucap Bu Lisa menengahi. "Iya dong, kan sekolahnya Aneth!" Risya kembali memancing keributan hingga sorak-sorak antara dua kubu tak dapat terhindari lagi. "Oh iya, Aneth mana ya? Belum datang?" tanya Bu Lisa menatap kursi Nathan yang masih kosong. "Ya sudah. Aleta, kamu bisa duduk. Cari kursi yang kosong, saya akan memulai pelajaran." Ucap Bu Lisa membuat Aleta mengangguk dan yang paling pertama ada dibenaknya adalah kursi kosong disebelah Nathan. "Hai Nath!" sapa Aleta senang. "Ih! Itu kursi Aneth!" ucap Irhan menatap Aleta tak suka. "Tapi 'kan kosong!" gerutu Aleta menatap Bu Lisa dan Irhan bergantian. "Ya sudah, kamu bisa duduk dulu. Nanti kalau Aneth datang---" Tiba-tiba perhatian seisi kelas tertuju pada ambang pintu, dimana terdapat seorang gadis yang tengah memegang botol minuman dan sebelahnya terdapat seorang pemuda yang membawakan tas gadis itu. "Apa?" tanya Defa bingung atas tatapan seisi kelas pada mereka. Nathan menatap Aneth tanpa berkedip hingga gadis itu memilih duduk disebelah Risya. Risya pun terlihat berbisik pada Aneth namun tak mendapat respon apapun dari gadis itu. "Kenapa sih?" tanya Defa pada teman duduknya. Irhan memberi kode, Defa yang paham langsung menoleh kebelakang. Aleta sudah duduk dikursi Aneth dan nampaknya Aneth tak sedikitpun mempermasalahkan hal itu. "Baik, pelajaran akan saya mulai." Bu Lisa memulai pelajarannya dengan tenang tanpa ada keributan sebelum kedatangan Aneth dikelas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD