02

1049 Words
"Mah... Sisil capek," ucap Aneth menyenderkan kepalanya ke batu nisan berharap kembali mendapatkan dekapan hangat sang ibu. "Sisil pengen ikut, kapan Tuhan jemput Sisil?" tanya gadis itu semakin terisak. "Enggak baik ngomong kayak gitu." Perhatian Aneth tertuju pada seorang pemuda yang berdiri disampingnya. Pemuda itu menatapnya kemudian tersenyum sembari mengulurkan tangan. "Bolos ya?" tanya pemuda itu saat Aneth bangkit tanpa menerima uluran tangannya. "Bukan urusan lo," dingin Aneth hendak pergi namun pemuda itu dengan lancang menahan tangannya. "Siapa nama lo? Sisil? tanya pemuda itu lagi, tentu saja tak mendapat jawaban apapun dari Aneth. "Apa sih." Aneth menarik tangannya kemudian pergi hingga senyuman pemuda itu kembali hadir. "Nathan!" seru seorang wanita mendekati si pemuda bernama Nathan Fernando. "Iya, bun?" tanya Nathan berjongkok menaruh setangkai bunga mawar di makam Mentari, ibu dari Aneth. "Ngapain kamu?" tanya Olivia tersenyum mengusap pucuk kepala sang anak. "Nggak, cuma abis liat hal yang indah aja," jawab Nathan merangkul bahu sang ibu. "Yaudah, yuk ke makam Amanda," ajak Olivia berjalan bergiringan bersama Nathan menuju sebuah makam bertuliskan nama Amanda Raisya. "Manda?" sapa Nathan berjongkok menyentuh batu nisan. "Nath datang nih, bawain bunga mawar. Manda seneng 'kan pasti? Pasti dong..." Nathan tertawa pelan kemudian menaburi bunga mawar dengan senyuman yang tak pernah luntur. "Bunda kesana dulu ya," ucap Olivia berjalan menjauhi Nathan menuju makam kerabat mereka. "Manda, tadi Nath ketemu malaikat. Disana," ucap Nathan menatap sejenak pada makam Mentari. Tempat ia bertemu dengan Aneth. "Nath, suka. Sama malaikat itu," jujur Nathan masih mengusap batu nisan dengan tangan kanannya yang dimana, sebuah gelang bertuliskan nama Amanda melingkar dipergelangan tangannya. Di tempat lain, Aneth masuk kesebuah apartemen setelah memencet pasword dan tiada lain adalah apartemen milik Defa. "Aneth! Kemana aja lo, gue panik! Astaga!!!" heboh Defa memeluk Aneth dengan erat. "Ih!" risih Aneth membuat Defa cengengesan. "Lo lapar?! Mau makan apa? Biar gue masakin?" tawar Defa menuntun Aneth duduk disofa ruang tamu. "Pasta," ucap Aneth. Defa tersenyum lalu mengangguk. "Tunggu ya!" pinta pemuda itu kemudian pergi menuju dapur. "Gue mau nginap," ucap Aneth lagi. "Aneth... Aneth... Lo kayak sama siapa aja, mau selamanya elo tinggal disini juga nggak papa. Asal bayar apartemen berdua! Hahaha!" tawa Defa pecah membuat Aneth tersenyum. Beberapa saat kemudian, mereka makan bersama ditemani kartun sore hari. "Oh iya, seragam sekolah lo udah di loundry. Tuh," tunjuk Defa pada papper bag. "Thanks," ucap Aneth singkat. Defa tersenyum. "Neth, jangan sungkan ya, kalau mau minta tolong sama gue. Gue mau kok direpotin sama elo, libatin gue disetiap masalah lo. Oke?" ucap Defa tulus. Aneth mengangguk diakhiri senyum kecil. Malam semakin larut, Aneth dan Defa tidur dikamar yang berbeda. Hal ini sudah biasa terjadi, bahkan Fero sendiri lebih tenang jika Aneth bersama Defa dibanding saat Aneth memilih tidur dimobil didekat pemakaman sang ibu. Ya! Jika tak pulang kerumah, ataupun ke apartemen Defa. Gadis itu memilih tidur dimobil, tak ada rasa takut sedikit pun dalam benak gadis itu. Di pagi yang indah, seindah senyuman Defa yang tengah bercanda bersama beberapa pemuda dikelas. Aneth duduk dibelakangnya. "Pagi anak-anak." Seorang guru memasuki kelas sembari menyapa, dibelakangnya terdapat seorang pemuda dengan senyum lebar menatap seisi kelas. "Kembali ke kursi masing-masing!" perintah Pak Dito setelah seisi kelas menjawab sapaannya. Aneth tak mendengari, gadis itu hanya duduk memandangi jendela dengan ekspresi acuh meskipun Defa mengajaknya berbicara. "Hari ini kalian kedatangan teman baru. Ayo perkenalkan nama kamu," perintah Pak Dito pada si murid baru yang tiada lain adalah Nathan Fernando. "Hai semua..." sapa Nathan hingga membuat para gadis histeris dan sekali lagi, perhatian Aneth tak teralihkan dari jendela. "Kenalin, nama gue---" Kalimat Nathan terhenti saat matanya menatap seorang gadis yang ia yakini sebagai gadis kemarin yang ditemuinya di pemakaman. "Sisil!?" ucap Nathan tak percaya. Defa mendelik, menatap Nathan yang berjalan menghampiri meja nya, ah bukan. Lebih tepatnya menghampiri meja Aneth. "Sisil! Hello??" sapa Nathan yang sudah berada didekat Aneth. Aneth menoleh, menatap Nathan dengan ekspresi tak bersahabat. "Gue Nathan! Masa lo lupa sih sama gue? Kemarin kita ketemu!" Nathan menarik tangan Aneth kemudian menyalaminya hingga membuat Defa bangkit dan langsung menjauhkan pemuda itu. "Hei! Hei!" tegur Pak Dito dibuat bingung sekaligus kesal. "Lepasin," ucap Nathan pada Defa. "Nathan! Perkenalkan diri kamu dengan baik dan benar!" ucap Pak Dito membuat Nathan mendengus pasrah lalu kembali kedepan. Kini berganti, Aneth yang memandangi pemuda itu. "Lo kenal?" tanya Defa memastikan. Aneth menggeleng dan kembali mengalihkan pandangannya. "Baik, Nathan. Kamu bisa duduk dikursi yang kosong, mungkin disebelah Aneth, jangan memancing keributan dikelas dan selamat datang dikelas saya." Pak Dito mengakhiri kalimatnya setelah mendengar perkenalan diri Nathan dan mulai menuliskan materi di papan tulis. Nathan berjalan, melewati Defa tanpa seulas senyum kemudian duduk disamping Aneth. "Jadi nama lo Aneth? Kenalin. Gue Nathan." Lagi, Nathan kembali memperkenalkan diri dan masih tak mendapat jawaban apapun. "Gue nggak nyangka kita satu kelas, huft... soalnya gue nggak kenal siapapun disini, gue harap lo mau jadi teman gue, oke?" tutur Nathan tersenyum memandangi Aneth. Namun Aneth hanya diam. Menoleh pun tidak, apalagi menjawab kalimat Nathan. "Hai..." sapa Nathan membuat Aneth menatapnya dengan malas. "Apa sih!? Berisik lo!" bentak Aneth membuat perhatian seisi kelas tertuju padanya termasuk Pak Dito. "Aneth, saat jam istirahat saya akan mengatur tempat duduk. Untuk sementara kamu duduk dengan Nathan dulu ya," ucap Pak Dito diakhiri senyuman. "Loh kok?" tanya Nathan nampak tak terima. "Lo berisik, Aneth nggak suka keributan." Defa angkat suara diangguki beberapa siswa. "Ya udah, maafin saya. Jangan pindah tempat duduk saya, Pak." Pinta Nathan berdiri sejenak lalu kembali duduk. Pak Dito nampak mempertimbangkan hal tersebut. Tanpa menjawab, beliau kembali melanjutkan pelajaran. "Aw!" ringis Nathan pelan saat sebuah gulungan kertas mengenai kepalanya. Nathan membuka kertas tersebut yang ia tak tahu siapa pengirimnya. "Aneth, anak pemilik sekolah. Cewek dingin, acuh sama sekitar. Kita nggak pernah ngusik ketenangan dia, semoga elo ngerti deh. Jangan ikut campur urusan dia." Nathan mengangguk-nganggukkan kepala setelah membaca tulisan tersebut dalam hati. Ia menoleh sejenak pada Aneth yang hanya memandangi jendela. Mungkin, lebih tepatnya pada cahaya mentari pagi yang nampak sangat indah dipandang. Nathan tersenyum, mengikuti pandangan Aneth yakni pada siluet cahay mentari pagi. Tiba-tiba Aneth berbalik, mereka saling tatap cukup lama. "Maaf ya," ucap Nathan diakhiri senyum kecil. Aneth mengangguk sebagai jawaban. "Ada hal indah yang mau Nath ungkapin sama Manda. Pagi ini, Nath ketemu malaikat yang mau terbang, tapi sayapnya patah." "Nama malaikat itu, Aneth. Manda pasti senang." Nathan menatap gelang ditangannya dengan senyuman.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD