03

1025 Words
"Sisil!" Aktivitas Aneth yang tengah bermain basket sendirian pun terhenti saat seseorang memanggilnya. "Tadi malam lo tidur dimana?" Malik menghampiri lalu bertanya diiringi teman-temannya. "Bukan urusan lo!" balas Aneth melempar basket kesalah satu teman Malik. "Mau kemana lo!?" tanya Malik mencegah Aneth yang hendak pergi. "Cabut lah," jawab Aneth singkat. "Gue nggak betah dekat lama sama lo," sinis Aneth dengan senyum sinis. "Aneth bisa jaga diri kok, gue yakin." Tegur Bian, salah satu teman Malik. "Gue cuma takut terjadi hal yang nggak diinginkan," balas Malik gusar. "Kita ngerti kok bro, kalau elo sayang sama dia. Cuman ya, belum waktunya aja Aneth ngertiin hal itu," tambah yang lain membuat Malik tersenyum menatap kepergian Aneth. Namun seketika, senyumannya memudar saat melihat salah seorang siswa mendekati adiknya itu. Nampak sangat akrab bahkan merapikan tatanan rambut Aneth. "Siapa tuh? Gue belum pernah liat," ucap Malik mengikuti kepergian Aneth. Nathan, pemuda itu terus mengoceh sembari mempercepat langkahnya guna mensejajarkan dengan langkah Aneth. "Rumah lo dekat pemakaman ya?" "Btw, ntar malam lo ada acara?" "Temenin gue---" "Lo bisa diam nggak!?" Aneth mengangkat suara dengan tangan mencengkram kerah baju Nathan hingga membuat perhatian siswa-siswi yang bersiap pulang sekolah tertuju pada mereka. "Argh! Defa mana sih!" gusar Aneth melangkah meninggalkan Nathan yang hanya tersenyum mendapatkan perlakuan dari gadis itu. "Aneth----" Nathan terkejut saat seseorang menarik tangannya menuju lorong sepi hingga ia kehilangan Aneth yang sekarang entah pergi kemana. "Apaan sih?" tanya Nathan merapikan pakaiannya. "Murid baru, lo?" Malik balik bertanya. "Iya," jawab Nathan santai. "Sebelumnya, perasaan kita nggak ada urusan sama sekali jadi gue pergi dulu---" Nathan menghentikan langkahnya saat kawanan Malik menghadangnya. "Kenapa sih? Nggak jelas, lo pada!" sangkal Nathan menatap teman-teman Malik tanpa rasa takut. "Ngapain lo ganggu adik gue?" tanya Malik tanpa belama-lama. "Adik lo? Aneth?" tanya Nathan antusias. "Hm." Malik berdehem enggan menatap Nathan yang nampaknya sangat gembira mengetahui kabar tersebut. "Kenalin! Gue Nathan! Satu kelas sama Aneth. Oh iya, kemarin gue ketemu Aneth di pemakaman, terus---" "Tunggu... tunggu... maksud lo?" potong Malik bingung. "Gini, kemarin gue ketemu Aneth di pemakaman, dia nangis. Terus pergi pas gue deketin, duh.. ada-ada aja, gue jadi suka. Ternyata kita ketemu lagi disekolah ini, terus satu kelas, duduk sebelahan! Emang ya, jodoh nggak kemana." Nathan berucap santai sembari merangkul bahu Malik. Lain halnya dengan Malik yang nampak menanggapi hal tersebut dengan arti berbeda. "Aneth ke makam? sambil nangis?" tanya Malik. "Iya, tadinya gue kira nama dia Sisil... ternyata Aneth, soalnya---" Bugk!! Bugh!! Nathan tersungkur dengan sudut bibir membiru setelah mendapat bogeman dari Malik di wajah dan perut. "Jangan sekali-kali, lo berani usik kehidupan Aneth! Ngerti!" ancam Malik menarik kerah baju Nathan. Malik pergi diikuti teman-temannya meninggalkan Nathan yang meringis kesakitan. "Orang-orang pada kenapa sih," gerutu Nathan berjalan gontai dengan kondisi setengah sadar. "Nggak boleh deketin Aneth 'lah. Enggak boleh duduk disamping dia, jangan ganggu dia. Kalau kayak gitu terus, gimana malaikatnya Nath bisa terbang!" omel Nathan menyentuh sudut bibirnya. "Aw!" "Aduh..." Nathan terjatuh setelah menabrak tubuh seorang pemuda. "Loh?!" Defa terkejut langsung mencoba menyadarkan Nathan yang nampaknya hilang kesadaran. "Heh! Bangun lo!" tegur Defa. "Neth, gimana nih?" tanya Defa bingung menatap sekitar yang mulai sepi. "Lo aja yang urus, gue tunggu dimobil." Ucap Aneth kemudian pergi. "Kakak lo rese banget!" ucap Nathan setengah sadar dengan mata yang masih tertutup. Langkah Aneth terhenti, gadis itu berbalik. Dengan kasar, ia menarik kerah baju Nathan kemudian memukul pelan pipi pemuda itu guna menyadarkannya. "Aw..." ringis Nathan membuka matanya. Mereka bertatapan cukup lama dalam posisi tersebut hingga panggilan dari ponsel Defa membuyarkan pandangan mereka. "Dia bukan kakak gue!" ucap Aneth kemudian menjauh dari Nathan. Nathan mencoba bangkit meski tertatih. "Neth, ayo pulang. Nyokap gue ada diapartemen," ajak Defa tanpa memperdulikan Nathan yang nampak kesal tahu Aneth akan pergi. "Gue gimana?" tanya Nathan memegang perutnya. "UKS disana," tunjuk Defa ngasal kemudian menggandeng Aneth guna mengajaknya pergi namun Aneth tak bergerak dari tempatnya. "Lo duluan aja," ucap Aneth membuat Defa bingung. "Loh? Lo mau kemana?" tanya Defa. "Matahari," jawab Aneth mengalihkan pandangannya. Defa mengangguk kemudian mengusap pucuk kepala gadis itu dan pergi begitu saja. "Aneth... ada gue disini," sapa Nathan tersenyum lebar meski diakhiri dengan ringisan. "Gue antar lo pulang." Singkat, padat, dan jelas. Aneth memimpin jalan meninggalkan Nathan yang masih melongo. "Buruan!" teriak Aneth membuat Nathan segera mengikuti langkahnya. Mereka sudah dalam perjalanan dengan Aneth yang menyetir dan kebetulan, hari pertama Nathan pergi kesekolah menggunakan taksi. "Belok kiri," ucap Nathan dengan senyum yang tak pernah luntur. "Rumah putih di depan," tunjuk Nathan. Nathan masih tersenyum sambil melepas sabuk pengamannya. "Makasih---" "Turun." Dingin Aneth tanpa menatap pemuda itu. "Mampir yuk!?" tawar Nathan. Aneth menatap pemuda itu, dengan sudut bibir membiru dan masih memegangi perutnya. "Nathan? Loh, sama temannya ya? Ayo mampir dulu." Panggil Olivia dari ambang pintu rumah. Aneth menarik napas panjang sembari memejamkan mata. "Duh, senang liat Nathan udah punya teman di hari pertama sekolah baru," lembut Olivia sembari membawakan cemilan keruang tamu tempat dimana Aneth duduk. "Iya," ucap Aneth kikuk. "Siapa namanya? Biar tante enak manggilnya," tanya Olivia mempersilahkan Aneth menyantap cemilan dan minuman yang ia buat. "Aneth," jawab Aneth memperhatikan seisi rumah Nathan yang terkesan sangat nyaman untuk ditinggali. "Cantik namanya, mirip nama Nathan.." kekeh Olivia membuat Aneth tersenyum menatap wajah wanita itu. "Ngomongin apa nih?" tanya Nathan yang sudah berganti menjadi pakaian santai. "Nath, muka kamu kenapa? Berantem ya?" tanya Olivia yang baru tersadar. "Hehe, biasalah.." jawab Nathan cengengesan. "Duh, kamu ini ya. Bunda cariin kotak P3K dulu, bentar ya Aneth. Silahkan dimakan," ucap Olivia kemudian pergi. Hening, Aneth hanya diam tanpa menyentuh minuman yang disediakan. "Jadi, gue Nathan." Nathan mengulurkan tangannya membuat Aneth jengah lalu menjabat tangan pemuda itu. "Aneth, bukan Sisil. Sisil udah nggak ada." Tukas gadis itu membuat Nathan mengangguk. "Kakak lo---" "Diam, dia bukan kakak gue!" potong Aneth kesal. "Makasih ya udah nganterin gue," ucap Nathan tersenyum. "Maaf soal si b******k yang mukul elo," balas Aneth dingin. "Heh, nggak baik ngomong kayak gitu," tegur Nathan dengan lembut. "Duh, nggak ketemu. Ini Nath, kompres dulu. Bunda mau beli obat merah di---" "Ini ya?" tanya Aneth mengambil sesuatu dari bawah meja ruang tamu. "Nah itu P3K, sekalian obatin Nathan ya. Tante kebelakang dulu," ucap Olivia kemudian mengedipkan mata pada Nathan tanpa sepengetahuan Aneth.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD