04

997 Words
"Aw... shhh..." "Pelan-pelan," ucap Nathan meringis. "Aww!!" "Beres." Aneth kembali merapikan kotak P3K setelah menempelkan hansaplas pada sudut bibir Nathan. "Mendingan," ucap Nathan terpaksa. "Gue nggak nanya," singkat Aneth membuat Nathan memanyunkan bibirnya. "Kemana?" tanya Nathan saat Aneth nampak bersiap pergi. "Cabut, bilang sama nyokap lo," jawab Aneth. "Iya, kemana? Lo satu apartemen sama cowok tadi? Siapa namanya?" tanya Nathan membuat Aneth kembali duduk seperti semula. "Defa," jawab gadis itu. "Kalian, ada hubungan apa?" tanya Nathan. "Teman," jawab Aneth lagi. "Teman kok satu apartemen!?" tanya Nathan serius bahkan sambil melototkan matanya. "Bukan urusan lo!" kesal Aneth diakhiri decakan kecil. "Loh? Aneth mau pulang ya? Padahal tante baru aja selesai masak. Kita makan dulu yuk?" ajak Olivia membuat Aneth terdiam tak dapat menolak permintaan wanita itu. "Enak?" tanya Nathan memastikan. Aneth mengangguk kembali memasukkan sesendok nasi kemulutnya. "Makasih, makanannya." Ucap Aneth sesaat setelah menyelesaikan makannya. "Sama-sama, sayang. Kalau mau main, langsung kesini aja ya. Tante nggak ada teman, Nathan suka keluyuran." Olivia terkekeh membuat Aneth tersenyum. "Sekalian ajak ibu kamu, tante juga pengen kenal," tambah Olivia. Seketika senyuman Aneth luntur. Ia menatap Nathan begitu pun sebaliknya. "Mama, udah nggak ada..." ucap Aneth pelan. Olivia terdiam, dengan segera ia bangkit dari duduknya kemudian memeluk Aneth yang sudah menundukkan wajah. "Maafin tante ya, tante nggak tau. Maaf..." "Kalau kamu mau, kamu bisa panggil tante, mama. Tante nggak keberatan sama sekali," tutur Olivia mengusap pucuk kepala Aneth. Terasa hangat, pikir Aneth yang memang sudah lama tak mendapatkan perlakuan manis dari seorang ibu. "Duh, jadi pengen dipeluk juga," Nathan sudah merentangkan tangan namun langsung mendapat cubitan kecil dari Olivia. "Oke, sayang?" tanya Olivia memastikan sembari menangkup lembut wajah Aneth. Kepala gadis itu megangguk, membuat Nathan tersenyum tulus memandanginya dari samping. Beberapa saat kemudian, mobil Aneth pun pergi meninggalkan kawasan rumah Nathan. Tak semata-mata membiarkan pergi, Nathan justru mengikuti dengan motornya hingga Aneth berhenti didepan gedung apartemen mewah. "Heh!" kaget Aneth mengetahui Nathan berdiri diluar mobil. "Gue pengen tau!" ucap Nathan saat Aneth turun dari mobil. "Terserah," balas Aneth memimpin jalan memasuki lift hingga mereka tiba di lantai tiga gedung. Aneth memencet sandi kamar milik Defa dan hal itu semakin membuat Nathan kesal, seberapa dekatnya mereka. "Def," panggil Aneth membuat Defa yang tengah bermain game menoleh. "Eh, balik juga lo. Tuh ada pizza, nyokap gue baru aja pergi, kesini cuma mau ngecek kamar." Defa terkekeh namun pandangannya tiba-tiba tertuju pada Nathan yang nampak serius memperhatikan seisi kamar. "Ngapain lo? Gue panggilin satpam nih!?" ancam Defa langsung menghampiri Nathan. Aneth hanya geleng-geleng kepala kemudian masuk kekamarnya tanpa memperdulikan perdebatan Defa dan Nathan. "Santai, santai... gue cuma kepo dikit," ucap Nathan yang sudah duduk disofa. "Aneth nganterin lo pulang?" tanya Defa mengambil sesuatu di kulkas yakni minuman soda. "Iya, dia juga udah makan. Dimasakin nyokap gue," balas Nathan menerima minuman tersebut. "Selama Aneth nggak terganggu, gue nggak bakal bilang kalau lo itu pengganggu," ucap Defa membuat Nathan diam sejenak. "Difa, gue mau tau---" "Difa pala lo! Defa! D- E- F- A!" eja Defa kesal. "Sorry," kekeh Nathan cengengesan. "Def, gue mau tau tentang Aneth," ucap Nathan tanpa pikir panjang. Sontak saja Defa tertawa mendengar kalimat pemuda itu. "Enggak perlu, cukup jangan jadi pengganggu buat dia aja." Jelas Defa namun Nathan menolak. "Ceritain dong! Gue pengen tau gimana kehidupan malaikat gue! Ah, kita kan temen!?" ucap Nathan mengangkat kaleng sodanya. "Enggak, kan anak-anak dikelas udah ngasih tau elo kalau jangan kepo sama Aneth. Dasar lo," kesal Defa. Nathan pun terdiam. "Yaudah gue nyari tau sendiri aja---" "Aww!" ringis Nathan saat Defa memukulnya dengan bantalan sofa. Ting! Tiba-tiba bel apartemen berbunyi, Defa bangkit dan betapa terkejutnya ia saat mendapati Malik CS berada didepan kamarnya. "Kenapa?" tanya Nathan. "Malik, mereka 'kan yang mukulin elo?" tanya Defa. Nathan mengangguk dengan tangan terkepal. "Jangan dibukain, udah sering dia kesini mau jemput Aneth. Tapi ya mau gimana lagi, Aneth nolak diajak pulang." Defa kembali ke sofa diikuti Nathan yang sepertinya sangat ingin membalas perbuatan Malik padanya. "Emang, kenapa sih?" tanya Nathan serius. Defa menarik napas kemudian menjelaskan sedikit kilasan bagaimana Aneth menjadi seperti sekarang ini. "Jadi Malik anak selingkuhan bokapnya Aneth?" tanya Nathan. Tiba-tiba Aneth keluar dari kamar, menghentikan obrolan antara Defa dan Nathan. "Panggil satpam," ucap Aneth meminta Defa agar mengusir Malik CS dari tempatnya. Defa mengangguk lalu menuruti perintah Aneth. Tak lama kemudian, bel apartemen semakin berbunyi hingga Aneth memutuskan untuk membuka pintu . "Gue nggak mau pulang!" ucap Aneth sebelum Malik berucap. "Sil---" "Gue bilang, gue nggak mau pulang! Lo bebas milikin rumah gue! Pergi!" usir Aneth membuat Malik menampilkan tatapan gusar. "Pergi!!! gue bilang!" bentak Aneth. "Bro, cabut dah," ucap Defa menengahi. "Tapi papa---" "Dia bokap lo! Gue cuma punya matahari dan matahari gue juga udah pergi karena nyokap lo!" "SISIL!" Malik mengangkat tangannya bersiap menyakiti adiknya itu namun pergerakannya terhenti saat Nathan menahan tangannya. "Berani lo nyakitin cewek?" tanya Nathan menantang. Bugh! Malik terhuyung setelah mendapat bogeman dari Nathan. "Pergi lo! Gimana Aneth mau ikut sama lo kalau perlakuan lo kedia kayak begitu! Mikir!" marah Nathan membuat Malik naik pitam namun pertengkaran segera dicegah oleh dua orang satpam. Malik pergi diikuti teman-temannya, Aneth pun kembali masuk kekamarnya tanpa memperdulikan Nathan yang masih ingin menghajar Malik. "Udah, udah..." ucap Defa menenangkan. "Gue kesal! Gimana malaikat gue mau bahagia! Kalau tadi dia beneran nyakitin Aneth! Abis tuh orang!" ucap Nathan dengan tangan terkepal. Aneth yang mendengar perkataan tersebut langsung menitikkan air mata kemudian merebahkan dirinya dikasur. "Kapan terakhir kali gue bahagia? Gue lupa..." ucap Aneth terisak. "Kebahagiaan gue udah dirampas, nggak bakal ada pelangi setelah hujan, matahari gue udah pergi!" Aneth semakin larut dalam tangisannya. Tok! Tok! Tok! Defa mengetuk pintu, tanpa mendapat persetujuan ia langsung masuk kemudian duduk ditepi kasur. "Nathan udah pulang, kita makan pizza yuk sambil main PS?" ajak Defa. "Def..." panggil Aneth bangun lalu memeluk Defa dan menunpahkan tangisnya pada pemuda itu. "Udah... jangan nangis," lembut Defa menenangkan gadis itu. "Yuk? Makan pizza? atau mau gue buatin pasta, sekalian?" tawar Defa mengusap pipi Aneth. Aneth mengangguk dan hal itu membuat Defa dapat tersenyum lega.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD