"Nathan berangkat, bun! Assalamualaikum!"
Nathan pergi kesekolah dengan motornya, pemuda itu bersenandung kecil selama diperjalanan. Ya memang sudah menjadi hal biasa, Nathan kerap berbicara sendiri, bisa dibilang terlalu ceroboh sebagai laki-laki.
Baru saja motornya terparkir dikawasan sekolah, tiba-tiba Malik CS kembali mendatanginya.
"Apa lagi sih?" tanya Nathan memilih mengabaikan Malik dan kawan-kawan. Namun nampaknya pagi ini adalah pagi yang buruk untuk Nathan karena tanpa aba-aba, Malik kembali menghajarnya.
Kali ini Nathan melawan, dan perkelahian tak dapat terelakkan. Sontak saja kejadian tersebut menjadi perhatian seantero sekolah.
"Kalian berdua!"
"Berhenti!"
Seorang guru berteriak memanggil dari kejauhan.
"Keruangan BK sekarang!!"
Nathan menjauh dari atas tubuh Malik setelah menghajar habis-habisan pemuda itu. Nampaknya, Nathan lah yang unggul.
Jam pembelajaran sudah berlangsung, namun Nathan dan Malik masih berada diruang BK sembari menunggu kedatangan orang tua dari mereka.
"Ya ampun, Nathan.." panik Olivia menatap wajah anaknya yang lebam.
"Kamu nggak papa? Masih sakit?" tanya Olivia memeluk sebentar pada Nathan.
"Anda benar, ibu dari Nathan Fernando?" tanya Pak Firman selaku guru BK.
"Benar, Pak." Olivia dipersilahkan duduk.
"Nathan berkelahi dengan kakak kelasnya. Padahal baru saja dia menjadi murid disekolah ini. Parahnya lagi, dia berkelahi dengan Malik, anak pemilik sekolah." Pak Firman menjelaskan dan hal itu tentu saja membuat Olivia cemas.
"Maafkan kelakuan anak saya, Pak. Saya akan mendidik Nathan dengan lebih baik lagi," ucap Olivia menggenggam tangan Nathan.
"Baik, jika lain kali Nathan kembali berkelahi. Maka dia akan mendapat sanksi tegas. Kali ini saya dapat memaklumi," balas Pak Firman.
Olivia dapat tersenyum lega.
"Saya tinggal dulu, mungkin kalian perlu berbicara," ucap Pak Firman kemudian pergi.
Olivia menatap Malik yang juga tengah menatapnya.
"Maafin Nathan ya, nak." Pinta Olivia tersenyum tulus namun Malik hanya diam.
"Bun, bukan Nathan yang salah. Dia yang duluan mukul Nath. Kemarin, dia juga udah mukul Nath!" bela Nathan dan memang benar itu faktanya.
"Kalau elo nggak gangguin Sisil! Gue juga nggak bakal ganggu elo!" balas Malik membela diri sendiri.
"Sisil?" tanya Olivia.
"Aneth, dia kakaknya Aneth," jawab Nathan membuat sang ibu terkejut.
"Ya ampun, mungkin kalian cuma salah faham. Aneth anak yang baik, kemarin dia ngantar Nathan pulang, tante juga ajak dia makan. Apa nggak sebaiknya kalian berteman?" tanya Olivia membuat Malik kembali terdiam.
"Saya cuma mau bilang, tolong kasih tau anak tante buat jangan ikut campur urusan saya dan adik saya. Permisi!" Malik pergi, Nathan hendak mengejar namun dicegah oleh Olivia.
"Udah, jangan dipikirin." Olivia tersenyum sembari merapikan penampilan anaknya.
"Dia kakak seayahnya Aneth. Kemarin waktu Nathan nganterin Aneth, dia mau nyakitin Aneth. Nath nggak mau malaikatnya Nath terluka!" ucap Nathan kesal.
"Nathan. Anak baik, anak ganteng, yang paling bunda sayang... nggak semua hal berhak Nath ikut campurin, oke?" ucap Olivia kembali membuat Nath mengangguk dengan senyum tipis.
"Yaudah, maafin Nath ya. Nath nggak bakal berantem lagi, maaf udah bikin bunda repot-repot kesini." Nathan langsung memeluk Olivia dan saat itu pintu ruangan terbuka, terdapat Aneth yang hanya berdiri di ambang pintu.
Tanpa berkata apapun, Aneth pergi tanpa sepengetahuan Nathan.
"Aneth!" panggil Nathan saat jam sekolah sudah berakhir.
"Jalan yuk? Nanti malam? Gue mau ngajak elo kesuatu tempat yang indah banget! Mau ya!" ajak Nathan antusias.
"Gue nggak diajak?" tanya Defa membuat Nathan menatapnya.
"Enggak, khusus buat Aneth." Balas Nathan membuat Defa terkekeh.
"Mau ya!" ulang Nathan penuh harap.
Aneth menjawab. "Enggak!" ucap gadis itu.
Namun Nathan tak patah semangat. "Nanti malam! Jam delapan, gue jemput di apartemen. Oke!? Sip!" ucap Nathan dengan cepat.
"Nathan!" kesal Aneth menghentikan langkahnya.
"Kalau gue bilang enggak, ya enggak!" omel Aneth mempercepat langkahnya menuju mobil.
"Bro." Defa menahan tangan Nathan saat pemuda itu hendak mengejar Aneth.
"Gue bilang apa? Jangan ganggu dia," ucap Defa kembali memperingatkan.
Aneth tancap gas meninggalkan sekolah, sedangkan Nathan masih terdiam setelah ditinggal oleh Defa.
"Manda tenang aja!" ucap Nathan menangkup tangannya. "Nath janji bakalan bikin sayap buat malaikat terbang! Oke!" ucap Nathan diakhiri senyum lebar.
Malam pun tiba, Nathan berhenti didepan pintu kamar apartemen. Ia memencet bel beberapa kali namun tak kunjung mendapat respon.
"Aneth... main yuk?" panggil Nathan tak menyerah.
Pintu terbuka, Aneth tengah menatapnya dengan ekspresi tak bersahabat.
"Yuk! Ikut gue!" ajak Nathan dengan senyum manis.
"Kemana sih?" tanya Aneth berdecak malas.
"Udah ikut aja, yakin deh. Elo nggak bakal nyesal!" ucap Nathan bangga.
Aneth nampak berpikir, ia tengah sendirian di apartemen sebab Defa pergi bermain basket bersama teman-temannya.
"Ayo?" ulang Nathan meyakinkan.
"Bentar," singkat Aneth yang berarti ia mau memenuhi permintaan Nathan.
Nathan menunggu didepan apartemen, tak lama kemudian Aneth kembali membuka pintu, nampak sudah siap untuk pergi.
"Ets! Naik motor gue aja," ucap Nathan yang melihat Aneth memegang kunci mobil.
"Enggak," dingin Aneth melangkah lebih dulu.
"Ayo... asik tau, ngeliat jalanan malam dari motor, bisa berenti di angkringan, anginnya sepoi-sepoi, dagu lo nempel di bahu gue. Hahay!!" girang Nathan membuat Aneth tersenyum namun segera mengembalikan ekspresinya.
"Terserah," ucap Aneth dan mereka pun pergi bersama dengan Nathan yang membonceng Aneth di jok belakang motornya.
"Kemarin gue nyari cuka di dapur, eh ternyata cukanya sama lo," ucap Nathan setengah teriak berharap Aneth mendengari perkataannya.
Nathan terus mengoceh sambil tertawa sendiri meskipun tak mendapat respon apapun dari Aneth.
"Aneth," panggil Nathan melirik gadis itu melalui spionnya.
"Hm?" respon Aneth singkat.
"Gue boleh nggak, suka sama lo?" tanya Nathan namun tak mendapat jawaban.
"Enggak." Aneth tersenyum miris dan Nathan menyadari hal itu.
"Besok gue tanya lagi, siapa tau elo berubah pikiran," tawa Nathan garing.
"Enggak bakal," jawab Aneth membuat Nathan hanya bisa tersenyum.
"Lusa deh!" ucap Nathan pantang menyerah.
Aneth kembali terdiam kemudian menaruh dagunya pada bahu Nathan sesuai perkataan pemuda itu.
"Liat aja nanti," balas Aneth dengan senyum kecil.
Nathan mengangguk, satu masih menggenggam tangan Aneth. Mereka berkendara cukup jauh dari pusat kota. Melewati satu persatu gedung tinggi dan lampu malam taman ditemani cahaya rembulan dan ribuan bintang.
Aneth baru pertamakali merasakan perasaan yang tak dapat ia jelaskan saat bersama Nathan seperti sekarang ini.
Ia ingin menolak, namun hatinya berkata tidak. Ia ingin seseorang terus mengganggunya, berada disisinya, menghiburnya bahkan menjahilinya.
Bukankah, ini terlalu cepat untuk Aneth merasakan jatuh cinta? Apakah iya? Aneth sedang jatuh cinta pada Nathan.