UNTUK SEJENAK

1098 Words
dina duduk di salah satu meja yang ada di cafe mall tempat dia belanja, sementara bi lastri sudah kembali ke rumah zein lebih dulu hari itu cafe cukup ramai, hampir semua meja sudah terisi pengunjung "permisi, ini pesananya kak, ice cappuchino dengan extra vanila ice cream, air mineral, lalu satu choco cake, ada pesanan lagi?" "tidak terima kasih" "kalau begitu selamat menikmati, silahkan panggil kami kalau ada yang di butuhkan" "iya terima kasih mas" dina menikmati makanan dan minuman yang dia pesan, sesekali dia menatap layar ponselnya "udah lama? maaf ya tadi di jalan lumayan macet" OMG, tumbe banget ngomongnya kalem , 'maaf ya' ada angin apa?? "nggak papa pak, emang waktunya makan siang, bapak mau pesen minum dulu?" keringat bercucuran di dahi pria tampan tersebut, dina meraih tissu di depannya "di lap dulu pak keringatnya" tangannya yang tegap meraih tissu yang di sodorkan dina "terima kasih, kalau di luar panggil aja mas, akukan bukan bapakmu" damn.. siapa juga yang mau punya bapak seganteng dirimu mas, rugi dong "iya.. m.. mas, mau pesen minum dulu?" matanya menatap minuman yang ada di depan dina "kamu tadi pesan apa?" "ice cappuchino pakai es krim vanila sama air mineral" "ya udah aku minum itu aja, biar cepet habis jadi kita bisa pindah tempat buat makan siang" "mas belum makan siang?" "belum.. memangnya kamu udah?" "iya tadi makan dulu sebelum bibi pulang, tapi kalau mas mau makan aku temenin nggak papa" matanya menatap dina dengan tajam, garis wajahnya nampak kesal namun tetap terkesan dingin "dina..." apa?? kenapa suaranya berubah serendah itu? batin dina "apa biasanya kamu sesantai ini kalau ngomong?" " ??? maksudnya mas?" "nggak, soalnya selama ini kamu kaku banget, nggak banyak ngomong terus juga cuek" dih... maksudnya apa coba? emang gara gara siapa gadis ramah dan ceria sepertiku jadi mati kutu kalau berhadapan sama tuan muda zein alfareza "hahaa.. aku cuma menyesuaikan diri sama kondisi aja kok mas, kalau mas santai aku juga santai, kalau mas formal aku juga ikut formal" tumben mulutku lancar banget ngucapnya??? "mulai sekarang kamu santai aja kalau ngomong sama aku, ya udah, temeni aku makan siang dulu, kita pindah tempat" zein membantu dina membawa barang belanjaan menuju parkiran mobil, lalu pergi meninggalkan mall menuju restoran, selama perjalanan keduanya diam, kesunyian itu berlanjut sampai di tempat tujuan mereka "bukannya tadi aku udah bilang ya?" zein memulai percakapan "bilang apa mas?" bukannya dari tadi diem aja ya?? "santai aja kalau sama aku, jangan kaku atau tegang gitu, aku nggak akan makan kamu hidup hidup" .. "i....ya... mas".. setelah makanan datang zein makan dengan tenang, dina sesekali menyendok ice krim coklat pesanannya, meski tampak hening namun suasananya tak setegang sebelumnya "kamu mau berapa lama kerja di hotel?" tanya zein "maksudnya gimana itu?" "ya berapa lama? satu bulan? satu tahun??" dina heran kenapa dia harus menghitung berapa lama dia akan bekerja? "entahlah.. kenapa memangnya mas??" "ya nggak papa sih, kalau kamu lagi libur apa bisa main ke rumah? kevin pasti senang kalau kamu datang" sesaat dina membayangkan wajah rena, tanpa sadar dia kepalanya menggelengkan kuat tak ayal tingkahnya membuat zein melotot padanya "bukan maksud aku nggak mau mas, tadi aku lagi bayangin hal lain, em... ya aku akan berkunjung sesekali" "kenapa kamu ragu gitu jawabnya?" sepertinya pria itu bisa melihat kegelisahan di wajah dina "aku... cuma kurang nyaman sama mbak rena mas, kalau sering mampir kesana" "memangnya kenapa? siapa rena sampai bikin kamu nggak nyaman? kalau gitu tinggal aku pecat aja kan cari yang baru" dina terkejut dengan ucapan majikannya itu, sulit sekali mencari baby sitter yang cocok dengan kevin dan mau dipecat hanya karena seorang gadis bernama sandrina tidak nyaman "mas ngomong apa sih, nggak sampai segitunya, ya nanti kalau libur aku main" bisa bisa rencana kerja di hotelnya gagal kalau mbak rena sampai di pecat "nah gitu dong, kan enak dengarnya" kesambet setan apa sih duren satu ini jadi aneh banget hari itu akhirnya zein dan dina menghabiskan waktu sampai sore, setelah makan mereka jalan jalan sebentar lalu mengantar dina ke kos, senyum terus mengembang dari pria yang selalu menunjukkan aura dingin dan kejam itu sepanjang mereka bersama "mas zein menang tender? apa dapat jakpot ya? aneh banget hari ini?" dina sedang merapikan baju dan barang yang akan di bawa pulang lina sudah memesankan tiket kereta untuk kepulangan adiknya, hal itu dilakukan karena banyaknya barang yang di bawaan dina, dia tidak ingin adiknya kesulitan saat dalam perjalanan ke esokan harinya dina di kejutkan dengan kehadiran zein di depan kos kosannya, setelah ibadah solat subuh dina yang sudah siap mau memesan taxi online menerima panggilan di ponselnya saat dia berlari keluar balkon lantai dua zein sedang melambai.. "mas ngapain disini pagi pagi?" dina masih berbicara melalui ponselnya "kamu bilang keretanya jam 6 kan? aku mau anter kamu" "ya makanya... kenapa mas mau anter aku?? kan aku udah bilang mau naik taxi" "uang taxinya buat beli jajan aja, kamu udah siap belum? mau aku bantu ambil barang barangnya kedalam??" dina tampak berfikir sebentar, tapi kemudian setuju untuk di bantu dia pun turun ke lantai bawah dan membukakan pintu jam menunjukkan pukul 04.30 wib, hampir semua penghuni kos masih terlelap dalam tidurnya, gadis itu memberi isyarat agar tidak membuat suara bising dan pria itu mengangguk paham dina tampak sungkan saat pria itu masuk ke kamarnya, meski itu bukan miliknya sendiri dan tidak berantakan juga "bawaan kamu sudah semua?" dina mengangguk, pria itu lalu turun membawa sebuah koper dan tas jinjing berukuran besar ke dalam mobilnya, setelah memastikan tidak ada yang tertinggal dina mengunci pintu dan menyusul ke dalam mobil jalanan menuju stasiun masih sepi, hanya pasar yang sibuk dan ramai meski langit masih nampak gelap suara radio menemani perjalanan mereka hingga sampai di tempat tujuan "besok kalau mau balik kesini kabarin aku ya" "kenapa? mas mau jemput aku?" "kenapa? kamu pingin di jemput??" what?.. siapa yang nanya siapa yg di tanya coba?? "ya enggak, terus kenapa aku musti kabarin mas zein kalau aku balik??" "cuma mau mastiin kamu baik baik aja" dina menatap lekat wajah yang selama ini selalu membuat jantungnya tidak normal, meski dia yakin dengan kondisi tubuhnya "deket deket sama mas itu nggak baik buat kesehatan jantungku, jadi kalau nggak penting penting banget, mending nggak usah ketemu" pria itu merasa tidak senang dengan ucapan dina yang menurutnya aneh dan menyudutkannya, dia hendak membalas namun pengumuman kedatangan kereta yang akan di tumpangi dina sudah datang "ya udah mas aku berangkat dulu, mas hati hati pulangnya, assalamu'alaikum" dina pergi kearah keberangkatan di bantu kurir angkut barang yang sudah menunggunya sejak tadi akhirnya dina menyelesaikan pekerjaannya dengan baik meski memakan waktu cukup lama, semoga hal hal baik akan selalu datang padanya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD