Sesampainya di rumah, Dean hanya diam dan langsung masuk ke kamarnya dengan wajah ditekuk. Kedua orang tuanya terdiam melihat ekspresi putranya yang tadinya senang, kini murung sepanjang jalan sampai ke rumah. Mereka yakin, pasti ada sesuatu yang membuat Dean kesal setelah pembicaraannya dengan Irene tadi. Mereka memang tak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi dari ekspresinya, Dean seperti baru ditolak.
“Apa Dean baru saja ditolak ya?” tanya Elly pada suaminya.
“Mungkin saja iya,” jawab suaminya sambil mengangguk.
“Pasti perasaannya sangat campur aduk. Tapi, Irene juga berhak membuat keputusan apa saja. Dan lagi, Dean harusnya siap dengan apapun jawaban Irene.” Elly menanggapi. Dia paham, Dean memang benar- benar tak siap ditolak. Dari kecil, Dean selalu mendapatkan keinginannya tanpa susah payah. Kedua orang tuanya, sama sekali tak pernah menolak permintaannya.
“Dia masih kekanakkan. Tapi, hal ini akan menjadi pelajaran penting baginya. Dia akan tahu, terkadang cinta tak bisa dipaksakan,” balas Eddy.
“Menurut mama, Irene menolak Dean karena dia belum mau pacaran. Tapi, Dean tak bisa mengerti,” kata Elly lagi.
“Entahlah, biarlah ini menjadi urusan Dean. Kalau dia cerita, kita akan kasih saran kepadanya.” Eddy memilih untuk membiarkan Dean sendiri dulu.
Kini, Dean berada di kamarnya sambil memeluk gulingnya. Kali ini, tidak ada lagi guling waifu karena benda itu sudah disingkarkan mamanya. Dean galau dan kecewa dengan jawaban Irene. Dia pikir, Irene akan menerimanya karena selama ini Irene selalu nyaman dengannya. Dia pikir, dia bisa menggeser Kevin di hati Irene dengan cepat. Kevin masih jadi yang terutama bagi seorang Irene. Dean benar- benar kecewa!
“Irene benar- benar memagari hatinya hanya untuk orang lain! Keberadaanku selama ini hanyalah sebuah angin lalu buatnya. Semua perjuanganku, sama sekali tidak dia lihat! Aku sudah menjadi yang terbaik, tapi Irene…” gumam Dean dengan nada sangat kecewa. Dia bahkan memukuli bantalnya berulang kali untuk melampiaskan segala kekecewaannya.
‘Kau tega, Irene! Tega sekali kamu berkata seperti itu padaku! Aku siap kalau kamu menolak atau mencoba mengulur waktu. Perasaanmu kepada orang lain yang begitu terus terang dan sangat kuat, membuat aku ingin menyerah saja. Irene! Kau benar- benar mengacaukan perasaanku!’ batin Dean terus menyalahkan Irene. Dia tak terima dengan cara Irene menolaknya.
“Kamu akan menyesal karena sudah menolak peasaanku, Irene!” gumamnya dengan nada kesal dan bertekad membuat Irene menyesali keputusannya.
Dia masih terlalu muda untuk menanggapi semua ini. Pikirannya masih terlalu kekanakan yang ingin semua keinginannya dia dapatkan. Sebuah penolakan, membuat dirinya kesal setengah mati kepada sosok gadis yang sangat dia cintai dan kagumi. Untuk saat ini, bisa dipahami kalau Dean belum sungguh- sungguh mencintai Irene. Dia melakukan semua ini bukan murni karena menyayangi Irene. Dia menginginkan gadis itu menerima perasaannya. Dia masih egois!
Dean masih terlalu labil untuk urusan percintaan. Rasa egois maih mendominasi para remaja di usia ini. Kalau dia benar- benar mencintai Irene, maka dia takkan kecewa dan mencoba berbesar hati. Kalau Irene belum dimiliki, maka dia akan terus berjuang dan tak berhenti menghujani hati gadis itu dengan cinta. Sudah jelas kan, dia masih anak- anak!
Kediaman Keluarga Hanendra
“Dean menyatakan perasaannya sama kamu?!” tanya Ruth tak percaya mendengar cerita putrinya. Irene sedari tadi diam saja sampai mereka tiba di rumah. Irene tak bisa menahan dirinya untuk tidak bercerita kepada kedua orang tuanya. Dia ingin tahu, apa keputusan yang dia ambil bear atau salah. Irene sadar, dia sangat membutuhkan bimbingan kedua orang tuanya.
“Iya, Ma. Tapi, aku tolak,” jawab Irene dengan sendu.
“Kamu… punya rasa ke dia?” tanya papanya lagi. Irene tak bisa menjawab. Gadis itu hanya mengedipkan matanya sebagai jawaban. Tanpa dia tahu, setitik air matanya meluncur begitu saja. Kedua orang tuanya sudah bisa menebak, kalau putri mereka juga memiliki perasaan yang sama kepada Dean.
“Kamu bilang apa ke dia sebagai alasan?” tanya papanya lagi dengan nada lembut.
“Irene bilang, kalau Irene suka sama orang lain,” jawab Irene dengan sendu.
“Kenapa kamu harus bilang begitu?” Mamanya tak habis pikir dengan cara Irene menjawab.
“Ma, kalian berdua tahu kalau sebelumnya Irene suka sama kak Kevin. Selama ini, Irene gak sadar kalau perasaan Irene sudah berubah. Semenjak kak Kevin menolak perasaan Irene, rasanya semua sudah berbeda. Irene pikir, perasaan Irene masih milik kak Kevin, tapi Irene sadar kalau hati Irene mulai berpindah kepada Dean,” jawab Irene dengan air mata bercucuran di wajahnya. Gadis itu sampai mengusap air mata di pipinya sewaktu bercerita.
“Irene gak suka kalau Dean dekat sama yang lain. Irene gak suka kalau jauh dari Dean. Tapi Irene takut, kalau semua ini hanyalah pelampiasan kesepian Irene karena ditolak kak Kevin. Irene juga gak mau pacaran, tapi gimana kalau Dean akan menjauhi Irene. Sakit rasanya kalau membayangkan hal itu!” sambung Irene lagi.
Gadis itu benar- benar menyatakan segala perasaannya kepada kedua orang tuanya. Untunglah, kedua orang tuanya sangat mengerti dirinya. Inilah yang menjadi pikiran Irene sedari tadi. Ini yang membuat dia khawatir kedepannya. Dia takut, akan ada sebuah jarak yang membatasi mereka. Semuanya takkan bisa sama lagi semua ini.
“Sayang, pilihan kamu untuk menunda pacaran sudah tepat. Tapi, harusnya kamu jangan jawab seperti itu,” ucap mamanya sambil memeluk putrinya. Irene benar- benar galau saat ini.
“Ma, kalau Irene terima, apa semuanya akan berubah?” tanya Irene berharap waktu bisa diputar dan dia mengatakan iya saat Dean menyatakan perasaannya tadi.
“Nak, kamu pikirkan kalau kamu pacaran sekarang, apa untungnya? Kalian berdua masih terlalu muda, kalian harusnya fokus belajar. Pacaran hanya mengikat dan bisa membuat kalian tersiksaa, apalagi perasaan anak muda yang masih menginginkan kebebasan,” jelas Ruth mencoba memberi pencerahan kepada Irene.
Memang, Ruth belum mau kalau Irene pacaran di usia sekarang. Terkadang, orang berpikir hal ini terlalu kolot. Tapi, kalau sudah berpacaran, anak muda bisa menjadi keras kepala dan susah dikendalikan. Mereka akan mulai belajar berbohong dan mengurangi efektivitas belajar mereka. Pacaran hanya membuat anak muda menjadi egois dan paranoid. Banyak hal yang akan membuat mereka stress kedepannya. Ruth hanya ingin putrinya jauh dari hal- hal seperti itu. Putrinya harus puas dengan masa muda dan kebebasannya.
“Mama kamu benar, Rene! Mungkin, kalian bisa berteman dulu sampai kalian cukup dewasa untuk pacaran,” tambah papanya lagi.
“Tapi, gimana kalau Dean sangat kecewa sampai menjauhi Irene?” tanya Irene pada papanya.
“Itu biasa kalau baru ditolak. Namanya juga kecewa. Tapi, kalau dia benar- benar sayang sama kamu, maka dia akan berusaha memenangkan hati kamu lagi setelah dia sudah tak kesal lagi. Walau tak bersama Dean, masa depan kamu masih panjang. Fokus dengan pendidikan dan karir kamu. Soal asmara, itu bisa menyusul setelah kamu sukses,” nasihat Othman pad putrinya.
“Kata- kata papa mirip dengan kak Kevin,” ujar Irene merasa familiar dengan perkataan demikian. Tapi kalau dipikir, penalaran demikian memang ada benarnya juga.
Kalau pacaran sedari muda, apalagi dari usia sekolah akan lebih banyak ruginya. Awalnya, mungkin keduanya akan sangat senang dan merasa kalau pacaran, mereka akan saling menyemangati untuk maju. Tapi, luapan emosi seorang remaja akan menjadi tantangan mereka. Bisa saja, mereka akan bertengkar karena masalah sepele dan hal itu akan menyebabkan fokus mereka terbagi. Yang paling buruk, karena merasa masih muda dan penuh luapan cinta, bisa saja keduanya akan melakukan hal- hal di luar batas tanpa mereka sadari.
Mungkin keduanya berpikir, apa saja bisa mereka lewati karena saling mencintai. Tapi, itu semua hanyalah omong kosong belaka! Sangat sedikit yang pacaran dari SMA sampai menikah, daripada yang hubungannya kandas begitu saja. Hubungan yang kandas itu hanya akan meninggalkan luka emosi bahkan trauma. Orang tua mana yang ingin anaknya mengalami hal seperti itu? Oleh karena itu, papa dan mama Irene selalu siap sedia memberikan pengarahan kepada putri mereka.
Setelah selesai berbicara dari hati ke hati, Irene memutuskaan untuk masuk ke kamarnya. Dia duduk dan meringkuk di ranjangnya karena kepikiran soal Dean. Dia sangat menyesal sudah membuat Dean sedih dan kecewa. Dia ingin mengulangu waktu, tapi dia sadar kalau hal itu mustahil. Bimbingan orang tuanya memang sangat berpengaruh padanya. Gadis itu terus berupaya berpikiran sepositif mungkin dalam menghadapi hari kedepannya. Dia yakin, kalau dia melewati masa mudanya tanpa luka, maka dia takkan menyesal kedepannya.
“Jadi, kakak galau karena menolak kak Dean ya?” tanya Genie masuk dengan seenak hatinya ke kamar kakaknya.
“Masuk itu ketuk pintu dulu! Kamu bukan anak- anak lagi!” tegur Irene kepada adiknya yang masuk dan bertanya dengan sesuka hatinya.
“Bacot ah! Tapi, serius kakak suka sama dia? Kok bisa?” tanya Genie no basa- basi. Dia bener- bener penasaran dan gak menduga kalau kakaknya sudah move- on dari Kevin. Rasanya lucu aja mendengar kakaknya sudah suka sama seorang cowok setelah menyukai seseorang selama sepuluh tahun lamanya.
“Bisalah! Diakan cowok!” jawab Irene dengan nada agak kesal.
“Kalau dari penampilan, boleh sih? Tapi, kakak kan benci sama wibu?” tanya adiknya lagi karena teringat hobi dari Dean.
“Kakak gak pernah bilang gitu,” balas Irene karena adiknya bicara ngasal.
“Ternyata, kakak bisa move on ya? Hm… tapi kenapa gitu aja galau, kak? Move on aja lagi,” ujar Genie dengan sangat ringan.
“Kamu pikir jatuh cinta dan move on segampang itu?” tanya Irene dengan tatapan kesal pada adiknya.
“Gampang kok! Aku udah move on dari Eren ke Levi dengan mudahnya!” jawab adiknya membandingkan perasaannya dengan makhluk 2 dimensi.
“Kamu itu masih anak- anak dan gak bakal ngerti! Dunia kamu itu cuma kartun, kartun dan kartun!” ujar Irene.
“Anime kak!” Genie memperjelas.
“Terserah! Kalau kamu sudah besar nanti, kamu pasti akan merengek kalau sudah jatuh cinta dan ditolak!” Irene seakan mengharapkan adiknya kena karma.
“Wek!!! Gak bakal! Aku gak suka sama manusia!” Genie menjulurkan lidahnya untuk mengejek Irene. Dia merasa, dia cukup dengan animenya dan tak butuh manusia sungguhan. Biasalah wibu!
“Lihat saja nanti! Awas kalo kamu patah hati, aku akan ingatkan kata- kata kamu ini.” Irene semakin menandaskan.
“Kalo aku tuh, pasti jadi rebutan. Soalnya, aku tuh cantik dan tidak sombong seperti kamu, kak Irene! Kalau Genie, dipastikan tinggal milih!” balas Genie dengan gampang daan super percaya diri. Irene memutar bola matanya malas sambil mengakhiri percakapan unfaedah mereka.
“Keluar! Aku mau tidur!” suruhnya dan memang Genie keluar. Namanya juga anak- anak, manalah dia mengerti apa yang dirasakan kakaknya saat ini. Semua itu ada waktunya kok.