Perbandingan

2096 Words
Semenjak tantangan yang dilayangkan Marsha kepada Irene, para siswi di kelas A kini pada berkelompok. Ada yang pro ke Irene dan ada yang pro ke Marsha. Para siswi yang memilih mendukung Irene, adalah siswi yang mementingkan nilai. Mereka tidak mau dimusuhi oleh Irene karena bisa mendapat bantuan dalam peajaran atau dalam kerja kelompok. Sedangkan, siswi yang pro ke Marsha adalah anak tenar yang lebih hobi bermain sosmed dibandingkan belajar. Marsha adalah siswi tenar, apalagi akun sosmednya dengan ratusan ribu followers. Jika mereka memusuhi Marsha, maka dipastikan mereka akan kehilangan ketenaran mereka. Apalagi, di kalangan para siswa yang menyukai Marsha. Ya, semua ini terjadi setelah tahun ajaran dimulai selama dua bulan. Hanya karena jatuh cinta, satu kelas yang ikut terpecah. Sedangkan, para siswa memilih bungkam dan menonton saja. Kalau yang suka sama Marsha, dipastikan lebih pro padanya. Sedangkan Irene, selalu memancarkan aura arogan dan begitu disegani di kelas. Jadi, meskipun sebenarnya dia cantik, tapi para cowok langsung mundur karena merasa tak pantas. Irene sebenarnya tidak pernah sombong, tapi ketika melihat kecerdasan gadis itu dan mendengar pujian para guru, banyak cowok langsung insecure. Mereka merasa, seorang Irene tidak boleh diganggu karena harus fokus dengan pendidikan untuk meraih prestasi. Padahal, gak tau sendiri, kalau Irene malah selalu mengaitkan urusan sekolah dengan urusan percintaan. Irene sengaja menonjolkan dirinya, supaya Kevin bisa melihatnya meskipun dia tidak tergabung dengan OSIS. Ya, inilah sedikit penjelasan mengenai keadaan kelas X-A. Lain lagi di X-B, anak-anaknya santai-santai aja soal pelajaran. Mereka semua sudah bisa menebak bahwa yang bakalan meraih peringkat utama di kelas ini adalah Rebecca. Banyak yang mencoba mendekati dan berteman dengan Rebecca hanya demi keuntungan semata. Tapi, Becca tidak sepolos itu. Dia termasuk kaum pelajar yang sangat introvert dan suka sibuk sendiri. Jadi, ketika banyak yang cari perhatian sama dia, maka dia akan jawab ada banyak urusan di OSIS. Memang benar juga, dia adalah Sekretaris OSIS untuk periode tahun ajaran ini. Kelas X-B “Baiklah! Untuk nilai Matematika tertinggi di kelas ini sudah dipastikan adalah Rebecca Karen! Yang lain, nilainya hanya pas-pasan KKM dan ada juga yang mesti Remedial. Kalian ini niat belajar gak sih? Sekolah ini berstandar Internasional dan sikap kalian ini seperti anak sekolah Negeri yang gratisan!” tegur sang guru kesal melihat nilai murid di kelas B kebanyakan yang anjlok. “Kita belajar kok, Pak! Soalnya aja yang susah!” protes salah satu siswa. “Iya, Pak! Kenapa sih, kita harus belajar aljabar, logaritma, himpunan dan bla-bla-bla, tapi nanti yang digunakan cuma penjumlahan, pengurangan, pertambahan dan perkalian. Matematika sama sekali gak relaistis menurut saya.” Tambah Dean memprotes. “Gak realistis? Teori realistis itu ditemukan karena ada Matematika! Bagaimana kita bisa mengukur jarak bumi ke matahari kalau tidak ada perpangkatan? Logaritma itu berhubungan dengan perpangkatan. Bagaimana kita bisa menghitung sebuah benda yang variabelnya belum jelas sementara nilainya ada? Itu gunanya aljabar! Kalian ini sama sekali tidak mengerti bahwa dunia ini begitu luas jangkauannya!” jawab sang guru menjelaskan sekaligus memberi penerangan soal protes dari Dean tadi. “Tapi menurut saya, kita juga gak perlu pergi jauh-jauh sampai ke matahari, Pak? Hidup itu simple aja pak, setelah tamat sekolah langsung kerja. Toh juga, dikerjaan hanya menghitung saja! Ini alasannya saya tidak tertarik dengan matematika!” Dean masih melawan dan masih tidak menarik tanggapan buruknya soal pelajaran Matematika. Mendengar itu, sang guru ingin sekali marah dan memberi hukuman kepada Dean. Tapi, suara ketukan pintu mengalihkan atensinya. Dia membukakan pintu kelas, sambil mengizinkan seorang siswi masuk. “Permisi, Pak! Saya sudah kumpulkan formulir untuk mengikuti Olimpiade dari kelas kami. Maaf mengganggu bapak, tapi tadi saya tidak melihat bapak di kantor.” Itu adalah Irene! Dia mengumpulkn formulir kepersertaan olimpiade kepada sang guru. “Makasih, ya! Nah! Ini adalah contoh yang harus kalian tiru! Becca juga harus kalian tiru! s**l sekali Becca malah masuk kelas yang begini, padahal anaknya pintar. Di kelas A, banyak yang mau berpartisipasi dengan Olimpiade, di kelas ini? Hanya satu! Irene ini bukan pintar matematika saja, tapi semua Mata Pelajaran. Makanya saya selalu membandingkan kalian dengan kelas sebelah, karena jauh beda. Terlebih lagi kamu, Dean Alvaro!” sang guru membandingkan murid kelas A dan kelas B sekalian memperingatkan Dean. Dean hanya terdiam mendengar ucapan sang guru. Dia bukan takut, biasanya dia rajin kok melawan sama guru matematika. Terus terang saja, Dean benci matematika, soalnya nilainya gak pernah bagus. Dean sengaja menjaga image-nya di depan Irene. “Eum… kalau begitu, saya permisi, Pak!” Irene permisi kembali ke kelas dan diangguki sang guru. Setelah kepergian Irene, sang guru melanjutkan pelajaran karena acara menyindir dan membanding-bandingkan murid antar kelas sudah selesai. Yang membuat sang guru puas adalah dia sudah membungkam murid yang suka membangkang pelajarannya, Dean Alvaro Wijaya. Sementara, Becca memerhatikan Dean yang terdiam setelah dengan terang-terangan disinggung oleh sang guru. ‘Kalau kamu mau, aku bisa membantu kamu, Dean.’ Batin Becca. Tak terasa, jam istirahat sudah tiba. Dean bersama beberapa temannya langsung cabut ke kantin. Dia makan siang sambil diam-diam memandangi Irene yang sedang berbincang bersama teman-temannya. Sudah jelas, teman-temannya melihat kalau Dean menyukai Irene. Tapi mereka memilih diam dulu daripada kena semprot sama Dean dan gak jadi ditraktir. Setelah dari kantin, Irene pergi ke ruang olahraga basket sambil membawakan air mineral untuk Kevin. Diam-diam, Dean mengikutinya dan melihat bahwa Irene sangat senang sekali ketika berada dengan sang ketua OSIS. Dean bisa ambil kesimpulan kalau Irene memang menyukai Kevin. Ah! Pancaran matanya juga terlalu jelas. ‘Sinar mata kebahagiaanmu dengannya, entah kenapa membuat hatiku sakit.’ Batin Dean masih melihat Irene dari luar ruangan. Tiba-tiba, Marco menepuk bahunya dari belakang. “Loe suka sama si Irene? Berat, bro! Dia pintar sedangkan loe b**o!” ujar Marco santai tanpa memikirkan perasaan Dean. Tapi santai aja lah, para cowok gak seperti cewek yang baperan kalau sampai salah bicara. “Banyak kok, yang cowoknya gak pintar-pintar amat dapat cewek yang pintar.” Dean membenarkan diri dan tetap percaya diri aja meskipun tidak pintar. “Iya! Tapi saingan loe, ketua OSIS yang sudah terkenal dengan ketampanan, kepintaran dan kebijaksanaan. Kalo dibandingin sama loe, sudah gak layak banding! Hehehehe!” balas Jogi sambil terkekeh. Mendengar itu, Dean jadi tersadar kalau memang dia tak sebanding dalam bidang akademik dengan Irene. Dean sebenarnya gak bodoh, cuma malas aja. Dia bisa berpikir luas dan selalu pandai memberi argumen walau dalam artian melawan pada guru. Dia juga lupa, entah sejak kapan dia malas belajar. Dia lebih suka menyibukkan diri dengan me-wibu dan nongkrong dengan teman-temannya. “Tapi bro, bukan cinta namanya kalau sampai kita gak jadi diri sendiri. Gue bangga dengan diri gue sendiri.” Balas Dean masih gak mau kalah sambil melangkahkan kakinya menuju kelas. Meski berkata begitu, dia sebenarnya memang ingin benar-benar diperhatikan oleh Irene. Dean sadar, kalau selama ini kedekatannya dengan Irene hanya sepintas saja. Gadis itu cuma menganggapnya teman. Dan sangat jelas, Irene sudah memiliki seseorang di hatinya. ‘Ya kalau ada orang lain, tinggal geser lah! Apa susahnya!’ batin Dean lagi belum mau menyerah untuk mendapatkan perhatian Irene Alicia Hanendra. Dia tidak tahu kenapa, tapi hatinya terus menyuruhnya untuk mendapatkan cintanya Irene. Ruang OSIS Becca baru saja menyusun beberapa laporan OSIS untuk seminggu terakhir ini. Memang dia cukup sibuk, tapi setiap pekerjaannya selalu dapat pujian dari anggota OSIS lainnya. Becca bersyukur karena dia bisa sampai dititik ini dengan tenang. Dia ingin terus mempertahankan pretasinya juga demi beasiswanya. “Hahh! Setelah ini, aku akan ke café untuk kerja paruh waktu. Aku harus bisa bantu ibu supaya gak kesulitan mengurusi soal biayaku.” Gumamnya sambil merilekskan diri. Kemudian, seorang siswi masuk ke ruangan OSIS dan menatapnya dengan sinis. “Laporannya sudah selesai?” tanyanya menyelidik. “Sudah, Sha! Nanti saya serahkan ke kak Kevin.” Jawab Becca pda siswi itu yang tak lain dan tak bukan adalah Marsha Adella. “Loe gak usah cari perhatian sama kak Kevin, ya! Nanti biar gue aja yang kasih! Dasar haus pujian! Tukang caper!” Marsha mengata-ngatai Becca sambil merebut laporan dari tangan Becca. Dia langsung pergi untuk menyerahkan laporan itu langsung kepada Kevin. “Dia kenapa, sih? Sejak kapan aku caper? Kenapa sih, siswi-siswi disini terlalu berlebihan?” gumam Becca sambil geleng-geleng kepala. Pertama, dia teringat soal Irene dan sekarang Marsha juga sama tingkahnya. Eumm… sebenarnya bukan Marsha aja sih. Beberapa siswi yang mengidolakan Kevin juga bersikap sinis padanya. “Hanya hal sepela begini mereka sampai memusuhi orang. Lagian kenapa sih? Aku juga ak ada rasa sama kak Kevin.” Becca bergumam setelah berpikir dan menyimpulkan bahwa para siswi yang memperlakukannya dengan sinis adalah para penggemar Kevin. Dia memang dekat dengan Kevin, tapi hanya sebatas kakak dan adik kelas. Ketua dan sekretaris OSIS. Karena Becca sendiri memiliki seseorang dihatinya. Sepulang sekolah… Bel pulang sudah berbunyi, semua siswa/i pada berkeluaran dari kelas karena mereka ingin segera pulang dan melakukan aktivitas di luar atau pun di rumah. Saat ini, Dean berjalan menuju parkiran. Tapi seperti biasa, dia menemukan Irene yang sedang menunggu jemputan papanya. “Hai, Rene!” sapanya tapi malah dicuekin oleh Irene. “Loe kenapa masang muka judes gitu?” Tanya Dean tak mengerti dengan sikap Irene. Biasanya gadis itu akan selalu bersikap baik dan ramah. “Bukan urusan loe!” balas Irene tak acuh semakin membingungkan Dean. “Eum… loe masih marah soal kejadian seminggu yang lalu? Sebenarnya loe yang kenapa? Masalah loe sama Becca itu apaan, sih? Masalah cowok? Lah, gue kenapa dibawa-bawa? Atau jangan-jangan, kalian berdua sedang memperebutkan gue? Astaga! Saya tersanjung!” Daean teringat soal kejadian Irene yang nyaris mem-bully Becca sambil sedikit bercanda. Serius terus gak asik juga menurutnya. “Apaan sih? Loe itu gak bisa berhenti ke-pedean? Nilai matematika aja anjlok! Belajar dulu sana, baru ke-pedeannya nanti kalo dah pinter dikit!” balas Irene kesal dengan candaan Dean. Tapi, Dean senang sudah berhasil membuat Irene kembali mau bicara dengannya. “Jangan marah-marah, nanti cepat tua! Cantiknya hilang, lho!” katanya lagi membuat Irene menatapnya tajam. “Astaga! Tatapanmu menusuk pas kena di hatiku.” Dean masih belum berhenti mencandai Irene. “Gak usah lihat-lihat!” marah Irene karena Dean masih menatapnya sambil tersenyum. “Cewek secantik kamu rugi kalau gak dilihat.” Gombal Dean tanpa sadar membuat Irene sedikit tersenyum dengan spontan. “Gak sudah senyum-senyum!” ujar Dean membuat Irene tersadar dan langsung kembali memanyunkan bibirnya menahan senyum. Melihat itu, Dean terkikik lucu dengan sikap Irene. Inilah Irene yang dia kenal, gadis yang cantik, lucu dan baik. “Udahanlah ngambeknya! Orang pacaran aja ngambeknya cuma beberapa hari, aku sampai seminggu, lho! Kamu gak kasihan sama aku?” Dean tak bosan mengisengi Irene dengan kata-kata manisnya. “Ngapain gue kasihan sama loe? Emang loe siapa?” Tanya Irene kesal. “Akulah takdirmu, eaaa!” jawab Dean sambil bercanda lagi dan lagi. “Takdir apa? Gak usah lebay! Pulang sana! Belajar yang bener, bagusin itu nilai, jangan suka melawan sama guru! Itu lebih penting! Jangan ganggu gue.” Suruh Irene sambil memperingatkan Dean supaya gak malas dan meningkatkan prestasinya. “Kalau udah gitu boleh ga aku jadi pacar kamu?” gombalnya lagi membuat Irene menggembungkan pipinya kesal. “Ishh! Loe ini!” kesal Irene sambil berkacak pinggang pada Dean. “Permisi? Papa ganggu ya?” Tanya Othman mengalihkan perhatian Irene dan Dean. “Papa? Kenapa aku gak lihat mobil papa?” Tanya Irene terkejut karena papanya ada disini. “Oh, tadi papa klakson berkali-kali sih, kamu aja yang terlalu sibuk dengan dia.” Jawab Othman membuat putrid sulungnya itu jadi malu. “Masa iya, sih?” Irene tak percaya. “Kenalin om! Saya Dean Alvaro Wijaya.” Dean memperkenalkan diri sambil menyalam papanya Irene. “Oh! Jadi kamu anaknya Eddy Wijaya? Senang kenal kamu!” Otman senang mengenal Dean. “Kalian kelihatannya dekat. o*******g Irene bisa akrab sama kamu. Titip salam sama Papa dan Mama kamu, ya!” sambung Othman lagi sambil pamit sama Dean. Bersama Irene, kini mereka jalan ke mobil untuk pulang. “Bye Irene! Jangan merengut terus!” Dean berteriak sambil melambaikan tangannya. Sedangkan, Irene yang mendengar langsung membalikkan badan dan membalas,”Dah juga! Loe belajar ya, sampai rumah!” Melihat interaksi mereka, Othman hanya bisa tersenyum. Dia melihat putrinya kembali ceria lagi meski beberapa hari ini Irene kelihatannya kurang bersemangat. Dia adalah tipe papa yang sangat peka. Meski Irene tak bercerita apa pun, tapi Othman dan Ruth paham kalau putrinya sedang ada masalah. Mereka berusaha menggali isi hati putri mereka dan memang ada kemajuan di pihak Irene. Namun hari ini, Othman melihatnya sendiri, senyuman kembali terkembang di wajah Irene. Othman sadar, Irene tidak selalu sebahagia ini saat bersama Kevin. Meski dia menyukai Kevin sejak kecil. Entahlah, tapi sebagai orang tua, mereka akan senang jika melihat anak mereka sudah kembali ceria.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD