Sepulang sekolah, Irene sudah menunggui Dean di depan kelasnya. Dia memang sengaja menunggu supaya bisa cepat menyelesaikan urusan mereka dalam hal lomba ini. Dean yang melihat Irene menungguinya agak terkejut sekaligus senang. Dia langsung tersenyum melihat Irene yang seakan benar- benar membutuhkannya di sini.
“Sudah lama menunggu? Kok bisa, loe keluar duluan?” tanya Dean bingung karena Irene keluar duluan daripada dirinya.
“Lah, kan kita sudah pulang lima belas menit yang lalu. Loe aja yang kelamaan bincang-bincang sama temen loe. Ya kali, gue mengganggu!” jawab Irene diangguki mengerti oleh Dean. Emang sih, dia tadi cerita- cerita sama temennya dan gak sadar Irene sudah berada di depan kelasnya. Tapi gak apa, dia tetap merasa istimewa kalau sudah ditunggui oleh gadis idamannya. Eaa!!
“Jadi… kita mengerjakannya di mana? Kalau di sekolah nanti sepi dan kalau cuma kita berdua, yang ketiganya setan, lho!” tanya Dean soal di mana mereka akan mengerjakan projek untuk lomba minggu depan.
“Di rumah loe aja!” jawab Irene membuat Dean terkejut. Antara terkejut dan senang sih. Dia malah senyum- senyum sendiri karena Irene yang mau duluan ke rumahnya tanpa perlu dia ajak. Dia merasa, kalau Tuhan memang menjawab doanya untuk mendekati Irene. Eh, emangnya dia pernah membawakannya dalam doa? Entahlah, hanya Dean yang tahu soal itu.
“Bo-boleh kok! Ada mama juga di rumah. Jadi, gak ada setan yang bisa menggoda kita melakukan yang iya- iya,” ujar Dean sambil main mata.
“Apaan itu? Kalau di rumahku nanti mama dan adik cewekku pada heboh. Gue juga suruh papa jemput gue di rumahmu kalau sudah selesai projek kita.” Irene memberikan alasan kenapa dia ingin belajar di rumahnya Dean. Ya ternyata, karena dia tak mau ada kehebohan dan banyak tanya dari ibu dan adiknya. Mereka pasti akan sangat heboh jika Irene membawa teman cowok. Pasti!
Mereka berdua berjalan menuju parkiran bersama. Irene juga sama sekali gak masalah kalau boncengan sama Dean. Mereka hanya ingin mengerjakan projek lomba bukan pacaran. Lagian, sekarang biasa aja sih kalau anak laki- laki dan perempuan boncengan. Yang penting, jaga batasan norma sosial saja. Sesampainya mereka di parkiran, tiba- tiba seseorang memanggil Dean.
“Dean!” panggil suara itu membuat Dean langsung mengalihkan atensinya. Terlihat Rebecca sedang berlari ke arahnya dan Irene memandang gadis yang berjalan ke arah mereka dengan sinis.
“Eumm… ini buku catatan matematika yang mau kamu pinjam. Sebentar lagi ulangan semester, aku harap selain menyalin, kamu juga belajar ya!” ujar Becca sambil memberikan Dean catatannya. Dean hanya tersenyum sambil mengulurkan tangannya untuk meraih catatan Becca. Dia udah minta dari kemarin karena males mencatat. Karena sebentar lagi mau ujian, guru ingin memeriksa kelengkapan catatan. Kalau tidak lengkap, maka akan distrap dan tidak boleh ikut ujian.
Irene menatap sinis dan sengaja menyenggol tangan Becca untuk menjatuhkan catatan gadis itu. Dia bukannya cemburu, hanya saja dia selalu sentimen melihat Becca. Di matanya, Becca selalu terlihat sebagai orang yang suka cari perhatian ke semua laki- laki.
“Dean bisa pakai catatan aku! Gak usah repot!” kata Irene sinis pada Becca.
“Rene, gue sendiri yang minta sama Becca kok. Kamu… kenapa bersikap seperti ini?” Dean malah bingung dengan sikap Irene yang kelihatannya memang jelas- jelas tak menyukai Becca. Tatapannya begitu jelas!
“Dean! Kalau kita terlalu lama, nanti projek untuk lombanya gak bisa selesai. Loe pokoknya harus bantuin gue! Ayo!” Irene menarik tangan Dean untuk meninggalkan Becca di situ.
Dean awalnya diam saja sambil menoleh ke belakang melihat Becca yang berjongkok untuk mengambil buku catatannya. Dean memang menyukai Irene, tapi tetap saja dia tak akan menuruti Irene kalau gadis itu berlaku sesukanya. Dia melepas tangan Irene lalu berbalik ke arah Becca. Terus terang saja, Irene heran dengan tindakan Dean saat ini yang sama sekali tak memihaknya.
“Maaf ya. Loe bisa simpan catatan kamu. Makasih loh, sudah peduli soal gue,” kata Dean sambil mengambilkan catatan milik Becca.
“Gak masalah! Aku selesaikan beberapa pekerjaan di OSIS dulu. Kamu… belajar yang benar ya,” balasnya sambil undur diri dari hadapan Dean. Irene masih membatu di situ dan merasa disudutkan oleh Dean.
“Irene, gue pengen tahu apa alasan loe sentimen gitu sama Becca? Apa dia pernah bikin masalah sama loe?” tanya Dean ingin tahu alasan Irene sedemikian tak sukanya kepada Becca.
“Dia anak tukang caper!” Irene menjawab sambil melipatkan tangan di dadanya. Dia masih memasang wajah arogannya dan sama sekali tak peduli bagaimana Dean menanggapinya.
“Lantas?” tanya Dean lagi mempertanyakan masalah Irene kalau memang Becca suka cari perhatian.
“Dia… mendekati semua orang! Dia juga mendekati Kak Kevin dan gue gak suka!” jujur Irene. Itu memang alasan Irene membenci Becca.
“Oh, urusan pribadi. Gue gak ikut campur sih! Tapi, dia tetap temanku, Rene. Sebegai teman, gue gak suka kalo loe memperlakukan dia seenak hatimu. Dan jangan juga membuat jarak di antara gue dan Becca. Jangan rusak hubungan pertemanan orang lain hanya karena masalah pribadi loe,” nasihat Dean terus terang.
Walau dia suka sama Irene, dia tidak buta. Dia tetap menegaskan mana yang benar dan mana yang salah. Bukan berarti juga, perasaannya luntur sama Irene karena sikap Irene saat ini. Dia berharap, gadis itu mengerti soal dirinya menganggap sebuah hubungan pertemanan. Apalagi, Becca selalu berbuat baik dan memperhatikan dirinya.
“Loe… bener juga. Padahal, loe sama sekali gak ada hubungannya dengan masalah ini. Lagian… kayaknya gue yang overthinking soal dia. Gue ini kenapa ya? Sifat gue buruk banget ya?” Irene ternyata menyadari sikapnya yang begitu buruk kepada Becca hanya karena Becca dekat dengan Kevin. Padahal, wajar kalau dipikir. Karena dia adalah sekretaris OSIS yang selalu harus bekerja sama dengan Sang Ketua OSIS. Tapi, meski dia menyadarinya, Irene masih belum terima sih sebenarnya.
“Setiap orang bisa buta karena cinta. Tapi, jangan biarkan cinta itu membutakanmu akan yang benar dan yang salah,” ujar Dean lagi sambil tersenyum memandang hangat kepada Irene.
“Iya, loe ada benernya! Tumben, pemikiran loe dewasa! Oh iya, cus kita ke rumah loe. By the way, gue serius yang soal minjemin catatan gue ke loe,” ajak Irene dan segera saja Dean memberikan helm-nya untuk dipakai oleh Irene. Mereka langsung menuju rumahnya Dean untuk melakukan kerja kelompok.
***
Mansion Keluarga Wijaya
Mereka sampai di rumah Dean dan langsung saja cowok itu memarkirkan motornya di halaman parkir. Irene langsung turun sambil memandangi sekitar sembari menunggu Dean menyimpan helm mereka berdua. Tak lama, satpam rumah Dean menghampiri mereka.
“Den, boncengan baru lagi ya?” tanyanya iseng sambil menguncikan motor Dean.
“Hehehe… ini yang spesial pak,” jawab Dean menyengir membuat Irene menatap garang padanya.
“Iya… spesial untuk mengerjakan lomba.” Dean agak sedikit meralat kata- katanya karena tatapan Irene seperti ingin memakan orang.
“Orang ganteng memang bebas ya? Oke, salam kenal ya , Neng!” Si satpam menyapa Irene dan hanya dibalas anggukan ramah oleh Irene.
“Yuk, masuk!” ajak Dean diikuti oleh Irene.
Saat masuk, ternyata sang nyonya rumah sudah berada di dalam. Dia agak terkejut Dean membawa seorang gadis dan kelihatannya kali ini hanya berdua. Catat, hanya berdua! Elly sedikit celingak- celinguk melihat apa ada teman mereka lagi atau tidak. Dia segera menghampiri keduanya untuk bertanya ada keperluan apa Dean membawa teman perempuannya lagi. Tntu saja, dia ingin tahu sebagai orang tua, bukan?
“Halo, ini siapa Dean?” tanya Elly sembari menanyakan soal Irene yang berada di belakang Dean.
“Kenalin tante, Saya Irene Alicia Hanendra. Saya teman seangkatan Dean dan kita ada projek untuk lomba minggu depan.” Irene memperkenalkan dirinya sambil salim hormat kepada mamanya Dean.
“Hanendra? Tante kayak ada kenal gitu?” Elly merasa familiar dengan nama keluarga besarnya Irene.
“Iya Ma! Papanya Irene yang temen papa itu loh!” Dean nimbrung untuk menekankan siapa orang tua dari Irene.
“Ahhh! Mama ingat! Kamu anaknya Othman kan? Papa kamu itu teman satu kuliah tante! Ah, senangnya bisa melihat putrinya yang secantik ini. Kamu mirip mama kamu, lho! Gimana kabar mereka?” Elly langsung nyambung ketika mengetahui kalau papanya Irene adalah teman seangkatannya di kuliah dan teman suaminya pula.
“Semuanya baik, tante! Tapi, sorry ya tante, saya tidak terlalu kenal sama teman- temannya papa.” Irene juga meminta maaf karena tak mengenali siapa saja teman- teman papanya. Maklum sih, anak- anak mana mungkin diberi tahu soal urusan orang tua mereka.
“Gak apa. Oh iya, anak Oth cuma kamu? Kalau kuliah dulu, semuanya manggil dia Oth.” Elly bertanya lagi sambil memberi tahu nama gaul papa Irene pas kuliah dulu.
“Ada dua tante dan keduanya perempuan. Papa pas kuliah dipanggil begitu ya? Kalau teman- temanku, malah bilangnya Hotman yang pengacara itu hehehehe,” balas Irene ternyata langsung nyambung sama Elly.
‘Calon mertua dan menantu yang ideal nih!’ pikir Dean bangga.
“Mau makan siang dulu? Gak enak belajar kalau perut kosong, lho!” tawar Elly.
“Makasih sekali tan, tapi Irene bawa bekal kok!” Irene menolak halus karena tak ingin merepotkan mamanya Dean.
“Oh, begitu ya! Kalian belajar yang baik ya, biar tante siapkan cemilan. Dean! Kamu jangan banyak main- mainnya ya! Malu sama cewek!” Elly memperingatkan Dean untuk menjaga sikap kepada Irene. Jujur, dia agak sedikit tertarik kalau semisal Irene dekat dengan Dean.
“Yuk, kita mulai diskusinya!” ajak Irene sembari duduk di sofa ruang tengah. Dia langsung mengeluarkan bukunya yang mencatat soal materi lomba yang harus dia kerjakan bersama Dean.
Tak lama, Elly datang sambil membawakan cemilan kepada mereka berdua. Dia diam- diam memerhatikan kalau Dean sedari tadi tak bisa berhenti tersenyum dan memandangi Irene. Sungguh berbeda saat bersama Becca dan langsung saja Elly bisa menebak kalau putranya ini tertarik kepada gadis ini. Dia tentu senang, karena keluarga Irene berasal dari kasta yang setara dengan mereka.
Di sisi lain juga, kedua orang tua Dean memiliki hubungan yang baik dengan orang tua Irene, terlebih lagi dengan papanya Irene. Semua relasi ini sudah sangat cukup untuk mendekatkan Irene dan Dean. Irene juga kelihatan sangat nyaman saat berada bersama Dean. Elly tersenyum seakan merestui keduanya dalam hati.
“Jadi… gue juga menerima sertifikat hanya karena gambar ini? Wuihh! Loe yang pidato dan siapkan materi, gue kecipratan! Bisa bangga bokap sama nyokap gue!” Dean merasa senang karena kemungkinan dia bisa mendapat sedikit prestasi dengan bekerja sama dengan Irene.
“Bagus tuh, kalau loe sadar! Sebagai anak, kita itu harus menunjukkan bakti kepada orang tua dengan membuat mereka bangga. Dulu waktu kecil, pas gue kecil, nyokap gue snagat disiplin mengingatkan soal belajar. Finally, gue bisa mengutamakan prestasi gue sampai sekarang!” Irene memberikan tanggapan sekaligus memotivasi Dean supaya maju dan rajin belajar.
“Hmm… kalo bokap gue, kalo udah marah pas ngeliat nilai ujian gue ancur- ancuran, langsung gini nih.”
‘PLOK- PLOK- PLOK’
Dean menepuk-nepuk tangannya sebagai isyarat. Irene langsung menatap heran dengan maksud Dean.
“Kok ambigu gitu sih?” Irene memang merasa maksud Dean agak ambigu.
“Ambigu? Orang gue maksudnya suka mukul gitu!” balas Dean membuat Irene geleng- geleng kepala.
“Jangan begitu, Dean! Kalau papa kamu tidak begitu, mau jadi apa kamu,” sahut Elly dari sana yang ternyata mendengar percakapan Irene dan Dean.
“Ma-mama dengar?” Dean agak terkejut karena mamanya mendengar dia membicarakan papanya.
“Kamu ini ya? Oh iya, kalau tante boleh tahu, Irene selalu dapat rangking ya?” tanya Elly karena bisa menyimpulkan bahwa Irene cukup berprestasi dari pembicaraan kedua anak remaja tanggung itu tadi.
“Ya… Irene selalu berusaha untuk mempertahankan prestasi Irene, tan. Irene pengen buat papa dan mama bangga dan juga mau meraih cita- cita Irene,” jelas Irene membuat Elly tersenyum bangga. Dia suka dengan Irene yang ingin membuat kedua orang tuanya bangga dengan prestasinya.
“Dengar itu, Dean! Kamu juga harus bikin mama dan papa bangga dong! Kalau Irene, cita- citanya pengen jadi apa?” Elly agak membandingkan Dean dengan Irene sambil menanyakan soal cita- cita Irene.
“Saya pengen jadi desainer, tante! Irene suka membuat baju- baju yang cantik dan mengadakan fashion show dengan brand yang Irene keluarkan sendiri!” Irene menyatakan cita- citanya dengan semangat. Elly sangat kagum mendengarnya dan merasa Irene memang sangat bertekad meraih cita- citanya itu.
“Bagus sekali! Tante senang loh, kalau kamu berteman dekat dengan Dean. Tularkan itu semangat belajarnya kamu! Supaya, dia bisa semakin rajin dan meningkatkan prestasinya! Lihat nih Dean, anak teman mama benar- benar bikin iri. Ini juga alasannya mama lebih suka anak cewek daripada anak cowok!” ujar Elly senang sambil membanding- bandingkan Irene dan Dean. Ya, biasalah emak- emak suka banding- bandingin anak.
“Ma… jadi Dean dianak tirikan gitu?” Dean memasang wajah sedih yang dibuat- buat.
“Dean, tante cuma mau kasih semangat loh!” Irene menegur Dean.
“Iya…! Nanti Dean pertimbangkan dulu untuk jadi anak pintar atau enggak! Takutnya, kalo Dean pintar rambut Dean yang halus ini jadi berdiri kayak kesetrum listrik, seperti Albert Einstein.” Dean mengiyakan sambil sedikit bercanda kepada keduanya.
“Alesan!” Elly menggeleng- geleng dengan tingkah putra the one and only-nya ini.
“Oke tante, Irene permisi balik dulu! Papa ternyata sudah di luar dan hari sudah mulai gelap. Makasih ya, buat cemilannya. Dan Dean, makasih sudah mau bantu aku! Nanti kamu datang pas lomba ya!” Irene meminta izin pamit karena jemputan sudah datang.
“Sama- sama, lho! Oh iya, tante mau bertemu papa kamu sebentar sekalian antar kamu ke depan!” Elly menawarkan diri dan diangguki oleh Irene. Gadis itu segera memberekan buku dan tasnya untuk pulang.
“Makasih ya, Irene!” Dean berterima kasih sebelum Irene keluar dari pintu rumahnya.
“Sama- sama!” balas Irene dengan senyuman.
Saat kedua perempuan itu keluar dari pintu rumah, Dean langsung lompat berjingkat- jingkat karena saking senangnya. Hari ini, dia menghabiskan waktunya bersama Irene walau hanay untuk belajar. Walau Dean benci belajar, kalau bersama Irene, dia akan menikmatinya.
“Gue harus bisa jadi adeknya Albert Einstein!” tekadnya agak berteriak sambil berlari ke kamarnya.
Sementara itu di luar, Irene diantarkan oleh Elly ke pagar. Elly pengen menyapa salah satu teman lamanya itu. Saat tiba di mobilnya Otman, pria paruh baya itu langsung membuka kaca mobilnya dan langsung menunjukkan senyum pepsodentnya.
“Elly? Lah, Irene main di rumah anak kamu?” tanyanya langsung.
“Iya, anak kita ternyata teman di sekolah!” jawab Elly senang.
“Oh, ternyata kamu main sama Dean ya, Rene? Kenapa gak bilang kalau ke rumah teman cowok?” tanya Othman pada putrinya karena tadi Irene hanya kasih kabar kalau dia main ke rumah temannya tanpa memberi tahu jenis kelaminnya.
“Sorry, pa. Irene lupa.” Irene meminta maaf. Jelas saja dong, orang tua khawatir kalau anaknya main sama temen cowoknya.
“Gak usah khawatir Oth, kalau kejadian nanti, kita langsung nikahkan saja dan kita bisa besanan,” ujar Elly agak sedikit bercanda.
“Oh iya ya! Boleh tuh!” Othman mengangguk membalas candaan Elly.
“Tante… Papa… apaan sih?” Irene langsung menatap keduanya sambil memanyunkan bibirnya kesal.
“Bercanda sayang. Oke, titip salam sama istrimu ya!” Elly mengakhiri pembicaraan sambil titip salam kepada keluarganya Othman.
“Oke, salam juga sama Eddy! Yuk, Irene! Kami balik ya,” pamit Othman kepada Elly. Yap, hari ini cukup untuk reuni para orang tua.