"Nay, kok kamu diam aja?" tanya Hazig. Nayyara mendelik pada pria menyebalkan yang kini sedang mengedipkan mata kirinya. Embusan napas kasar terdengar, tetapi respon Hazig hanyalah kekehan geli. "Calon istriku ngambek, ya?" "Gak!" "Kok kedengarannya kayak orang ngambek?" Nayyara memilih diam. Sebenarnya bukan karena kedatangan Hazig yang ia permasalahkan, tetapi orang tuanya, terutama Denis. Sang ayah meminta maaf padanya karena akan datang terlambat, tetapi ternyata tidak datang sama sekali. Belum lagi Rafa pergi lebih dulu tanpa berkata apa pun padanya. Mood-nya benar-benar terjun bebas kali ini. Saat mobil harus berhenti sejenak karena lampu lalu lintas berubah jadi merah, Hazig menoleh pada gadis yang sedang duduk di sampingnya. Sembari tersenyum, ia ulurkan tangannya pada kepal

