4 : Kegundahan

1804 Words
“Beliau memerintahkan kepadaku untuk mengatakan yang benar walau itu pahit.”  (HR. Ahmad) ___ "Wildan senyumin Illa ya?" tanya Khalilla sambil menunjuk dirinya sendiri. Wildan salah tingkah hingga memutar kepalanya sambil menggaruk pundaknya yang tidak gatal. Pria yang biasa dipanggil ‘Buya’ hanya tersenyum memperhatikan keduanya. Tepatnya gadis bernama Khalilla yang suka ceplas-ceplos dan bicaranya selalu jujur hingga kadang sering menyakitkan. Sementara itu, Zahara yang melihat tingkah gadis di sampingnya semakin geram saja, apalagi mengetahui jika Wildan tersenyum ke arah Khalilla. Tangannya mengepal sambil bergumam sesuatu yang tak bisa didengar oleh Khalilla. "Ekhm ... iya. Soalnya kamu santai banget ngomongnya, kayak nggak punya rasa takut aja." jawab Wildan seadanya. "Iya lah, Illa gitu. Tapi, jangan sering-sering lihatin Illa ya, nanti Wildan malah suka lagi ke Illa. Susah loh, soalnya saingan Wildan banyak." Khalilla menimpali dengan meperlihatkan mimik wajah yang serius. Inilah Khalilla, selalu percaya diri. Wildan mengulum senyum. "Sudah-sudah, kalian lanjutkan di luar saja nanti. Kasihan saya dan Zahara jadi kacang di sini. Bukan begitu Zahara?" ucap Buya yang mau tidak mau harus diangguki Zahara. Setelah membahas jadwal bimbingan OSN, mereka pun kembali ke kelas masing-masing. Khalilla dan Zahara kebetulan berada di kelas yang sama yaitu XII MIA 1 dan Wildan di kelas berbeda. Saat beriringan menuju kelas, Zahara tiba-tiba saja mencegat Khalilla. "Kamu jangan sok manis di depan Wildan. Aku nggak suka, apalagi bicaranya sok akrab gitu ke semua orang. Bikin geli tahu!" keluh Zahara dengan mencengkram pergelangan Khalilla. Mendengar nada suara Zahara yang sangat tidak bersahabat, Khalilla hanya bisa menghela nafas seraya melepaskan tangan gadis itu di pergelangannya. "Siapa yang sok manis? Perasaan biasa aja, nggak berlebihan dalam hal apapun. Kadar kemanisan Illa kan memang segitu dari dulu. Hara aja yang nggak suka Illa, jadi, apa-apa yang ada sama Illa selalu salah." balas Khalilla kemudian menjauh dari Zahara yang masih menatapnya kesal. "Khalilla, aku nggak akan tinggal diam kalau sampai Wildan jatuh cinta beneran sama kamu!" Zahara menghentakkan kakinya dan melanjutkan langkahnya menuju kelas. Sampai di kelas, Qaddafi langsung menghampiri meja Khalilla. "Dari mana aja, La? Kok munculnya siang banget?" tanyanya sembari mengusir seseorang yang duduk di bangku depan Khalilla. Khalilla hanya diam, malas untuk menanggapinya. Hingga beberapa menit kemudian, laki-laki itu masih saja melihat Khalilla yang sedang sibuk dengan isi tasnya. Zahara yang baru muncul di kelas pun menyadari bagaimana Qaddafi yang selalu menempel di dekat Khalilla. Zahara tersenyum mengejek seraya bergumam pelan, "Sana-sini sikat. Dasar sok berhati malaikat." Khalilla mengangkat dagunya, memandangi Zahara dengan datar lalu mengacuhkannya begitu saja. Khalilla tak pernah mau membalas setiap kelakuan buruk Zahara padanya, padahal Khalilla tahu bahwa Zahara sangat tidak menyukainya entah dengan alasan apa lagi. Terakhir, gadis berkulit sawo matang itu memusuhinya karena Khalilla selalu menjadi juara kelas dan juara umum. Tak hanya itu, setiap perlombaan yang diadakan juga Khalillalah bintang utamanya hingga guru-guru dan teman-teman mengagumi Khalilla. Zahara tidak suka Khalilla menjadi pusat perhatian, sebab, waktu MTS dan sebelum dipertemukan dengan Khalilla di MAN ini, Zahara adalah murid nomor satu dan sangat disayangi oleh guru serta idola teman-temannya. Tapi kini tidak lagi dan itu sungguh menjengkelkan baginya. Duk ... duk .... "Illa, jawab dong! Jangan cuekin aku lagi. Kalau pagi sih nggak apa-apa dicuekin, lah ini udah siang tahu." Qaddafi mengetuk-ngetuk meja Khalilla, berusaha mendapatkan perhatian dari gadis di depannya. "Ih, Dafi jangan ribut-ribut di area meja Illa. Illa lagi males ngomong ini. Tadi, Illa dari Airport jemput Hasbi. Tapi, Hasbi, Bunda dan Ayah udah pulang duluan." Khalilla menghela nafas kesal namun sempat-sempatnya menjawab pertanyaan Qaddafi, padahal niatnya ingin mengacuhkan. Khalilla masih mencermati buku Fisikanya. Satu hal yang membuat Khalilla rela bolak-balik dari sekolah ke Airport hingga ke sekolah lagi meski hanya tersisa satu mata pelajaran saja, yaitu mata pelajaran terfavoritnya---Fisika. "Terus, kok lama?" tanya Qaddafi lagi, belum puas dengan jawaban Khalilla yang hanya setengah-setengah. Gerakan tangan Khalilla terhenti dari menyingkap buku pelajarannya. Gadis manis ini kembali teringat dengan kejadian di Airport hingga membuatnya berubah lesu tak bersemangat. Yang tadi itu beneran nggak sih? "Dafi, Illa pengin marah. Tapi, kalau Dafi bisa jauh dari meja Illa, Illa tunda marahnya. Jadi, Dafi tolong jauh ya, karena Illa nggak mau marah soalnya." ucap Khalilla dengan tak bersemangat. Kepalanya mendadak pusing, apalagi jika perkataan pria di Airport itu memang benar. Bagaimana cara menyampaikannya pada Abi dan Umi? Pikir Khalilla. Qaddafi menghela nafas seraya berdiri dari bangku yang ia duduki. "Oke, aku kembali ke mejaku. Jangan marah ya, Illa. Marah itu berat, soalnya setan ikut ngedukung kalo Illa marah." *** Khalilla duduk di atas ranjang dengan memeluk mukena yang belum dirapikan. Setelah menerima panggilan suara dari Ratu, ia kembali diserang rasa gundah gulana. Ratu mengatakan bahwa besok pria itu akan menemui orang tua Khalilla untuk melanjutkan maksud perkataannya di Airport. Ratu memohon maaf pada Khalilla karena melibatkan Khalilla dalam masalahnya, apalagi si atasan itu tidak bisa dibujuk hingga memarahi Ratu dan mengatakan bahwa dia tidak mau menarik perkataannya. Saat Khalilla menanyakan alasan mengapa pria tak dikenalinya itu mau-mau saja menikahi seseorang yang asing, Ratu hanya mengatakan bahwa ceritanya panjang dan rumit untuk dijelaskan sekarang. Ratu menekankan bahwa nanti Khalilla akan mengetahuinya sendiri dari mulut pria itu. Hingga saat Khalilla ingin kembali bertanya, Ratu langsung menutup ponselnya karena si atasan tersebut kembali menghubunginya. Khalilla melipat mukenanya kemudian menyimpannya di samping rak buku. Ia beralih membuka Al-Quran untuk mengulang bacaannya seraya menunggu waktu isya tiba. Hingga beberapa saat berlalu dan maghrib pun berganti. Khalilla kembali menghadap Sang Pemilik Hati sembari menengadahkan tangan memohon ampunan dan pertolongan pada Dzat yang Maha Segalanya. Khalilla ingin dibebaskan dari rasa cemas yang menghampirinya hari ini dan meminta petunjuk bagaimana seharusnya ia bertindak. Tok...tok...tok.... "Mbak, Mbak Illa ... turun, yuk! makanannya udah siap." Khalilla mengusap kedua telapak tangannya kewajah, kemudian melepas mukenanya. "Iya, Dek, Mbak beresin alat sholat dulu ." jawab Khalilla tanpa membuka pintu kamarnya. "Oke, Mbak, Faaz turun duluan." Putra kedua Shanum dan Riqhad itu pun berlalu setelah medapat jawaban dari mbaknya. Setelah menggunakan kerudung simpel, Khalilla bergegas meninggalkan kamarnya. Gadis 17 tahun ini menuruni anak tangga dengan jantung yang berdetak kencang. Rencananya, nanti Khalilla akan mengajak Abi dan uminya berbincang. Ia ingin menyinggung sedikit masalah yang besok akan datang ke rumah mereka meski Khalilla berharap itu tidak terjadi. Sampai di meja makan, Faaz  menyambut Khalilla dengan senyuman seraya menarik kursi untuk mbaknya. Khalilla tersenyum dan berterima kasih, Faaz selalu berhasil mengambil hatinya. Khalilla saja jatuh cinta pada adiknya ketika si tampan baru lahir. Faaz yang sebentar lagi akan meninggalkan Sekolah Dasarnya terlihat lebih dewasa, tentunya dalam bersikap. Si bujang itu seolah memiliki jiwa anak pertama dan tubuh anak kedua, kebalikan dari Khalilla yang sering bertingkah aneh. Setidaknya Faaz lebih kalem dari mbaknya. Faaz sangat bisa berbasa-basi dengan siapapun, menghormati orang yang lebih tua serta menyayangi yang lebih muda. Tutur bahasanya pun halus, jarang menyinggung, bahkan  dia pandai bersikap romantis pada Umi, Khalilla, Oma Hasna dan tantenya yang lain. Seperti menyambut mereka dengan tersenyum, pamit dengan mengecup pipi serta melakukan hal kecil yang terlihat manis, menarik kursi untuk Khalilla contoh ringannya. "Bi Darmi mana, Dek?" tanya Khalilla. Pekerjaan rumah memang dibantu Bi Darmi karena Nenek Ipah yang sedari kecil ikut merawat Khalilla telah kembali ke Rahmatullah. "Bi Darmi lagi cuci piring di belakang, Mbak. Faaz udah ajak makan bareng, tapi jawabnya nanti aja, nanggung katanya." Faaz menjawab. Saat Khalilla memindahkan nasi ke piring Faaz, mereka dikagetkan dengan penampakan luar biasa. "Hati-hati, Sayang, nanti perutnya jatuh!" Khalilla dan Faaz melihat sang Abi sedang membimbing uminya menuju kursi. Tangan Khalilla yang tadinya memegang sendok nasi kini turun dengan perlahan. "Ih, Abi pelan dong." Sang Umi pun ikut bersuara. Riqhad menarik kursi untuk istrinya hingga membantu wanita itu untuk duduk dengan nyaman di sana. Faaz terkekeh geli melihat kedua orang tuanya yang selalu manis. Berbeda dengan adiknya, Khalilla malah menatap uminya dengan khawatir. "Abi, Umi kan susah buat kemana-mana, jalan aja nggak sanggup. Terus, ngapain ikut makan di sini? Kenapa nggak di kamar aja kayak biasanya?" protes Khalilla sembari membantu uminya mencari posisi nyaman. Perut yang sangat besar membuat Shanum kesusahan ke mana-mana. Biasanya, ia selalu dituntun jika ingin melakukan sesuatu. Khalilla heran saja, mengapa hari ini uminya ikut bergabung di meja makan. Umi Khalilla memang tengah hamil besar, anak ketiga yang diketahui kembar. Untuk itulah kehamilannya kali ini luar biasa. Ukuran perut yang lebih besar daripada saat mengandung anak pertama dan kedua membuat Shanum mudah lelah hingga kesulitan melakukan beragam hal. Perkiraan Dokter, Shanum akan melahirkan dalam minggu ini hingga Riqhad sangat antusias dan setia berada di sampingnya. "Tuh, Mi. Umi dicerewetin sama kembarannya Oya. Umi sih nggak mau dengerin Abi, Abi kan udah bilang di kamar aja, eh ngeyelnya melebihi Illa.” sambut Riqhad. Shanum menatap suaminya dengan pandangan tidak terima hingga mengisyaratkan Khalilla untuk mengambil makanan untuknya yang langsung dilaksanakan oleh putri cantiknya. "Terserah Umi dong. Perut-perut Umi, kok Abi dan Illa yang sewot? Faaz aja santai, iya kan gantengnya Umi?" balas Shanum. Faaz tersenyum lebar dan mengacungi jempol ke arah Umi tersayang. Sementara itu, Khalilla menggeleng pasrah dan sang Abi pun tak kalah sama, menatap wanita tersayangnya dengan geli. Wanita yang tak pernah luntur kecantikannya di mata Riqhad. *** Setelah makan malam, Faaz izin ke kamarnya untuk mengerjakan tugas sekolah. Sedangkan Khalilla bersama Umi dan abinya memilih berada di ruang tengah. Khalilla memijat kaki uminya yang sering pegal, sementara sang Abi fokus melantunkan Ayat Al-Quran sesuai keinginan wanita hamil itu. Mendekati hari persalinan membuat Shanum ingin selalu mendengar suara merdu sang suami dalam membacakan Al-Quran. Sampai Riqhad menyelesaikan bacaannya, Shanum pun menghentikan pijatan Khalilla. "Kamu nggak ada tugas, Sayang?" tanya Shanum. "Nggak ada, Mi. Tugas hafalan hadist sih ada, tapi Illa udah hafal, di pesantren kemaren Illa ngafalnya." balas Khalilla sambil mengusap perut sang Umi. "Terus, kamu luntang-lantung di sini bareng Abi dan Umi ada apa? Biasanya asyik di kamar aja. Kalo nggak ada tugas ya sibuk nge-review buku, kalo enggak ya itu eksperimen soal Fisika." timpal sang Abi seraya mengambil tempat di samping putri tercinta yang kini sudah beranjak dewasa. Sungguh, Allah Maha Penyayang hingga menghadirkan orang-orang tersayang di hidup Riqhad. Khalilla tak terima dengan nada suara abinya, seolah sengaja mengejeknya. "Abi mah nggak seru, suka ngejek Illa mulu. Gini nih, Bi, anak Abi ini kembali dipercaya buat ikut OSN Fisika loh." jawab Khalilla sembari menggandeng lengan abinya. "Memangnya masih boleh? Kan Illa udah kelas tiga." tanya sang Abi lagi. "Masih lah, Buya yang minta sendiri." tegas Khalilla yang dihadiahi anggukan dari Riqhad. Ia bangga pada putrinya ini. "Abi, Umi, boleh nggak Illa minta waktunya sebentar? Illa mau minta pendapat nih, tapi jangan marah ya." Khalilla berkata pelan setelah mengumpulkan keberaniannya. Riqhad mengerutkan dahinya sedangkan Shanum terlihat biasa saja, ia telah kebal dengan setiap tingkah dan pertanyaan Khalilla yang memang sedari kecil sudah sangat cerewet serta selalu ingin tahu. "Apa?" tukas Riqhad. "Gini nih, Illa kan beberapa bulan lagi udah lulus MAN. Terus, KTP Illa juga selesai minggu depan. Misalkan, ya ... ini hanya misal loh Bi, Mi, misal ada yang ngajak Illa nikah gimana?" tanya Khalilla hati-hati. Shanum yang tadinya duduk anteng di sofa tak elak terperanjat, Riqhad pun sama halnya. Saat Riqhad ingin membuka suara, ia mendengar ringisan dari istrinya yang sedang memegang perut. Pandanganan Riqhad dan Khalilla serentak bertemu. Khalilla menutup mulutnya dan Riqhad langsung berdiri cemas. "Umi mau lahiran!" teriak keduanya bersamaan.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD